Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Itu memalukan


"Kerajaan kita ini masih jauh dari mampu untuk berperang dengan Kerajaan api penyucian." ucap Kaisar Liang.


"Yang mulia benar sekali. Oleh sebab itu kita tidak bisa menahan putri Ze di sini untuk saat ini." jelas kasim wuling.


Di depan istana Ze meminta Kakek, Nenek serta ibunya untuk pulang lebih dulu.


"Ibu sebaiknya pulang saja lebih dulu bersama kakek dan juga nenek. Kami masih ada sedikit urusan di sini." ucap Ze pada Mei yin.


" Bukan begitu kak Jin hu?" tanya Ze pada Jin hu agar ibunya percaya dengan alasannya saat Jin hu mengiyakan dirinya. Dia sangat yakin bahwa Jin hu akan tahu apa yang dia inginkan.


"Iya bibi Mei yin. Kami masih akan ada yang harus diurus di sini. Sebaiknya bibi pulang lebih dulu bersama yang lain." jawab Jin hu.


"Baiklah sayang." Putus Mei yin akhirnya.


"Hati-hati di jalan kalian dan segera kembali ok?" ucap Mei yin saat akan menaiki kereta.


"Tenang bibi, bukankah kami akan menikah lusa? Tentu kami akan segera kembali." saut Jin hu membuat Mei yin tersenyum.


"Baiklah kau harus menjaga calon istrimu ini baik-baik ok?" ucap Mei yin sambil tersenyum dengan nada mengejek kepada Jin hu.


"Ya ya ya. Sudahlah ibuku tersayang berhenti mengejek kami. Sebaiknya kalian segera kembali kasihan nenek dan kakek pasti ingin beristirahat." ucap Ze agar ibunya segera berangkat dan berhenti menggoda Jin hu.


"Baiklah kami berangkat lebih dulu." ucap Mei yin.


"Liu yu akan ikut bersama kalian. Aku akan merasa tenang jika ada yang menjaga kalian." putus Ze.


Setelah Mei yin dan orang tuanya pergi, Ze dan rombongan juga segera pergi meninggalkan istana.


Di dalam kereta


"Siapa yang akan kau jadikan sasaran pelampiasan amarahmu hm?" tanya Jin hu pada Ze.


"Kau memang sangat mengerti apa yang aku inginkan." ucap Ze tersenyum manis.


"Bukankah aku sudah pernah megatakan padamu bahwa aku paling mengerti dirimu?" ucap Jin hu bangga.


"Itu bukanlah kebohongan sayang. Tapi, itu adalah kata-kata jujur yang aku ucapkan mewakili hatiku." lanjut Jin hu.


"Ya ya ya terserah padamu ingin mengatakan itu. Berhenti mengucapkan kata-kata seperti itu di saat ada orang lain." ucap Ze kesal.


"Mengapa aku tidak boleh mengungkapkan perasaanku di depan orang lain?" tanya Jin hu sedih.


"Itu memalukan." jawab Ze.


"Apakah kau malu menjadi kekasihku?" tanya Jin hu.


"Aku bukan malu menjadi kekasihmu. Tapi, aku malu jika kau mengeluarkan kata-kata cinta dan sejenisnya di depan orang banyak." jawab Ze membuat Jin hu memasang wajah sedihnya.


"Aku hanya tidak ingin orang yang aku sayangi terlihat menggelikan dan terlihat konyol. Aku ingin kak Jin selalu dihormati dan dihargai." lanjut Ze berusaha menenangkan Jin hu yang sedang bersikap kekanak-kanakan itu.


"Bukankah itu artinya kau perduli padaku dan kau menyayangi aku?" tanya Jin hu dengan mata berbinar dan senyum kini sudah terbit kembali di bibirnya.


"Ya." jawab Ze sambil menahan tawa melihat perubahan suasana hati Jin hu yang begitu cepat.


"Baiklah tidak akan aku lakukan." ucap Jin hu.


Jin hu menarik Ze ke dalam pelukannya karena bahagia.


"Kita ke kediaman Nam saja." putus Ze.


"Baiklah sayang. Sesuai keinginan permaisuriku." jawab Jin hu.


"Wen yuan...! Kita ke kediaman keluarga Nam." seru Jin hu.


"Baik tuan." jawab Wen yuan.


Tidak berapa lama kereta yang mereka naiki berhenti.


