Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Pertarungan di kediaman tuan besar Shi


Jin hu hanya tersenyum menyaksikan tulusnya Ze menganggap hewan roh miliknya adalah keluarga. Gadis cantik yang dapat menjadi sosok iblis saat berhadapan dengan musuhnya itu kini tampak seperti malaikat.


"Baiknya kau segera pergi jika panggilan itu sangat penting. Takutnya nanti kau terlambat dan akan berdampak buruk bagi dirimu dan negeri hewan roh Suci." saran Ze.


"Ya Ze ada benarnya. Kau harus bergegas jika itu berhubungan dengan kedamaian dan ketenangan negeri hewan roh Suci. Akan buruk jika kau terlambat." saut Jin hu membenarkan ucapan Ze.


Zili mengangguk mengiyakan setiap ucapan Ze dan Jin hu. Dia kemudian menyatukan kedua telapak tangannya dan memejamkan mata. Seketika itu pula cahaya keemasan muncul dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Perlahan cahaya itu pudar bersama dengan hilangnya tubuh Zili yang sudah berpindah tempat.


"Tidurlah dulu, perjalanan kita masih cukup panjang untuk dapat tiba di kediaman kakek Shi." ucap Jin hu saat melihat Ze menguap.


"Hm." saut Ze dan ingin menyandarkan tubuhnya pada dinding kereta namun Jin hu menariknya untuk bersandar pada tubuhnya.


Ze hanya pasrah karena masih sangat butuh istirahat yang banyak setelah melalui tapa yang menyiksa selama beberapa bulan. Tidak lama setelah menyandarkan kepalanya pada dada bidang Jin hu, Ze terlihat sudah pulas dengan tidurnya.


"Kau pasti sangat menderita beberapa bulan ini selama bertapa di atas batu penyiksaan itu. Maaf karena aku tidak cukup kuat untuk dapat melindungi dirimu sehingga kau harus menderita demi bertahan dari para musuh baru yang muncul. Aku memang tidak berguna sebagai seorang calon suami." gumam Jin hu sambil mengusap pelan kepala Ze yang tidak sengaja mendengar gumaman itu karena ternyata Ze belum betul-betul tertidur saat itu.


"Bukan salahmu semua itu terjadi. Aku yang memiliki banyak kesialan hingga harus berurusan dengan mereka yang mengharuskan diriku untuk menjadi jauh lebih kuat. Aku tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan orang-orang di sekitarku untuk dapat bertahan hidup. Aku juga harus mengandalkan diriku agar saat aku berhadapan langsung dengan mereka yang mengancam keselamatan diriku dan keluargaku, aku dapat melawan atau setidaknya membela diriku."ucap Ze untuk mengurangi rasa bersalah dari Jin hu.


"aku.... " Jin hu tidak jadi meneruskan kalimatnya karena ternyata Ze sudah betul-betul tertidur sesudah menyelesaikan kalimatnya.


"Huft ya sudahlah. Dia sudah tertidur lagi setelah mengeluarkan kalimat yang cukup panjang." ucap Jin hu sambil tersenyum dan mengecup singkat ujung kepala Ze.


Setelah cukup lama dalam perjalanan, mereka akhirnya tiba di kediaman kakek Ze. Ze sudah bangun tepat sebelum kereta mereka berhenti tepat di halaman kediaman tuan Shi.


"Mengapa aku seperti mendengar suara orang yang bertarung dari dalam rumah kakek?" tanya Ze.


"Ya kau benar. Itu dari dalam rumah kakek." ucap Jin hu.


"Ayo segera kita lihat." ucap Ze lalu segera melompat keluar dari dalam kereta.


"Trang tring trang tring." Ze terkejut melihat isi rumah kakeknya hancur berantakan dan dari arah belakang rumah suara benturan senjata semakin jelas terdengar.


"Bak buk bakal buk." suara orang baku hantam tanpa senjata juga terdengar semakin jelas dari arah luar.


