
Sekali serang orang itu terbelalak dan mulutnya mengeluarkan darah kemudian tidak lagi bergerak.
"Penjaga!" panggil Jin hu.
"Ya tuan Jin hu." jawab 2 orang penjaga.
"Jaga baik-baik mayat ini. Jangan biarkan siapa pun kecuali saya dan Guru menyentuh tubuh mayat ini." ucap Jin hu lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari ke dua penjaga itu.
Jin hu kembali ke tempat Ze dan yang lainnya berada. Setelah cukup lama akhirnya pangeran Rong yuo memuntahkan darah dan kemudian terjatuh tidak sadarkan diri.
"Rong yuo...!" pekik Raja Ruo.
"Pangeran Rong yuo tidak kenapa-kenapa. Dia hanya kelelahan menahan rasa sakit dan rasa terbakar dari proses penghancuran segel es hati. Biarkan dia istirahat dan saat dia bangun nanti beri dia pil ini (menyerahkan sebuah pil pada Raja Ruo). Aku harus menormalkan dan menyeimbangkan kembali energi di dalam tubuhku. Karena proses penghancuran segel es hati tadi sungguh menyita dan mengacaukan energi di dalam tubuhku. Tolong jangan biarkan siapa pun mengganggu proses tapa aku nanti." ucap Ze.
"Lakukanlah tapamu dengan tenang. Aku akan berjaga agar tidak ada yang mengisikmu saat melakukan tapa." ucap Jin hu Ze hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Jin hu yang tahu Ze akan bertapa di dalam batu dimensinya.
"Aku masuk batu dimensi dulu." ucap Ze.
"Tunggu dulu." cegah Jin hu lalu melompat keluar dari jendela.
Ternyata Jin hu melihat seseorang berpakaian serba hitam melintas dan segera Jin hu kejar.
Jin hu menggunakan kekuatan penuhnya untuk menyerang orang yang sedang berlari di depannya.
"Akh..." pekik orang itu karena terkena serangan tenaga dalam dari Jin hu hingga terpental jauh.
"Dhuak bruk." tubuhnya menabrak dinding dan terjatuh di tanah.
"Heh ingin lari? jangan harap setelah kau mendengar apa yang tidak seharusnya kau dengar." ucap Jin hu lalu.
"Jleb." Jin hu menghunus pedangnya ke dada kiri pria itu lalu pergi meninggalkan tubuh tanpa nyawa itu begitu saja.
Jin hu kembali ke kamar tempat Ze berada dan melihat Ze masih duduk menunggu dia dengan wajah lelahnya.
"Ada apa?" tanya Ze.
"Tadi ada yang mencuri dengar percakapan kita dan aku fikir dia mendengar tentang batu dimensi karena dia lari setelah kau menyebutkan batu dimensi." jawab Jin hu.
"Lalu bagaimana dengan orang itu? Apa kau sudah menangkapnya?" tanya Ze.
"Sudah berhasil aku bungkam sebelum dia berhasil melapor pada atasannya tentang apa yang dia dengar." jawab Jin hu.
"Pergilah ke dalam batu dimensi sekarang juga. Seimbangkan energi dalam tubuhmu lalu istirahat setelahnya agar kau merasa lebih baik." ucap Jin hu.
"Hm." jawab singkat Ze dan segera masuk ke dalam batu dimensi.
Ze segera duduk di atas batu tapa tempatnya biasa bertapa di dalam batu dimensi itu. Dikeluarkannya sebutir pil roh dari dalam kantong yang terikat di ikat pinggangnya lalu segera dia telan.
Kemudian dia mulai fokus bertapa untuk menyeimbangkan aliran energi di dalam tubuhnya itu.
Setelah cukup lama bertapa Ze selesai dengan proses penyeimbangan energinya dan segera keluar dari batu dimensi.
"Sudah selesai?" tanya Jin hu dan Ze hanya mengangguk lemah karena lelah.
"Istirahatlah aku akan berjaga di sini. Aku merasa ada yang sedang mengincar dirimu jadi aku akan tenang jika aku menjaga dirimu saat kau tidur." jelas Jin hu dan Ze segera berbaring di tempat tidurnya.
Ke esokan harinya pagi hari Ze terbangun dari tidurnya dan Jin hu sudah menyambutnya dengan senyum manisnya.
