Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Menemukan permaisuri pertama


"Kurang ajar! siapa kalian beraninya mengganggu makan siangku?" seru seorang pria berwajah garang dengan tubuh lebih besar.


"Malaikat maut untukmu." jawab Ze lalu mereka mulai kembali beraksi.


Sembilan orang yang tersisa termasuk dua pelayan wanita itu mengeluarkan pedang mereka dan mulaila perkelahian yang cukup membuat Ze bersemangat.


Dengan gerakan lincah Ze dan Jin hu kini melawan serangan dari musuh yang mengelilingi mereka.


Mereka bertahan dan menyerang dengan saling memunggungi.


"Syat tring tring tring." hanya suara tebasan dan benturan antara besi tajam di tagan mereka yang kini terdengar.


Ze menangkis setiap tebasan yang akan mengenainya. Begitu juga dengan Jin hu.


"Cukup sudah main-mainnya." ucap Ze lalu menyeringai dan seringaiannya itu begitu mengerikan.


Ze mulai mempercepat gerakannya dan kini dia tidak hanya menangkis serangan, tapi juga mulai menyerang.


"Tring tring sret." Ze semakin menggila dalam menyerang.


"Akh." suara pekikan seseorang dari lawannya yang mendapat sayatan lebar di perutnya.


Jin hu juga tidak tinggal diam dia-pun kini mulai mempercepat gerakannya. Sangking lincahnya lawannya kini tidak memiliki kesempatan menyerang balik karena mereka sudah dibuat kesulitan untuk menangkis serangan dari Jin hu.


"Tring tring syat sret jleb." Jin hu sudah berhasil menunbangkan satu per satu lawannya dengan menyayat, menebas dan menghunus pedang serta belati pada tubuh lawannya.


Setelah cukup lama berkelahi mereka akhirnya berhasil menumbangkan semua lawan.


Ze segera menuju penjara kayu dan dia dapat melihat seorang wanita dengan seorang gadis terkurung di dalam sana.


"Mengapa ada dua orang wanita di dalam sini?" gumam Ze dan segera menebas rantai yang mengikat pintu dari penjara kayu itu.


"Jangan takut." ucap Ze melihat dua orang wanita beda usia itu berpelukan saat dia masuk ke dalam penjara kayu itu menghampiri mereka.


"Aku datang menyelamatkan kalian jadi, ayo kita keluar dari sini sebelum rekan dari mereka datang kesini." ajak Ze sambil mengulurkan tangan pada mereka dan mereka akhirnya mengangguk lalu menyambut uluran tangan Ze.


"Sebaiknya kita bergegas sebelum rekan mereka sadar jika sudah banyak dari mereka yang telah lenyap." saran Jin hu dan mereka berempat segera berlari keluar dari sana melalui gua kecil tempat Ze dan Jin hu masuk sebelumnya.


Sebenarnya Ze merasakan ada sesuatu yang janggal pada kedua wanita yang dia bawa, tapi dia tepikan dulu semua fikirannya hingga mereka berhasil keluar dengan aman dari hutan dan juga desa Guoin.


"Aaa." wanita yang dibawa mereka itu terjatuh dan Ze segera membantunya bangkit.


Ze mengernyit heran melihat kedua wanita yang dia bawa dan semakin curiga dengan kondisi keduanya.


"Aku semakin yakin jika dua orang ini tidak bisa berbicara." batin Ze.


"Ayo cepat kita sudah hampir keluar dari hutan." seru Ze.


"Mereka di sana..!" seru seseorang dari dalam hutan.


"Tangkap mereka...!" seru yang lainnya.


"Ayo cepat mereka sudah tahu kita membawa mereka. Kak Jin hu panggil horse drafon fly segera." ucap Ze dan Jin hu segera melakukannya.


"Cepat kejar dan tangkap mereka jika tidak ketua akan menghabisi kita." seru suara lain yang sedang mengejar mereka dan sudah semakin mendekat.


"Jangan biarkan mereka berhasil melarikan diri." serunya lagi.


"Kalian berdua berlarilah sekuat mungkin je arah kereta di depan sana dan naiklah ke dalam kereta itu kami akan berusaha mengatasi mereka." ucap Ze dan mereka berdua mengangguk paham.


Mereka segera berlari ke arah kereta milik Jin hu sementara Ze dan Jin hu menghentikan langkah mereka, memutar tubuh ke arah para pengejar, mengeluarkan pedang dan belati milik mereka masing-masing lalu berlari ke arah para pengejar itu.


