
Ze meneteskan cairan pelebur pada luka Jian li dan ibunya itu. Perlahan tubuh dua orang itu melebur, ada air mata yang mengalir di sudut mata mereka. Karena sesungguhnya, mereka masih sadar namun tidak dapat bergerak ataupun bersuara.
"Satu kerikil sudah di atasi. Sisa 2 keluarga lagi. Tapi, keluarga itu masih dapat menunggu untuk giliran meraka." ucap Ze.
"Ayo kita keluar dari sini dan segera kembali ke kediaman kakek sebelum ibu, kakek dan nenek khawatir." ajak Ze.
Mereka segera keluar dari kediaman lama keluarga Nam dan langsung masuk ke dalam kereta. Mereka segera pergi dari sana menuju kediaman tuan besar Shi.
"Apa yang akan terjadi setelah ini dengan mereka yang lain yang juga telah menghirup asap racun syaraf milikmu? Apakah ada efek lain selain dari yang kau sebutkan?" tanya Jin hu masih penasaran dengan racun baru yang dibuat Ze.
"Mereka akan bingung untuk beberapa hari saat mereka sudah dapat bergerak kembali. Setelah itu selain sebagian ingatan mereka yang hilang, tidak ada efek lain lagi." jawab Ze.
"Sedangkan unuk keluarga mereka yang hilang, karena mereka tidak ingat sejak kapan dan bagaimana mereka pergi, maka kemungkinan besar mereka akan menganggap yang hilang itu pergi tanpa berpamitan." lanjut Ze menjelaskan.
"Woah kakak ipar, apakah sungguh seperti itu? Maka sangat bagus karena mereka tidak akan menyimpan dendam terhadapmu. Karena, mereka tidak tahu jika anggota keluarga mereka telah berakhir di tanganmu itu." saut Huo nan kagum mendengar penjelasan Ze mengenai efek dari racun racikannya.
"Sebaiknya kita mencari kedai dulu. Aku sungguh sangat kelaparan saat ini." ucap Huo nan.
"Ya sebaiknya cari kedai dulu sebelum melanjutkan perjalanan kita." saut Jin hu.
Setelah itu mereka mencari tempat makan terdekat untuk mengisi perut yang sudah berontak ingin di isi.
"Tuan...! Kita sudah sampai." lapor Wen yuan saat sudah menemukan kedai untuk mereka.
"Hm masuklah terlebih dulu dan pesankan makan untuk kita semua." ucap Jin hu.
"Baik tuan." ucap Wen yuan lalu segera turun dari kereta dan masuk ke dalam kedai.
"Tunggu dulu!" ucap Ze mencegah Jin hu berjalan masuk je dalam kedai dengan menarik tangan Jin hu.
"Ada apa?" tanya Jin hu heran.
"Itu!" jawab Ze sambil menunjuk seseorang yang tampak tidak asing dengan dagunya.
"Bukankah itu mentri Wei?" ucap Ze.
"Iya kau benar sekali." jawab Jin hu.
"Tapi, siapa pemuda yang sedang duduk bersamanya itu? Mereka tampak serius membahas sesuatu." tanya Ze penasaran.
"Itu adalah salah satu kasim kepercayaan daru putra mahkota." saut Wen yuan yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka.
"Kau mengejutkan aku saja." gerutu Ze.
"Maafkan aku putri." ucap Wen yuan agak takut jika Ze akan marah kepadanya.
"Ya tidak masalah." saut Ze membuat Wen yuan menghela napas lega.
"Ruangan makan beserta makanannya telah siap dan sebaiknya kita lewat pintu belakan agar mereka tidak tahu jika kita memergoki pertemuan diam-diam mereka." saut Huo nan muncul dari arah yang sama dengan arah datangnya Wen yuan.
"Mereka akan mengusik kita jika tahu kita memergoki pertemuan mereka." lanjut Huo nan menjelaskan.
"Baiklah kau memang benar tentang itu. Ayo kita masuk makan agar kita dapat meneruskan perjalanan kita segera." ucap Jin hu.
"Mengapa mereka melakukan pertemuan diam-diam di tempat ini?" tanya Ze.
"Ada isu jika putra mahkota akan di gantikan karena kurang kompeten. Aku fikir saat ini putra mahkota tengah mengumpulkan dukungan untuk mempertahankan posisinya saat ini." jawab Huo nan.
"Hm masuk akal." ucap Ze.
