Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Rencana untuk Yuo fan 2


"Yang mulia hanya perlu beristirahat di tempat Yang mulia lalu berpura-pura panik saat mendapat berita hilangnya pangeran Yuo fan. Sedangkan untuk mengatasi para pengawal itu tugas kak Jin hu. Aku yang akan mengurus pangeran Yuo fan dan akan menyembunyikan dia sementara di tempat aman." jelas Ze.


Merasa jika apa yang di rencanakan Ze sudah sangat tepat Jin hu dan Raja Ruo mengangguk setuju saja.


"Ke mana kita akan membawa dia setelah rencana penculikan itu berhasil?" tanya Jin hu.


"Ya ke mana Yuo fan akan di bawa setelah itu?" tanya Raja Ruo.


"Aku sudah memikirkan satu tempat. Tapi, ada yang mengatakan bahwa dinding juga dapat mendengar. Jadi, sebaiknya kita tidak menyebutkan apa pun tentang tempat itu." ucap Ze sambil melirik Jin hu.


Ternyata ada seseorang yang mencuri dengar percakapan mereka saat ini dan Ze menyadari kehadiran orang itu.


Jin hu sebenarnya terbangun karena merasakan kehadiran seseorang dengan tingkat kultivasi cukup tinggi mendekat ke arah bangunan tempat dia dan Ze berada saat ini.


Itulah sebabnya Jin hu sangat paham dengan maksud dari lirikan Ze. Jin hu lantas tersenyum lalu mengangguk paham ke arah Ze dan perlahan mundur tanpa suara sedangkan Ze mengalihkan fokus orang itu dengan membahas beberapa hal dengan Raja Ruo.


"Sebenarnya aku ingin mempertemukan pangeran Yuo fan dengan permaisuri pertama. Tapi, aku ingin pangeran tidak mengenal permaisuri pertama sebagai permaisuri pertama." ucap Ze mencari topik bahasan baru untuk mengalihkan fokus pengintip itu agar tidak menyadari gerakan Jin hu yang bergerak ke arahnya.


"Maksud putri?" tanya Raja Ruo.


"Aku ingin pangeran Yuo fan mengenal dan akrab dengan permaisuri pertama. Tapi sebelum itu, pangeran Yuo fan tidak boleh tahu dulu kalau wanita yang bersamanya adalah permaisuri pertama." jelas Ze.


"Mengapa Yuo fan harus tidak mengenali Jia jia sebagai permaisuri pertama?" tanya Raja Ruo.


"Itu karena selama ini pangeran Yuo fan sudah diberi hasutan untuk membenci permaisuri pertama beserta anaknya yaitu pangeran Rong yuo." jawab Ze.


"Tentu pangeran Yuo fan tidak akan pernah sudi untuk mengenal apa lagi untuk berdekatan dengan permaisuri pertama jika pangeran Yuo fan tahu identitas asli dari permaisuri." lanjut Ze menjelaskan maksudnya.


"Hm aku paham sekarang. Itu agar Yuo fan mau mengenal lebih baik kepribadian dari Jia jia." ucap Raja Ruo dan Ze mengangguk mengiyakan.


"Tujuan kita mempertemukan mereka adalah untuk merubah cara pandang dan penilaian buruk pangeran Yuo fan terhadap permaisuri pertama untuk menghapuskan sedikit demi sedikit kebencian di hati pangeran Yuo fan. Dengan demikian kita bisa menarik pangeran Yuo fan dari lingkaran kedengkian." jelas Ze dan Raja Ruo hanya mengangguk paham mendengarnya.


"Sudah bisa kita pastikan bahwa akan sulit bagi kita untuk dapat merubah sudut pandang dan penilaian dari pangeran Yuo fan tentang permaisuri pertama jika dia menghindari bertemu dan berinteraksi atau bahkan sekedar bertegur sapa dengan permaisuri pertama." jelas Ze.


Ze terus saja berbicara dengan Raja Ruo untuk mengalihkan fokus dari seseorang yang sedang mencuri dengar percakapan mereka.


Sedangkan Jin hu saat ini sudah berdiri di belakang orang yang tengah asik mencuri dengar tanpa sadar jika bahaya sedang mengincarnya saat ini.


Jin hu mendekat lalu menyerang orang itu dengan satu kali tebasan pedang di leher membuat kepala dan badannya terpisah seketika itu juga.


