Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Hui tu sudah mendapat tubuh


Ze segera melaksanakan apa yang di katakan Hui tu. Saat Ze selesai meneteskan darahnya pada mulut tiga tengkorak itu, perlahan tengkorak itu membentuk lapisan demi lapisan darah daging dan kulit.


Tulang-tulangnya juga tersusun rapi dengan sendirinya dan menyatu dengan sendi yang mulai muncul. Tidak lama tubuh utuh yang telah terbentuk sempurna terlihat. Ada 3 orang yang tampak seperti sebuah keluarga.


Ketiga jasad itu seperti sebuah keluarga. Dua orang paruh baya pria dan wanita, seorang pria dewasa yang memiliki wajah persis dengan pria paruh baya tapi persi mudanya.


"Sepertinya 3 jasad ini adalah sebuah keluarga ibu, ayah dan putra mereka." ucap Ze.


"Ya kau benar, dilihat dari kemiripan wajah dan juga perbedaan usia dari penampilan mereka juga tampaknya mereka adalah satu keluarga." saut Hui tu mengiyakan.


"Mengapa mereka harus dimakamkan dengan cara ditumpuk dalam sebuah peti? Dari tampilan mereka dan jenis peti matinya ini nampaknya mereka bukan dari kalangan orang miskin." tanya Ze heran.


"Entahlah. Lebih mengherankan lagi adalah makam mereka di jaga oleh segerombolan laba-laba api. Makamnya juga terawat bersih." jawab Hui tu juga bingung.


"Sebaiknya kau segera menempati tubuh yang kau inginkan lalu bantu aku memakamkan kembali jasad yang lainnya. Sebelum orang yang menjaga makam ini datang." ucap Ze.


"Ya kau benar aku takut jika ada jiwa tersesat atau jiwa jahat yang memasuki tubuh-tubuh ini jika tidak segera di makamkan kembali." ucap Hui tu lalu segera berbaring menyesuaikan diri dengan posisi tidur jasad pria yang lebih muda.


Saat posisi Hui tu sudah pas dengan posisi tubuh dari jasad yang dia pilih, Ze melihat cahaya samar dari tubuh itu hingga akhirnya cahaya itu meredup.


Mata dari jasad itu mulai bergetar pelan hingga terbuka perlahan. Melihat itu Ze tersenyum bahagia karena itu artinya penyatuan jiwa Hui tu dengan jasad temuan mereka itu berhasil.


Hui tu mengernyit dan mengangkat tangan melindungi pandangannya dari cahaya. Karena sudah lama tidak melihat cahaya, mata dari tubuh itu tidak terbiasa dan merasa silau.


"Uh mataku tidak sanggup melihat cahaya itu." keluh Hui tu.


"Itu hal wajar terjadi pada mata yang sudah lama tertutup dan tidak terkena sinar. Perlahan mayamu akan terbiasa." ucap Ze.


"ugh tubuh ini sungguh terasa sangat kaku. Aku tak sanggup menggerakkannya." keluh Hui tu lagi.


"Kau seperti kakek jompo saja terus-menerus mengeluh. Tidakkah kau berfikir jika tubuh itu sudah berupa tulang yang sudah berubah warna, maka artinya tubuh itu sudah berpuluh-puluh tahun terkubur di dalam sana dan tidak pernah bergerak. Jadi, wajar jika tubuh itu terasa begitu kaku untuk di gerakkan." jelas Ze dengan nada kesalnya.


"He he kali ini kau cerdas dan dewasa dalam berfikir." ucap Hui tu sambil menyengir.


"Gerakkan sedikit-sedikit tubuhmu dan mulailah berusaha untuk berdiri. Tidak mungkin kau akan menjadi seperti bayi yang baru akan belajar berjalan bukan?" tanya Ze khawatir.


"Tentu tidak, karena khasiat dari darahmu itu mengembalikan tubuh ini pada kondisi sebelum dia mati dengan kondisi sehat tanpa penyakit. Hanya saja, jiwaku dan tubuh ini butuh sedikit penyesuaian diri." jawab Hui tu menjelaskan kondisi tubuhnya.


