Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
mulai menyingkirkan gulma 2


Ze dan Jin hu segera keluar untuk bisa melihat siapa saja yang ikut dengan rombongan mentri Qin dan mentri Yun di luar sana.


"Cukup banyak juga pengikutnya." ucap Ze dan Jin hu mengangguk mengiyakan.


"Sudahlah ayo kita kembali saja biarkan Xi an dan Fu kin yang mengawasi mereka saja. Aku sudah hafal wajah mentri Yun dan 2 orang kepercayaannya itu. Cukup mereka saja yang di buat pengganti." ucap Ze dan mereka segera pergi dari sana.


Ze dan Jin hu kembali ke bangunan belakang tempat pangeran Rong yuo. Ze memutuskan untuk segera masuk ke dalam ruangannya untuk dapat segera masuk ke dalam batu dimensi agar dapat membuat topeng wajah dari mentri Yun dan dua orang kaki tangan kepercayaannya yang selalu ikut kemana pun Mentri Yun akan pergi.


"Aku langsung ke kamar saja agar dapat segera menyelesaikan tugas aku di dalam batu." ucap Ze pada Jin hu.


"Apakah kau ingin aku menemanimu selama kau membuat topeng di dalam sana?" tanya Jin hu.


"Tidak perlu sebaiknya kak Jin hu istirahat saja yang cukup untuk saat ini agar besok kakak Jin hu dapat lebih segar hingga lebih siap untuk menjalankan tugas. Karena besok kita akan ada tugas untuk menyingkirkan gulma-gulma pengganggu itu." jawab Ze sambil tersenyum manis.


"Kau yakin?" tanya Jin hu.


"Ya tentu aku sangat yakin. Lagi pula bangunan ini sudah sangat aman. Bahkan seekor lalat pun tidak bisa masuk ke dalam sini. Apa lagi yang perlu kak Jin hu khawatirkan?" lanjut Ze meyakinkan Jin hu.


"Baiklah aku akan beristirahat saja jika seperti itu yang kau inginkan." ucap Jin hu sambil mencubit pelan hidung Ze.


"cup." Jin hu mengecup kening Ze lalu mengacak pelan rambutnya.


"Masuklah aku akan ke kamarku setelah kau masuk ke dalam kamarmu." ucap Jin hu.


"Hm selamat beristirahat." ucap Ze lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Sampai jumpa gadis kecilku." saut Jin hu lalu berbalik dan jalan menuju kamarnya.


Di dalam batu dimensi Ze melihat Hui tu yang masih fokus dengan tapanya dan Ceri emas yang seperti tidak bersemangat di tepi kolam air suci tempat ular api biasanya berkultivasi.


"Hm nampaknya Cece kesepian dan merindukan ular api." gumam Ze.


Ze melangkah mendekat ke arah Ceri emas. Ceri emas yang menyadari kedatangan Ze segera bergerak ke arah Ze dengan semangat.


"Tu tu tu." seru suara dari Ceri emas.


"Ma ma ma?" tanyanya artinya mana sambil melihat ke belakang Ze.


"Kalau yang kau cari ular api dia masih ada tugas di luar sana." ucap Ze membuat Ceri emas terlihat murung.


"Mengapa kau tidak ke luar menjumpai ular api jika kau sangat merindukan dia?" tanya Ze dan Ceri emas tampak semangat kembali terlihat dari dahannya yang terlihat layu kembali segar terangkat.


"Bo bo bo?" tanyanya yang artinya bolehkah.


"Tentu boleh. Tapi ingat untuk tidak terlihat oleh orang lain di luar sana. Kau harus ingat kecuali Kak Jin hu dan Huo nan tidak ada yang boleh melihat dirimu." ucap Ze memberi peringatan pada Ceri emas.


"Ba ba ba." ucap Ceri emas semangat.


"Pergilah jumpai ular api. Dia berada di belakang bangunan tempat kau akan muncul saat kau keluar dari batu dimensi ini." ucap Ze.


"Ya ya ya." saut Ceri emas lalu bergerak ke luar dari batu dimensi.


"Sebaiknya aku segera menyelesaikan tugas membuat topeng wajah dari 3 gulma itu agar aku dapat segera beristirahat." ucap Ze lalu segera mengumpulkan bahan dan alat yang dia butuhkan untuk membuat topeng.


