
Wen yuan dan Sie li
Setelah Ze dan Jin hu menikah, Wen yuan yang sudah merasakan nyaman dengan keberadaan Sie li di sekitarnya selama dia sakit memutuskan untuk mengutarakan perasaannya pada Sie li.
"Kau mau kemana?" tanya Wen yuan saat melihat Sie li membawa kembali barang-barang miliknya yang dia sengaja simpan dalam kamar Wen yuan untuk memudahkan dia untuk mengambilnya saat dia membutuhkan benda tersebut selama perawatan Wen yuan.
"Kau sudah sehat dan sudah tidak ada lagi yang harus aku lakukan di sini maka aku harus kembali ke tempatku." jawab Sie li.
"Bukankah kau harus bertanggung jawab terhadap diriku? Kau harus berada di sisiku selamanya." ucap Wen yuan.
"Tapi...... "
"Tidakkah kau ingin menikah denganku?" tanya Wen yuan.
"Aku sangat serius saat mengatakan bahwa aku ingin menikah denganmu." ucapnya lagi dengan wajah serius.
"Mengapa kau ingin menikah denganku? Apakah hanya karena aku sudah menyentuh..... "
"Aku menyukaimu, cinta padamu lebih tepatnya." ucap Wen yuan memotong pertanyaan Sie li membuat Sie li menatapnya tidak percaya.
"Bagaimana bisa kau jatuh cinta padaku yang hanya seorang yatim piatu yang bekerja sebagai pelayan?" tanya Sie li tidak percaya.
"Aku tidak perduli dengan status dirimu. Apakah kau lupa bahwa aku juga hanya sebatang kara sebelum Tuan menerima aku sebagai pengawal pribadinya dan menganggap aku keluarga akhirnya?" ucap Wen yuan.
"Setidaknya kau pernah tahu siapa orang tuamu dan tahu mereka telah tiada. Sedangkan aku, hanya bayi yang dipungut dari jalan dan dibawa ke dalam negeri atas awan ini." ucap Sie li lirih.
Wen yuan segera memeluk erat tubuh gadis yang dia sayangi itu. Wen yuan merasakan tubuh Sie li bergetar dalam pelukannya. Dapat dia rasakan ke piluan dari Isak tangis yang mulai terdengar dari tubuh bergetar dalam pelukannya itu.
"Aku mencintaimu tanpa perduli dengan status atau apapun itu. Aku hanya ingin kau selalu berada di sini di sisiku." ucap Wen yuan sambil menepuk-nepuk pelan punggung gadis yang tiba-tiba saja menguasai hatinya itu.
"Jadi, sudi kah kau untuk menikah dengan pria biasa saja ini?" tanya Wen yuan penuh harap.
Sie li mengangguk tanda setuju dengan permintaan Wen yuan. Jawaban itu menghadirkan senyum bahagia Wen yuan.
"Terima kasih sudah mau menerimaku." ucap Wen yuan.
"Aku akan meminta ijin untuk segera menikah pada Tuan." ucap Wen yuan.
"Kau harus bersiap karena besok kita akan menikah." ucap Wen yuan.
"Besok? Tidakkah itu terlalu cepat?" tanya Sie li.
"Jika dapat aku ingin hari ini juga aku akan menikah denganmu. Kau hanya harus bersiap, sisanya serahkan semua pada priamu ini." ucap Wen yuan.
"Lepaskan pelukanmu ini sebelum ada yang melihat kita dalam posisi ini. Aku harus kembali ke tempatku." ucap Sie li.
"Mengapa kau harus pergi dari sini?" tanya Wen yuan.
"Aku harus kembali ke tempatku sebelum sah menjadi istrimu.Tidak akan sopan dan pantas di mata semua orang jika kita tinggal bersama sebelum menikah." jawab Sie li.
"Aku akan melepaskan kamu dengan satu syarat." ucap Wen yuan.
"Apa itu?" tanya Sie li.
"Cium aku." ucap Wen yuan.
Sie li tertunduk malu, wajahnya sudah memerah mendengar permintaan Jin hu untuk menciumnya.
"Aku, tidak bisa." ucap Sie li.
"Maka aku akan terus memelukmu seperti ini. Aku akan melepaskan pelukan ini jika kau mencium aku." ucap Wen yuan membuat Sie li menggigit bibirnya karena gugup dan malu.
"Jangan menggigit bibirmu itu." ucap Wen yuan.
