
"Bagaimana jika utusan yang lain datang mencarinya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Ah nanti saja diurus." gumam Jin hu lalu keluar dari ruangan itu melalui jendela.
Dia keluar dan kembali ke pohon besar tempat dia melompat tadi dan memanggil hewan rohnya untuk kembali.
Kereta milik Jin hu keluar masuk istana tanpa hambatan dan tanpa ada yang curiga berkat perintah Raja Ruo sebelumnya yang memerintahkan memuluskan kereta Jin hu di gerbang istana.
Jin hu kembali melompat naik ke dalam kereta saat kereta miliknya melewati pohon tempat dia bersembunyi.
Jin hu turun dari kereta dengan santai seolah tidak terjadi apapun juga. Jin hu masuk kedalam bangunan tempat Rong yuo tinggal dan melihat Ze masih memeriksa nadi Rong Ruo.
Ze sengaja hanya memeriksa tanpa berbicara apapun sebelum memastikan misi Jin hu berhasil. Ze tersenyum saat Jin hu masuk dan mengacungkan jempol tanda misi berhasil.
"Kakak kedua kau sudah kembali? Urusanmu cepat selesainya?" tanya Huo nan.
"Orang yang ingin aku temui sedang tidak di tempatnya. Jadi, aku kembali lebih awal." jawab Jin hu.
"Oke cukup." ucap Ze membuat semua mata mengarah padanya.
"Kau sudah bisa menelan 1 butir pil regenerasi." ucap Ze lalu memberikan pil yang dia maksud pada Rong yuo.
Rong yuo menelan pil itu tanpa ragu dan Ze segera menotok beberapa bagian di kepala dan lengan Rong yuo untuk membuka titik syarafnya.
Perlahan tangan Rong yuo tumbuh kembali dari tulang yang terbentuk, saraf-saraf yang terjalin, aliran darah, daging hingga terakhir kulit terlihat dengan sangat jelas pembentukan kembalinya.
Semua mata menatap takjub apa yang baru saja mereka saksikan. Bahkan Raja Ruo dan Rong yuo meneteskan air mata haru karenanya.
"Ta tangan i ini tanganku?" tanya Rong yuo mengangkat tangannya.
"Tentu itu tanganmu. Jika bukan mengapa tangan itu ada di situ." jawab Ze ketus.
"Maaf aku terlalu senang." ucap Rong yuo.
"Kau harus rajin melatih tanganmu itu dengan menggerak-gerakkannya. Jika masih belum mampu bergerak sendiri kau gunakan tangan satumu untuk membantu mengepal dan membuka kembali tangan itu hingga kau mampu menggerakkannya." jelas Ze memberi pengarahan pada Rong yuo.
"Baik master Ze." saut Rong yuo sambil mengikuti arahan Ze dengan terus mengepal dan membuka tangannya.
"Jangan panggil aku master itu berlaku untuk anda juga Yang mulia! Gelar itu sungguh beban batin buatku." protes Ze.
"Mengapa?" tanya Raja Ruo dan Rong yuo kompak.
"Aku merasa menjadi orang yang sudah sangat tua dengan gelar itu." jawab Ze dengan wajah ketus membuat semua orang menahan tawa karenanya.
"Baiklah putri Ze." saut Raja Ruo dengan tersenyum lucu masih susah payah menahan tawa.
"Ya Dewa aku kira ada alasan apa dia tidak ingin dipanggil master. Ternyata hanya karena merasa tua." batin Raja Ruo.
"Ini sungguh jati diri sesungguhnya dari kakak iparku. Seorang yang polos dan kekanakan." batin Huo nan.
"Tetap saja dia masih seorang gadis kecil. Mengapa kau begitu menggemaskan?" batin Jin hu.
"Sehebat apapun gadis ini tetap seorang remaja yang memiliki sisi kekanakan." batin Rong yuo sambil menatap kagum pada Ze.
Jin hu yang menyadari tatapan Rong yuo merasa tidak nyaman dan tentu cemburu.
"Apakah terapi hari ini sudah selesai sayang?" tanya Jin hu dengan nada lembut namun sedikit menekankan kata sayang agar terdengar oleh seseorang yang termenung menatap wajah Ze.
Mendengar kata sayang dari mulut Jin hu ada rasa kecewa di hati Rong yuo. Dia menatap heran pada Jin hu. Raja Ruo yang menyadari tatapan bertanya putranya angkat suara menjelaskan.
