
Kaki mungil Bianca menapaki jalan yang dahulu sering dirinya lewati hampir setiap hari. Entah langkah yang ke berapa kaki mungil Bianca menghentikan langkahnya saat berdiri di samping sebuah gundukan tanah yang telah lama dirinya tidak kunjungi.
"Bunda...."Ucap Bianca seraya mengusap batu nisan yang terlihat usang di makan usia.
Ingatan Bianca kembali muncul saat pelayan yang mengasuhnya menceritakan bagaimana perjuangan sang ibunda saat mengandung dan melahirkan Bianca. Bagaimana sayangnya sang ibunda kepada Bianca dan tetap mempertahankan kandungan nya saat siksaan demi siksaan ibunda Bianca dapatkan dari keluarga Sang Ayah terutama istri sah ayah Bianca.
Dan memikirkan hal itu pula, bianca bertekad akan terus mempertahankan kandungan Bianca walaupun kesakitan dan penderitaan datang bertubi-tubi di dalam kehidupan nya.
"Bunda apa kabar disana? Apakah bunda bahagia? Maafkan Bianca bunda, Karena Bianca sudah lama tidak mengunjungi rumah bunda..."Wanita hamil itu membersihkan dedaunan yang berjatuhan di atas makan sang ibunda dan membuangnya di tempat sampah yang tidak jauh dari tempatnya.
"Bukan Bianca melupakan bunda, Akan tetapi Begitu banyak masalah yang menimpa kehidupan Bianca belakangan ini, Sehingga membuat Bianca tidak dapat berpikir jernih Bunda.. !"Kata Bianca dengan suara paraunya mengingat semua permasalahan- permasalahan yang menimpa kehidupannya.
Satu satunya yang berharga di dalam hidupnya di renggut dengan paksa oleh seseorang yang tidak seharusnya mendapatkan, sehingga menyisakan sebuah trauma dan ketakutan tersendiri bagi Bianca.
Dan tidak lama kemudian Bianca harus di hadapkan oleh kenyataan pahit saat jejak dan bukti dari malam yang menyakitkan itu ada di dalam tubuhnya dan berkembang di dalam rahimnya. sehingga Bianca harus terpaksa menikah dengan seseorang yang tidak pernah Bianca bayangkan sama sekali.
"Akhh....! Air mata ini Kenapa bisa selalu seperti ini?!"Kekeh Bianca saat tanpa terasa cairan bening keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Maafkan Bianca Bunda. Saat Bianca mengunjungi makam bunda, Bianca hanya menceritakan kesedihan Bianca saja."Bianca tersenyum namun kedua manik matanya menyiratkan sebuah kesedihan dan kesakitan yang mendalam.
"Apakah bunda tahu? Sekarang Bianca sedang mengandung dan sebentar lagi bunda akan menjadi Seorang Nenek...!"Tutur Bianca seraya mengusap permukaan perutnya yang kian hari kian menggunung di setiap harinya.
"Doakan Bianca ya Bunda, Supaya Bianca bisa bertahan saat waktunya telah tiba dan semoga Bianca dapat bersabar dan melalui semua cobaan cobaan yang telah Tuhan gariskan di kehidupan Bianca...!"
"Apakah Bunda merasa bahagia di atas sana?"Tanya Bianca bagaikan angin lalu yang tidak mendapatkan balasan sama sekali.
Bianca memejamkan matanya dan mengadakan kedua tangannya seraya berdoa kepada sang pencipta agar mendiang ibunda Bianca di tempatkan di tempat sebaik baiknya di sisinya dan di ampuni segala dosa dosa yang di sengaja maupun tidak di sengaja di dalam kehidupan nya.
"Bianca pamit dahulu ya Bunda..."Bianca bangkit dari posisinya.
"Bianca janji akan sesering mungkin untuk mengunjungi makam bunda...!!"Ucap Bianca seraya mencium batu nisan Sang Ibunda dan menatap nisan sang ibunda dengan Lamat lamat.
