Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Melanjutkan perjalanan


"Kau benar tentang itu. Baik aku akan berusaha agar lebih cepat memperkuat tubuh ini. Lalu menyeimbangkan kekuatan lamaku dengan tubuh ini. Agar aku dapat kembali kuat." saut Hui tu.


"Ya lakukan itu saja. Aku harus bergegas keluar membantu yang lain." ucap Ze lalu segera keluar dari batu dimensi.


Saat Ze sudah keluar dari batu dimensi dia segera berlari ke arah Jin hu dan yang lain berada.


Ze khawatir dengan keadaan Jin hu dan Huo nan serta ular api tentunya. Karena, walaupun kini sumber kekuatan dari para pengikut aliran sesat itu telah lenyap, tapi perkelahian mereka berlangsung cukup lama.


Tentunya semua itu sudah menguras energi mereka. Ze berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap mereka. Saat Ze tiba salah satu anggota sekte aliran sesat itu sudah ada yang mengarahkan pedang ke arah Huo nan dari belakang tanpa Huo nan sadari.


Ze segera berlari dan melompat mengarahkan tendangannya ke arah orang yang hendak menghunus pedang pada tubuh Huo nan.


"Duak bruk." Ze berhasil menendang pria yang akan menghunus pedang ke arah Huo nan sebelum pria itu berhasil melukai Huo nan. Pria itu tersungkur ke tanah.


"Kau terluka?" tanya Ze pada Huo nan.


"Tidak kakak ipar. Aku baik-baik saja terima kasih." jawab Huo nan.


"Telan ini untuk memulihkan energimu kembali." ucap Ze sambil menyerahkan pil di tangan Huo nan dan segera di telan oleg Huo nan.


Ze kemudian dengan lincah menyerang semua anggota sekte api suci yang masih tersisa.


"Ambil ini dan telan segera agar tenagamu kembali pulih." ucap Ze pada Jin hu sambil menaruh pil di tangan Jin hu. Ze terus menyerang lawannya sedang Jin hu segera menelan pil pemberian Ze.


Dalam waktu singkat Ze sudah menumbangkan semua lawan yang masih tersisa dari pertarungan Jin hu, Huo nan dan Ular api.


"Ah selesai juga." seru Huo nan senang.


"Mengapa mereka bisa sekuat itu? Bahkan serangan dari ular api yang sangat kuat tidak berarti apa-apa bagi mereka awalnya." tanya Huo nan dengan nada mengeluh.


"Bukankah sudah aku jelaskan sebelumnya jika mereka itu memperoleh kekuatan dari hasil persekutuan dengan iblis. Sudah pasti mereka akan sangat kuat jika di bandingkan manusia biasa." jawab Ze.


"Tenaga mereka juga tidak ada habisnya sebelum sarana penghubung mereka dengan iblis dimusnakan mereka tidak akan bisa di musnakan juga. Jadi wajar jika saat menerima serangan dalam waktu singkat mereka kembali pulih." lanjut Ze menjelaskan.


"Pantas mereka sangat susah di basmi seperti rumput liar saja." gerutu Huo nan.


"Tenaga kami audah hampir habis tadi saat kakak ipar datang. Aku bahkan hampir terluka tadi." ucap Huo nan.


"Maaf aku terlambat untuk datang membantu kalian. Aku harus mengurus ratu serangga yang menjijikkan itu dan kalian pasti akan sulit percaya jika aku katakan kalau ratu dari serangga itu bisa berbicara dengan bahasa manusia." ucap Ze.


"Tidak apa kau sudah sangat membantu dengan memusnahkan ratu dari ulat-ulat itu sehingga kami dapat menumbangkan beberapa dari anggota sekte itu. Kau juga sudah datang tepat saat tenaga kami hampir habis sehingga kami selamat." ucap Jin hu.


"Kakak kedua benar sekali. Kakak ipar sudah sangat membantu kita." saut Huo nan.


"Ular api dan Cece segeralah kembali ke dalam batu dimensi. Cece beri buahmu nanti pada ular api agar dia dapat memulihkan tenaganya juga." ucap Ze saat melihat Cece mendekat.