Setelah 3 hari waktu batu dimensi, Ze sudah dapat menyelesaikan 2 topeng dan topeng terakhir tinggal sekitar enam puluh persen yang harus dia selesaikan agar terbentuk sempurna.


"Benda apa yang sedang kau buat ini gadis bodoh?" tanya Hui tu saat melihat topeng dan bahan serta alat membuatnya berantakan di atas batu tapa.


"Oh hai kakek Hui tu. Kau sudah selesai dengan tapamu itu?" tanya Ze balik tanpa menjawab pertanyaan dari Hui tu membuat Hui tu mendengus kesal.


"Bukankah aku sedang bertanya padamu gadis bodoh? Mengapa kau malah bertanya balik padaku tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu?" tanya Hui tu protes dengan nada kesal membuat Ze menuengir.


"Aku sedang membuat topeng dari wajah beberapa orang gulma untuk menghantikannya dengan orang lain saat kami berhasil menyingkirkannya dari jalan kami." jawab Ze.


"Kapan kau dapat berkomunikasi denganku lagi saat aku di luar batu dimensi ini?" tanya Ze.


"Kenapa? Apa kau merindukan aku saat kau di luar batu dimensi?" goda Hui tu.


"Huh aku hanya bertanya karena aku senang berdebat denganmu tapi, aku tidak mungkin selalu berada di dalam sini. Aku sungguh merindukan saat-saat kau kesal." ucap Ze membuat Hui tu makin mendengus kesal.


"Sudahlah terserah kau saja." ucap Hui tu pasrah.


"Dimana ular api dan Ceri emas mengapa mereka tidak ada di sini?" tanya Hui tu.


"Ular emas sedang bertugas menjaga bangunan tempat pangeran Rong yuo berada saat ini." jawab Ze.


"Lalu di mana ceri emas berada?" tanya Hui tu lagi.


"Dia merindukan ular api dan merasa kesepian sendiri tanpa teman bermain di dalam sini. Aku akan sibuk sehingga tidak dapat menemaninya dan ular api tidak mungkin masuk ke dalam sini untuk beberapa hari ini. Maka aku menyuruhnya keluar menemui ular api." jelas Ze.


"Oh baiklah. Ah aku lapar sebaiknya aku membuat sesuatu yang dapat mengisi perutku." ucap Hui tu.


"Ah jika seperti itu aku juga mau. Tolong buatkan aku juga makanan." ucap Ze.


"Bukankah seharusnya seorang gadis yang menyediakan makanan? Mengapa sekarang malah aku yang kau suruh-suruh seperti pelayan hm?" protes Hui tu.


"Apa bedanya kau laki-laki atau perempuan jika kau ingin memasak ya memasak saja. Selama ini aku hampir tidak pernah memasak. Kak Jin hu akan menyediakan semua yang aku butuhkan sebelum aku memintanya. Jadi, apa masih perlu kau mempermasalahkan aku yang malas untuk urusan dapur ini kakek?" ucap Ze polos membuat Hui tu kesal.


"Sungguh budak cinta itu membawa pengaruh buruk. Karena terlalu dimanjakan kau menjadi pemalas." keluh Hui tu sambil melangkah pergi dari sana.


"Jangan lupa menyiapkan aku makan juga kakek. Aku masih harus sibuk dengan topeng ini lagi." ucap Ze.


"Ya ya ya." saut Hui tu kesal.


"Sejak kapan kau mengikuti bahasa dari Cece kakek?" tanya Ze polos namun di tanggapi sebagai ejekan oleh Hui tu membuat wajah Hui tu makin terlihat sangat kesal.


"Aku tidak menggunakan bahasa dari Ceri emasmu itu." protes Hui tu.


"Lalu apa? Kau mengulang 3 kali satu suku kata seperti Cece jadi wajar jika aku menduga kau belajar memahami bahasa dari Cece agar dapat berbincang santai dengannya saat kau masih di dalam sini." ucap Ze santai.


Jangan lupa dukungannya loh


Votenya kayaknya berkurang deh😢


Author lama-lama ngambek nih kalo yang baca pada pelit gitu😳


tambah terus Vote like dan komennya ya😄


salam hangat penuh cinta dari Author dan Ze