
Para juri sudah berdiri di depan meja tempat Ze menyimpan bahan obatnya dan mulai meneliti bahan obat milik Ze.
Sedangkan di sisi lain keluarga Duo terus saja memperhatikan dan menantikan perubahan ekspresi wajah para juri.
Setelah lama memperhatikan reaksi para juri mereka heran karena reaksi para juri justru jauh dari perkiraan mereka. Bukannya memandang remeh atau mengusir Ze dari kompetisi itu, para juri itu justru tampak senang dan takjub dengan bahan milik Ze.
"Mengapa para juri itu malah terlihat senang melihat bahan yang diajukan gadis ja***g itu kek?" bisik Liu sia bertanya pada kakeknya.
"Hm entahlah kakek juga tidak tahu." jawab tetua Duo
Dia kemudian mengkode seseorang di belakang mereka dengan jari agar mendekat. Saat orang itu mendekat tetua Duo menyuruhnya membawakan bahan yang dia suruh ambil dari Ze tadi.
"Bawa kemari bahan obat yang pelayan itu telah ambil dari meja mereka tadi." bisiknya memerintah pria yang mendekat tadi.
"Baik tuan besar." jawab pria tadi lalu segera kebelakang untuk mengambil apa yang telah tetua Duo minta darinya.
Sementara itu di tempat Ze saat ini para juri sedang menanyai Ze banyak hal.
"Kau mewakili master Tang dan Grand master Ji?" tanya seorang juri pada Ze.
"Iya betul sekali. Saya di sini untuk ikut serta mewakili mereka." jawab Ze
"Dari mana kau memperoleh semua bahan-bahan dengan kwalitas tinggi seperti ini?" tanya juri yang lain
"Hutan Fujian." jawab Ze berbohong.
Ze sengaja menyebutkan hutan Fujian karena tidak mungkin dia akan mengungkap keberadaan batu dimensi miliknya. Hal itu juga karena hanya hutan Fujianlah tempat paling masuk akal bagi seseorang memperoleh bahan kwalitas tinggi dan langka saat ini.
"Hutan Fujian?" beo juri itu
"Iya hutan Fujian." jawab Ze
"Siapa kamu dan mengapa kau dapat memasuki kawasan hutan Fujian?" tanya juri itu lagi
"Aku Shi ze lan cucu dari tuan Shi jeong nam. Aku rasa aku tidak lagi perlu menjawab pertanyaan kedua." jawab Ze
Mendengar nama Ze lan dan mendengar Ze menyebut dirinya cucu Jeong nam banyak orang mulai berbisik dan mencemooh Ze.
"Bukankah dia gadis yang paling terkenal dengan julukan gadis sia-sia atau gadis tidak berguna itu?" bisik peserta a pada peserta b.
"Ya dia itu putri An ze lan putri dari tuan An yang merupakan gadis tanpa bakat paling terkenal." jawab peserta b.
"Lalu mengapa dia menyebut dirinya Shi ze lan?" tanya peserta c
"Apakah kau tidak dengar jika keluarga An telah memutuskan hubungan dengan dia dan ibunya belum lama ini?" saut peserta b
"Mengapa seorang tanpa bakat nekat mengikuti kompetisi ini? Dia bahkan mewakili dua orang hebat." tanya peserta lain
"Apakah mereka sudah tidak waras lagi? Mereka menolak banyak murid berbakat hanya untuk menerima seorang gadis sia-sia sebagai murid mereka?" bisik peserta lainnya juga
"Mereka sungguh ingin mempermalukan diri mereka hari ini." bisik yang lain
Masih ada banyak lagi bisikan lain mengenai Ze di tempat itu.
"Ada di dalam sini." jawab Ze menunjukkan cincin pemberian Jin hu lalu mengeluarkan sebuah tungku.
"Hm baik peserta ini lolos." putus para juri.
