
Jin hu kembali ke kamarnya dan memilih kembali ikut berbaring di sebelah Ze. Jin hu berbaring miring ke arah Ze tidur dipandanginya wajah tertidur Ze sambil tersenyum.
Kemudian, dia memeluk pelan tubuh kekasihnya itu takut jika terlalu erat akan membangunkannya. Tidak lama setelah itu Jin hupun ikut tertidur kembali.
Ze mulai membuka matanya perlahan dia hendak meregangkan ototnya namun diurungkannya karena merasakan ada tangan yang tengah meneluknya.
"Apakah dia sempat terbangun?" gumam Ze menatap wajah Jin hu. Ze berfikir demikian karena posisi Jin hu tidur sebelumnya di sebelah kanan kini dia berada di kiri.
"Selamat pagi sayang." ucap Jin hu dengan suara serak khas bangun tidurnya. Jin hu terbangun tepat di saat Ze tengah asik memandangi wajah tidurnya.
"Hm selamat pagi." jawab Ze
Jin hu tersenyum ke arah Ze dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Ze.
"Sayang aku sangat meridukan dirimu. Kau sungguh tega meninggalkan aku sendirian di sini." ucap Jin hu
"Sendiri? Apakah otak sayangku ada masalah?" tanya Ze polos
"Apa maksudmu dengan otakku bermasalah?" tanya Jin hu balik.
"Jelas-jelas sayangku pergi dengan raja Ruo dan Huo nan. Di sini juga masih ada Wen yuan serta Liu yu dan sayangku masih mengatakan jika kau aku tinggalkan sendirian di sini." jawab Ze
"Itu benar, aku hanya seorang diri di sini selama kau bertapa di dalam sana. Karena, setelah kembali dari mengantar guruku, aku tidak pernah meninggalkan kamar ini. Mereka semua tidak ada yang menemani aku di sini." jelas Jin hu.
"oh. Mengapa kau harus mengurung diri di dalam kamar ini?" tanya Ze
"Aku tidak ingin saat kau keluar dari dalam batu dimensi aku tidak ada di sini. Aku sangat merindukan dirimu hingga aku tak ingin melewatkan waktu walau sebentar saja tidak bersamamu saat kau keluar." jawab Jin hu
"Apa kau lapar?" tanya Jin hu
"Hm sangat lapar." jawab Ze
"Maka bersihkan dirimu dulu sebentar lagi sarapan kita akan datang. Aku sudah menyuruh orang menyiapkan air hangat untukmu berendam." jelas Jin hu
Jin hu bangun dari tidurnya dan membuka pintu setelah mengatakan itu pada Ze.
"Bawa air hangatnya masuk dan isi bak mandinya segera." ucap Jin hu pada pelayan yang tengah berdiri di depan pintu.
"Baik tuan." jawab pelayan
Tidak lama setelahnya beberapa orang masuk membawa air untuk berendam Ze. Setelah semua siap Ze segera bangkit dan berendam di dalam bak air hangat yang telah disediakan untuknya.
Huo nan datang setelah Ze dan Jin hu menyelesaikan sarapan mereka dan ikut duduk bergabung bersama mereka.
"Kakak ipar kau telah selesai bertapa?" tanya Huo nan saat hendak duduk di kursi.
"Hm aku telah selesai dan keluar dari batu dimensi semalam." jawab Ze
"Baguslah. Tapi, mengapa aku tidak dapat melihat pencapaian yang kau miliki sedikitpun? Kau seolah seorang tanpa bakat. Aura pencapaianmu kosong aku tak merasakan sedikitpun." tanya Huo nan bingung
"Itu karena ayah telah menutupi aura pencapaianku. Sebelumnya guru tang juga melakukan hal yang sama saat aku bayi hingga remaja.
Tapi, beberapa orang maaih dapat merasakan pencapaianku. Saat ini siapapun selain orang berkekuatan Dewa tak akan mampu melihat dan merasakan tingkat pencapaianku." jawab Ze membuat Huo nan mengangguk paham.
