
Setelah Huo nan dan yang lain keluar dari kamar itu menyisakan Jin hu dan Ze hanya berdua di dalamnya , Jin hu memutar tubuh Ze agar menghadap ke arahnya dan hanya terus tersenyum menatap wajah Ze.
"Ada apa kau senyum-senyum seperti itu?" tanya Ze heran melihat Jin hu hanya menatapnya sambil tersenyum saja dari tadi.
"Aku hari ini amat sangat bahagia. Itu kenapa aku hanya tersenyum." jawab Jin hu masih dengan senyum mengembang di wajah tampannya.
"Apa yang membuat dirimu sebahagia itu hm?" tanya Ze
"cup. Kamu." jawab jin hu singkat setelah mengecup kening Ze.
"Aku?" beo Ze tak paham sambil mengerutkan keningnya bingung.
"Ya, aku bahagia karena dirimu. Sebentar lagi kau akan utuh menjadi milikku dan tak akan ada lagi yang bisa merebutmu dariku." jawab Jin hu.
"Oh apakah sebesar itu rasa sayangmu padaku? Aku baru menyadari jika kau sangat menginginkan mengikat diriku. Melihat sikap posesifmu padaku sejauh ini aku jadi berfikir jika kau akan menyekapku kelak jika kau telah berhasil memiliki diriku." gurau Ze
"Sudah tentu aku sangat menyayangimu dan ingin selalu bersama dirimu. Tapi, aku tak akan pernah mengekangmu. Aku akan selalu mendukung apapun yang kau ingin lakukan. Kecuali satu hal." jawab Jin hu
"Kecuali apa?" tanya Ze menatap mata Jin hu dan hal itu membuat Jin hu gemas ingin mengulang apa yang sudah mereka lakukan pagi ini.
"Kecuali kau menginginkan untuk pergi jauh meninggalkan aku." jawab Jin hu dan segera menyatukan bibirnya dengan bibir Ze.
Jin hu menekan tengkuk Ze memperdalam ciumannya. karena Ze tak kunjung membalas ciuman dari Jin hu.
Ze terjejut merasakan benda kenyal dan basah yang menyentuh dan melu*at bibirnya lembut. Saat dia merasakan ciuman Jin hu yang semakin dalam Ze ikut terbawa suasana dan membalas ciuman Jin hu dan saling melu*at.
Saat ciuman itu semakin memanas tiba-tiba saja ketukan pintu menyadarkan mereka berdua dari suasana yang membuat lupa diri itu.
"Tok tok tok." Ze yang sedang memejamkan mata karena menikmati ciuman itu tiba -tiba membuka mata dan mendorong tubuh Jin hu setelah mendengar ketukan pintu.
Mereka masih berusaha menetralkan napas mereka yang tersengal akibat ciuman panas tadi hingga ketukan ke 2 kembali terdengar.
"Tok tok tok" Jin hu tersenyum mengecup singkat bibir Ze lalu melangkah ke arah pintu.
"Ya tunggu sebentar." seru Jin hu saat ketukan ke 3 kembali terdengar.
Saat pintu terbuka ternyata beberapa orang pelayan yang datang membawa makan siang untuk mereka.
"Selamat siang tuan kami membawakan makan siang yang telah dipesan oleh tuan Wen yuan." lapor seorang pelayan yang berditi di depan.
"Hm bawa masuk dan hidangkan di atas meja lalu kalian bisa keluar." ucap Jin hu memerintahkan pada pelayan itu.
"Baik tuan." jawab pelayan itu lalu masuk dan menyusun piring makanan di meja.
Ze tak berbicara sepatah katapun bahkan tak berani menatap para pelayan itu karena merasa malu. Ze merasa jika bibirnya kebas dan bengkak akibat ciuman Jin hu tadi.
Dia tak ingin jika nanti bibirnya jadi bahan tontonan dan tertawaan mereka. Sehingga Ze hanya berdiri di dekat jendela membelakangi mereka seperti sedang menatap pemandangan di luar sana.
"Semua sudah siap Tuan." lapor pelayan itu lagi.
"Hm." jawab Jin hu lalu memberikan beberapa koin emas pada mereka.
