
Ruri berjalan mendekati Ze dan Jin hu lalu memeriksa denyut nadi Ze. Ruri mengernyitkan alisnya merasa kesal mendapati kondisi adik angkatnya itu semakin buruk.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa mereka semua ada di tempat ini?" tanya Ruri.
"Mereka semua tahu bahwa Liyang saat ini sedang bertapa dan kau sedang menjalankan tugas dari ayahmu kak. Oleh karena itu, mereka tidak ingin menunda untuk segera mengakhiri hidupku." jawab Ze.
Ze lalu menceritakan apa yang telah terjadi semenjak kakak angkatnya dan saudara kakak angkatnya itu pergi untuk melakukan urusan mereka masing-masing.
Flashback on
Saat Ze terbangun dari tidurnya, Ruri dan kakaknya Liyang sedang berbincang tidak jauh dari tempat dia tertidur.
"Duoduo, kau sudah bangun rupanya. Aku kesini hanya untuk membawakan daun yiyang untukmu dan pamit padamu karena, aku sudah harus melakukan tapa di negeri hewan roh Suci." ucap Liyang menjelaskan.
"Kau jaga diri baik-baik dan minum obat pemberian Ruri dengan rutin. Walaupun sangat pahit, obat itu sangat baik untuk pemulihan." tambah Liyang.
"Aku harus pergi sekarang juga. Aku pasti akan sangat merindukanmu di sana kau harus jaga diri baik-baik. Aku akan usahakan untuk segera kembali dan menemui mu setelah tapa ku selesai." ucapnya lagi seolah Ze sedang menahan untuk kepergiannya.
Ze hanya terdiam tidak tahu harus melakukan apa. Sebenarnya dia sangat ingin mengusir pria berisik di depannya itu segera agar berhenti untuk mengoceh. Tapi, Ze berusaha untuk sabar demi tujuannya untuk dapat keluar dari negeri naga itu tanpa ada halangan yang berarti.
Ze berusaha untuk melengkungkan bibirnya ke atas agar Liyang dapat segera pergi dengan tanpa memikirkan dirinya dan tidak pernah berpikir untuk membatalkan kepergiannya ke negeri hewan roh Suci untuk bertapa.
Liyang mengelus pelan kepala Ze lalu beralih menatap ke arah adiknya. Dia lalu menepuk pundak adiknya itu sambil tersenyum.
"Terima kasih karena telah membantu untuk meyakinkan ayah agar dapat mencabut hukuman untukku." ucap Liyang tulus lalu memeluk adiknya itu.
"Tidak perlu berterima kasih Kak. Aku melakukan ini demi kebaikan semua." saut Ruri dengan senyuman kakunya, Ruri sesungguhnya merasa bersalah karena telah menipu kakaknya. Tapi, dia berpikir bahwa itu adalah yang terbaik untuk semua.
Liyang lalu beranjak pergi dari tempat itu setelah mendapat anggukan kepala dari Ruri yang artinya Ruri menyanggupi permintaannya untuk menjaga Ze.
Ruri menatap kepergian kakaknya itu dengan perasaan bersalah karena merasa telah membodohi kakaknya itu.
"Aku sudah melakukan yang terbaik yang aku mampu untuk kakak. Aku akan mendapatkan Duoduo yang asli untuk kakak nanti. Apapun resikonya, aku akan tanggung demi untuk kakak dan juga adik angkat ku agar keduanya dapat bahagia tanpa harus mengorbankan kebahagian dari salah satu nya." batin Ruri yang masih asik dengan lamunannya.
Sangking asyiknya Ruri dengan lamunannya, dia tidak mendengar panggilan Ze yang sudah berkali-kali untuknya. Ruri baru tersadar saat Ze menepuk pelan lengan kirinya.
"Ada apa?" tanya Ruri saat tersadar dari lamunannya.
"Tidak ada, hanya saja kakak terlihat sedang banyak pikiran." jawab Ze.
"Apa yang sedang kau pikirkan kak?" tanya Ze lagi.
"Bukan apa-apa. Sini biar aku periksa denyut nadi mu dulu." ucap Ruri berusaha mengalihkan perhatian Ze agar lupa dengan apa yang baru saja Ze tanyakan.
Hai para pembaca novel
"pindah dimensi membalaskan dendam putri yang tertindas"
jangan lupa dukungan yang berupa vote, like dan komen untuk author.
oh iya batas waktu lomba vote novel yang berhadiah pulsa masing-masing @25k untuk 5 orang pemenang yang beruntung tinggal 4 hari lagi ya. Hari senin jam 12.00 akan di akhiri sekaligus akan ada pengumuman pemenangnya.
salam hangat dari author