"Kau masih belum tidur sejak semalam karena menjagaku?" tanya Ze melihat wajah lelah Jin hu.
"Aku merasakan jika ada yang aneh tengah terjadi dan aku tidak bisa membiarkan kau tertidur sangat lelap tanpa pengawasan saat ini.
Aku tahu karena kau sangat lelah, tentu tidurmu akan sangat pulas dan itu akan menjadi peluang bagus bagi orang yang hendak menyakiti bahkan membunuhmu." jelas Jin hu.
"Kakak kedua, kakak ipar, sarapan sudah siap di depan." lapor Huo nan dari luar.
"Ya Huo nan kami akan ke sana segera." saut Ze.
"Makan sarapanmu lalu istirahatlah." ucap Ze.
"Baik." saut Jin hu dan mereka berdua berjalan keluar bersama.
Di sana sudah ada pangeran Rong yuo dan Huo nan tersenyum menyambut mereka datang.
"Kemarilah agar kita semua dapat memakan sarapan kita bersama." panggil Pangeran Rong yuo dan mereka segera melangkah mendekat ke arah meja makan lalu duduk berhadapan dengan pangeran Rong yuo da Huo nan.
Mereka menyantap sarapan mereka dengan tenang tanpa suara sedikit pun.
"Kemarikan tangan anda sebentar pangeran." pinta Ze saat mereka selesai sarapan dan sudah pindah duduk di ruang tengah bangunan itu. Pangeran Rong yuo mengulurkan tangan tanpa bertanya sedikit pun karena sudah paham dengan tujuan Ze meminta tangannya.
"Hm sudah cukup. Kondisi pangeran sudah 100 persen pulih dan sudah dapat memulai mengejar pencapaian kultivasi." ucap Ze membuat pangeran Rong yuo tersenyum bahagia.
"Terima kasih banyak. Aku tidak tahu harus seperti apa berterima kasih pada kalian bertiga terutama pada putri Ze." ucap Pangeran Rong yuo.
"Cukup lakukan yang terbaik yang pangeran mampu untuk meningkatkan kemampuan dan meraih tingkat kultivasi setinggi mungkin agar usaha kami tidak sia-sia. Itu saja sudah cukup untuk kami." ucap Ze.
"Kakak ipar benar sekali. Asal pangeran Rong yuo dapat berhasil menjadi yang terbaik, kami akan puas dan senang karena usaha kami tidak sia-sia." saut Huo nan.
"Apakah aku melewatkan sesuatu?" tanya Raja Ruo yang tiba-tiba datang dari luar.
"Ayah aku sudah pulih total dan sudah dapat memulai pencapaian kultivasiku." ucap pangeran Rong yuo girang.
"Astaga itu sungguh berita menggembirakan bagiku. Terima kasih banyak pitri Ze, Jin hu dan juga kau Huo nan." ucap Raja Ruo penuh semangat.
"Sama-sama Yang mulia. Sekarang saatnya aku memeriksa kondisi tubuh anda dan memastikan apakah sudah bisa aku membuka titik-titik energi yang tertutup di tubuh Yang mulia." ucap Ze dan Raja Ruo melangkah tanpa ragu ke arah Ze lalu duduk di dekat Ze.
"Hm sudah cukup baik. Kalian berdua telan pil ini (menyerahkan 2 pil roh) pangeran dapat segera bersemedi untuk proses awal meningkatkan kultivasi anda. Sedangkan anda Yang mulia aku akan membuka titik energi anda dan segera lakukan terobosan setelahnya." ucap Ze dan mereka berdua duduk bersila lalu menelan pil roh dari Ze.
Pangeran Rong yuo segera fokus dengan tapanya, Ze segera menotok beberapa titik pada lengan, dada, punggung, dan kepala dari Raja Ruo.
Setelah itu Ze bangun dan meninggalkan dua orang ayah dan anak itu dalam posisi semedi.
"Biarkan mereka seperti itu. Kita hanya harus mengawasi orang-orang yang hendak melukai pangeran Rong yuo." ucap Ze dan diangguki oleh dua orang pria di depannya itu.
Votenya kalo gak di minta kok gak nambah ya?
Beri dukungan Vote Like dan komen
kalo banyak akan ada up lebih nantinya 😉