Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Menuju Kerajaan Api Penyucian


"Ini daging ikan yang kau butuhkan untuk bubur. Aku sudah menyisihkan tulang dan kulit serta telah mencincang halus agar gampang di campur dalam bubur." ucap Jin hu sambil memberikan pada Ze daging ikan yang dia maksud tadi.


"Kak Jin hu yang terbaik." puji Ze membuat Jin hu tersenyum.


"Aku juga sudah menyiapkan ikan untuk di bakar. Huo nan itu menjadi tugasmu untuk membakarnya." ucap Jin hu.


"Baik kakak kedua. Aku akan membakar ikan untuk kita semua." jawab Huo nan.


Setelah bubur yang di buat Ze masak dan siap untuk dimakan, Ze membangunkan ayahnya agar dapat segera memakan buburnya.


"Ayah..." panggil Ze dan Liu ku tidak merespon panggilannya.


"Ayah..." panggil Ze lagi kali ini dia sedikit menepuk lengan Liu ku dan Liu ku mulai membuka matanya.


"Ya ada apa sayang?" tanya Liu ku.


"Ayah harus makan bubur ini dulu agar memiliki tenaga untuk menjalani proses pengeluaran racun yang masih tersisa di tubuh ayah." ucap Ze.


"Baiklah ayah akan memakannya. Tapi, mengapa buburmu itu memiliki aroma ramuan?" tanya Liu ku.


"Karena aku sengaja mencampurkan beberapa daun obat dan juga buah ceri emas yang sangat mujarab dengan khasiatnya menambah daya tahan tubuh serta membuang racun dari tubuh." jawab Ze.


"Hm baik ayah sudah tahu dari mana asal aroma obat ini." ucap Liu ku.


"Sekarang saatnya ayah memakannya. Aku sudah susah payah membuatkan itu spesial buat ayah." ucap Ze.


"Baik ayah akan memakannya." ucap Liu ku namun dengan kening sedikit berkerut karena tak yakin dengan rasa dari bubur buatan Ze itu.


"Ayah tidak perlu takut memakan bubur itu. Walau mengandung ramuan obat, rasanya cukup enak untuk dimakan." ucap Ze meyakinkan ayahnya.


Liu ku akhirnya memaksakan untuk menyendok bubur di depannya itu dan menyuapkan ke dalam mulutnya.


Jin hu dan Huo nan yang melihat Liu ku menyendok bubur lalu menyuapkan dengan paksa ke dalam mulutnya itu kini sedang berkerut merasa kasihan pada Liu ku.


Mereka juga ragu dengan rasa bubur itu karena banyak mengandung ramuan obat yang rasanya sangat tidak enak. Sudah pasti bubur itu akan tidak enak untuk dimakan fikir mereka.


"Kasihan paman Ji, harus memakan makanan rasa obat di saat dia terluka seperti itu." batin Jin hu.


"Uh seorang Grand master harus mengalami hal sulit dengan terpaksa memakan makanan yang sulit untuk dijelaskan rasanya itu. Semoga aku tidak pernah mengalami hal serupa itu kedepannya." batin Huo nan.


"Mengapa kalian di sana saja? Ayo kita makan juga." ajak Ze.


Jin hu dan Huo nan menghampiri Ze dan Liu ku membawa ikan bakar dan beberapa buah yang mereka dapat di hutan untuk dimakan.


"Hm." Liu ku terkejut saat merasakan bubur buatan Ze yang dia takuti itu ternyata cukup lezat.


"Ada apa ayah?" tanya Ze khawatir.


"Apakah rasanya tidak sesuai dengan selera ayah atau sangat tidak enak?" tanya Ze dengan raut khawatir.


"Tidak tidak Ze sayang, ini cukup lezat bahkan sangat lezat sebagai obat." jawab Liu ku jujur lalu mulai kembali memakan dengan cukup lahap bubur buatan Ze.


Mendengar ucapan Liu ku tadi, Jin hu dan Wen yuan menatap penuh selidik ke arah Liu ku. Mereka mencari kebohongan dari wajah Liu ku namun tidak mendapatkannya.


Mereka sangat terkejut dan heran saat melihat Liu ku memakan dengan santai bahkan cukup lahap bubur buatan Ze tadi.


