Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 120


🍂🍂🍂🍂


Lusa yang di rencanakan pun tiba, Shena yang bangun lebih awal sudah menyiapkan semuanya, dan kini tinggal menunggu sang suami menyelesaikan mandinya yang sudah lebih dari 30 menit.


"Aa lagi apa sih?" gumam Shena yang bingung sebab pria itu tak kunjung keluar juga.


Shena yang penasaran akhirnya masuk ke dalam kamar mandi yang tak pernah di kunci tersebut, entah Fajar maupun Shena.


"Ya ampun, Aa!" teriak Si Bumil saat melihat apa yang kini ada di depan matanya.


Fajar yang katanya akan mandi itu malah mendengkur halus di dalam bathtub yang sudah terisi air hangat. Entah kapan suaminya itu terlelap yang jelas cukup membuat Shena kesal karna jelas ia sudah menunggi sejak tadi.


"Aa, bangun gak!" Shena terus mengguncang bahu polos suaminya yang tak memakai apapun di dalam sana.


Tak mempan di guncang, Shena pun menjewer telinga Fajar cukup lumayan keras karna terbukti si calon ayah itu kini terbangun dengan kagetnya.


"Ada apa? mana malingnya!" teriak Fajar yang kebingungan sendiri.


Shena yang kesal semakin kesal, karna seperti pria itu tadi sedang mimpi kemalingan, hingga saat bangun malah masih mengingau tak jelas.


"Maling apa, hah?! aku tungguin malah enak tidur disini, tidur yang di kamar tadi bersambung, iya?" omel Shena yang kali ini sudah berkacak pinggang.


Fajar yang baru sadar pun hanya bisa mengusap tengkuknya. Ia bangun lalu berdiri di hadapan istrinya yang kini berperut buncit.


"Shena itu cuma bangunin Aa, kenapa yang lain ikutan bangun juga?!" protes Shena yang kini sedang di tunjuk dengan lurusnya oleh si daging tak bertulang milik suaminya.


"Mana Aa tahu, lagian kan emang biasanya satu paket," jawab Fajar yang sambil senyum senyum.


Ia juga tak tahu kenapa bagian intinya itu malah ikut bergeliat malah semakin keras, tegak seolah siap bertempur.


"Cepetan mandi, aku mau buru buru kerumah Abah ih!" titah Shena yang mau keluar lagi namun di tarik tangannya oleh Fajar hingga wanita itu kembali berbalik badan dan langsung memasang wajah bingung.


"Apa?" tanya Shena.


"Ini gimana? Aa gak bisa mandi kalau begini." kedua mata sepasang suami istri tersebut langsung berpusat pada si daging yang tak bertulang.


"Urusin lah sendiri, kok tanya Shena!" ucapnya sambil mencoba melepas tangan.


Tapi sayang, tenaganya tentu tak sekuat Fajar. Apalagi kini ia mudah lelah semenjak usia kehamilannya semakin bertambah.


Fajar yang tak mau buang kesempatan pun langsung menggendong Shena ala Bridal Style menuju sofa panjang yang memang ada disana dekat wastafel.


"Aa mau apa?" tanya Shena panik.


"Kamu pikir, kalau udah gini biasanya mau apa, Sayang?" Fajar tersenyum dengan ekpresi penuh kemesuman.


Shena yang tahu akan ada kejadian apa habis ini mulai pasrah, menolak pun rasanya sangat karna hanya akan buang buang waktu saja.


"Boleh ya minta di jepit sekarang," bisik Fajar dengan suara berat, napsunya kini sudah di ubun ubun padahal malam tadi mereka sudah melakukannya dengan durasi yang cukup lama sampai bergantian memegang kendali.


Fajar selalu membiarkan Shena melakukan apa pun yang ia suka demi mendapat kenikmatannya sendiri.


Bercinta lalu mendapat pelepasan bersama adalah tujuan yang sebenarnya, Fajar tak akan membiarkan penyatuan mereka berakhir sebelum Shena sampai di puncak surga dunia.


"Boleh gak boleh juga pasti di jepit!" jawab Shena dengan nada kesal.


Dan itu semakin membuat Fajar terAngSaang hebat. Permainan di mulai dari kedua bibir yang kini menyatu, saling menyesAap lalu membelit lidah hingga desAahan pun mulai terdengar saat satu tangan Fajar sudah menyentuh salah satu gundukan daging kenyal yang kini semakin besar dan padat.


Beruntungnya Shena memakai dress dengan kancing depan yang memudahkan pria di atasnya itu untuk membuka satu persatu tanpa melepas cium an mereka yang semakin panas dan liar. Semenjak berbadan dua Shena jauh lebih cepat terang sAang, ia mudah basah di bagian inti tubuhnya meski hanya ciuman yang di lakukan oleh sang suami.


Seperti saat ini, entah sudah sebanjir apa lembah di bawah sana saat Fajar sudah mulai mengeluarkan kedua gunung kembar dari sarangnya.


DesAahaan Shena kian menjadi, ia selalu di buat tak berdaya jika Fajar sudah bermain di area sensitifnya tersebut. ******* liar hingga gigitan kecil membuat wanita yang sedang mengerang nikmat itu tak kuasa membuka mata.