"Baiklah sekarang berarti kau yang membantuku mengembalikan jasad-jasad ini pada peti dan menguburnya kembali ke tempatnya." ucap Ze sambil menunjuk ular api.


Ular api mengembalikan 2 jasad tadi pada peti dan kembali mengubur peti itu. Ze membantu merapikan permukaan makam itu agar tampak seperti semula.


"Sebaiknya kau kembali ke dalam batu dimensi untuk menyesuaikan diri dengan tubuh barumu itu." ucap Ze.


"Ceh." Hui tu berdecah kesal mendengar perintah Ze barusan.


"Apa ada yang salah dengan yang aku katakan?" tanya Ze.


"Apakah kau lupa jika saat ini aku sudah memiliki tubuh?" tanya Hui tu balik dengan nada ketus.


"Aku ingat dan melihat itu saat ini" jawab ze.


"Lalu, apa yang menjadi masalahnya?" tanya Ze lagi.


"Itu artinya aku sudah menjadi manusia biasa yang juga masuk dalam hitungan yang tidak bisa keluar masuk sesuka hati lagi dari dan ke dalam batu dimensi.


"Oh aku lupa tentang hal itu." ucap Ze lalu mengambil kantung yang terikat di tali pinggangnya.


"Ambil ini dan telan satu." memberikan beberapa butir pil pada Hui tu.


"Ayo aku akan membawamu masuk agar aku dapat segera kembali pada 2 orang itu sebelum mereka khawatir karena aku sudah lama meninggalkan mereka." ucap Ze.


Mereka masuk ke dalam batu dimensi dengan Ze memapah Hui tu masuk.


"Cece.... Cece.... Cece...." seru Ze saat sudah di dalam batu dimensi.


Cece datang menghampiri mereka dengan lincah seolah sangat bahagia.


"Ma ma ma u u u?" Cece menanyakan keberadaan ular api.


"Dia masih ada yang harus dilakukan untukku. Dia akan segera kembali saat selesai." jawab Ze yang tau maksud dari ucapan Ceri emasnya.


"Tolong bantu Hui tu berjalan dan dampingi serta jaga dia selama dia masih belum dapat bergerak bebas." pinta Ze.


"I i i hu hu hu?" tanya Ceri emas tidak percaya jika itu Hui tu.


"Iya ini adalah Hui tu yang sudah dapat keluar dari segel telur dan menemukan tubuh baru." jawab Ze.


"Aku harus segera kembali." ucap Ze setelah Hui tu di ambil oleh Ceri emas, Ze segera keluar dari dalam batu dimensi.


"Ular api tolong bawa aku kembali ke kereta tempat Jin hu dan Huo nan." pinta Ze.


Ular api kembali menurunkan kepalanya dan Ze naik lagi ke atas punggungnya. Ular api segera bergerak menyeberang sungai dan pergi ke tempat Jin hu dan Huo nan membersihkan kereta juga diri mereka.


"Yaaakkk astaga....!" seru Huo nan terkejut lalu melompat ke belakang Jin hu saat melihat ular api besar mendekat.


"Ada apa dengan dirimu?" tanya Jin hu kesal.


"I itu a ad a ular raksasa." jawab Huo nan terbata sambil menunjuk ular api yang semakin mendekat.


"Tidak kah kau lihat siapa yang sedang berdiri santai di punggung ular itu?" tanya Jin hu santai.


"Kakak ipar?" ucap Huo nan dengan nada tidak percaya.


Ze turun dari punggung ular api dengan santai dan menyuruh ular api kembali ke dalam batu dimensi setelah berterima kasih padanya.


"Terima kasih ular api. Kembalilah ke dalam batu dimensi karena Cece sudah mencari dirimu di dalam." ucap Ze dan ular api segera masuk ke dalam batu dimensi.


"Woah kakak ipar dari mana kau mendapatkan ular raksasa sebesar itu?" tanya Huo nan heran dan takjub.


"Itu ular api pemberian ayahku." jawab Ze.


"Bukankan pemberian Grand master Ji tidak sebesar itu dan jika itu bertumbuh tidak mungkin secepat itu bukan?" ucap Huo nan tidak percaya.


jangan lupa dukungannya dengan tetap


Vote, like dan koment