"Ba ba ba." jawab Ceri emas.


"Terima kasih ular api. Kau sudah sangat membantu kami." ucap Ze dan kedua hewan serta tanaman roh Ze itu segera masuk kembali ke dalam batu dimensi.


"Ayo kita kembali ke tempat para warga berkumpul setelah itu kita lanjutkan perjalanan." ajak Ze dan diangguki oleh Jin hu dan Huo nan.


"Huft cukup melelahkan juga. Kita sudah dua kali berhadapan dengan pengikut aliran sesat selama perjalanan kita." ucap Huo nan.


"Lalu?" tanya Ze.


"Jika kau lelah apakah kau akan berhenti ikut dalam perjalanan ini?" tanya Ze.


"Tentu tidak kakak ipar. Walau melelahkan tapi terasa seru juga." jawab Huo nan.


Mereka tiba di tempat warga berkumpul dan di sambut bahagia oleh para warga.


"Para pengikut sekte itu telah kami singkirkan dan maaf untuk korban pertama itu dia memang sudah tidak ada harapan dari awal." ucap Ze.


"Terima kasih putri dan juga para tuan." seru warga.


"Ya sama-sama. Kami harus melanjutkan perjalanan kami sekarang." ucap Ze.


"Tapi kami belum memberikan apa pun bahkan perayaan ataupun menyuguhkan hidangan untuk kalian sebagai wujud rasa terima kasih kami." ucap seorang warga.


"Itu tidak perlu kalian lakukan. Tugas kalian masih sangat banyak saat ini. Kalian harus membersihkan tempat kalian dan satu hal. Bakar semua jasad dari pengikut sekte sesat itu. Aku khawatir tubuh mereka akan menjadi sarana untuk bersemayam iblis nantinya." ucap Ze.


"Baik putri akan kami segera laksanakan." jawab mereka Ze dan Jin hu serta Huo nan segera menaiki kereta dan pergi dari sana.


Para warga tampak pergi ke arah tempat jasad dari para pengikut aliran sesat itu ditinggalkan oleh Ze dan rombongan.


"Perjalanan kita masih cukup jauh bukan?" tanya Ze.


"Ya benar masih lumayan jauh." Jawab Jin hu.


"Aku harus bertapa beberapa saat di dalam batu dimensi." ucap Ze.


"Ya lakukanlah." saut Jin hu.


"Hm sampai jumpa." ucap Ze lalu masuk ke dalam batu dimensi.


Ze masuk ke dalam batu dimensi dia melihat cece tertidur di tempat kesukaannya. Ular api tidak terlihat di manapun dan Ze dapat menebak jika ular api sedang di dasar kolam air suci bertapa memulihkan tenaganya.


Sedangkan Hui tu saat ini tengah bersemedi di atas batu tapa tempat terakhir dia diletakkan dalam bentuk telur.


"Hm semuanya sedang di tempat kesukaan masing -masing. Sebaiknya aku segera bertapa di tempatku juga." ucap Ze lalu melangkah ke arah batu tapa tempat dia selalu bertapa saat di dalam sana.


Ze fokus untuk mengeluarkan cahaya ungu yang merupakan energi kuat dari cincinnya. Dia kemudian menyerap cahaya itu segera saat cahaya itu muncul.


Tubuh Ze seketika mengeluarkan cahaya berwarna ungu dan perlahan cahayanya meredup. Ze tetap fokus dalam posisi tapanya hingga beberapa hari untuk waktu di dalam batu dimensi yang artinya hanya beberapa jam waktu di luar batu dimensi.


"Wah energi dari cahaya ungu itu sungguh sangat membantu peningkatan kultivasiku." seru Ze senang.


"Kau sungguh sangat berisik." keluh Hui tu.


"Aku hanya lagi senang saja mendapat pencapaian cukup tinggi dalam kultivasi hanya dalam waktu singkat." ucap Ze.


"Hm tidak sia-sia energi itu aku berikan kepadamu. Kau sungguh memanfaatkan dengan baik energi itu." ucap Hui tu saat melihat pencapaian Ze yang meningkat sangat pesat.


Jangan lupa tetap dukung author dengan


Vote, like dan koment