
Ze terbelalak dengan tindakan Jin hu dan hanya terdiam hingga Jin hu menarik tengkuknya untuk memperdalam ciumannya. Jin hu berhasil membuat Ze ikut hanyut dalam ciuman itu hingga ciuman itu berakhir karena napas mereka yang hampir habis.
"Terima kasih karena masih bertahan di sisiku walaupun banyak rintangan untuk itu." ucap Jin hu mengecup hangat kening Ze lalu kembali memeluknya.
"Sudah, sebaiknya aku kembali sebelum ibu dan nenek mengamuk. Mereka sudah tidak tahan untuk menyiksaku dengan perawatan- perawatan itu seharian hingga malam nanti." ucap Ze.
"Baiklah, aku akan mengantarmu sampai depan pintu." ucap Jin hu.
Mereka pergi dengan bergandengan tangan dan tersenyum dengan bahagia seakan kejadian di mana beberapa orang yang hendak mengacaukan hubungan mereka tadi tidak pernah terjadi.
"Mengapa kau lama sekali kembali?" tanya Mei yin pada Ze saat pintu kamar sudah dibuka.
"Kau (menunjuk Jin hu) besok adalah hari di mana kau akan memiliki putriku ini dan kau masih tidak sabaran untuk selalu terus bersamanya." ucap Mei yin memarahi Jin hu.
"Maaf ibu, itu salahku karena lupa untuk kembali lebih awal karena masalah di persidangan tadi." ucap Ze membela Jin hu.
"Belum juga kau menjadi istrinya dan kau sudah membelanya." cibir Mei yin.
"Jangan marah ibuku sayang." ucap Ze manja sambil memeluk ibunya.
"Ayo masuk dan aku akan menceritakan apa yang terjadi di pengadilan tadi. Ibu dan nenek tentu penasaran bukan?" ucap Ze dan berhasil mengalihkan perhatian Mei yin.
"Ayo masuk dan ceritakan pada kami." ajak Mei yin semangat.
Sedangkan Jin hu sudah pergi dari sana sambil tersenyum karena sudah dilupakan oleh calon mertuanya itu karena penasaran dengan cerita Ze.
Ze menjalani perawatan seluruh tubuh dan wajahnya sambil menceritakan apa yang terjadi di persidangan tadi.
"Dasar gadis tidak tahu malu itu. Menyesal aku sudah memujinya sebelumya." ucap Mei yin kesal hingga tidak sadar menekan terlalu kuat pada wajah Ze yang sedang dia gosok dengan lulur wajah.
"Ibu, itu sakit dan akan membuat luka pada wajahku jika ibu terlalu kuat memijatnya." Keluh Ze.
"Tapi hati-hati dengan wajah cucuku. Kau akan mengacaukan hari pernikahannya besok jika wajahnya terluka." tegur Luo yin.
Malam harinya saat Mei yin dan Luo yin pergi, gadis yang mengaku sebagai sang penjaga itu tiba-tiba muncul di dalam kamar Ze.
Cahaya putih tiba-tiba muncul dari atap bangunan itu dan sosok sang penjaga keluar dari cahaya itu.
"Kau sudah datang." ucap Ze.
Sosok itu menapakkan kakinya di lantai lalu tersenyum sambil mengangguk. Dia duduk di kursi dan Ze segera menghampiri lalu ikut duduk di kursi dekat dengan Sang penjaga.
"Aku selalu menepati janjiku." ucapnya pada Ze.
"Kau terdampar di dimensi ini karena aku yang membawa dan menitipkan jiwamu di dimensi ini." ucapnya sebelum Ze bertanya.
"Jiwamu adalah jiwa calon ibu sang penjaga selanjutnya. Pada duniamu sebelumnya tidak aman untukmu hidup di sana." lanjutnya.
"karena mahluk dari dunia lain yang menginginkan tubuh pemilik jiwa calon ibu sang penjaga itu dapat merasakan keberadaan jiwamu jika tetap berada di duniamu sebelumnya. Karena duniamu itu tidak memiliki tabir sama sekali."
"Di sini kau dapat melatih kultivasi agar dapat melindungi diri dari mahluk lain yang berhasil menerobos pintu dimensi. Jika kau tetap di duniamu, tidak hanya dirimu, Orang-orang yang tidak terkait akan ikut terluka dan bahkan mati." jelasnya lagi dan Ze masih setia menyimak.
"Itulah sebabnya saat kau terluka dan jiwamu terlepas dari tubuhmu, aku memindahkan tubuhmu ke dunia ini dan kebetulan ada tubuh yang sangat sesuai untuk melatih kultivasi yang juga terlepas dari jiwanya." ucapnya lagi.
"Tubuhmu sengaja aku jaga agar tetap hidup di duniamu sana agar kau dapat memilih untuk hidup dimana nantinya." lanjutnya.
"Jadi, kau ingin seperti apa sekarang ini?" tanyanya membuat Ze terdiam memikirkan apa yang dia inginkan.
Jangan lupa untuk tetap memberikan dukungan pada Ze dan yang lainnya ✌