Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Desa Shang


"Woah kakak ipar dari mana kau mendapatkan ular raksasa sebesar itu?" tanya Huo nan heran dan takjub.


"Itu ular api pemberian ayahku." jawab Ze.


"Bukankan pemberian Grand master Ji tidak sebesar itu dan jika itu bertumbuh tidak mungkin secepat itu bukan?" ucap Huo nan tidak percaya.


Ze memutar matanya malas mendengar pertanyaan Huo nan.


"Apakah kau lupa jika aku memiliki ceri emas sebagai tanaman rohku dan juga kolam air suci di dalam batu dimensiku?" tanya Ze.


"Tentu aku ingat hal itu." jawab Huo nan.


"Tapi, apa hubungan itu semua dengan ular raksasa tadi?" tanya Huo nan masih tidak paham dengan maksud Ze.


"Kedua itu membantu hewan roh berkultivasi lebih cepat dari waktu kultivasi normal. Salah satunya saja sudah sangat membantu apa lagi ini keduanya dipadukan. Akan jauh lebih pesat laju perkembangan kultivasi dari hewan roh itu." jelas Jin hu yang sangat tahu jika saat ini Ze sedang tidak ingin menjelaskan pada Huo nan.


"Oh seperti itu rupanya. Sungguh luar biasa dahsyat perkembangan dari ular api milik kakak ipar itu. Aku sungguh hampir pingsan melihatnya." ucap Huo nan takjub.


"Apakah kau mengerjakan sesuatu?" tanya Jin hu.


"Hm sedikit berburu bahan untuk pil yang langka dengan ular api." jawab Ze sedikit berbohong karena masih belum ingin mengungkap perihal tubuh baru Hui tu.


"Mari sarapan dulu. Sudah hampir lewat waktu sarapan." ajak Jin hu.


"Wah kalian menyiapkan sarapan rupanya." ucap Ze semangat.


"Iya setelah selesai bersih-bersih kami menyiapkan sarapan kakak ipar. Hanya ayam hutan karena ikan di sungai ini tidak ada yang muncul." ucap Huo nan.


"Hal wajar jika ikan-ikan itu pergi menjauh karena ramuan penghapus jejak racun itu mengganggu kwalitas airnya membuat hewan air di sekitarnya kurang nyaman. Tapi tidak lama lagi keadaan airnya akan baik kembali." jelas Ze.


"Oh seperti itu rupanya yang terjadi." saut Huo nan.


"Ayo segera selesaikan sarapan kita dan lanjut kembali perjalanan. Pria itu pasti akan menyusul ke sini segera karena jejak racunnya menghilang di tempat ini." ucap Jin hu.


"Iya kakak kedua benar." saut Huo nan membenarkan ucapan Jin hu.


"Ayo....!" seru Huo nan penuh semangat.


Setelah selesai dengan sarapan mereka, mereka segera meninggalkan tempat itu dan kembali kepada tujuan utama mereka. Yaitu istana api penyucian tempat Raja Ruo.


"Kakak ipar, bukankah kakak ipar dan ular api sudah cukup kuat untuk menghadapi pria misterius itu?" tanya Huo nan.


"Belum tentu seperti itu. Kita tidak boleh meremehkan orang itu. Dia dapat membuat ayahku terluka saja sudah cukup untuk membuktikan jika orang ini cukup kuat. Apa lagi jika terbukti jika dia adalah orang yang merubah kerajaan besar menjadi hutan dan gua misterius sudah pasti dia adalah orang yang sangat kuat." jawab Ze.


"Ya kakak ipar ada benarnya juga." ucap Huo nan.


"Tapi, apa yang kakak ipar maksud dengan merubah kerajaan menjadi hutan dan gua?" tanya Huo nan penasaran.


"Hm itu ada hubungannya dengan gua Si hui tu. Intinya awalnya gua dan hutan di sekitarnya adalah sebuah kerajaan besar. untuk cerita yang lebih lengkap belum saatnya aku cerita padamu." jawab Ze.


"Astaga gua Si hui tu yang melegenda itu yang hanya terbuka setahun sekali itu yang kakak ipar maksud?" tanya Huo nan.


