
Xia er terkejut melihat semua penjaga gerbang tertunduk hormat di depan Ze yang sedang menunjukkan plakat miliknya.
"Siapa sebenarnya gadis ini? Mengapa para penjaga gerbang itu semua memberi hormat pada gadis ini? " batin Xia er.
Ze kembali naik kereta dan kereta mereka segera masuk ke dalam kawasan istana Kekaisaran.
sedang di gerbang tadi kereta milik Xia er didorong paksa oleh para penjaga gerbang agar keluar dari kawasan istana.
"Mengapa kalian semua tidak ada rasa hormat pada diriku?" seru Xia er murka.
"Maaf putri Xia er kami tidak bisa membiarkan putri masuk ke dalam kawasan istana." Ucap pemimpin penjaga gerbang.
"Kalian tidak memandang permaisuri lagi jika kalian berani mengusir aku." ucap Xia er berharap akan mendapatkan izin masuk ke dalam kawasan istana jika menggunakan nama permaisuri.
"Takutnya permaisuri sendiri yang hadir di sini sekali pun tidak akan bisa melakukan apapun untuk anda putri." Saut sangat pemimpin penjaga gerbang.
"Kalian meremehkan permaisuri?" ucap geram Xia er.
"Bukan meremehkan, hanya saja yang sedang kita hadapi adalah plakat yang setara dengan titah kaisar langsung. Jika permaisuri memaksa membantu putri masuk, itu sama artinya dengan permaisuri telah melawan perintah Kaisar." jelas Ketua penjaga gerbang.
"Siapa gadis itu? Mengapa dia bisa memiliki plakat yang sangat berharga seperti itu?" tanya Xia er.
"Kami tidak yakin dia siapa, tapi jika dia memiliki plakat itu, itu artinya dia sudah melakukan sesuatu yang sangat penting dan juga berharga untuk kaisar." jawab Ketua penjaga gerbang itu lagi.
"Sebaiknya putri pulang saja. Memaksa untuk masuk ke dalam kawasan istana di saat pemilik plakat melarang anda masuk sama saja dengan melawan titah kaisar dan hukuman yang akan anda terima adalah hukuman sebagai pemberontak yaitu hukum ma*i." jelas Ketua penjaga gerbang itu lagi.
Xia er memucat mendengar penjelasan dari penjaga gerbang di depannya itu. Dia memilih untuk pergi dari sana dari pada dia harus kehilangan nyawanya.
"Gadis angkuh dan sombong itu akhirnya ada yang mengalahkannya. Dia selalu sesukanya melakukan segala sesuatu tanpa perduli dengan orang lain. Dia merasa paling hebat hanya karena dia adalah keponakan dari permaisuri." ucap seorang pedagang di dekat gerbang.
"Iya kamu benar Hong aku sangat senang melihat putri sombong itu kalah telak." saut pedagang lain.
"Ha ha ha ha ha" beberapa orang mulai tertawa.
"Bahkan bibinya yang selalu dia andalkan tidak akan bisa membantu dia." ucap seorang wanita paruh baya yang juga seorang pedagang.
"Sudah, sudah cukup membahas itu. Kalian tidak boleh membahas ini lagi. Permaisuri memang tidak bisa melakukan apapun untuk itu. Tapi, dia bisa membuat kita semua celaka jika kita terus saja mengolok-olok keponakannya itu. " tegur Ketua penjaga gerbang pada para pedagang itu.
Seketika semua orang terdiam dan kembali ke tempat masing-masing. Mereka tahu betul jika apa yang dikatakan Ketua penjaga gerbang tadi sangat benar.
Mereka bisa kehilangan nyawanya kapan saja jika berani menyinggung permaisuri baik itu dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja melakukan hal itu.
"Kalian harus ingat untuk keselamatan kalian, maka apa yang telah terjadi pada hari ini sudah cukup untuk di bahas. Jangan sampai ada lagi yang berani untuk menyampaikan cerita ini keluar." ucap Ketua penjaga gerbang.
"Ya baik. " jawab beberapa orang.
"Kalian kembali ke tempat kalian dan jalankan tugas kalian kembali." perintah Ketua penjaga gerbang kepada anak buahnya.
Setelah itu semua kembali seperti biasa dan tidak ada lagi yang berani untuk membahas kejadian yang menghebohkan antara Ze dan Xia er tadi.
Saat Ze dan yang lain turun dari kereta, Jeong nam langsung menyambut dengan pertanyaan.
"Tadi ada sesuatu yang membuat kami harus berhenti. Maaf membuat kalian khawatir." jawab Ze.
"Tidak apa sayang, yang terpenting adalah kalian baik-baik saja." ucap Luo yin sambil mengusap lembut rambut Ze.
"Ayo kita masuk ke dalam." ajak Jeong nam.
"Iya ayo kita masuk. Jangan sampai Kaisar menunggu kita terlalu lama." saut Luo yin.
Mereka semua masuk ke dalam Istana dan ternyata sudah ada orang yang menyambut mereka di sana untuk mengantarkan mereka ke tempat Kaisar ingin menjumpai mereka.
"Salam pangeran. " ucap orang-orang itu sambil menundukkan kepala dengan hormat saat melihat Jin hu.
"Cukup panggil tuan saja. Aku bukan lagi pangeran di Kekaisaran ini." tegur Jin hu.
"Baik tuan. " jawab mereka kompak.
"Kaisar Liang telah menantikan kedatangan kalian semua. Silahkan kami akan mengantarkan kalian ke tempat Kaisar menunggu." ucap salah seorang dari mereka.
Mereka semua akhirnya berjalan bersama menuju tempat Kaisar menunggu.
"Maaf tolong tunggu sebentar hamba akan menyampaikan kedatangan kalian pada Kaisar." ucap orang yang tadi dan Jin hu hanya mengangguk saja.
Orang itu masuk ke dalam dan melaporkan kedatangan rombongan Ze kepada Kaisar.
"Hormat hamba Yang mulia Kaisar." ucap orang yang melaporkan kehadiran kelompok Ze sambil menunduk hormat.
"Katakan! " Ucap Kaisar Liang.
"Tuan besar Shi dan keluarga sudah ada di luar untuk menghadap pada Kaisar." jawabannya.
"Suruh mereka semua masuk. " perintah Kaisar.
"Baik yang mulia. " jawabannya lagi dan segera memanggil Ze dan rombongan masuk.
"Kaisar memanggil kalian masuk. Silakan masuk." ucapnya. Ze dan yang lain segera masuk ke dalam ruangan tempat Kaisar menunggu.
Hai readers novel
Pindah Dimensi Membalaskan Dendam putri yang tertindas
Saya selaku author di sini mengucapkan selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir dan batin🙏🙏🙏
Salam hangat
Author
☺☺☺☺☺