Ze sengaja menyiapkan tungku lain dengan kwalitas sedang karena dia tidak mau jika tungku kwalitas tertinggi miliknya menjadi sorotan.
"Apakah gadis itu sedang bergurau? seorang gadis tanpa bakat bahkan ingin menggunakan tungku kwalitas sedang yang hanya alkemish tingkat 2 ke atas yang bisa menggunakannya?" bisik seorang juri pada rekannya
Tidak hanya para peserta bahkan para juri sudah meremehkan Ze saat tahu identitas Ze. Itu karena mereka juga tidak dapat merasakan aura pencapaian alkemish dari diri Ze saat ini.
"Sudahlah, biarkan saja dia mempermalukan dirinya dan dua orang yang dia wakili itu." jawab juri lain lalu mereka kembali melakukan tugasnya.
Setelah selesai dengan penilaian kwalitas bahan dari peserta mereka akhirnya mulai memanggil beberapa orang peserta untuk maju bersaing.
Setiap kali panggilan akan ada 10 orang peserta yang akan unjuk kemampuan mereka. Setiap kelompok itu diberi batas waktu setengah jam untuk menyelesaikan tahap pembuatan pil obat mereka.
Jika dalam batas waktu itu tidak juga selesai maka peserta itu akan dinyatakan gagal dan itu lebih memalukan dari pada kalah dalam kompetisi. Tingkat pil obat yang dijadikan standar juga cukup membuat beberapa peserta menjadi kurang percaya diri dan memilih mundur.
"Baik mari kita mulai kompetisi yang sesungguhnya. Tapi, sebelum mulai kita umumkan dulu peraturannya.
Pertama kalian hanya akan kami beri waktu seperempat batang dupa saja untuk menyelesaikan pembuatan pil kalian. Lewat dari waktu yang sudah kami tentukan itu dan pil kalian belum juga terbentuk maka peserta itu akan kami nyatakan gagal juga.
Yang kedua adalah tingkat pil yang harus bisa peserta buat minimal adalah pil tingkat menengah mendekati tinggi. Di bawah dari tingkat itu maka peserta akan kami nyatakan gagal juga.
Setiap kali panggilan untuk naik ke atas panggung, kami akan memanggil 10 orang peserta. Karena mengingat ada banyak peserta yang mendaftarkan diri." seru seorang juri mengumumkan peraturan kompetisi.
Mendengar syarat kedua dari juri banyak dari mereka memilih mundur dari kompetisi itu. Karena minimal harus alkemish tingkat 3 yang dapat membuat pil tingkat menengah mendekati tinggi.
Banyak yang mendekat pada juri untuk mengundurkan diri sebelum membuat diri mereka merasa malu karena gagal di atas panggung.
Saat peserta sibuk mengundurkan diri tetua Duo sedang membuka kotak bahan obat yang dia terima dari pria yang dia suruh tadi.
"Kurang ajar." tetua Duo geram melihat isi kotak itu
"Kenapa kakek buyut marah?" tanya Liu sia
"Gadis ja***g itu mempermainkan kita. Aku rasa dia telah mengetahui rencana kita dari awal." jawab tetua Duo geram sambil menatap dengan tajam ke arah Ze.
"Tenanglah kakek buyut. Kita akan membuat ja***g itu menyesal nanti karena telah berani mempermainkan kita." ucap Liu sia.
"Hm kau benar." jawab tetua Duo sambil tersenyum sinis menatap Ze
Setelah urusan pengunduran diri peserta selesai jumlah peserta yang mencapai 100 orang kini tinggal 30 orang saja.
"Karena peserta hanya tersisa 30 orang saja maka kami akan memanggil hanya 3 orang setiap babaknya saja dan disetiap babak hanya akan ada 1 pemenang." seru seorang juri.
Juri mulai menyebutkan tiga nama peserta untuk kelompok pertama yang akan bersaing di atas panggung.
Ketiga peserta itu sudah mulai melakukan proses pembuatan pil mereka di atas panggung sana.