"Iya dan berhenti bertanya terus menerus. Jika tidak, aku tidak keberatan memanggil ular api untuk menemanimu berbicara." jawab Ze sambil mengancam karena sudah jenuh terus ditanya-tanya oleh Huo nan.


"Astaga jangan....!" seru Huo nan terkejut.


"Tidak akan bertanya lagi." ucapnya ketakutan pada ancaman Ze.


Setelah seharian dalam perjalanan, mereka tiba di sebuah desa yang sangat memprihatinkan. Masyarakat di sana terlihat sangat pucat dan kurus. Kulit mereka memiliki ruam-ruam dan bau tubuh mereka sangat tidak nyaman untuk di hirup.


"Iya ini sangat busuk dan membuat mual." saut Jin hu.


"Kakak kedua bukankan beberapa bulan yang lalu kita masih mampir di desa ini dan ke adaannya tidak sesepi dan sebau ini." tanya Huo nan pada Jin hu.


"Iya kau benar entah apa yang terjadi pada desa Shang ini." jawab Jin hu.


"Oh apakah itu benar? Jika seperti itu, maka kita harus mencari tahu tentang apa yang tengah terjadi dengan desa dan penduduknya." putus Ze.


"Mengapa kakak ipar dapat bernapas bebas? Tidakkah kakak ipar terganggu dengan aroma menyengat ini?" tanya Huo nan heran melihat Ze tidak menahan napas juga tidak menutupi hidungnya.


"Oh aku lupa memberi kalian." ucap Ze lalu mengeluarkan sebuah botol dari dalam kantong penyimpanannya.


Ze meneteskan pada ujung jari telunjuk Jin hu dan Huo nan masing-masing satu tetes cairan dari dalam botol itu.


"Oles di depan lubang hidung kalian maka kalian tidak akan terganggu dengan aroma menusuk hidung ini." ucap Ze menerangkan cara penggunaan cairan penyaring udara racikannya.


Huo nan dan Jin hu mengikuti arahan Ze dan terkejut karena setelahnya mereka tidak lagi menghirup aroma menyengat itu.


"Wah ajaib cairan apa itu kakak ipar?" tanya Huo nan.


"Ini cairan penyaring udara racikanku." jawab Ze.


"Wah kakak ipar memang luar biasa jenius." seru Huo nan.


"Kapan kakak ipar membuatnya?" tanya Huo nan lagi lupa dengan ancaman Ze sangking antusiasnya dengan cairan buatan Ze.


"Aku meracik cairan ini belum lama ini untuk hal-hal tidak terduga seperti sekarang ini." jawab Ze.


"Berhenti bertanya dan mulai fokus pada desa Shang ini." ucap Ze sebelum Huo nan sempat bertanya lagi.


"Apa kau merindukan ular api milikku?" tanya Ze dan Huo nan segera menggeleng sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Di sana ada orang." Seru Ze saat melihat seseorang keluar dari dalam rumahnya.


"Ayo kita ke sana." ajak Ze semangat dan dua orang itu hanya bisa mengekori Ze.


"Permisi tuan." panggil Ze.


Orang itu berbalik dan menatap Ze, Jin hu dan Huo nan heran. Karena, baru kali ini orang luar mau menyapa penduduk desa.Tidak hanya menyapa mereka juga tidak terlihat jijik dan terganggu dengan aromanya.


"Iya nona ada apa?" tanya pria itu.


"Ada apa dengan desa ini dan penduduknya mengapa kalian menjadi seperti ini?" tanya Huo nan.


"Bisa aku memeriksa nadi anda tuan?" tanya Ze mengabaikan Huo nan.


Pria itu tampak ragu dan menatap penuh selidik ke arah Ze dan yang lain.


"Tenang saja aku hanya ingin lihat apakah penyebab kondisi anda saat ini." ucap Ze menerangkan maksudnya.


"Desa Shang kami terkena kutukan." ucap pria itu.


"Bisakah anda percaya jika aku mengatakan ini bukan kutukan tapi ada yang meracuni kalian semua?" tanya Ze.


Pria itu menatap lekat-lekat wajah dan mata Ze mencari kebohongan dari sana tapi dia tidak menemukan itu.