Bukannya menjawab, Wen yuan malah mencium bibir Sie li. Wen yuan tidak hanya sekedar mencium, dia juga melu*at bibir calon istrinya itu.
Karena tidak mendapatkan balasan dari Sie li, Wen yuan menggigit pelan bibir Sei li membuat Sie li membuka mulutnya. Hal itu Wen yuan manfaatkan untuk memperdalam ciumannya.
"Karena aku ingin melakukan ini jika melihat kau menggigit bibirmu." jawab Wen yuan setelah pangutan bibir mereka terlepas karena Sie li yang sudah kehabisan napas.
Wen yuan mengelap sisa Saliva nya dari bibir Sie li. Sie li segera kembali ke tempatnya setelah itu. Wen yuan mengirim beberapa orang untuk membantunya bersiap. Sie li dijadikan bak ratu hari itu karena segala yang Sie li butuhkan akan di siapkan oleh pelayan yang Wen yuan kirim.
Wen yuan meminta ijin pada Jin hu dan disetujui oleh Jin hu dan juga Ze yang kebetulan berada bersama suaminya itu.
"Mengapa cepat sekali kau ingin menikah? Besok apakah cukup untuk mempersiapkan Segalanya hanya dalam satu hari?" tanya Ze.
"Saya sudah mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk melangsungkan pernikahan putri." jawab Wen yuan.
"Oh, kau sudah merencanakan ini dari kapan?" tanya Ze.
"Sejak mengenal Sie li. Aku tidak ingin hanya menjadi penonton kemesraan pengantin baru dalam perjalanan menuju kerajaan Beicheng nantinya." jawab Wen yuan.
"Lakukan yang ingin kau lakukan jangan mengganggu waktuku dengan istriku lebih lama lagi." ucap Jin hu.
Wen yuan segera pergi dari sana setelah mendengar Jin hu mengusir dirinya.
Wen yuan sungguh matang merencanakan pernikahannya. Bahkan sebuah rumah di luar istana sudah dia siapkan untuk keluarganya kelak.
Segala sesuatunya telah siap untuk acara pernikahan Wen yuan dan Sie li. Mulai dari pakaian pengantin untuk mereka hingga rumahnya yang sudah dihias dengan meriah untuk acara pernikahannya.
Sie li di minta untuk segera menempati rumah yang Wen yuan telah siapkan untuk mereka karena acara pernikahan akan dilaksanakan di sana.
Segala sesuatunya berjalan sangat lancar hingga upacara sakral pernikahan telah selesai di laksanakan. Sie li sudah berada di kamar pengantin mereka dengan gugup dan Wen yuan masih di luar untuk menyapa tamu.
"Wah kau bergerak dengan cepat menyusul tuan." puji Liu yu.
"Malangnya nasibku harus berada di sekitar kalian nantinya." keluhannya lagi membayangkan hari-harinya nanti yang hanya akan jadi penonton pasangan pengantin baru bermesraan di sekitarnya.
"Kembalilah ke kamar pengantin mu. Kau tentu tidak ingin membuat istrimu menunggu terlalu lama bukan?" tegur Luo yin.
"Baik Nyonya." saut Wen yuan.
Sie li meremas tangannya karena gugup saat mendengar pintu kamarnya dibuka. Siapa lagi yang akan membukanya kalau bukan pria yang sudah sah menjadi suaminya.
Wen yuan membuka perlahan kain yang menutupi wajah cantik istrinya itu. Wen yuan tersenyum melihat Sie li yang hanya menunduk malu dan gugup.
"Mengapa hanya menunduk hm?" tanya Wen yuan.
"Aku malu." cicitnya.
Wen yuan memegang dagu istrinya dan mengangkatnya agar dapat melihat wajah cantik istrinya dengan lebih jelas.
"Tidak perlu malu dengan suamimu, istriku sayang." ucap Wen yuan membuat wajah Sie li tambah memerah mendengar kata istriku dari mulut Wen yuan.
Wen yuan segera menciumi seluruh wajah istrinya. Setelah itu malam panjang dan panas pengantin baru mereka mulai 😁✌
Terima kasih atas segala dukungan kalian
untuk season satu ini khusus untuk Ze yang masih gadis. Bagi yang bertanya tentang season dua, tenang itu akan ada karena semua masalah masih belum selesai di bahas.
Tapi, biarkan author menghirup napas sejenak sebelum kembali berkutat dengan kisah Ze. 🙏😁
Salam hangat dan sayang dari author ✌☺