Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Satu kerikil sudah diatasi


"A apa yang a akan kau lakukan?" tanya Hao li gugup.


"Ja jangan men mendekat!" seru Hao li saat Ze mendekati dirinya.


"Tenanglah dulu, karena kau sudah memberi aku informasi maka kau akan mati tanpa harus mengalami penderitaan panjang." ucap Ze lalu


"Sret" Ze menggunakan belatinya mengiris leher Hao li.


Tubuh Hao li bergetar hebat, darah segar mengalir dari lehernya dan akhirnya dia menghembuskan nafas terakhir dengan mata terbelalak.


Huo nan dan Wen yuan bergidik ngeri melihat kekejaman Ze. Mereka bersumpah di dalam hati, tidak akan pernah menyinggung Ze sedikitpun.


Ze kemudian meneteskan cairan pelebur dan seketika jasad Hao li lenyap dari pandangan mata.


"Ayo kita berangkat ke kediaman lama keluarga Nam." ajak Ze.


"Aku ingin menuntaskan satu kerikil itu dulu sebelum menuju istana api penyucian. Aku curiga mereka akan kembali melanjutkan aksi mencelakai keluargaku di saat efek bubuk halusinasi itu telah lenyap dari otak mereka." ucap Ze.


"Baiklah ayo. Kita harus segera berangkat dan menuntaskan urusanmu dengan keluarga Nam agar kita dapat segera kembali kekediaman kakek Jeong nam." saut Jin hu.


"Tentunya kita tidak ingin bibi Mei yin dan yang lain khawatir jika kita tidak segera kembali." lanjut Jin hu.


"Ya kak Jin hu benar. Ayo kita berangkat!" seru Ze penuh semangat.


Mereka akhirnya pergi dari hutan dan segera menuju kediaman lama keluarga Nam untuk menuntaskan urusan Ze dengan keluarga itu.


Setelah cukup lama di dalam kereta akhirnya mereka sampai pada tujuan mereka.


"Kita sudah sampai tuan." Lapor Wen yuan pada Jin hu.


"Kalian berdua tidak perlu ikut masuk. Kak Jin hu juga tidak perlu ikut." ucap Ze.


"Tidak sayang...! Aku akan ikut bersamamu." tolak Jin hu.


"Baiklah jika itu yang kak Jin hu inginkan. Maka kak Jin hu bisa ikut masuk." ucap Ze.


"Aku tidak akan bermain-main. Aku akan menggunakan langkah cepat dan singkat untuk menyelesaikan mereka. Itulah sebabnya aku menyuruh kalian tinggal di sini." jelas Ze.


"Telan pil penawar segala racun ini dulu." ucap Ze sambil menyerahkan pil yang dia maksud.


"Bukankah tadi aku sudah menelan pil penawar segala racun buatanmu?" tanya Jin hu heran.


"Memang benar, tapi ini tingkat dan kwalitas lebih tinggi. Racun dan ramuan yang akan aku gunakan nanti cukup kuat dan keras. Bahkan pil penawar segala racun tingkat tinggi level awal tidak akan sanggup menawarnya." jelas Ze membuat Huo nan dan Wen yuan terbelalak.


"seberapa kuatkah pengaruh racun itu? Bahkan Dewapun tak akan mampu menghadapinya aku rasa." batin Huo nan.


"Sungguh putri ini adalah ratu racun. Bahkan pil penawar segala racun tingkat tinggi tidak mampu menandingi racun racikannya. Aku bersumpah tidak akan menyinggungnya di masa kini maupun di masa mendatang. Aku lebih ingin menantang Dewa dari pada putri ini." batin Wen yuan.


"Baiklah aku akan menelannya." ucap Jin hu.


Mereka akhirnya masuk kedalam kediaman lama keluarga Nam. Ze segera mengeluarkan sebuah tabung sepanjang jengkal dan menggosok ujungnya dengan sebuah batu.


Tiba-tiba asap tebal keluar dari tabung kecil itu. Ze melempar ke dalam tabung berasap itu dan seketika kediaman lama keluarga Nam di penuhi asap.


"Kita akan masuk saat asap itu menghilang. Aku tidak ingin mengambil resiko menerima efek dari racun syaraf itu." jelas Ze.


