
Ze tampak sedang berfikir sejenak dan mengingat apa yang dia katakan sebelumnya lalu tersenyum malu-malu sambil menggaruk tengkuknya.
"Oh iya kau benar he he he. Aku memang mengatakan itu tadi saat akan membuatnya. Tapi, aku fikir -fikir lagi jika hal itu tidaklah efisien. Karena, kemungkinan besar akan ada orang lain yang bukan targetku akan ikut menghirupnya jika itu berbentuk bubuk.
Maka dari itu aku membuatnya berbentuk pasta hingga cukup dioleskan saja pada kulitnya dan dia sendirian saja yang akan merasakan efek halusinasi dari salep halusinasi ini.
Untuk bubuk halusinasi efeknya juga instan dan pengaruhnya hanya sebentar saja. Sedangkan ini akan bereaksi saat malam hari saja dan bertahan lama." jelas Ze
"Hm cukup pintar dan juga lebih masuk akal. Jika dia tiba-tiba saja berteriak-teriak saat itu juga maka orang lain akan curiga.
Tapi saat itu muncul di malam hari itu akan terlihat sebagai bentuk rasa bersalah yang terpendam.
Hal itu akan lebih meyakinkan mereka di keluarga Duo jika Liu sia yang licik dan tak tahu malu itu adalah dalang di balik hilangnya anggota keluarga Duo yang lain." puji Hui tu
"Aku memang gadis jenius kau saja yang menyebut diriku ini gadis bodoh." jawab Ze bangga.
"ceh baru juga aku memuji sedikit saja dan kamu sudah besar kepala huh?" sungut Hui tu
"Sudahlah aku harus ke luar dulu nanti ada orang yang masuk ke dalam kamar bisa ketahuan kalau aku memiliki batu dimensi ini." ucap Ze dan segera memasukkan beberapa jenis pil yang dibuatnya dalam kantong penyimpanan.
Ze membagi 2 jumlah setiap masing-masing jenis pil. Pil-pil yang sudah dipisahkan itu lalu dimasukkan ke dalam 2 kantong penyimpanan.
Begitu juga racikan racunnya fia bagi dan masukkan ke dalam 2 botol berbeda setiap jenisnya. Melihat itu Hui tu jadi penasaran dan mulai bertanya pada Ze.
"Mengapa kau menyimpan pil dan racunmu dalam 2 tempat berbeda untuk setiap jenisnya?" tanya Hui tu
"Mengingat kemarin saat aku terluka aku tidak dapat mengambil apapun dari dalam batu dimensi ini, jadi sebagai jaga-jaga saja aku akan membawa beberapa pil dan racun keluar bersamaku. Sisanya akan aku simpan di dalam sini." jawab Ze sambil menyimpan kantong berisi pil kedalam tempat penyimpanan di dalam batu dimensi dan mengikat kantong penyimpanan sisanya di pinggangnya.
"Oh oke kau sunggu tidak terlalu bodoh untuk hari ini." ucap Hui tu.
"Huh aku keluar." ucap Ze kesal
"ya." jawab Hui tu.
Ze segera keluar dari dalam batu dimensi dan saat sudah berada di dalam ruangan kamar dia melihat sekeliling ternyata masih kosong.
"Nampaknya kak Jin hu masih belum kembali. Ya sudahlah aku akan menyuruh wen yuan dan Liu yu istirahat saja lalu aku juga istirahat." gumam Ze lalu melangkah kearah pintu.
Ze membuka pintu dan melihat Wen yuan dan Liu yu membelakangi pintu kamarnya karena sedang berjaga.
"Wen yuan! Liu yu!" panggil Ze
"Kami tuan putri." jawab mereka kompak
"Kalian sudah bisa istirahat aku sudah selesai meracik obatnya." ucap Ze
"Tak mengapa putri, kami akan di sini hingga tuan jin hu kembali." jawabnya lagi
"Baiklah kalau seperti itu aku istirahat dulu." ucap Ze lalu menutup kembali pintu kamarnya dan berjalan menuju tempat tidurnya.