"Kalian bisa keluar sekarang." udir Jin hu dan mereka segera keluar dari sana.
"Pemandangan apa yang lebih menarik dari wajah tampan calon suamimu ini hm?" tanya Jin hu sambil memeluk tubuh Ze dari belakang.
"Aku baru tau jika kau suka memuji dirimu sendiri?" jawab Ze lalu membalik tubuhnya
"Aku kira kau tadi menyebut jika kau sudah lapar, lalu mengapa kau masih asik memandang keluar saat makan siang kita sudah tersaji di atas meja?" tanya Jin hu
"Hm aku lapar ayo kita makan." jawab Ze.
"Apa kau ingin berjalan-jalan?" tanya Jin hu
"Aku sedang tak berminat untuk keluar kamar. Aku hanya ingin di sini saja. Kau pergilah saja jika ada yang ingin kau lakukan. Aku akan bersama cece dan ingin berlatih membuat pil saja lagi.
Aku sangat kekurangan pil saat ini karena poci ternyata juga memakan semua pil -pil tingkat tinggi milikku." jawab ze
"Baiklah. Aku akan meminta Wen yuan dan Liu yu untuk berjaga di luar saja. Aku pergi dulu kalau begitu. Aku tak akan lama, hanya menemui seorang kenalan di dekat sini saja." ucap Jin hu
"Kau memiliki kenalan orang dari desa ini?" tanya Ze heran
"Bukan sayangku. Dia orang dari kerajaan lain yang juga datang ke tempat ini. Mungkin untuk mengikuti kompetisi juga." jawab Jin hu
"Dari mana kau tau jika dia ada di tempat ini?" tanya Ze penasaran pasalnya Jin hu tak pernah keluar dari kamar itu sedetikpun sejak semalam.
Dari mana dia bisa mengetahui jika kenalannya itu ada di desa itu?
"Aku tak sengaja melihat kereta kudanya lewat tadi pagi dari jendela ini. Kereta miliknya itu memiliki tampilan khusus dan memiliki tanda dari kerajaannya." jawab Jin hu
"Oh baik pergilah kalau seperti itu. Aku akan masuk ke batu dimensi saja membuat pil untuk menghemat waktu." ucap Ze sambil mengangguk paham.
"cup cup cup cup" Jin hu mengecup sekilas kening, kedua mata, kedua pipi dan terakhir bibir Ze.
"Baik aku pergi dulu." pamit Jin hu lalu keluar dari kamar itu.
"Sebaiknya aku masuk ke dalam batu dimensi segera. Aku masih harus mengumpulkan bahan dari dalam batu dulu sebelum membuat pil." ucap Ze dan segera masuk ke dalam batu dimensi.
"Hei gadis bodoh." Panggil Hui tu
"Hm. Ada apa?" tanya Ze sambil memetik dan mencabut beberapa tanaman obat yang memang dibutuhkan untuk meracik obat.
"Aku ingin melanjutkan pembahasan tentang rencana kita tadi." jawab Hui tu
"Tentang keluarga Duo itu?" tanya Ze
"Iya. memang tentang apa lagi hm?" tanya Hui yi balik
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Ze lagi.
"Kau harus cari cara agar dapat mendekati tungku milik keluarga Duo itu dan mengarahkan api sejati ke dalamnya. Tapi, ingat untuk hanya mengeluarkan setitik kecil saja api sejati ke dalam tungku itu." jawab Hui tu
"Mengapa harus sedikit?" tanya Ze heran
"Agar kita bisa membongkar rahasia mereka dan membuat mereka malu sebelum menghanguskan katak ajaib itu.
Katak itu akan kepanasan dan melompat keluar dari dalam tungku saat itu terjadi orang-orang akan tau rahasia mereka dan akan mengolok dan menghina mereka.
Jika kau mengarahkan terlalu banyak api sejati pada katak itu, maka katak itu akan menjadi abu di dalam tungku itu.
Bukankah tak akan menyenangkan jika mereka hanya kehilangan katak tapi tak kehilangan muka?" jelas Hui tu.
Jangan lupa dukungannya ya dengan Vote like dan komenπ
Selamat membaca dan semoga hari kalian menyenangkan
Terima kasih
Author
πππππ