
Huo nan dan Pangeran Rong yuo segera berjalan menuju jendela belakang untuk melihat orang-orang itu kaget dan ketakutan melihat ular api raksasa milik Ze sama seperti mereka saat pertama kali melihat ular api. Ze hanya mengerut heran melihat tingkah laku dua orang itu.
"Ada apa dengan mereka berdua? Mereka sangat bersemangat seperti seorang anak kecil yang telah mendapatkan sebuah mainan baru saja." tanya Ze dan Jin hu hanya menggedik kan bahunya tidak tahu.
"Astaga...!" seru Ze tiba-tiba membuat Jin hu mengernyit heran.
"Apa yang salah?" tanya Jin hu.
"Aku lupa jika ular api tidak mengenali panglima besar Lin xu dan yang lain yang saat ini sedang ke sana ingin melihatnya. Kita harus segera ke tempat ular api sebelum ular api mengenali mereka sebagai musuh atau ancaman dan menyerang mereka semua. Jika tidak, mereka semua akan celaka oleh serangannya." jawab Ze menjelaskan lalu bergegas menuju ke arah tempat ular api berada saat ini.
"Kau benar, aku juga tidak memikirkan hal ini. Aku lupa jika ular api bertugas mengawasi dan melindungi kediaman pangeran Rong yuo serta menghabisi semua orang yang menjadi ancaman bagi keamanan pangeran Rong yuo serta Huo nan. Tentu saja mereka akan berada dalam bahaya dan berakhir dengan keadaan yang buruk jika ular api melihat mereka bergerombol." ucap Jin hu sambil melangkah mengikuti Ze yang tengah melangkah cepat menuju ke arah tempat ular api berada.
"Bukankah putri mengatakan bahwa hewan roh miliknya berada di belakang bangunan tempat pangeran Rong yuo tinggal ini?" tanya panglima besar Lin xu pada yang lain.
"Ya benar panglima besar." jawab seorang prajurit di sebelahnya.
"Jika benar, maka di depan sana hewan roh yang lebih kuat dan hebat dari king wolf itu berada saat ini. Ayo lekas kita lihat hewan luar biasa itu." seru panglima besar Lin xu penuh semangat karena dia belum tahu hewan roh seperti apa yang sedang dia dan yang lain hampiri saat ini.
"Ya ayo segera kita ke sana. Sebentar lagi kita sampai. Aku sungguh sangat penasaran dengan hewan roh dari orang hebat seperti putri Ze." seru seseorang di antara mereka.
Sedangkan di dalam bangunan itu saat ini dua orang tengah bersemangat untuk menyaksikan tontonan seru. Di mana sekumpulan orang kuat akan berteriak ketakutan, berlari kocar-kacir, atau bahkan tak sadarkan diri setelah melihat ular api raksasa yang juga telah membuat mereka terkejut ketakutan saat pertama kali mereka melihatnya.
"Aku sungguh penasaran ingin melihat reaksi mereka semua para prajurit kuat dan hebat itu saat bertemu dengan ular api raksasa di belakang sana." ucap pangeran Rong yuo semangat.
"Aku dapat menebak jika akan ada yang akan berteriak seperti wanita, atau berlari ketakutan dan mungkin juga akan ada yang tidak sadarkan diri karena terlalu kaget dan ketakutan." saut Huo nan semangat.
"Ayo kita tunggu dan lihat saja. Aku tidak yakin dapat menahan diri untuk tidak menertawakan mereka nantinya." ucap Huo nan.
Mereka berdua sudah mengintip dari jendela. sebenarnya mereka dapat mengeluarkan kepala mereka jika ingin melihat dengan jelas kedatangan orang-orang itu.
Tapi, mereka berdua masih terlalu takut untuk melihat langsung ular api raksasa itu jika mereka mengeluarkan kepala mereka dari jendela. Karena, ular api raksasa saat ini tengah tenang beristirahat tepat di bawah jendela tempat mereka berdua mengintip saat ini.
Sekumpulan orang-orang itu sudah tiba di ujung sudut bangunan tempat pangeran Rong yuo dan akan berbelok saat Ze memanggil mereka.
"Tunggu dulu...!" seru Ze membuat semua melihat ke arah Ze memanggil.
"Ada apa putri?" tanya panglima besar Lin xu saat Ze dan Jin hu sudah sampai di tempat mereka berdiri saat ini.
"Hewan roh milik Ze tidak hanya bertugas untuk menjaga dan mengawasi area ini. Tapi, juga menghabisi langsung orang-orang yang mencurigakan dan bisa berbahaya bagi pangeran Rong yuo di dalam bangunan ini. Saat ini kalian datang bergerombol dan hewan roh itu tidak mengenali kalian. Tentu kalian bisa saja dia anggap ancaman. Maka sebaiknya biarkan Ze dan aku yang berjalan di depan." jelas Jin hu membuat mereka semua mengangguk setuju.
"Kalau seperti itu ayo silakan putri dan Yang mulia tuan Jin hu berjalan lebih dulu." lanjut panglima besar Lin xu menawarkan jalan buat Ze dan Jin hu agar dapat segera berjalan di depan mereka.
"Ayo." ajak Ze dan Jin hu hanya mengikuti langkah Ze.
Ze berjalan menuju ke arah belakang bangunan dimana ular apinya dan ceri emas berada saat ini. Semua orang di belakangnya sedang semangat mengedarkan pandangan mereka mencari hewan roh yang kemungkinan milik Ze.
"Itu di depan sana." ucap Ze sambil melambaikan tangan ke arah ular api berada.
Semua orang melihat ke arah yang dimaksud Ze. Mereka tidak melihat apa pun karena ular api masih asik di balik semak.
Ze melangkah mendekati ular api dengan semangat diikuti oleh orang-orang yang sudah sangat penasaran ingin melihat hewan roh milik putri Ze.
Menyadari kedatangan Ze, ceri emas bergerak lincah menghampiri Ze.
"Cece..!" seru Ze senang.
"Anda memiliki tumbuhan roh juga putri Ze?" tanya panglima besar Lin xu.
"Iya ini adalah tanaman roh milikku." jawab Ze.
"woah aaaa.....!" seru beberapa orang terkejut.
"Astaga ada monster... " seru seorang dari mereka.
Ternyata ular api sudah menyadari kedatangan tuannya saat ini dan dia segera bergerak mendekati Ze. Beberapa orang sudah mulai teriak histeris dan sebagian lagi sudah ada yang berlari bahkan ada yang saling tabrak sangking takutnya pada ular api.
"Oh Dewa.... Ular monster raksasa dari mana itu?" seru panglima besar Lin xu terkejut dan segera melangkah mundur.
Kecuali Ze dan Jin hu, semua orang yang ada di sana termasuk panglima besar Lin xu sudah pucat dan gemetar ketakutan. Bahkan ada beberapa orang yang sangking takutnya, sampai-sampai kencing di celananya. Sedangkan Ze dengan santainya berjalan mendekati ular api yang juga bergerak ke arahnya.
Hai pembaca setia novel
"pindah dimensi membalaskan dendam putri yang tertindas. "
Jangan lupa untuk memberikan dukungan dan meninggalkan jejak kalian setelah membaca. Satu like dan komen serta sedikit vote dari kalian sangat berharga untuk menjadi penyemangat buat author.
salam hangat dari author