"Hm hanya seorang teledor rupanya. Sangat percuma pencapaian yang dia miliki itu. Kehadiran aku saja tidak mampu dia sadari." gumam Jin hu lalu berbalik memanggil penjaga untuk mengurus mayat orang yang dia penggal kepalanya tadi.


"Penjaga....!" seru Jin hu dan dua orang prajurit segera berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Ya Yang mulia tuan Jin hu." saut mereka dengan napas tersengal karena berlari.


"Kalian urus mayat di belakang sana." ucap Jin hu.


"Baik Yang mulia tuan Jin hu." saut mereka dengan suara dan napas lebih normal.


"Di mana mayat yang aku suruh kalian jaga?" tanya Jin hu.


"Permaisuri memintanya pada kami tidak lama setelah anda pergi." jawab salah seorang dari penjaga itu yang memang di tugaskan oleh Jin hu hari itu.


"Baik Yang mulia tuan Jin hu." saut ke dua penjaga tadi.


Jin hu kembali masuk ke dalam bangunan dan segera menghampiri Ze dan Raja Ruo yang masih bercakap-cakap berdua.


Ze menyadari kedatangan Jin hu lalu menatap ke arah Jin hu. Jin hu mengangguk memberi tanda bahwa tugasnya telah selesai.


"Baiklah sebaiknya kalian istirahat saja dulu. Besok siang kita akan menghadiri sidang istana agar putri Ze dapat melihat wajah mentri Qin dan orang-orangnya.


Aku hanya kembali karena ingin memberikan kalian ini (memberikan plakat pada Ze) agar besok kalian bisa masuk ruang persidangan tanpa harus melapor lagi." ucap Raja Ruo.


"Baik Guru terima kasih." saut Jin hu.


"Baik Yang mulia terima kasih." saut Ze.


Raja Ruo kemudian pergi dari sana meninggalkan Ze dan Jin hu.


"Mengapa kau tidak membangunkan aku tadi?" tanya Jin hu.


"Aku tidak tega membangunkan kak Jin hu karena aku lihat kak Jin hi sangat kelelahan." jawab Ze.


"Aku tahu jika aku membangunkan kak Jin hu tadi, kak Jin hu akan bangun dan terjaga lagi menemani aku." lanjut Ze.


Jin hu memeluk Ze dan mengelus sayang kepala Ze. Ze membalas pelukan Jin hu dan Jin hu tersenyum begitu bahagia mengetahui Ze yang juga perduli padanya.


"Aku hanya takut jika terjadi sesuatu yang buruk jika aku tidak ada di sisimu saat kau berhadapan dengan orang lain yang menjadi musuh kita.


Cukup satu kali aku teledor dan membuat aku hampir kehilangan dirimu kala itu. Kau tahu? Aku merasa ingin mati saja duniaku terasa hancur saat paman Ji mengatakan bahwa kau sudah tidak bisa tertolong lagi.


Cukup satu kali, cukup saat itu saja karena aku akan selalu menjagamu dan tidak akan pernah teledor lagi. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi hal buruk kepadamu." jelas Jin hu.


"Hm baiklah sekarang ayo tidur. Aku sudah sangatengantuk sekarang." ucap Ze.


"Kau mengajak aku tidur bersama?" tanya Jin hu menggoda Ze. Menyadari ucapannya terasa ambigu Ze malu dan wajahnya memerah dan salah tingkah.


"Si siapa yang meminta tidur bersama. A aku hanya mengatakan ayo tidur agar kita pergi tidur di kamar masing-masing." jawab Ze gugup tidak berani menatap Jin hu karena takut Jin hu semakin menggodanya jika melihat wajah memerahnya itu.


"Baiklah ayo kita beristirahat." ajak Jin hu yang sudah tidak lagi mau membuat Ze semakin salah tingkah.


Mereka berjalan menuju kamar tempat Ze. Jin hu mengecup singkat pucuk kepala Ze lalu tersenyum dan mengusap pelan kepala Ze.


"Masuklah dan segera tidur. Selamat malam." ucap Jin hu.


"Hm selamat malam." saut Ze lalu masuk kedalam kamarnya.


Jangan Lupa dukung authornya agar dapat membuat aksi Ze terus dengan memberikan


Vote like dan koment


Jika ada dan tidak keberatan tip.seiklasnya juga boleh๐Ÿ˜†๐Ÿ˜‰


salam hangat dari author