
Ze hanya mendengus kesal mengabaikan Hui tu dengan tawanya. Ze tersenyum melihat Jin hu berjalan memasuki ruangan tempat dia duduk saat ini. Ze mengangkat sebelah alisnya saat melihat seseorang yang sangat dia hafal jelas wajahnya tengah berjalan mendekat ke arah bangunan tempat dia dan Jin hu akan sarapan.
"Akan ada tontonan seru tampaknya." batin Ze.
"Tontonan apa yang kau maksud gadis bodoh?" tanya Hui tu.
"Seorang gadis bodoh sedang mencari masalah. Atau, bisa juga dikatakan gadis rendah ingin menginjak tahta dengan taruhan nyawa." jawab Ze.
"Gadis bodoh yang kau maksud adalah gadis yang tengah meyakinkan dirinya bahwa dia tidak akan dilarang untuk memasuki ruangan dimana dulu tidak ada wanita yang memasukinya sekarang ada dua wanita yang dia sebut penggoda diperbolehkan untuk masuk?" tanya Hui tu.
"Penggoda?" beo Ze.
"Ya, dia berkata dalam hati untuk meyakinkan dirinya bahwa dia jauh lebih baik dari dirimu." jawab Hui tu.
"Apa katanya?" tanya Ze penasaran.
"Aku pantas dan jauh lebih pantas untuk masuk ke dalam kediaman kak Jin hu dari pada gadis penggoda itu. Dia pasti tidak akan menolak keberadaan ku di dalam sana karena aku jauh lebih baik dari pada gadis penggoda itu." jawab Hui tu mengulang kata hati yang dia dengar dari Hia ling.
"Itu yang dia katakan dalam hatinya. Julukan untuk dirimu sungguh banyak. Monster, iblis, ja*ang, tidak berguna, bodoh dan sekarang penggoda. Ha ha ha ha." ucap Hui tu tertawa mengejek Ze.
"Julukan itu berasal dari orang-orang yang iri pada diriku." ucap Ze membuat Hui tu mendengus kesal.
"Heh apakah maksud dari perkataan mu itu adalah aku iri dengan dirimu?" tanya Hui tu.
"Kau sudah mengakuinya sekarang bukan?" ucap Ze dengan santai.
Ze mengabaikan Hui tu yang menggerutu dan segera berdiri menghampiri Jin hu yang berjalan mendekat sambil tersenyum kearahnya.
"Kau sebut kalau aku adalah seorang wanita penggoda bukan? Maka akan aku tunjukkan bagaimana wanita penggoda sesungguhnya." batin Ze sambil tersenyum devil.
Ze menyambut Jin hu dengan bergelayut manja pada lengan kanan Jin hu membuat Jin hu tersenyum penuh bahagia menerima perlakuan Ze yang sangat manis menurutnya.
"Ada apa sayang? Mengapa kau belum memulai sarapan." tanya Jin hu lalu mengecup sekilas kening Ze.
"Apa lagi? Tentu aku menunggumu untuk makan bersama." jawab Ze.
"Mengapa kau lama sekali? Aku sudah kelaparan menunggumu." ucap Ze merajuk.
"Maaf, itu salahku membiarkanmu kelaparan menunggu lama. Ayo sarapan dan aku akan menebus kesalahan yang aku perbuat dengan mengajak kau berkeliling ketempat yang pasti akan kau suka setelah ini." ucap Jin hu berusaha membujuk calon istrinya yang sedang merajuk.
"Kau harus menyuapi aku makan sebagai hukuman." ucap Ze sambil tersenyum melirik seseorang yang sudah menggelap wajahnya karena cemburu dan emosi melihat kemesraan dia dan Jin hu.
Sedangkan beberapa pelayan yang berada di dalam dan luar kamar yang mendengar dan menyaksikan perlakuan manis Jin hu merasa semakin takjub. Bahkan ada yang mencubit dirinya sendiri untuk meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sedang bermimpi melihat perubahan drastis Jin hu ketika sedang bersama Ze.
Bahkan Sie li menganga melihat Jin hu menarik Ze untuk duduk di atas pangkuannya dan terus menyuapi Ze makan. Tidak hanya sampai di situ saja, Jin hu menyuap makanannya ke dalam mulutnya menggunakan sumpit dan sendok yang sama yang dia kenakan untuk menyuapi Ze.
"Tidak perlu heran seperti itu. Tuan memang selalu seperti itu dan akan selalu seperti itu di depan Tuan putri Ze. Tidak akan ada yang bisa menerima perlakuan serupa dari Tuan selain putri." ucap Wen yuan dengan sedikit berbisik pada Sie li di sebelahnya.
Jangan lupa untuk memberikan vote, like dan komen setelah membaca