Kaki Bianca terasa berat meninggalkan tempat peristirahatan terakhir sang ibunda. Karena hanya Ibunda Bianca lah seseorang yang benar benar menyayangi Bianca dengan sangat tulus tanpa mempedulikan bagaimana Bianca dapat hadir di dalam kehidupan nya.
Bianca menghentikan langkahnya saat melihat seorang anak perempuan tengah duduk di pinggir jalan raya yang cukup ramai dengan mangkuk kecil di hadapannya.
"Ya Tuhan kasihan sekali anak itu."Kata Wanita hamil itu.
Bianca pun berjalan menuju ke arah anak perempuan itu dan berjongkok di hadapan anak perempuan tersebut. Bianca terpaku saat menyadari bahwa kedua warna mata anak perempuan itu sama seperti dirinya.
"Hai Adik.."Sapa Bianca dengan menyematkan senyumannya.
"Kau memiliki masa depan yang besar Nyonya."Kata anak perempuan itu membuat Bianca terpaku di tempatnya seraya mengerjab ngerjabkan matanya merasa kaget akan ucapan dari anak perempuan tersebut
"Benarkah..?"Bianca menatap anak perempuan itu yang berumur kira-kira sepuluh tahun yang tengah tersenyum ke arah dirinya.
Anak perempuan itu mengambil tangan Bianca dan membuka telapak tangannya. Jari mungil itu menyusuri garis garis tangan Bianca seraya mengusap dengan lembut dengan tatapan matanya menatap lekat wajah kuyu wanita hamil itu.
"Kebahagiaan mu harus di lewati dengan tangisan, kesakitan dan penderitaan yang bertubi-tubi..!"Tutur anak perempuan itu dengan menatap lekat wajah Bianca. Sehingga membuat Bianca merasa tidak nyaman karena mendapatkan tatapan seperti itu.
"Kau bisa meramal?"Tanya Bianca dengan nada penuh keraguan.
Manik madunya menatap orang orang yang berjalan hilir mudik di sekitarnya yang tampaknya acuh terhadap mereka.
"Iyaa..."Jawabannya dengan singkat.
"Nenek ku pembaca Teh, Sehingga membuat ku bisa membaca garis tangan."Serunya seraya kembali membuka telapak tangan Bianca dan menyusuri garis garis wanita hamil tersebut.
"Jika kau bisa meramal, Mengapa kau tidak menggunakan keberuntungan mu untuk membaca garis takdir orang-orang yang percaya akan ramalan mu."Bianca menatap penuh arti anak perempuan itu.
"Lebih baik kau meramal dari pada kau mengemis seperti tadi..!"Sambung Bianca dengan hati-hati agar setiap ucapannya tidak menyakiti hati anak kecil yang ada di hadapan nya.
"Aku tidak mengemis..!!"Pekik anak kecil itu dengan nada yang menggebu dan menatap Bianca dengan nyalang.
"Lalu apa yang kau lakukan tadi..?"
"Saya hanya menunggu orang orang baik yang memberi seseorang tanpa pamrih. Dan sebagai balasan dari kebaikan nya, Saya akan membaca garis tangan mereka dan meramal kejadian masa depan yang akan dirinya lewati."Pekik anak perempuan itu dengan mata yang menatap tajam ke arah Bianca.
"Kehidupan mu akan sangatlah sulit. Akan datang cobaan, kesakitan dan penderitaan di dalam kehidupan mu dengan bertubi tubi. Namun kau dapat melalui nya dengan sangat baik."Tuturnya seraya menatap wajah Bianca dengan penuh arti.
"Aku melihat cerita akhir yang tidak jelas. Antara kau, pria bermanik biru dan anak anak mu..!!"Seru anak perempuan itu membuat Bianca membelikan kedua matanya.
Bianca pun memberikan selembar uang ke tangan gadis kecil itu."Belilah makanan Dan jangan tunjukkan kelebihan mu ke sembarang orang! Kau masih kecil tidak mengetahui mana orang baik dan mana orang jahat."
"Aku tidak mau kelebihan mu di manfaatkan oleh orang-orang di luar sana dan Jagalah dirimu baik baik."Tutur bianca seraya berjalan tergesa-gesa meninggalkan gadis kecil tersebut.
