
"Anda akan segera tahu setelah aku menunjukkan pada Yang mulia sebuah pertunjukan yang pasti tidak pernah yang mulia lihat selama hidup yang mulia." jawab Ze sambil tersenyum menatap 2 orang terikat di depan mereka itu.
Kedua orang itu merasa ada yang aneh dari senyum Ze mereka melihat senyum itu seperti sebuah bahaya yang mendekat membuat mereka bergidik ngeri.
"Ma mau apa kau?" tanya Xi an melihat Ze mendekat dengan senyum mengerikannya.
"Ja jangan mendekat." seru Mo liu ketakutan.
"Heh saatnya pertunjukan." ucap Ze mendongakkan kepala Xi an lalu menotoknya agar tidak bergerak. Kemudian mendongakkan kepala Mo liu juga menotoknya sama seperti pada Xi an.
Ze mengeluarkan botol cairan dari kantongnya. Botol yang sama dengan yang dia keluarkan untuk diminum Fu kin tadi.
"Saatnya uji coba berikutnya." ucap Ze membuka paksa mulut Xi an lalu menuang beberapa tetes cairan itu ke dalamnya. Ze membuka totokan pada Xi an.
"A apa yang telah kau berikan padaku?" tanya Xi an ketakutan.
"Kejutan kau akan tahu nanti setelah obatnya bereaksi." ucap Ze dan Raja Ruo hanya terdiam menyaksikan apa yang Ze lakukan.
Tidak lama setelah itu Xi an mulai terpekik lalu merintih kesakitan.
"Akh sakit...!" pekik Xi an.
"Ah tolong sakit sekali." rintih Xi an terus menerus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Semakin lama teriakan kesakitan Xi an semakin menjadi hingga dia tidak sadarkan diri karena sudah tidak sanggup menahan rasa sakit pada kepalanya yang semakit bertambah sakit setiap detiknya.
Mo liu semakin ketakutan mendengar rintihan dan teriakan dari Xi an. Wajahnya kini terlihat pucat dan di penuhi keringat sangking takutnya.
"Sekarang saatnya giliranmu." ucap Ze membuka paksa mulut Mo liu lalu meneteskan beberapa tetes cairan dari botol yang sama dengan yang dia berikan pada Xi an dan Fu kin tadi.
Mo liu hanya mampu membelalakkan mata karena totokan Ze membutnya tidak mampu bergerak dan bersuara. Raja Ruo bergidik ngeri melihat aksi dan ulah Ze yang sangat sadis menurutnya.
"Gadis ini memiliki dua sisi yang sangat berpengaruh dengan keselamatan atau kehancuran seseorang tergantung pada sisi yang mana kita berdiri. Dia sangat baik dan bijak di satu sisi sedangkan di sisi yang lain, dia begitu mentmyeramkan dan dapat di setarakan dengan kekejaman iblis. Dia sungguh seorang yang dapat menjadi malaikat juga monster bersamaan. Beruntung aku berada pada posisi dia sebagai malaikat penyelamat jika tidak aku tidak akan sanggup bayangkan nasibku bagai mana." batin Raja Ruo.
Mo liu mulai merasakan sakit kepala yang tiba-tiba menderanya dan dia terpekik lalu merintih kesakitan.
"Akh sakit...!" pekik Mo liu.
"Ah sakit kepalaku sakit ah tolong." rintih Mo liu memohon pertolongan.
"Ah sakit....!" seru Mo liu karena rasa sakit di kepalanya semakin terasa.
Mo liu terus-terusan merintih kesakitan hingga dia ikut tidak sadarkan diri seperti Xi an karena sudah tidak sanggup menahan sakit kepala yang semakin bertambah saja.
"Apa yang hendak putri lakukan kepada mereka?" tanya Raja Ruo penasaran.
"Yang mulia akan tahu sendiri saat mereka sudah mulai sadarkan diri." ucap Ze.
Ze menatap wajah keduanya dengan teliti. Kelopak mata Mo liu mulai bergetar menandakan dia segera akan membuka mata. Ze mengernyit heran melihatnya.
"Mengapa dia begitu cepat terbangun? Ah aku rasa ada yang salah dengan dirinya. Oh aku ingat mungkin dia sama seperti diriku yang kebal dengan obat pengendali fikiran." gumam Ze.