Ze mengeluarkan belati andalannya sedangkan Jin hu mengeluarkan pedangnya. Mereka segera berlari ke arah belakang rumah.


Sampai di belakang rumah, Ze melihat sekumpulan orang mengepung Liu yu, Wen yuan, tuan besar Shi dan beberapa pengawal tuan besar Shi yang membentuk lingkaran melindungi Mei yin dan Luo yin. Sedangkan ayah Ze sedang bertarung tanpa senjata melawan tiga orang yang terlihat kuat.


"Kak Jin hu bantu kakek dan yang lain. Aku akan membantu ayah." ucap Ze yang langsung berlari ke arah ayahnya bertarung tanpa menunggu jawaban dari Jin hu.


"Buk bruk. " tubuh Liu ku terkena pukulan dan tersungkur di tanah.


Saat tiga orang lawannya hendak menyerangnya lagi, Ze dengan sigap menyerang mereka.


"Akh bruk bruk bruk." yang terkena tebasan Ze memekik dan terkapar di tanah dengan tubuh kejang-kejang hingga tidak bergerak lagi setelah menghembuskan nafas terakhir.


Dua orang lainnya terhempas ke belakang hingga menubruk dinding. Ze segera menghampiri ayahnya dan membantunya bangun.


"Ayah terluka dalam, sebaiknya minum pil regenerasi dan pil roh lalu duduk tenang di sudut sana. Aku akan menangani mereka semua." ucap Ze dan Liu ku hanya mengangguk lemah dan langsung menelan pil yang dimaksud Ze.


Ze segera bergerak dengan lincah menyerang dua orang yang sudah mulai bangkit lagi dan mereka mengeluarkan senjata mereka.


"Seorang gadis kecil yang nekat ingin melawan kita. Kau hanya beruntung tadi dapat menyerang kami dari belakang." ucap salah satu dari mereka dengan seringai jahat.


"Oh? Kalau seperti itu, aku ingin melihat seberapa kuat dua orang yang sesumbar di hadapanku ini. Karena aku hanya melihat dua ekor semut yang ingin menyerang ku dengan mengantarkan nyawanya." ucap Ze dengan nada sinis khas dirinya sambil pandangan yang terlihat seolah merendahkan dia tujukan pada dua orang itu.


"Kurang ajar...!" seru seorang diantara mereka dan mulai menyerang Ze bersama rekannya itu.


"Trang tring trang tring." suara benturan antara pedang mereka dengan belati Ze memenuhi ruangan itu.


Sementara Jin hu, dia dengan mudahnya menyingkirkan semua pria yang mengepung tuan besar Shi dan yang lain.


Jin hu hanya membiarkan saja Ze bersenang-senang dengan menghajar dua orang yang tidak tahu bahwa kekuatan mereka jauh di bawah Ze.


Ze sengaja menutupi pencapaiannya agar orang lain tidak tahu dan dengan mudahnya membuat lawan lengah karena menganggap dirinya lemah.


Seperti saat ini, dua orang di depannya dapat dia tumbangkan dengan mudah karena mereka memandang enteng Ze. Mereka tidak menggunakan seratus persen kekuatan mereka. Walaupun sebenarnya Ze tetap akan mengalahkan mereka meskipun mereka menggunakan seratus persen kekuatan mereka. Hanya saja memerlukan waktu yang sedikit lebih lama.


"Sret sret." Ze mengakhiri pertarungannya dengan menebas leher kedua lawannya itu hingga tersungkur di tanah dengan tubuh kejang-kejang.


Haii para pembaca sekalian


Author mohon dengan amat sangat


tolong jika kalian tidak menyukai karya author ini, mohon kalian untuk mengabaikan saja karya author ini


Tidak perlu berupaya untuk menurunkan rate novel ini dengan memberikan rate rendah


Bagi pembaca dan pendukung setia novel ini, mohon dukungannya dengan rate bintang 5 jangan dibawah bintang 5 karena akan menurunkan rate novel. Jangan lupa untuk tetap Vote, like dan komen.


salam hangat dari author


Terima kasih.