Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Masalah?


Keesokan harinya, matahari belum juga menampakkan dirinya dan Sie li sudah membangunkan Ze yang masih nyaman dengan tidurnya.


"Putri...?" panggil Sie li dan Ze tidak menyahut sedikitpun.


"Putri....!" panggilannya lagi dengan suara yang lebih keras agar Ze mendengar panggilannya dan lagi-lagi Ze tidak terganggu dengan tidurnya.


"Putri....!" panggil Sie li lagi dan kali ini dia menyentuh kaki Ze sambil sedikit menggoyang kakinya.


"Hm?" akhirnya Ze menjawab panggilan Sie li walaupun hanya dengan deheman saja.


"Sebaiknya putri segera bangun dari pada putri kehilangan waktu untuk mengisi perut putri dengan makanan sebelum puasa sehari penuh." ucap Sie li.


Ze segera duduk saat mendengar kata puasa yang sempat dia lupa kalau dia akan menjalani puasa itu hari ini.


"Ya Dewi, aku pasti akan lemas sehari penuh tidak makan apapun." batin Ze dengan wajah cemberut membuat seseorang kembali mengejeknya.


"Dasar gadis bodoh yang mengaku jenius." ucap Hui tu.


"Berhenti mengatai aku gadis bodoh." ucap Ze kesal pada Hui tu, tentu Ze mengatakannya dengan pikiran saja agar Sie li tidak heran.


"Bahkan masalah sekecil itu saja kau susah untuk memecahkannya, bagaimana bisa kau mengaku jenius?" ucap Hui tu.


"Langsung pada intinya saja! Aku sedang tidak ada selera untuk menemanimu menjawab teka-teki. " ucap Ze.


"Bukankah kau masih memiliki daun yiyang di dalam cincin penyimpanan di jarimu itu?" tanya Hui tu dan Ze hanya reflek mengangguk.


"Ada apa putri?" tanya Sie li yang melihat Ze mengangguk.


"Tidak, kau keluar saja dulu aku akan menyusul setelah berganti pakaian." ucap Ze.


"Baik putri." saut Sie li lalu pergi meninggalkan Ze di dalam kamar seorang diri.


"Cepat pada intinya Kakek Hui tu! Aku tidak memiliki banyak waktu." ucap Ze makin kesal.


"Dengan memakan selembar daun yiyang itu, jangankan sehari penuh tanpa makan, seminggu penuh pun kau tidak akan merasakan lemah." ucap Hui tu membuat Ze yang awalnya kesal dengan wajah cemberut itu berubah seketika menjadi ceria.


"Kau memang jenius kakek. Kau penyelamat dan kau idolaku." puji Ze dengan senyuman bahagia bangkit dari tempat tidurnya menuju ruang ganti pakaian.


Hui tu hanya terdiam mendapati perubahan suasana hati Ze yang dapat berubah dengan cepat. Ze keluar dari ruangannya dengan semangat membuat Sie li heran.


"Ada apa dengan putri? Kemana perginya putri yang sangat tidak bersemangat dan cemberut itu? Mengapa putri sekarang jadi ceria dan bersemangat?" batin Sie li.


"Mengapa kau termangu di situ?" tanya Ze saat melihat Sie li hanya terdiam menatapnya.


"Ayo sebelum para tetua bosan menunggu!" ajak Ze lagi dan itu berhasil membuyarkan lamunan Sie li.


"Maaf putri, ayo kita ketempat ritual sebelum makan." ajak Sie li sambil menunjukkan arah pada Ze.


Ze dan Sie li memasuki ruangan lain dimana Jin hu dan para tetua telah menunggunya. Kali ini Sie li ikut masuk dan tetap menunggu di dalam ruangan. Jin hu sudah duduk di atas batu datar dan di sebelahnya ada batu datar lain tentunya untuk Ze tempati.


Para tetua kembali merapal kan mantra sambil memercikkan air pada Ze dan Jin hu. Setelahnya Ze dan Jin hu dipersilahkan untuk makan bersama. Jin hu hanya tersenyum saat melihat Ze memakan makanannya. Tidak lama Wen yuan memasuki ruangan di mana mereka makan dengan wajah yang sedikit terlihat panik.


"Ada apa?" tanya Jin hu.


Wen yuan membisikkan sesuatu pada Jin hu membuat raut wajah Jin hu berubah. Melihat perubahan itu, Ze dapat menebak kalau itu bukan masalah yang ringan. Pasti ada masalah yang cukup serius telah terjadi.


"Keluarlah lebih dulu dan persiapkan segala sesuatu untuk mengatasi itu. Ritual tidak bisa diganggu dan lagi pula tinggal sebentar lagi usai. Aku akan menyusul segera setelah ritual pagi ini usai." ucap Jin hu pelan dan Ze masih dapat mendengarnya.


"Baik tuan." saut Wen yuan lalu pergi dari ruangan itu setelah sebelumnya menundukkan kepala sekilas pada Ze sebagai tanda hormat.


jangan lupa untuk tetap mendukung Ze ✌