"Apakah efek dari racun syaraf itu?" tanya Jin hu.


"Tentu akan membuat seluruh syaraf pada tubuh akan lumpuh. Tapi, itu hanya berlaku beberapa hari saja. Yang perlu kita hindari adalah efek pada otak kita." jelas Ze.


"Otak?" beo Jin hu penasaran.


"Ya otak kita akan kehilangan kemampuan daya ingat terhadap kejadian di saat terdekat dengan waktu kita menghirup racun itu. Dengan kata lain yang menghirup racun itu akan lupa tentang kejadian sebulan sebelumnya atau lebih dari saat menghirup asap dari racun itu." jelas Ze.


Tidak berapa lama asap tebal tadi sudah menghilang. Ze menatap ke arah Jin hu lalu berkata.


"Ayo kita masuk segera agar utusan kita dapat segera selesai di tempat ini." ajak Ze.


"Apakah kau yakin jika racunnya sudah tidak akan berpengaruh bila kita masuk ke dalam saat ini?" tanya Jin hu ragu, ada tersirat ketakutan dan kekhawatiran dari raut wajahnya.


"Racun itu hanya berupa asap dan dapat larut di dalam udara saat tidak terhitup dalam waktu singkat." jelas Ze.


"Saat tidak ada lagi asap yang terlihat, itu artinya sudah tidak ada lagi racun yang tersisa. Karena, racun itu sudah terlarut di dalam udara." lanjut Ze menjelaskan.


"Ayo masuk." ajak Ze lagi.


Mau tidak mau Jin hu hanya mampu mengikuti Ze untuk masuk ke dalam kediaman lama keluarga Nam.


Di dalam sana sudah banyak orang yang tergeletak tidak sadarkan diri akibat racun asap Ze tadi.


"Itu tetua Nam bukan?" tanya Ze saat melihat tubuh tua tetua Nam yang tergeletak di koridor bersama beberapa orang.


"Ya kau benar. Kita sungguh beruntung kali ini." ucap Jin hu setelah melihat siapa saja yang tengah tergeletak di dekat tubuh tetua Nam.


"Beruntung?" tanya Ze.


"Iya kita beruntung karena hampir semua orang yang kita cari ada di sini." jawab Jin hu.


"Itu keempat putra tetua Nam dan 2 orang di sana adalah mentri Nam dan ayah dari Hao li tadi." jelas Jin hu.


"Berarti kita tinggal mencari Jian li dan ibunya bukan?" tanya Ze.


"Ya kau benar." jawab Jin hu.


Ze segera mengeluarkan belatinya, menggores kecil kulit semua target yang di tunjuk Jin hu termasuk tetua Nam.


Ze meneteskan cairan pelebur super cepat miliknya dan seketika itu juga tubuh-tubuh itu melebur hingga hilang tanpa berbekas sedikitpun.


"Ayo kita cari 2 orang yang lainnya." ajak Ze.


Setelah itu mereka mulai membuka setiap pintu yang mereka jumpai dan memeriksa setiap sudut ruangan untuk mencari Jian li dan ibunya.


"Oh itu mereka berdua." seru Ze semangat saat melihat Jian li bersama ibunya berada di dalam sebuah ruangan yang Ze tebak jika itu adalah kamar milik Jian li.


Ze mendekati 2 orang target terakhirnya di kediaman Nam itu lalu kembali memberi luka gores pada mereka seperti korban sebelumnya.


Ze meneteskan cairan pelebur pada luka Jian li dan ibunya itu. Perlahan tubuh dua orang itu melebur, ada air mata yang mengalir di sudut mata mereka. Karena sesungguhnya, mereka masih sadar namun tidak dapat bergerak ataupun bersuara.


"Satu kerikil sudah di atasi. Sisa 2 keluarga lagi. Tapi, keluarga itu masih dapat menunggu untuk giliran meraka." ucap Ze.


"Ayo kita keluar dari sini dan segera kembali ke kediaman kakek sebelum ibu, kakek dan nenek khawatir." ajak Ze.


Hai para readers yang baik hati


jangan lupa vote like dan komentnya


kalau bisa tip seiklasnya juga kalau ada😉


salam hangat


Author


😄😄😄😄😄