
Ketua Yui yang kini sudah tidak dapat menahan emosinya karena hinaan dari Ze itu hendak menyerang Ze.
Ketua Yui semakin marah karena melihat sikap tidak perduli Ze pada amarahnya saat ini.
Di saat ketua Yui sedang bersiap menyerang Ze di atas panggung, di saat yang sama di bawah panggung Jin hu sudah sangat murka dan bersiap akan menghabisi orang tua yang telah berani membentak kekasihnya itu.
"Dasar tua bangka itu." Ucap Jin hu kesal melihat ketua Yui membentak Ze.
Jin hu hendak maju untuk membantu Ze. Tapi, langkahnya terhenti karena Liu ku mencegahnya dengan membuat tubuh Jin hi kaku.
"Apa yang paman lakukan?" tanya Jin hu kesal karena saat ini dia tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
"Putriku Ze tidak sedang butuh bantuanmu saat ini." jawab Liu ku.
"Lihatlah tua bangka itu membentak Ze dan ingin menyerang Ze." ucap Jin hu geram.
"Ze lebih dari mampu untuk membungkam mulut dari tua bangka itu. Kita harus percaya dengan kemampuan Ze." jelas Liu ku.
"Baiklah aku menyerah paman Ji memang benar." pasrah Jin hu akhirnya.
Sedangkan di atas panggung ketua Yui sudah bersiap dengan bubuk dan serangga racun miliknya.
Ketua Yui melemparkan bubuk racun ke arah Ze dan memerintahkan serangga racun miliknya untuk menyerang Ze.
"ngung ngung ngung" suara serangga terbang ke arah Ze.
Ze berhenti melangkah lalu membalik tubuhnya sambil tersenyum penuh kengerian. Saat ini Ze sudah tidak bisa lagi membendung emosinya yang sedari tadi dia sudah tahan-tahan di dalam hatinya.
"syut syat syut" Ze menebas dengan lincah seluruh serangga yang menyerangnya. Sangking lincahnya tidak banyak orang yang dapat melihat gerakannya dan hanya melihat jika semua serangga sudah berjatuhan di lantai panggung itu.
Melihat gerakan yang sangat lincah dari Ze banyak orang yang masih menonton di bawah panggung berdecak kagum.
"Apakah ini yang kalian sebut sebagai gadis tidak berguna?" tanya master Shen dengan sedikit berbisik pada rekannya.
"Jika ini kau sebut tidak berguna maka kita adalah sampah. Kemampuan kita jika digabungpun hanya sebutir debu baginya." sait masyer Kuo.
"Kau tua bangka. Tidakkah kau pernah dengar orang berkata "jangan bangunkan kucing yang sedang tidur" dan kini kau melakukannya.
Kau sunggu bernyali sekali hanya dengan kemampuan yang terlihat seperti sebutir pasir buatku, kau telah membuat kucing kecil ini menjadi singa yang siap melahapmu." ucap Ze masih dengan seringaian mautnya.
"Kau ba bagaimana kau bisa tidak merasakan efek dari racun mematikan buatanku?" tanya ketua Yui terkejut melihat Ze masih mampu bergerak lincah menghabisi semua serangganya.
"Ha ha ha ha" tawa Ze menggelegar membuat ketua Yui merinding.
Liu ku dan yang lain kini tengah duduk santai menjadi penonton di bawah panggung.
"Cari mati orang tua itu." celetuk Huo nan.
"Hm dia tidak tau jika orang yang telah sengaja menyinggungnya hampir semua sudah tinggal nama saja." saut Liu yu.
Orang-orang yang melihat itu semua menjadi semakin takjub.
"Wah lihat rekan dan guru gadis itu tengah duduk santai." ucap penonton 1
"Ya kau benar. Itu artinya mereka sangat yakin dengan kemampuan gadis itu." saut penonton 2
"Tidakkah kau lihat jika saat ini ketua Yui itu tengah ketakutan?" tanya penonton 3
"Ya aku melihat itu." penonton 2
Di atas panggung Ze sudah mengeluarkan jarum beracun miliknya.
