Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
pengobatan


Ze melihat Wen Yuan menaruh wadah berisi air itu lalu memberikan sebutir pil pada Wen yuan dan sebuah belati.


"larutkan pil ini di dalamnya lalu kau rendam belati ini." titah Ze dan segera di lakukan oleh Wen yuan.


Ze membuka pakaian atas Jin hu tanpa sungkan lagi karena biar bagai mana di zamannya dia pernah melihat tubuh atas laki laki telanjang di pantai dan di markas Robert tentunya.


"Kenapa kau membuka pakaian tuanku?" tanya Wen yuan.


"Bagaimana caranya aku mengeluarkan senjata yang tertancap di punggung dan mengobati lukanya jika tidak membuka pakaian atasnya?" tanya Ze tersenyum sarkas.


"Berikan belati itu padaku!" titah Ze dan di lakukan segera oleh Wen yuan.


Ze mebasuh luka jin hu menggunakan air di rendaman belati tadi. kemudian bersiap menusukkan ujung belati untuk mengeluarkan senjata yang tertancap di punggung Jin hu.


"Tahan sedikit, ini akan sakit karena tak bisa menggunakan obat bius padamu. Efeknya akan di tawarkan oleh pil penawar segala racun yang kau telan tadi.


Akan menyia nyiakan obat saja menggunakannya saat ini. jadi kau harus menahannya paham?" tanya Ze karena memang Jin hu masih sadar saat ini.


"Lakukanlah!" Jin hu.


Ze mulai mengeluarkan ujung busur yang tertancap dan susah di keluarkan karena patah. Jin hu berusaha menahan sakit dengan mengepalkan tangan dan menggigit bibirnya. Menyadari itu Ze segera memberikan kain padanya.


"itu akan melukai bibirmu saat kau menggigitnya lebih baik kau gigit kain ini saja." titahnya dan Jin hu segera menggigit kain itu untuk menahan sakit dan agar tidak berteriak.


Senjata telah di keluarkan darah Jin hu banyak mengalir dan Ze segera menotok sekitar luka agar darahnya dapat segera berhenti keluar.


Di siramnya luka dengan air suci dan segera di balut agar tidak terkena kotoran yang dapat membuat lukanya semakin parah. Ze menatap Wen yuan intens lalu memberikan sebuah pil padanya.


"Dari mana putri tau itu?" tanya Wen yuan penasaran setelahnya menelan pil pemberian Ze.


"Wajahmu pucat, warna matamu merah dan ada aroma racun yang tercium berasal dari tubuhmu." jawab Ze.


"putri ini sungguh-sungguh sangat dermawan. setiap pil yang di berikannya ini akan di hargai tinggi di luar sana jika dia ingin menjualnya. sedangkan dia memberi tanpa fikir panjang pil tingkat tinggi pada orang yang baru di jumpainya." batin Wen yuan


"sebaiknya kau minum air ini dulu." saran Ze pada Jin hu. Jin hu mengernyit heran menyadari air apa yang di berikan kepadanya.


"Bukankah air ini adalah air suci? Kenapa ada orang yang mau memberi air suci yang sangat berharga pada orang lain yang bahkan tidak dia kenal. Di luar sana untuk setetes air suci ini saja orang-orang tak akan rela memberi pada keluarganya sendiri. sedang air suci ini diberikan untuk di minum begitu saja. Air suci ini bahkan bukan sekedar air suci biasa tapi ini air suci yang sangat murni." batin Jin hu.


"Tak perlu sungkan minumlah untuk mempercepat penyembuhanmu." kata Ze dan Jin hu tak lagi sungkan segera meneguk air suci pemberian Ze.


"Terimakasih telah menyelamatkan kami. Sebenarnya siapa putri ini?" tanya Jin hu penasaran akan penyelamatnya yang sangat dernawan ini.


"putri ini bukan orang biasa pastilah seorang yang istimewa. Dia memiliki banyak pil dan air suci dan tak segan memberi pada kami yang baru di kenalnya." batin Jin hu kagum dengan sifat dan kemampuan Ze.


"Beliau adalah putri Ze, cucu dari tuan besar Shi, Shi jeong nam dan Mu luo yin." jawab Liu yu.


"Berarti kau adalah si kecil An Ze lan putri dari bibi Mei yin?" tanya Jin hu.


"Itu memang diriku. Tapi, aku bukan lagi anggota keluarga An. cukup panggil aku dengan sebutan Ze saja. Dan kau (menunjuk Liu yu) jangan menggunakan kata beliau saat merujuk pada diriku karena aku bukan orang tua," kesal Ze.


"Baiklah putri Ze maafkan aku." jawab Liu yu.