"Mengapa harus ditutupi? Bukankah suatu kebanggaan saat kau memiliki dua bakat sekaligus?" tanya Huo nan lagi.
"Bukankah masih ada kakak ke 2 dan grand master Ji yang dapat melindungimu dari mereka semua?" tanya Huo nan
"Memang tapi, bagaimana jika saat ayah dan kak Jin hu tidak bersamaku saat mereka semua menyerangku?
Bahkan keluarga Duo yang tidak seberapa kuatpun mampu membuat aku menderita luka parah saat itu.
Bagaimana aku bisa menjamin keselamatan diriku saat keluarga yang lebih kuat dari keluarga Duo yang berniat menyingkirkan aku?" tanya Ze balik
"Kau memang benar kakak ipar. Mereka yang iri padti akan berusaha mencelakaimu." jawab Huo nan
"Oh iya kakak ipar. Berbicara mengenai keluarga Duo aku punya kabar untukmu. Tapi, sebelumnya biar kakak ke 2ku yang memberi tahumu tentang berita utsmanya dulu." ucap Huo nan sambil melihat ke arah Jin hu.
"Apa itu?" tanya Ze penasaran dan ikut memandang ke arah Jin hu.
"Duo liu sia si gadis ular yang liar itu akan ikut dalam kompetisi itu." jawab Jin hu
"Oh rupanya dia yang akan menjadi lawanku nanti." ucap Ze sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
"Mengapa kau seperti sudah memperkirakan ini akan terjadi?" tanya Huo nan
"Aku memang menantikan kehadiran gadis licik itu. Yah walau aku tak tau jika dia yang akan diutus mewakili tetua dari keluarga Duo." jawab Ze.
"Mereka berencana akan menukar bahan milikmu dengan bahan obat kualitas rendahan. Serta mereka akan menukar tungku milikmu dengan tungku kualitas rendah pula.
Karena, kwalitas obat yang dihasilkan seorang alkemish itu tergantung pada kwalitas bahan dan juga tungku yang digunakannya." jelas Huo nan
"Biarkan saja mereka melakukan itu. Wen yuan...! Liu yu...!" panggil Ze
"Kami tuan putri" jawab mereka kompak
"Tuan putri?" beo Ze binging dengan panggilan baru mereka
"Kau adalah calon istriku maka panggilanmu harus mengikuti panggilanku mulai saat ini. Yang mulia tuan putri Ze." jawab Jin hu
"Huft terserah kalian." pasrah Ze tak ingin berdebat dengan Jin hu yang ujungnya dia tetap akan kalah.
"Carikan bahan obat kwalitas paling rendah untukku." perintah Ze
"Baik tuan putri" jawab mereka lalu segera pergi saat Ze menginaskan tangannya.
"Untuk apa bahan kwalitas paling rendah itu?" tanya Huo nan bingung.
"Untuk keluarga Duo ambil dan mereka akan tukar dengan bahan kwalitas rendah. Biarkan mereka merugi sedikit dulu.
Karena aku yakin jika orang yang mereka utus pasti hanya pelayan yang tidak tahu membedakan kwalitas bahan obat itu.
Kalian duduk tenang dan menonton saja. Karena, akan ada pertunjukan menyenangkan dan seru saat kompetisi berlangsung.
oh ya aku punya tugas untuk kalian bertiga untuk melakukan pengalihan saat aku mendekati tungku obat mereka." jelas Ze dan saat yang tepat Wen yuan dan Liu yu sudah kembali. Sangat mudah mendapatkan bahan obat kwalitas paling rendah hingga dalam waktu singkat mereka sudah selesai.
"Baik kakak ipar." jawab Huo nan
"Baik tuan putri" jawab Wen yuan dan Liu yu kompak sambil menyerahkan apa yang diminta Ze.