
Melihat tetua nam terdiam menyaksikan interaksinya dengan gadisnya jin hu berdehem.
"khem. lalu apa mau mu?" tanyanya lagi membuat perhatian mereka kembali fokus pada tujuan awalnya.
"Karena jian li kami telah kehilangan tangan kanannya itu sama saja dengan membuat dia menjadi orang tak berguna.
Tak akan ada pria dari keluarga terpandang yang sudi menikahinya.
Maka kau harus bersedia menikahinya karena itu adalah perbuatanmu." jelas tetua nam.
Ze yang memang sangat lelah setelah bermeditasi lama menguras tenaga dan berkelahi dengan banyak orang.
Belum lagi dia telah menempuh perjalanan lumayan jauh dan belum beristirahat sedikitpun.
Tak lagi menghiraukan perdebatan jin hu dan tetua nam dia tertidur begitu saja di kursinya.
"Jika aku menolak lantas apa yang akan kau lakukan?" tanya jin hu santai di lihatnya ze malah tertidur begitu lelap.
Jin hu bangkit lalu mengangkat tubuh ze di bawanya ke ranjang dan di rebahkannya perlahan takut membangunkannya.
Perlakuan itu tak luput dari perhatian tetua nam, mentri nam dan cui xi.
"Kau harus mau karena aku akan memaksamu untuk itu." katanya sombong dan mulai menggunakan tenaga dalamnya menekan roh seisi kamar.
"Aku telah memiliki gadis pilihan dan tak ada yang bisa memaksaku untuk menikahi gadis lain" jawab jin hu santai.
"kau bisa menjadikan dia selirmu. Jian li kami tak akan pantas jadi selir. mengingat klan nam kami yang besar ini." jawab tetua nam angkuh.
"Kekasihku tak pantas jadi selir. Bahkan aku tak memiliki niat untuk memberi dia beban dengan mendatangkan saingan.
Jika perlu aku sendiri yang akan menyingkirkan orang yang akan membuat hatinya tidak nyaman." jawab jin hu menatap tak bersahabat pada tetua nam.
"kau berani mengancam aku huh?" tanya tetua nam geram.
"Apa yang kau inginkan?" tanya jin hu sembari tersenyum misterius membuat 3 orang di depannya waspada.
"Biarkan klan Nam kami masuk ke negeri atas awan dan mengambil harta yang mereka temukan untuk dibawa pulang tanpa bagi hasil dengan istana atas awan." tawarnya sarkas.
"jika aku tidak mau lantas kenapa ha?" tanya jin hu dengan suara meninggi mulai tak bisa menahan emosi.
"Jangan salahkan orang tua ini jika melakukan tindakan kasar untuk memaksamu menerima ke 2nya.
Aku sudah memberimu kesempatan memilih dan kau menolak maka aku tak segan lagi." tetua nam mulai nenggunakan kekuatan penekanannya 100 persen.
Jin hu membuat lingkaran perlundungan untuk ze dan mulai mengerahkan tenaga dalamnya menyerang tetua nam.
Di arahkannya telapak tangan kearah tetua nam dan rombongan lalu
"bruk bruk bruk. uhuk uhuk uhuk" mereka bertiga terbanting ke luar dan terbatuk darah.
"Bukankah levelmu harusnya di 8 akhir?" tanya tetua nam.
"Lalu kau berani ingin menekan aku karena pencapaian mu meningkat huh?" tanya jin hu menyeringai membuat 3 orang lawannya ketakutan. orang orang telah keluar kamar saat mendengar keributan.
"Ada apa ini?" tanya seorang tamu
"tetua dari keluarga nam menantang yang mulia tuan jin hu." jawab seorang yang telah dulu ada di luar menyaksikan.
"keluarga nam bukankah keluarga gadis yang tadi sore tangannya di potong oleh yang mulia tuan jin hu?" tanya tamu lain
"Ya. kurasa tetua keluarga nam merasa lebih kuat maka dengan sombongnya mendatangi yang mulia tuan jin hu untuk kompensadi." jawab tamu yang tadi. ada banyak lagi desas desus tentang keributan yang terjadi.
Sedangkan ze di dalam kamarnya masih saja tertidur dengan lelapnya. Selain karena kelelahan kekuatan yang melindungi ze juga sengaja di buat dapat meredam suara. jin hu tak ingin ze terganggu dalam tidurnya yang tenang.