
Saat Ze keluar dari batu dimensi Jin hu tengah berbicara dengan Huo nan.
"Kau sudah selesai sayang?" tanya Jin hu saat melihat Ze sudah ada di sampingnya.
"Mengapa kakak ipar terlihat sangat kelelahan?" tanya Huo nan.
"Pil api suci itu bukan pil biasa yang dengan mudah untuk dibuat. pil api suci memerlukan banyak tenaga dan menguras banyak energi dalam proses membuatnya." Jawab Ze.
"Kau pasti sangat kelelahan. " ucap Jin hu saat melihat Ze sudah tertidur tanpa Aba-aba.
"Aku rasa sekarang sudah saatnya untuk aku kembali bergabung dengan dua orang di luar." ucap Huo nan lalu segera berjalan keluar dan bergabung dengan Wen yuan dan Liu yu lagi.
Setelah cukup lama mereka akhirnya tiba di kediaman keluarga Shi. Ze terbangun saat kereta berhenti.
Saat mereka turun dari kereta, Mei yin dan kedua orang tuanya yaitu kakek dan nenek dari Ze, sudah bersiap menyambut mereka.
"Sayang kau sudah pulang. Kemarilah kami sangat merindukan dirimu." ucap tuan Shi.
Ze segera berlari memeluk orang-orang terkasih nya itu.
"Akupun sangat merindukan kalian." ucap Ze manja dalam pelukan Mei yin dan Luo yin.
"Mari kita masuk ke dalam dulu." Ajak tuan Shi.
Mereka semua masuk ke dalam rumah sambil masih terus berbicara. Ze menceritakan tentang bagaimana dan apa yang telah terjadi selama kompetisi berlangsung.
"Memang pantas baginya untuk ma*i karena dia sudah hampir mencelakai kau lagi." Ucap Jeong nam geram.
"Iya kakekmu benar. Seandainya saja Liu yu dan Jin hu terlambat dalam bergerak menyerang balik maka kamu yang akan celaka karena gadis ular itu. Maka memang sudah pantas bagi gadis ular itu untuk m*ti ditangan Liu ku dan Jin hu." saut Luo yin.
"Aku baik-baik saja ibu. Tidak akan ada lagi yang akan bisa melukaiku. Jadi ibu tenang saja." ucap Ze berusaha menenangkan hati Mei yin. Ze menyadari ketakutan Mei yin saat merasakan pelukan Mei yin yang terasa lebih erat dan terasa bergetar.
"Iya Mei yin sayang. Kau harus ingat kalau putrimu ini sudah bukan lagi Ze lan yang lemah. Dia adalah seorang yang kuat dan hebat yang bisa melindungi dirinya dan bahkan kita semua." saut Luo yin ikut menenangkan putrinya.
"Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kalian? Apakah kita jadi melaksanakan itu segera atau kita akan menunggu segala urusan kalian selesai diurus?" ucap Jeong nam berusaha untuk mengalihkan kekhawatiran putrinya dengan topik yang lain.
"Tentu itu jadi. Aku tidak ingin menunda rencana untuk menikah dengan Ze. Aku ingin melakukan upacara pernikahan sederhana di sini dan akan menggelar acara meriah di dalam istana atas awan milikku saat urusan Ze telah selesai diurus." jawab Jin hu.
"Baiklah jika itu keputusan kalian maka akan kakek persiapkan segalanya untuk itu. Kapan rencana kalian untuk menikah? " tanya Jeong nam lagi.
"Lusa." jawab Jin hu membuat semua orang yang ada di sana terkejut.
"Apakah itu tidak terlalu cepat? " tanya Mei yin dan Jin hu hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Itu tidak akan ada cukup waktu untuk mempersiapkan acara pernikahan kalian." saut Luo yin.
"Itu cukup nenek. Aku tidak ingin menunda lagi pernikahan kami. Aku takut jika akan ada masalah yang akan memisahkan kami jika aku tidak segera menikah dengan Ze." jawab Jin hu yakin.
"Baik jika itu keinginan kalian maka kami hanya bisa mendukung itu." ucap Jeong nam.
Ze hanya bisa diam menyimak pembahasan tentang pernikahan dirinya dengan Jin hu tanpa ikut serta dalam pembahasan itu. Ze yakin jika tidak akan ada gunanya untuk protes jika Jin hu sudah memutuskan itu.
Dia akan selalu kalah di dalam debat jika itu dengan seorang Jin hu. Maka Ze memilih untuk pasrah saja dengan keinginan Jin hu. Terlebih karena dia memang tidak keberatan dengan pernikahan itu.
Hanya masalah waktu saja tidak akan jadi masalah buat Ze. Cepat atau lambat toh mereka juga akan menikah juga akhirnya.
Sedangkan Huo nan, Wen yuan dan Liu yu hanya terdiam tidak percaya dengan rencana pernikahan yang sangat terkesan terburu-buru itu.