"Oh baguslah. Jika seperti itu maka habiskan bubur ayah. Itu bagus untuk tubuh ayah dan membantu mengeluarkan racun dari dalam tubuh ayah." ucap Ze.


Setelah beberapa hari bertapa di dalam batu dimensiĺ mereka keluar bersama. Kini kondisi Liu ku sudah sangat baik.


"Sebaiknya pernikahan kalian ditunda dulu hingga kita dapat mengatasi pria asing itu." ucap Liu ku.


"Akan sangat berbahaya untuk keluarga kita jika kita menjumpai mereka saat ini. Karena, jika pria asing itu mengenali meraka sebagai keluarga kita, maka mereka akan menjadi sasarannya." jelas Liu ku.


"Ayah benar, aku tentu tidak ingin jika kakek, nenek dan ibu menjadi sasaran pria itu." saut Ze.


"Jika masalahnya sudah seperti ini, kita hanya bisa menunda pernikahan hingga semua teratasi sesuai kata paman Ji." pasrah Jin hu.


"Aku rasa saat ini cocok untuk kita berkunjung ke kerajaan api penyucian. Selain untuk mengobati pangeran Rong luo, kita juga dapat menghindar untuk sementara dari pria itu. Kita harus mengulur waktu untuk menunggu Hui tu menyelesaikan tapanya dulu." putus Ze.


"Baiklah jika itu keinginanmu. Kita akan menuju ke kerajaan api penyucian." saut Jin hu.


"Ayah sebaiknya ikut agar kita dapat menuntaskan keluarga Song di sana." ucap Ze.


"Tidak Ze sayang, jangan dulu kau mengusik keluarga itu. Ayah masih menyelidiki orang yang berdiri di belakang keluarga itu. Ayah tidak ingin gegabah dan kita semua jadi celaka.


Saat ayah sudah memastikan siapa yang telah mendukung di belakang mereka, kita baru akan beraksi dan ayah pastikan kau tidak akan kecewa dengan hasil dari aksi kita." jelas Liu ku.


"Lalu, ayah akan ke mana setelah keluar dari hutan Fujian ini?" tanya Ze.


"Untuk beberapa hari ke depan ayah akan bertapa di gua Yu untuk memulihkan dan meningkatkan kultivasi ayah. Setelah itu ayah akan kembali ke gunung Jiuli." jawab Liu ku.


"Jika seperti itu, sebaiknya kita segera berangkat." ucap Jin hu.


"Baiklah." saut Ze.


"Ayah, kami harus berangkat." ucap Ze pada Liu ku sambil memeluk tubuh Liu ku.


"Iya berangkatlah Ze sayang, ingat untuk berhati-hati di sana. Jangan sampai ada yang tahu identitasmu di sana." peringat Liu ku.


"Iya ayah aku akan berhati-hati. Ayah juga harus berhati-hati jika kembali bertemu dengan orang itu." ucap Ze.


"Jaga Ze baik-baik." ucap Liu ku pada Jin hu.


"Paman tenang saja. Aku pasti akan menjaga Ze sekuat dan semampu aku." janji Jin hu.


"Akan ku pegang kata-katamu itu." ucap Liu ku.


Mereka lalu keluar dari hutan Fujian lalu pergi ke istana kerajaan api penyucian untuk mengobati putra dari Raja Ruo.


"Aku penasaran tentang siapa orang yang mampu melukai seorang Grand master sekuat dan sehebat Grand master Ji?" Ucap Huo nan saat sedang di kereta.


"Entahlah. Tidak hanya kuat orang itu memiliki kemampuan mengendalikan fikiran. Orang yang tidak kuat hati dan jiwanya lemah akan sangat mudah dikendalikan olehnya.


Yang membuat aku tidak habis fikir adalah orang itu mampu mengendalikan serangga. Sangat jarang bahkan aku tidak pernah bertemu orang dengan kemampuan itu." jelas Jin hu.


"Ya kakak kedua benar. Aku juga tidak pernah mendengar kemampuan itu." saut Huo nan membenarkan ucapan Jin hu.


"Di zamanku sebelumnya itu hanya ada dalam film hollywood dan kartun jepang." batin Ze.


Karena perjalanan yang cukup jauh dan menghindari perhatian, mereka tidur di kereta dan memilih hutan sebagai tempat berhenti.