"Saatnya bersenang-senang." ucap Ze sambil tersenyum dan Jin hu ikut tersenyum menanggapi ucapan Ze.


Dengan lincah Ze menyerang lawannya membuat mereka tidak memiliki kesempatan membalas. Mereka hanya mampu menangkis dan menahan serangan Ze.


Jin hu juga tidak kalah lincah dari Ze. Dengan tebasan pedangnya membuat para lawannya kewalahan menahan serangannya.


"Sret syat jleb."


"Akh ah bruk bruk." senjata Ze dan Jin hu sudah mulai menyayat , menwbas dan menusuk lawan hingga tumbang satu per satu.


Setelah semua lawan tumbang Ze dan Jin hu segera berlari menuju kereta mereka dan langsung melompat ke dalamnya.


"Horse dragon fly keceoatan penuh kembali ke tempat guru." seru Jin hu.


"Jangan ke tempat Raja Ruo dulu. Jika memang benar mereka ada hubungannya dengan permaisuri saat ini, saat menyadari permaisuri pertama melarikan diri, mereka akan menantikan kita di jalan menuju ke sana." ucap Ze.


"Kau benar. Lalu kemana kita akan pergi?" tanya Jin hu.


"Hutan Fujian." jawab Ze.


"Hutan Fujian?" beo Jin hu bingung.


"Kita tidak bisa memunculkan permaisuri pertama hingga pangeran Rong yuo pulih dan mengatasi permaisuti saat ini. Akan berbahaya untuk permaisuri pertama. Kita tidak bisa mempercayakan permaisuri pertama pada sembarang orang dan ayahku sedang dalam masalah dengan pria misterius. Maka, satu-satunya tempat teraman untuk menyembunyikan mereka adalah hutan Fujian." jelas Ze.


"Oke aku setuju dengan idemu itu. Horse dragon fly kita menuju hutan Fujian dengan terbang." ucap Jin hu.


"Lebih aman jika kita terbang saja." ucap Jin hu.


"Ya benar sekali." ucap Ze.


"Anda permaisuri pertama dari Raja Ruo Raja dari istana api penyucian bukan?" tanya Ze pada wanita yang terlihat lebih dewasa dan hanya dijawab anggukan saja oleh permaisuri pertama.


"Ada apa dengan kalian? Mengapa tidak bersuara? Apakah kalian diracuni?" tanya Ze penasaran lalu segera memeriksa nadi dari permaisuri pertama.


"Tidak ada racun sama sekali. Lalu ada ap... astaga jangan bilang..." Ze menggantung kalimatnya membuat Jin hu penasaran.


"Ada apa?" tanya Jin hu penasaran.


"Buka mulut kalian berdua." ucap Ze dan mereka melakukannya.


"Astaga ternyata memang seperti itu." ucap Ze terkejut melihat ternyata lidah dari dua wanita beda usia itu sudah tidak ada.


"Apa yang terjadi?" tanya Jin hu semakin penasaran melihat wajah terkejut Ze.


"Mereka membuat dua orang ini tidak mampu bersuara dengan memotong lidah mereka." jawab Ze masih menatap kasihan dua wanita yang sedang menangis tanpa suara di depannya itu.


"Kalian tenang saja. Aku berjanji akan membuat kalian dapat bersuara lagi." janji Ze membuat mereka menatap selidik ke arah Ze memastikan jika tidak ada kebohongan dari mata dan wajah Ze.


"Aku tidak pernah menjanjikan apa yang tidak mampu aku lakukan. Jadi percaya padaku." ucap Ze meyakinkan dan mereka berdua bersimpuh menandakan jika mereka sangat bersukur dan sebagai ucapan terima kasih.


"Kau siapa? Mengapa mereka juga menangkap dan menyekapmu?" tanya Ze pada gadis yang bersama dengan permaisuri pertama.


Permaisuri pertama menunjuk gadis itu dan perutnya lalu dadanya. Membuat Ze menebak jika gadis itu adalah putrinya.


"Dia putrimu?" tanya Ze dan permaisuri pertama mengangguk.


"Putri kandung?" tanya Jin hu dan lagi-lagi permaisuri pertama mengangguk lalu memeluk gadis itu.


Karena Vote dan likenya bertambah Author nambah up juga buat kalian. Jika tidak ada halangan masih bisa 1 kali up lagi loh😉


selamat membaca