
Sie li membuka pintu untuk Ze dan seketika aroma yang harum dari dalam ruangan itu tertangkap oleh indra penciuman Ze. Mereka memasuki ruangan itu. Di dalam ruangan itu sudah ada Jin hu yang saat itu hanya mengenakan selembar kain putih yang hanya menutupi area pinggang hingga pahanya. Jin hu di dalam ruangan itu bersama dengan beberapa orang tua yang mengenakan jubah putih.
"Kemari sayang!" panggil Jin hu sambil tersenyum menatap Ze.
Ze berjalan mendekat sedangkan Sie li berjalan keluar dari ruangan itu lalu menutup kembali pintu ruangan itu yang tadi dia buka untuk Ze.
"Mengapa Sie li pergi?" tanya Ze pada Jin hu saat dia sudah berdiri tepat di sebelah Jin hu.
"Hanya calon pengantin dan para tetua yang boleh berada di dalam ruangan ini selama ritual pembersihan." jawab Jin hu.
"Apakah benar kita akan berendam di pagi yang dingin ini selama satu batang dupa?" tanya Ze.
"Iya benar sekali." jawab Jin hu membuat Ze mengernyitkan alisnya.
"Tenang saja, kita tidak akan kedinginan. Karena, air rendaman daun pewangi itu akan di masukkan batu sejati yang sudah di bakar yang akan membuat air rendaman itu hangat." tambah Jin hu yang paham maksud dari ekspresi calon istrinya itu.
"Mari kita mulai ritualnya Yang Mulia." ucap salah satu tetua.
"Iya Yang Mulia, sebaiknya kita segera karena waktu baik akan segera berakhir untuk memulai ritual." saut tetua lainnya.
"Baiklah, ayo sayang! Kau cukup mengikuti aku saja." ucap Jin hu pada Ze.
Sebenarnya para tetua itu cukup pangling melihat sikap Jin hu yang sangat lemah lembut pada seorang gadis namun mereka berusaha profesional tanpa menunjukkan rasa takjub juga penasaran mereka.
Jin hu segera duduk di kursi yang sudah ada di depan para tetua diikuti Ze yang duduk di kursi sebelahnya.
"Silahkan minum air suci ini." ucap sang pemimpin dari para tetua itu sambil memberikan segelas air pada Jin hu.
"Minum setengahnya lalu berikan pada calon istrimu untuk menghabiskan sisanya." ucap sang pemimpin tetua itu.
Para tetua itu merapal kan beberapa mantra sambil sang pemimpin tetua itu sesekali memercikkan air pada sebuah wadah ke kepala Ze dan Jin hu menggunakan beberapa lembar daun yang diikat pada sebatang kayu kecil.
"berdiri di depan bak kalian masing-masing." perintah dari sang pemimpin tetua.
Ze dan Jin hu berdiri lalu memutar tubuhnya kemudian berjalan menuju bak rendaman daun yang mengeluarkan aroma wangi yang menenangkan. beberapa orang tetua menjepit batu sejati yang menyala setelah di bakar. Mereka lalu memasukkan batu panas itu ke dalam bak rendaman.
"Cess cess cess." sangking panasnya batu itu, saat batu menyentuh air batu itu mengeluarkan suara seperti desisan dan air mengeluarkan buih serta berasap.
"Sekarang putri dapat membuka selimut putri dan masuk ke dalam bak rendaman itu." ucap sang pemimpin tetua.
Jin hu menatap tajam ke arah para tetua itu dan mereka hanya dapat menundukkan kepala agar tidak melihat tubuh Ze yang hanya akan berbalut selembar kain saja setelah Ze menanggalkan selimut tebal pada tubuhnya itu.
Sebenarnya jika bisa, Jin hu ingin agar para tetua itu keluar dari ruangan itu. Karena dia tidak ingin jika ada dari mereka yang melihat tubuh kekasihnya walaupun masih berbalut kain. Tetapi dalam aturan ritual, para tetua harus tetap di dalam sana untuk merapal kan mantra dan sesekali memasukkan beberapa batu sejati panas ke dalam air rendaman yang dia dan Ze tempati berendam setelah beberapa saat.
Jangan lupa untuk tetap beri dukungan kalian
Like, vote dan komen kalian sangat berarti bagi author. Setidaknya agar author merasakan bahwa karya author ini di hargai.
semoga hari kalian menyenangkan
selamat membaca
Terima kasih
Author