"Ugh kepalaku terasa sakit." keluh Mo liu membuat Ze semakin yakin dengan apa yang dia ucapkan tadi.
Mo liu sadar jika tangan dan juga seluruh tubuhnya sudah tidak terikat lagi di kursi yang dia diduki.
"Akh." pekik Mo liu karena jarum Ze menancap tepat di punggungnya lalu tiba-tiba tubuhnya tumbang dan kembali tidak dapat bergerak.
"Huh tidak berguna." keluh Ze.
"Ada apa putri?" tanya Raja Ruo.
"Bukan apa-apa Yang mulia. Hanya saja orang ini kebal terhadap obat racikanku hingga dia tidak merasakan efeknya." jawab Ze.
"Hm tinggal dia saja yang aku punya untuk melancarkan rencana berikutnya. Semoga dia sama seperti Fu kin yang berhasil aku kendalikan." gumam Ze.
Bulu mata Xi an mulai bergetar pelan dan melihat itu Ze kembali antusias menatap dengan intens wajah Xi an sambil tersenyum penuh harap.
Ze sangat berharap bahwa obatnya bisa berfungsi pada Xi an guna melancarkan rencananya.
"Ah ssh." rintih pelan Xi an sambil memegang kepalanya dan perlahan tangannya itu turun lalu Xi an menatap kosong ke depan. Ze tersenyum bahagia melihat reaksi Xi an sesuai dengan yang dia harapkan.
"Berdirilah." ucap Ze dan Xi an segera melakukan perintahnya.
"Mulai saat ini kau hanya akan mendengarkan dan melaksanakan peritahku." ucap Ze dan Xi an mengangguk.
"Bagus sekarang habisi dia." ucap Ze menunjuk tubuh Mo liu yang tersungkur di lantai dan tidak mampu untuk bang kit lagi.
Xi an segera mengambil pedang yang di berika ole Ze dan tanpa tagu dia menancapkan pedangnya ke punggung Mo liu hingga tembus ke dada kirinya.
Raja Ruo takjub dan juga bergidik ngeri bersamaan melihat kemampuan dan juga kesadisan Ze.
"Sekarang kau kembali pada orang yang memerintahkan kau ke tempat ini. Laporkan bahwa kau berhasil menggagalkan proses pemulihan pangeran Rong yuo namun Mo liu rekanmu mati terbunuh oleh Raja Ruo yang sangat marah.
Teruslah berlaku seperti biasa di sisi mereka dan berpura-puralah patuh pada mereka seperti biasa. Pantau semua kegiatan majikanmu sebelumnya dan laporkan kepadaku." ucap Ze.
"Baik putri." saut Xi an.
"Pergilah sekarang dan jalankan tugasmu sebaik mungkin." ucap Ze.
"Baik putri." saut Xi an lagi lalu pergi dari sana.
"Sekarang yang mulia bisa berpura-pura memasang wajah sedih dan kecewa di depan mereka. Tentu hal wajar bagi mereka saat yang mulia menghindari bertemu dengan orang lain terutama keluarga di saat Yang mulia sedang sedih dan kecewa karena usaha menyembuhkan putra sulung Yang mulia gagal." jelas Ze.
"Terima kasih telah memberikan aku jalan keluar untuk bisa menghindari mereka." ucap Raja Ruo.
"Sama-sama Yang mulia. Aku tahu jika yang mulia tentu tidak akan sanggup menahan emosi jika harus berhadapan langsung dengan mereka." ucap Ze.
"Ya anda memang benar putri aku tidak akan bisa tahan lama untuk tidak menghabisi mereka jika harus terus-menerus berdekatan dengan mereka dan melihat sikap munafik mereka." saut Raja Ruo.
"Aku tidak menyangka bahkan Yuo fan yang masih kecil sangat pandai berpura-pura lugu dan sangat perduli padaku hingga tidak ingin berpisah dariku. Tapi, ternyata itu hanya akal bulus mereka agar selalu dapat mengawasi setiap gerakanku. Serta dapat mencegah aku menyembuhkan Rong yuo putraku dan semua itu hanya demi tahta." ucap Raj Ruo lagi.
Dari raut wajah dan matanya Ze dapat menangkap kekecewaan. Ze paham betul bagaimana Raja Ruo sangat kecewa pada putra keduanya yang dia sayangi itu.
Jangan lupa tetap dukung author dengan terus beri vote like dan komen pada novel Ze.