"Putri Ze ini adalah calon istri dari Jin hu itulah mengapa aku dapat berjumpa dengan dirinya.Aku bertemu dengannya melalui Jin hu dan Huo nan yang menjelaskan tentang Ze calon istrinya dan kemampuannya." jelas Raja Ruo.
"Baik untuk hari ini cukup kita akan melanjutkan terapinya besok pagi lagi." ucap Ze.
"Tapi, untuk menghindari segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, kita harus bisa untuk merahasiakan perihal tangan pangeran Rong yuo yang sudah tumbuh lagi termasuk pada keluarga anda Yang mulia. Cukup kita berlima yang tahu dulu setidaknya hingga pengobatan dan terapi pangeran Rong yuo telah tuntas dan keadaannya sehat 100 persen." ucap Ze.
"Ya aku setuju tentang itu juga. Aku tidak ingin mengambil resiko. Semakin sedikit yang tahu maka semakin sedikit mulut yang harus dijaga." saut Raja Ruo.
"Ingat satu hal! saat tanganmu dapat bergerak sendiri latihlah meraih sesuatu dari yang cukup besar hingga yang sangat kecil. Saat kau berhasil meraih benda kecil, setelah itu kau bisa melatih mengangkat beban yang perlahan dari yang ringan hingga beban yang tidak mampu untuk kau angkat." jelas Ze mengarahkan.
"Baik mast eh maaf putri Ze." saut Rong yuo.
"Huft." Ze menghela napas kesal mendengar gelar master yang hampir terucap dari mulut Rong yuo.
"Ya sudah aku harus meracik sesuatu untuk diminum pangeran Rong yuo." ucap Ze.
"Huo nan tolong bantu aku untuk membaluri lengan pangeran Rong ruo dengan minyak ini dan urut perlahan dari bawah siku hingga ujung-ujung jarinya." pinta Ze sambil menyerahkan botol berisi minyak yang dia maksud.
"Baik kakak ipar." saut Huo nan lalu meraih botol yang diberikan Ze padanya.
"Yang mulia sebaiknya kembali ke istana depan untuk menghindari kecurigaan." ucap Ze.
"Ya aku fikir putri Ze benar. Aku akan kembali ke istana dan akan kembali besok pagi." saut Raja Ruo.
"Ya itu yang terbaik untuk saat ini." ucap Ze.
"Kak Jin hu ikut aku. Aku butuh bantuanmu untuk sesuatu." ucap Ze mencari alasan agar dia bisa mengurus orang yang berhasil dilumpuhkan oleh Jin hu tadi bersama Jin hu.
"Baik ayo aku akan membantumu." saut Jin hu.
"Ayo." ajak Ze dan mereka berkalan menuju kamar tempat orang tadi terbaring sadar namun tidak mampu bergerak atau bahkan sekedar bersuara.
"Dia ada di ruangan tepat di sebelah kanan kamar pangeran Rong yuo." ucap Jin hu memberi arah.
"Oh ternyata dia selalu berada di dekat pangeran Rong yuo untuk memastikan kondisinya." ucap Ze.
Mereka memasuki kamar itu bersama lalu menutupnya rapat.
"Jika terus di sini maka akan ketahuan oleh yang lain." ucap Ze.
"Lalu?" tanya Jin hu.
"Bagaimana jika kau tutup rapat matanya ikat erat dan tangan serta kakinya kita bawa ke dalam batu dimensi." bisik Ze.
"Bukankah dia sudah lumpuh? Mengapa harus diikat lagi?" tanya Jin hu berbisik.
"Apakah kau sudah lupa jika syarat masuk kedalam batu dimensi harus menelan pil penawar segala racun agar tidak tewas?" tanya Ze berbisik.
"Oh oke aku akan mengikatnya." saut Jin hu yang paham maksud dari Ze.
Sedangkan di luar sana
"Mengapa mereka harus masuk ke dalam ruangan lain saat meracik ramuan dan mengapa harus menutup pintunya?" tanya Rong yuo pada Huo nan.
"Oh itu karena kakak ipar Ze tidak suka diganggu siapapun saat meracik. Cukup orang yang ditugaskan membantu dan dirinya yang melihat proses peracikannya dia tidak suka diawasi saat meracik." jawab Huo nan.
"Oh begitu." saut Rong yuo mengangguk paham.
jangan lupa terus dukung Author dan aksi dari Ze dengan terus memberi
vote like dan komentnya