"Ayo, A'," mohon Shena yang malah menekan kepala suaminya di bagian dada yang membusung kian menantang.


Fajar tersenyum senang, penolakan yang diberikan istrinya beberapa saat tadi tak berlaku saat ini saat Shena justru merengek ingin di perlakukan lebih.


"Aaaaa ah--," ******* itu lolos lagi saat jari jari nakal Fajar mulai mengusap si lembah yang sudah sangat basah setelah ia membuka dan membuang asal kain tipis penutupnya.


Tanpa membuka baju, Shena kini sudah di jelajahi lagi sampai wanita itu menjerit pelan namun suara tersebut justru semakin menggaiRahkan suaminya yang kini sedang.... ( terusin aja sendiri ya)


"Enak, Sayang?" bisik kembali Fajar yang di barengi dengan EraAngAn.


"Hem, tapi jangan terlalu cepat, A'."


Ups, itulah Fajar, saking nikmatnya kadang ia lupa jika wanita halalnya itu kini sedang berbadan dua, ada makhluk kecil yang harus ia mereka jaga meski sedang sibuk bercinta.


Tak ingin membahayakan, Fajar menarik tubuh Shena yang masih berbalut dress itu keatas pangkuannya.


"Kamu yang main, Sayang."


Shena yang tahu harus berbuat apa hanya mengangguk dengan kedua mata masih terpejam rapat.


Rasa yang mereka rasakan tak bisa di ungkapkan dengan kata kata apalagi saat Fajar menenggelamkan lagi kerikil kecil di ujung puncak gunung milik Shena ke dalam mulutnya. Bak seorang bayi, ia terus menyesap nya tanpa ampun.


Entah sudah berapa lama keduanya bermain, yang jelas kini pasangan halal itu tengah bersiap untuk mengeluarkan lahar cinta mereka masing-masing di puncak pelepasan surga dunia.


.


.


.


"Kalian jadi kerumah Abah dan Enin?" tanya Bubun saat anak mantunya itu baru sampai di ruang makan.


"Jadi, anter Shena dulu baru Aa ke Kantor," jawab Fajar sambil menarik kursi untuk istrinya duduk.


Bubun hanya mengangguk, ia tak pernah melarang saat Fajar dan Shena ingin menginap dan menghabiskan waktu di rumah mertuanya tersebut, karna paham betul perasaan pasangan baya itu yang selama ini hidup tanpa satu pun keturunan kandung.


Ayah Keanu yang hanya anak angkat yang tak lain bayi yang mereka temukan di gudang nyatanya tak pernah berubah kasih sayangnya. Pria itu selalu berbakti karna hanya Abah dan Enin yang ia punya selama ini, meski menemukan keluarga kandungnya yaitu keluarga Lee tapi Ayah adalah seorang anak yatim piatu yang kala itu hanya memiliki kakek saja.


"Besok Bubun juga kesana temani kamu ya, Shena," ucap Bubun yang khawatir karna tahu putranya akan keluar kota.


"Iya, Bun. Mau bawa pasukan juga boleh," sahut Fajar yang pasti itu akan membuat Enin dan Abah semakin senang.


"Nah, betul sekali itu. Bawa aja semua, Lilin gak marah kok' ikhlas ridha dunia sampe ke akhirat," sahut Si bungsu sambil cekikikan di balik punggung istrinya sebab ia mendapat tatapan tajam dari Bubun.


"Abang juga gak apa apa, pasti pada kangen juga tuh sama Abah juga Enin," timpal Angkasa yang ikut ikutan adiknya.


"Kalau mau bawa pasukan, Ayah kalian juga harus ikut!" cetus Bubun.


"Apa? Ayah ada lemburan di kantor," elaknya langsung, pria paruh baya itu pun dengan cepat mendapat cibiran dari kedua putranya.


Sedang Fajar selalu jadi orang paling tenang yang hanya menikmati perdebatan yang terjadi di antara keluarganya tersebut.


"Kamu kalau sempet kesana ya, Jani," pinta Bubun pada menantu bungsunya tersebut.


"Besok bareng Bubun aja kalau gitu, tapi aku gak bisa nginep karna harus anter Mama kerumah sakit," jawab Rinjani.


"Mama mu sakit, Nak?" tanya Mhiu.


"Enggak, Mhiu, cuma Check up aja kaya biasa."


Mama Marni yang tak lain adalah besan Bubun memang memiliki riwayat penyakit yang tak bisa ada masalah sedikit bisa langsung di bawa ke rumah sakit, jadi tak salah jika si mantan JaHe itu sangat sangat di jaga kesehatan.


"Salam saja untuk Mama mu ya, lain kali kita bisa makan siang atau makan malam bersama," ucap Mhiu yang langsung di iyakan oleh Rinjani.


Mendengar itu, Shena tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Fajar yang seolah peka langsung ke meraih tangan istrinya, Shena yang menoleh membuat pandangan mereka akhirnya bertemu.


.


.


.


Jangan sedih, ada aku dan kamu yang sebentar lagi justru jadi ibu ya....