"Kita telah sampai di depan kediaman utama keluarga Nam tuan." lapor Wen yuan.


"Lalu, kau ingin menyerang langsung atau lewat pintu belakan?" tanya Jin hu.


"Aku hanya inginkan nyawa orang yang mengincar nyawaku dan keluargaku saja di sini. Berbeda dengan keluarga An dan keluarga Wei." jawab Ze.


"Hm sesuai keinginanmu sayang. Kita akan memasuki kediaman Nam diam-diam dan mengambil ketua Nam." ucap Jin hu.


"Lalu bagaimana dengan cucu tertuanya?" tanya Jin hu.


"Ya lakukan itu gunakan racun pelumpuh ini agar dia dapat dengan mudah dibawa ke sini. Aku ingin tidur dulu." ucap Ze lalu dia tertidur.


"Wen yuan dan kau Huo nan telan pil penyamaran dan masuk kedalam culik Nam Hao li cucu tertua tuan besar Nam. Gunakan racun pelumpuh ini agar dia dapat kalian bawa dengan mudah." ucap Jin hu.


"Baik tuan." jawab Wen yuan.


"Baik kakak kedua." jawab Huo nan.


"Aku tidak mungkin meninggalkan dirimu di saat kau seperti ini." gumam Jin hu lalu memperbaiki posisi tidur Ze agar bersandar pada dadanya.


Wen yuan dan Huo nan masuk kedalam kediaman Nam dengan cara melompati tembok belakang kediaman Nam.


"Kita akan kemana dulu?" tanya Huo nan.


"Aku tidak mengenali pemuda bernama Hao li itu. Jadi, aku tidak tahu harus ke mana." jawab Wen yuan.


"Aku kira setelah melihat keluarga Nam yang begitu menderita kakak ipar akan melepaskan keluarga Nam." ucap Huo nan.


"Putri Ze bukanlah seorang yang dermawan terhadap musuhnya. Tapi, penyerangan terhadap keluarga Nam ini terjadi karena putri Ze kesal pada Kaisar dan tidak bisa melampiaskan emosinya pada Kaisar Liang." jelas Wen yuan.


"Oh ada yang datang." ucap Huo nan lalu mereka segera bersembunyi di balik batu besar.


"Tidaaaaak jangaaaan." teriak seorang pemuda lalu berlari ketakutan seolah ada yang mengejarnya.


"Astaga aku sudah tidak tahu bagaimana mengatasi wabah gila di ketiga keluarga ini." ucap seorang pria yang ternyata seorang tabib.


"Tiga keluarga?" tanya seorang pria.


"Iya 3. Pertama keluarga Nam ini, kedua keluarga An dan yang terakhir keluarga Wei." jawab tabib itu.


"Lalu apa penyebabnya?" tanya pria tadi lagi.


"Aku curiga jika kediaman mereka tengah dikutuk." jawab sang tabib.


"Kediaman dikutuk?" tanya pria tadi lagi.


"Ya dikutuk. Karena, anggota keluarga yang berhasil di bawa keluar dari kediaman tiga keluarga itu dalam beberapa hari sudah normal kembali." jawab sang tabib.


"Mana tuan muda Nam hao li tadi?" tanya tabib pada pelayan yang lewat.


"Tadi lari ke arah dapur." jawab pelayan.


Mendengar nama Hao li Huo nan dan Wen yuan segera bergerak ke arah Hao li berlari tadi.


Saat melihat Hao li yang sedang bersembunyi di belakang kediamannya tanpa siapapun di dekatnya Wen yuan segera menghampirinya dan menggores belati yang telah diolesi racun pelumpuh pada lengan Hao li membuatnya langsung tidak sadarkan diri.


"Ayo kita bawa orang ini segera sebelum ada yang melihat kita." ucap Huo nan.


Mereka segera membawa tubuh Hao li pergi dari sana.


Saat Huo nan dan Wen yuan sampai Ze masih tertidur. Jin hu memutuskan pergi ke hutan terdekat agar Ze dapat melancarkan aksinya dengan bebas.


Hai para readers setia


maaf karena kemarin author tidak up lama


🙏🙏🙏🙏🙏


kemarin author ada sedikit masalah dan baru selesai.


Karena masalah author sudah teratasi


kedepannya author usahakan bisa up setiap hari lagi


mohon maaf atas ketidak nyamanannya


salam hangat


Author


😉😉😉😉😉