Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Rahasia


Jin hu tersenyum menatap Ze. Mendengar pertanyaan Jin hu dan senyum darinya, Huo nan dan 2 rekan lainnya menatap curiga pada Jin hu.


"Apa lagi yang dia rencanakan?" batin Huo nan


"Entah apa lagi ulah tuan Jin hu kali ini." batin Liu yu


"Senyum tuan ini entah apa maksudnya. Aku curiga dia akan melakukan hal konyol lagi." batin Wen yuan.


Jin hu melihat ke arah Liu ku dan kedua Tang pergi. Saat dia tidak melihat keberadaan mereka lagi.


"Hap" tubuh Ze terangkat karena Jin hu kini tengah menggendongnya ala bridal style.


"Aaaa kau... apa yang kau lakukan?" tanya Ze terkejut dengan wajah memerah karena malu. Ze melihat sekitar masih cukup banyak orang di atas gunung tempat kompetisi itu.


"Menggendongmu apa lagi?" jawab Jin hu santai.


"Turunkan aku. Ini sangat memalukan ada banyak orang yang menjadikan kita bahan tontonan." ucap Ze


"Bukankah kau lelah? Aku hanya tidak ingin kau terlalu lelah jika harus berjalan menuruni gunung. Bukankah sebelumnya aku memang pernah menggendongmu, lalu mengapa kau harus malu hm?" jelas Jin hu.


"Akan susah buatmu berjalan menuruni gunung ini jika kau menggendongku dengan gaya seperti ini. Gendong aku di punggungmu saja." pinta Ze mengingat dia memang sudah sangat kelelahan membuat pil dari kemarin Ze akhirnya setuju untuk digendong oleh Jin hu.


Jin hu tersenyum menatap mata Ze lalu mengecup singkat keningnya.


"Baiklah jika itu yang istri mungilku ini mengatakan demikian." jawab Jin hu lalu menurunkan Ze perlahan.


Jin hu lalu berjongkok di depan Ze kemudian meminta Ze untuk naik ke atas punggungnya untuk menggendongnya.


"Naiklah. Kita harus segera berangkat langit sudah mulai gelap." ucap Jin hu.


Ze segera naik ke punggung Jin hu dan Jin hu segera berdiri. Tiga orang di belakang mereka hanya mampu menghela napas melihat kemesraan dua orang kasmaran di depan mereka itu.


"Astaga kakak ipar nampaknya sungguh kelelahan. Dia langsung tertidur saat kepalanya mendarat di punggungmu kakak kedua." seru Huo nan melihat Ze sudah tertidur di punggung Jin hu.


"Pelankan suaramu karena itu bisa mengganggu tidurnya." tegur jin hu


"Maaf." ucap Huo nan pelan


"Membuat pil sungguh memakan banyak energi. Jadi wajar jika Ze terlalu lelah setelah membuat obat dari kemarin." jelas Jin hu.


Mereka berjalan menuruni gunung menuju penginapan mereka. Di perjalanan ada begitu banyak mata menatap takjub, terkejut dan iri melihat Jin hu menggendong Ze.


Sesampai di penginapan Jin hu lalu menyuruh Wen yuan memesankannya dan Ze makan malam.


"Wen yuan." panggil Jin hu.


"Ya tuan" saut Wen yuan segera.


"Pesankan makan malam untuk kami dan bawa ke kamar kami." ucap Jin hu.


"Baik tuan." jawab Wen yuan dan segera pergi saat Jin hu mengangguk padanya.


Jin hu lalu meletakkan Ze pelan ke atas tempat tidurnya. Diusapnya lembut kepala dan pipi Ze sambil tersenyum memandang wajah terlelap Ze.


"Selalu saja tertidur begitu saja tanpa menghiraukan tempat. Aku tidak bisa membiarkan dirimu pergi tanpaku. Aku tidak ingin kau sampai tiba-tiba tertidur di saat kau sedang bersama pria asing." ucap Jin hu


"Tok tok tok" pintu diketuk dari luar


Jin hu segera bangkit tanpa bertanya lagi dia membuka pintu karena Jin hu tau jika itu Wen yuan dan pelayan yang datang membawa makan malamnya.


"makan malam anda tuan." lapor Wen yuan


"Letakkan perlahan di atas meja" ucap Jin hu dan mereka segera masuk dan menyusun piring makanan di atas meja perlahan.


Setelah mereka semua telah pergi Jin hu memutuskan membersihkan diri dulu sebelum membangunkan Ze.


"Sayang..." panggil Jin hu membangunkan Ze.


"Hm." jawab singkat Ze karema masih enggan membuka mata.


"Makan malam dulu sesudah itu kau dapat melanjutkan tidurmu." tawar Jin hu


"Sayang..." panggil Jin hu lagi sambil menepuk pelan pipi Ze setelah dia melihat tidak ada respon dari Ze.


"Beri aku waktu tertidur sebentar lagi." tawar Ze


"Ayolah sayang kau harus mengisi perutmu dulu baru kau bisa kembali tertidur." pinta Jin hu


Ze terpaksa membuka mata dan bangun dari tidurnya dengan malas. Melihat Ze sudah bangun Jin hu tersenyum dan mengecup singkat kening Ze. Mengecup kening, pipi atau bibir Ze sudah menjadi kebiasaan dan candu bagi Jin hu dan tidak bisa untuk dia tidak lakukan dalam sehari.


Setelah selesai makan Ze membersihkan tubuhnya dulu sebelum tertidur karena merasa sangat tidak nyaman dengan bau keringat di tubuhnya.


Ke esokan harinya


Ze dan rombongan sudah bergegas menuju tempat kompetisi. Mereka terutama Ze sudah sangat bersemangat untuk menghadiri kompetisi itu.


Pastinya Ze semangat bukan tentang kompetisinya akan tetapi karena dia akan membuat musuhnya malu dan terpuruk.


"Aku penasaran ingin melihat wajah gadis ular itu setelah semalam dia pasti tidak bisa tidur karena berhalusinasi." ucap Ze pada Hui tu sambil tersenyum membayangkan lingkaran hitam pada mata Liu sia.


"Ya aku juga penasaran dengan itu." jawab Hui tu


"Mengapa kau senyum-senyum seperti itu kakak ipar?" tanya Huo nan curiga.


Dia selalu waspada saat melihat Ze tersenyum seperti itu.


"Bukan apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu tentang pertunjukan seru yang akan terjadi nanti." jawab Ze


"Apa itu?" tanya Huo nan penasaran


"Rahasia." jawab Ze