"Kau bilang itu racun mematikan? Kau terlalu menilai tinggi dirimu itu. Bagiku racunmu itu hanya seperti mainan anak kecil saja." ucap Ze dengan nada menghina dan masih dengan tawanya.
"Syut" Ze melempar jarum dan mengenai lengan ketua Yui.
"Bruk" ketua Yui seketika ambruk.
"Ini apa yang terjadi? mengapa tubuhku tidak mampu untuk aku gerakkan?" gumam ketua Yui dengan terus betusaha ingin menggerakkan tubuhnya.
Ze hendak menuntaskan ketua Yui namun, ayahnya dan Hui tu melarangnya.
" Ze jangan memb***hnya dulu." cegah Liu ku
"Gadis bodoh hentikan aksimu itu." cegah Hui tu.
"Kali ini kau selamat. Lain kali kau berani mengusikku maka kau harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini." ucap Ze dengan nada kesal.
Katua Yui yang tadi menutup mata dan memahan napasnya saat melihat Ze sudah mengarahkan belati ke arahnya kini membuka matanya dan menghela napas lega.
"Kalian kemari...!" seru Ze sambil menunjuk dan menstap ke arah sekelompok anak muda yang dia lihat datang bersama ketua Yui tadi.
Mereka seketika ketakutan saat Ze memanggilnya. Mereka menaiki panggung dengan bergetar ketakutan dan keringat sudah membasahi wajah mereka.
"Seret orang tua ini pergi segera sebelum aku berubah fikiran dan memb***hnya sekarang juga." ucap Ze saat mereka telah berdiri di depannya dengan menunduk takut.
Mendengar perintah Ze mereka segera mengangkat tubuh guru mereka lalu segera pergi dari sana.
"Mengapa kalian mencegahku membalas orang tua ini?" tanya Ze pada mereka karena dia yakin jika ayahnya masih dapat mendengar percakapannya dengan Hui tu tak perduli meski jarak mereka cukup jauh.
"Mengganggu kesenanganku saja." keluh Ze.
"Apakah kau sudah lupa dengan rencana kita untuk gadis ular dan keluarganya besok?" tanya Hui tu.
"Aku ingat itu." jawab Ze
"Tapi apa hubungannya rencana kita itu dengan kau mencegahku memb***h orang tua tidak tahu diri itu?" tanya Ze
"Orang tua itu adalah ketua dari para juri dalam kompetisi ini." jawab Hui tu
"Lantas kenapa jika dia adalah ketua dari para juri pada kompetisi ini?" tanya Ze
"Dasar kau sungguh sangat bodoh." ejek Hui tu
"Aku menyuruhmu menjelaskan alasanmu bukan menyuruhmu mengataiku." tegur Ze kesal.
"Baiklah dengarkan aku baik-baik. Karena dia adalah ketua dari para juri dalam kompetisi ini, jika dia m**i maka kompetisi ini akan ditunda atau bahkan dihentikan pelaksanaannya." jelas Hui tu dan Ze hanya diam mendengarkan.
"Jika kompetisi itu dihentikan maka kita tidak memiliki kesempatan untuk membongkar kelicikan dan mempermalukan keluarga Duo itu." lanjut Hui tu menjelaskan dan Ze mulai mengangguk paham.
"Hm masuk akal. Baiklah aku terima alasanmu ini." ucap Ze lalu turun dari panggung.
"Ayo kembali ke penginapan aku sudah letih dan lapar." ajak Ze
"Kalian berangkat berlima saja. Kami harus menemui seorang kenalan dan akan kembali ke tempat ini untuk menyaksikan kau tampil." ucap Liu ku
"Baiklah ayah." saut Ze dan Ji liu ku serta tang bersaudara berjalan ke arah lain meninggalkan mereka.
"Kau lelah?" tanya Jin hu dan Ze hanya mengangguk.
Hai readers tersayang
Terima kasih banyak atas dukungan semuanya.
Jangan lupa tetap dukung author yah
sama seperti kemarin aja deh
author lihat tanggapan kalian dulu baru putusin mau tambah up atau tidakπ
sekamat membaca
terima kasih
author
πππππ