
Ze melakukan totok serupa yang dia lakukan pada Fu kin tadi kepada Xi an lalu menusuk jarum yang sama yang di gunakan untuk melumpuhkan penjaga bayangan rekan Xi an. Xi an tersungkur setelah jarum dicabut dari lehernya.
"Ayo segera kembali ke tempat pangeran Rong yuo sebelum ada yang menyadari hilangnya pangeran mereka dari kamarnya. Aku sangat yakin jika tempat pertama yang akan mereka periksa setelah sadar akan hilangnya pangeran kecil mereka itu adalah tempat kita berada." ucap Ze dan mereka segera bergerak lincah menuju tempat mereka.
Ze dan Jin hu kembali masuk ke dalam bangunan tempat pangeran Rong yuo melalui jendela yang sama di mana mereka keluar tadi. Ze melepaskan perlahan perangkap racun pada pintu dan segera memindahkan perangkap itu pada jendela tempat perangkap itu semula di letakkan oleh Ze.
"Ganti pakaian kak Jin hu itu lalu berikan pada ku setelahnya agar aku dapat menyimpan baju itu di dalam batu untuk menghindari kecurigaan saat mereka memeriksa nanti." ucap Ze.
"Hm kau benar tentu mereka akan curiga jika menemukan pakaian seperti ini di dalam kamar. Tamu mana yang datang bertamu membawa pakaian untuk menyusup bersamanya." ucap Jin hu lalu segera ke luar dari kamar Ze untuk mengganti pakaian di dalam kamarnya.
Setelah mengganti pakaian dan menyembunyikan pakaian serba hitam mereka di dalam batu dimensi, Ze dan Jin hu segera beristirahat di dalam kamar mereka masing-masing.
Karena memang mereka sudah cukup lelah dan kurang istirahat dari perjalan pulang pergi ke hutan Wusi dan juga aksi menyingkirkan mentri Yun dan anak buahnya, akhirnya mereka tertidur lelap.
Saat hari menjelang fajar, sudah terdengar suara bising dari luar. Tidak lama setelahnya pintu dari bangunan yang Ze dan Jin hu tempati saat ini di gedor cukup kuat.
"Buk buk buk." suara gedoran pintu.
"Buka pintunya....!" seru orang dari luar sana.
Jin hu segera ke luar dari kamarnya dan ternyata di sana sudah ada Ze, Huo nan dan Pangeran Rong yuo. Ze segera meminta topeng dari kasim De pada pangeran Rong yuo dan segera masuk ke dalam kamar menyimpan topeng itu di dalam batu dimensi miliknya.
Pangeran Rong yuo sengaja mengenakan baju lengan panjang dan menyembunyikan tangannya yang telah tumbuh kembali itu. Setelah merasa semuanya sudah aman, Huo nan, Jin hu dan Ze melangkah menuju pintu dan pangeran Rong yuo kembali ke dalam kamarnya pura-pura mengurung diri dan termenung di dalam sana.
"Buk buk buk." suara gedoran di pintu semakin kencang bahkan membuat pintu itu bergetar.
"Buka pintunya....!" teriak orang di luar sana.
"Ya tunggu sebentar...!" seru Huo nan.
Mereka membuka pintu dan beberapa orang langsung menerobos masuk tanpa permisi membuat Jin hu geram.
"Apa yang kalian lakukan? Mengapa menerobos masuk tanpa permisi terlebih dahulu?" geram Jin hu.
"Kami masuk ke dalam sini atas perintah langsung dari permaisuri dan mentri Qin untuk memeriksa jika ada yang mencurigakan yang dapat berhubungan dengan kasus hilangnya pangeran Yuo fan." ucap angkuh seorang yang dari pakaiannya sepertinya dia seorang ketua prajurit.
"Beginikah cara kalian memperlakukan tamu dari Raja kalian? Jika pangeran kalian hilang mengapa kalian mencari di tempat yang bahkan lalat tidak dapat masuk tanpa izin dariku?" tanya Ze dengan nada mengejek.
"Kau hanya seorang gadis biasa yang menjadi tamu di sini yang tidak memiliki tempat untuk mempertanyakan perintah dari permaisuri kami yang terhormat." bentak pria tadi dan...
"Duak." Jin hu mendaratkan satu tendangan tepat pada wajah pria yang berani membentak calon istri kesayangannya itu di hadapannya langsung.
"Akh..." pekik pria tadi.
"Duak bruk..." tubuh pria angkuh yang di tendang itu terhempas membentur tebok dan jatuh tersungkur ke lantai dengan gigi depan yang sudah rontok habis.
"Beraninya kau membentak calon permaisuri dari istana atas awan." ucap Jin hu geram membuat yang lain ketakutan.
"Ada apa ini?" tiba-tiba suara seorang wanita dari belakang kerumunan prajurit yang akan masuk menggeledah terdengar membuat kerumunan memberi jalan untuknya.