Sedang Jin hu saat keluar dari kamar dia langsung menemui Huo nan dan yang lain di tempat mereka makan.
"Aku akan pergi sebentar untuk menemui seorang kenalan." ucap Jin hu
"Mana kakak ipar mengapa tak ikut bersamamu kakak ke 2?" tanya Huo nan
"Dia sedang membuat pil di dalam kamarnya." jawab Jin hu
"Siapa yang ingin kau jumpai di luar sana?" tanya Huo nan lagi.
"Ruo rui sia dan Ruo yao fan kemungkinan besar juga Guru." jawab Jin hu
"Mereka ada di sini?" tanya Huo nan lagi
"Aku ikut denganmu kakak ke 2." seru Huo nan
"Kalian berdua berjaga di pintu kamar jaga baik baik jangan sampai ada yang masuk ke dalam. Tetap berjaga di sana hingga aku kembali." ucap Jin hu
"Baik tuan" jawab Wen yuan dan Liu yu kompak
Jin hu dan Huo nan segera berjalan keluar dari tempat itu sedangkan Wen yuan berjalan masuk dan naik ke tempat kamar Ze dan segera berjaga di luar pintu.
Jin hu dan Huo nan berjalan ke arah di mana Jin hu melihat kereta dari kerajaan api penyucian milik guru mereka lewat.
Setelah cukup lama berjalan mencari keberadaan orang yang dicarinya, akhirnya mereka berhasil menemukan keberadaan mereka.
"Kakak ke 2 itu dia kereta milik guru." seru Huo nan girang saat melihat kereta milik gurunya Guo lei rong di depan sebuah penginapan.
"Hm kau benar mari kita ke sana dan mencari mereka." jawab Jin hu.
Mereka berdua masuk ke dalam penginapan dan bertanya kepada pelayan di mana letak kamar Guo lei rong.
"Ada apa tuan?" tanya seorang pelayan mendekat saat Huo nan memanggilnya dengan gerakan memanggil dengan tangannya.
"Apa ada tamu dari kerajaan api penyucian menginap di penginapan kalian?" tanya Huo nan
"Ada tuan." jawab pelayan itu
"Antarkan kami ke kamar mereka." ucap Jin hu langsung dan pelayan itu segera menunjukkan jalan menuju kamar milik guru mereka.
"Ini tempatnya tuan." lapor pelayan tadi
"Ambil ini dan pergilah." ucap Huo nan setelah memberi beberapa keping emas pada pelayan
"terima kasih tuan." ucap pelayan itu bahagia.
"Hm." jawab Huo nan dan pelayan itu segera pergi dari sana.
"Tok tok tok." Huo nan mengetuk pintu
"Ya....! tunggu sebentar." suara teriakan dari dalam terdengar. Tak lama pintu terbuka menampilkan seorang gadis kecil lucu.
"kyaaa." teriaknya karena Huo nan sudah mengangkat tubuh mungilnya.
"Mengapa kau berteriak?" tanya seorang anak lelaki yang lebih besar dari gadis itu dan saat dia melihat ke arah pintu dia terbelalak.
"Kakak Jin hu...! kak Huo nan...!" serunya berlari ke arah mereka.
"Hap" Jin hu segera menangkap tubuh anak itu saat dia melompat ke arahnya.
"kakak Jin hu mengapa tak pernah menemui ruo fan hm?" tanya anak laki -laki di gendongan Jin hu
"Maaf kakak masih ada banyak urusan jadi belum sempat berkunjung ke kerajaan api penyucian." jawab Jin hu
"Oh Jin hu, Huo nan kalian di sini? Ayo masuk kemari." panggil Raja Ruo pada ke 2 muridnya itu.
jangan lupa vote like dan komennya ya😆
selamat membaca dan semoga hari kalian menyenangkan
terima kasih
author
😀😀😀😀😀