
Sie li hanya mengangguk sambil terus menatap takjub perlakuan manis Jin hu pada Ze. Sedangkan untuk Hia ling, dia terhenti di tempat dan tidak jadi mendekati ruangan yang masih terbuka itu yang menampilkan kemesraan Ze dan Jin hu.
Hia ling meremas bajunya karena kesal dan cemburu melihat kemesraan Ze dan Jin hu. Sangking emosinya, Hia ling meremas gaunnya hingga kedua tangannya memutih. Dia sangat ingin menerkam Ze saat ini juga jika dia bisa.
"Sudah cukup kak Jin, aku sudah kenyang. Kau harus menepati janji untuk membawa aku ke tempat yang bagus." ucap Ze dengan manjanya.
Ze melirik Hia ling yang terdiam dengan mata yang memerah di luar ruangan tepat di depan pintu yang sengaja dia beri aba-aba pada pelayan untuk tidak ditutup.
"Aku sangat yakin bahwa si penggoda itu sengaja melakukan hal ini. Aku akan membuat dia menyesal karena membuat aku cemburu. Aku akan pastikan bahwa dia akan tersingkir dari sisi kak Jin hu dan aku akan menggantikan posisinya sebagai calon permaisuri." batin Hia ling yang masih setia menonton tingkah manja Ze dan perlakuan manis Jin hu pada Ze.
"Baiklah ayo kita pergi." ajak Jin hu.
"Ayo." saut Ze semangat.
Ze berdiri dari duduknya di pangkuan Jin hu lalu Jin hu juga ikut berdiri setelahnya. Jin hu mengelus pelan kepala Ze lalu meraih tangan Ze kemudian dia genggam.
"Kau ingin mengunjungi dan melihat pasar yang ada di negri atas awan ini?" tanya Jin hu.
"Sore nanti kita baru ke bukit pelangi untuk melihat pemandangan matahari tenggelam dan aku pastikan kau akan menyukainya." ucap Jin hu.
"Bukit pelangi?" beo Ze.
"Ya, bukit pelangi. Bukit pelangi adalah satu-satunya yang dapat menampakkan warna selain putih di negri atas awan ini. Karena itu kami menamai bukit itu dengan sebutan bukit pelangi. Yang paling indah dari bukit pelangi adalah matahari terbit di pagi hari dan matahari terbenam pada sore hari."jelas Jin hu.
"untuk beberapa hari hingga hari pernikahan kita tiba, pagi hari adalah saat ritual sehingga tidak memungkinkan kita untuk pergi melihat matahari terbit." jawab Jin hu.
"Aku janji setelah semua ritual ini selesai, aku akan membawa kau untuk membangun tenda dan bermalam di atas bukit agar saat bangun kita dapat melihat matahari terbit." janji Jin hu untuk menyenangkan hati Ze yang sudah cemberut.
Hia ling segera bersembunyi di balik pohon yang ada di dekatnya saat Jin hu dan Ze akan membalik badan mereka untuk keluar dari ruangan itu.
Ze dan Jin hu melangkah keluar sambil sesekali berbincang dan senyum tidak pernah luntur dari keduanya. Setiap yang mereka lewati akan menunduk hormat dan menatap takjub dengan perubahan sikap Jin hu yang dingin menjadi pribadi yang hangat.
Jin hu yang mengartikan lain tatapan takjub itu, dia mengira bahwa mereka memandangi calon istrinya dengan tatapan itu membuat Jin hu kesal. Bahkan tatapan para wanita membuat Jin hu merasa tidak suka.
"Pakai ini agar kau tidak merasa kedinginan nanti. Aku tidak ingin kau sakit nantinya." ucap Jin hu memberi alasan saat menutupi tubuh Ze dengan jubah besarnya.
Bukan tanpa alasan Jin hu merasa harus menutupi tubuh Ze dengan jubahnya. Karena pengaturan dari Sie li, Ze sekarang menggunakan gaun panjang berwarna putih yang sangat anggun. Sangat berbeda dari biasanya Ze yang selalu mengenakan pakaian santai yang menyerupai pakaian pria.
Hal itu membuat Ze tampak jauh lebih cantik dan anggun. Seandainya bukan karena takut Ze akan merajuk, Jin hu ingin mengurung Ze yang berpenampilan seperti itu agar tidak ada yang melihat Ze yang anggun.
Jin hu berjalan dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Ze. Ze sendiri tidak merasakan ada yang aneh dengan perlakuan Jin hu itu. Selama dia dapat berjalan-jalan mengunjungi tempat yang menyenangkan dia tidak masalah dengan perlakuan posesif Jin hu yang akan menutupi tubuhnya dengan jubah bahkan yang berjalan tanpa melepaskan belitan tangan dari pinggang Ze.
Jangan lupa untuk memberikan vote like dan komen.