"Sudahlah ayo makan saja! Aku sudah sangat lapar. Sekarang ini yang terpenting adalah mengisi perut. Masalah mereka bukanlah urusan kita." ucap Ze.
Mereka akhirnya masuk melalui pintu belakang dan masuk ke dalam ruangan yang telah di pesan Wen yuan untuk mereka.
"Aku heran sama kalian berdua." ucap Ze tiba-tiba menatap Jin hu dan Huo nan bergantian saat mereka sudah di dalam ruang khusus untuk mereka tempati makan.
"Kau Huo nan!" Ze.
"Ya ada apa dengan aku?" tanya Huo nan.
"Bukankah kau seorang pangeran bahkan calon putra mahkota dari kerajaan besar?" tanya Ze balik.
"Hm kakak ipar benar, lalu?" jawab Huo nan lalu bertanya lagi sambil melihat ke arah Ze.
"Tidakkah seharusnya kau disibukkan dengan urusan sebagai calon putra mahkota? Lalu mengapa kau bebas saja mengikuti kita tanpa beban sedikitpun?" tanya Ze.
"Itu karena ayahku memerintahkan kami semua pangeran dan putri menuntut ilmu dan mencari pengalaman di luar istana. Menjalani hidup layaknya orang biasa." jawab Huo nan.
"Kak Jin hu!" ucap Ze menatap Jin hu.
"Istana atas alam sudah memiliki orang-orang terpercaya dan dapat diandalkan. Di sana tidak ada perebutan kekuasaan jadi aku bisa bebas bepergian. Aku memang tidak terlalu suka berurusan dengan pemerintahan ataupun istana jadi aku memilih untuk berkelana saja." jawab Jin hu tanpa harus Ze bertanya secara langsung.
"Hm aku paham sekarang mengapa seorang pangeran dan seorang pemimpin istana bisa berkeliaran tanpa beban." ucap Ze sambil mengangguk paham.
"Ha ha ha ha." tawa Jin hu pecah mendengar pernyataan Ze.
"Kau ada-ada saja." ucap Jin hu sambil mengelus halus puncak kepala Ze.
Setelah selesai makan mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju ke kediaman tuan Shi.
"Kakak ipar...!" panggil Huo nan.
"Ya ada apa?" tanya Ze.
"Bukankah pil untuk penyembuhan putra dari guru Ruo sudah selesai kakak ipar buat?" tanya Huo nan.
"Iya sudah selesai semuanya." jawab Ze santai.
"Mengapa kakak ipar harus pergi sendiri mengantarkannya jika pangeran Yuo fan hanya harus menelan pil itu? Bukankah kakak ipar masih banyak urusan yang harus kakak ipar selesaikan?" tanya Huo nan.
"Tidak semudah itu juga. Aku perlu melihat dan memeriksa langsung seberapa parah luka dan seberapa kuat racun hati beku yang ada pada tubuh putra raja Ruo itu. Sehingga aku dapat menentukan jumlah dari pil yang harus ditelannya." jawab Ze.
"Mengingat jika racun itu sudah lama berada di dalam tubuhnya, maka harus ada terapi yang harus aku terapkan dan aku juga ingin membuka beberapa titik saraf pangeran Yuo fan agar tubuhnya dapat menyerap pil dan juga untuk mempercepat proses penyembuhannya." lanjut Ze menjelaskan.
"Oh seperti itu masalahnya. Aku memgerti sekarang mengapa kakak ipar harus turun tangan langsung mengantar pil itu." ucap Huo nan.
"Apa yang kakak ipar akan lakukan nanti terhadap 2 keluarga lainnya?" tanya Huo nan.
"Aku akan menyisakan mereka di akhir saat aku sudah tidak ada urusan yang mendesak. Mereka hanya debu tidak berarti untukku. Jika mereka tidak mengusik hidupku, kedepannya aku bisa saja melepaskan mereka." ucap Ze.
"Mengapa keretanya berhenti?" tanya Ze saat merasakan kereta yang tiba-tiba berhenti.
"Putri maaf tapi, ada Grand master Ji di depan sedang menghentikan kereta." jawab Wen yuan.
Mendengar jika ayahnya yang menghadang laju kereta Ze segera bangkit dan keluar dari kereta.
"Ayah....!" Seru Ze melihat ayahnya.
Jangan lupa dukungannya dengan
vote like dan komentnya
salam hangat
author
😊😊😊😊😊