"Aku menolak kalian masuk jika dengan gaya angkuh seperti itu." ucap Jin hu tegas.
"Kalian hanya tamu biasa yang tidak berarti apa-apa di sini di bandingkan diriku dan berani-beraninya kau menentang apa yang aku perintahkan?" geram permaisuri.
"Seperti ini kah kau memperlakukan tamuku selama ini?" suara menggelegar dari Raja Ruo terdengar dari luar dan membuat permaisuri tercekat wajahnya memucat tiba-tiba karena terkejut mendengar bentakan Raja Ruo.
"Kau sungguh lancang permaisuri." bentak Raja Ruo.
"Apa kau lupa bahwa tidak menghormati tamu dariku sama saja dengan tidak menghormati diriku sebagai Raja di kerajaan ini?" tanya Raja Ruo membuat semua orang termasuk permaisuri tertunduk takut.
"Hukum mati aku jatuhkan pada dirinya karena berani membentak tamu kehormatanku." ucap raja Ruo menunjuk pria yang di tendang Jin hu tadi.
"Bawa dia untuk di eksekusi sekarang juga." titahnya dan beberapa prajurit segera membawa tubuh lemah pria itu menuju tempat eksekusi hukuman mati.
"Ma maaf kan per permaisuri ini Yang mulia. Per permaisuri ini hanya ingin memastikan jika tidak ada hal yang mencurigakan yang dapat berkaitan dengan hilangnya Yuo fan." ucap Permaisuri sedikit terbata.
"Kau ingin memastikan atau menuduh tamuku? Jika kau hanya ingin memastikan bukannya kau dapat melakukannya dengan sopan?" tanya Raja Ruo dengan nada tegas.
"Ma maaf permaisuri ini memang telah salah bertindak kasar. I itu karena aku sangat khawatir dengan keadaan Yuo fan saat ini." ucap permaisuri membuat alasan.
"Sudahlah Yang mulia biarkan mereka memeriksa bangunan ini tapi, untuk kamar pangeran Rong yuo sebaiknya Yang mulia mendampingi pangeran saat mereka memeriksa di sana agar pangeran tidak merasa tertekan nantinya karena banyak orang asing yang masuk." ucap Ze.
"Baik aku akan melakukan sesuai perkataan putri Ze saja ayo kita ke kamar Rong yuo agar dapat segera selesai dan di tutup lagi. Aku takut dia akan mengamuk karena depresi jika terlalu lama melihat orang lain di dalam kamarnya dan untuk kalian harus rapi dalam memeriksa jangan sampai merusak barang dari putri Ze dan yang lain. Jika itu terjadi, hukum mati adalah bayarannya." ancam Raja Ruo membuat para prajurit yang akan memeriksa menelan ludahnya kasar.
"Baik yang mulia....!" seru mereka dan segera masuk dan berpencar memasuki setiap ruangan yang ada.
Jin hu merangkul pinggang Ze lalu membawanya untuk duduk di kursi sementara orang-orang itu memeriksa.
Di dalam kamar pangeran Rong yuo saat ini Raja Ruo memeluk putranya dan pangeran Rong yuo menyembunyikan tangannya di tengah-tengah antara tubuhnya dan sang ayah agar tidak terlihat.
Pangeran Rong yuo pura-pura ketakutan memeluk ayahnya dengan tubuh sedikit bergetar terlihat menyedihkan untuk meyakinkan orang-orang yang melihatnya. Permaisuri yang melihat kondisi yang terlihat menyedihkan dari pangeran Rong yuo, tersenyum sangat puas lalu segera merubah ekspresi wajahnya menjadi terlihat sedih dan prihatin.
Ze yang melihat perubahan ekspresi instan dari permaisuri itu menjadi kesal dan ingin sekali menghajar permaisuri ular itu dengan tangannya sendiri saat ini juga. Jin hu yang menyadari kekesalan Ze menenangkannya dengan mengusap lembut kepala Ze.
Karena tidak mau melihat wajah dari permaisuri yang bisa membuatnya naik darah itu, Ze memilih memejamkan mata sambil bersandar pada pundak Ze. Jin hu tersenyum sambil mengusap lembut kepala Ze yang sedang bersandar di pundaknya itu.
"Bangunkan aku saat wanita ular itu sudah tidak lagi berada di dalam ruangan ini. Aku butuh tidur agar tidak melihat wajah dan mendengar suaranya yang membuat aku ingin mencincangnya saat ini Juga." bisik pelan Ze membuat Jin hu menghela napas karena tahu saat ini Ze gelisah tidak dapat melakukan apa-apa terhadap orang yang dia benci.
Hai hai hai lagi semuanya.....
jangan pernah lupa terus dukung Author dengan banyak-banyak beri Vote
tentu like dan koment jangan lupa
salam sayang dari Author