"Kemana gadis kecil itu..?"Guman Bianca dengan mematung di tempatnya dan kedua matanya menatap ke segala arah saat tidak menemukan gadis kecil yang baru saja dia temui.
_
_
_
"Bianca...!!"Panggil seseorang di belakang sana membuat Bianca menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke belakang.
"Iyaa Kak Jo, Ada apa?"Tanya Bianca.
"Sepertinya hari ini kita akan kembali bekerja lembur..!"Sunggut salah satu teman kerja bianca yang kini tengah berdiri menyamping ke arah Bianca.
"Tidak apa apa kak Jo. Syukuri saja pekerjaan yang kita lakukan kak. Tidak baik bekerja sambil menggerutu seperti itu!"Tutur bianca menasehati laki-laki itu dengan senyuman kecil wanita hamil itu sematkan.
Memang hari ini pengunjung restoran lumayan banyak, sehingga membuat cucian piring kotor semakin menumpuk membuat Bianca dan beberapa pekerja yang lainnya sedikit kewalahan karena saking banyaknya pekerjaan yang mereka kerjakan.
"Melelahkan sekali..!! Di tambah lagi Maria tidak masuk kerja hari ini."Gerutu Kak Jo dengan dengusan di akhir kalimat nya.
"Benarkah? Memangnya kenapa Maria tidak masuk hari ini kak?"Tanya bianca menatap laki laki yang ada di sampingnya.
"Entahlah..."Jawab laki laki itu dengan menggidikan bahunya dengan acuh.
"Pekerjaan semakin hari semakin banyak! Namun gaji tepat stuck dan tidak naik naik.!!." Gerutu laki laki yang bernama Jonathan itu dengan menggebu-gebu.
"Kak Jonathan!! jangan berkata seperti itu! Bagaimana jika nanti bos ataupun pekerja yang lain mendengar dan kita berdua tidak akan selamat kak."Balas bianca dengan membolakan kedua matanya ke arah laki laki tersebut.
"Baiklah... Baiklah, Maafkan Aku..."
"Jonathan cepat kau bereskan meja Nomor 06."Titah Salah satu senior mereka di dalam restoran.
"Baik Kak..."Balas Jonathan dengan terpaksa.
"Baru beberapa saat aku beristirahat Dan sekarang sudah ada yang memanggil ku...!!" Guman Jonathan dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Selalu saja menggerutu..!!"Pungkas Bianca dengan kekehan khas wanita hamil saat Jonathan tidak ada di sampingnya.
Kedua manik mata wanita hamil itu tidak henti hentinya melihat sebuah bangunan pencakar langit yang ada di seberang jalan sana. Yang Bianca ketahui bahwa itu adalah sebuah universitas yang ternama di dunia.
Dahulu saat usia Bianca masih dalam hitungan jari, Bianca pernah bermimpi untuk masuk ke dalam universitas itu dan tempat dimana bianca pernah berharap dan pernah menggantungkan harapan nya untuk merubah jalan kehidupanya yang penuh dengan Lika liku. Namun semua harapan itu kini hanyalah mimpi belakang dan hanya untaian kata-kata yang tidak akan pernah bianca dapatkan.
Karena kenyataannya tidak sesuai dengan keinginan wanita hamil itu. Semua impian dan harapan Bianca hancur setelah malam dimana Edward merenggut kesuciannya dan kehidupan Bianca semakin menderita setelah dirinya masuk ke dalam lingkaran kehidupan seorang Edward O'deon.
Dan kini Bianca hanya menjalani kehidupan nya apa adanya, Tidak asa satupun mimpi ataupun harapan yang wanita itu punya. Bianca hanya sekedar menjalani hidupnya saja dan berusaha bertahan dan tegar akan penderitaan dan kesakitan yang silih berganti menerpa kehidupan Nya .
"Bianca...!!"Seru seseorang di belakang Bianca dengan memegang pundak ringkih wanita hamil tersebut.
Bianca membalikkan badannya dan melihat senior tempat Bianca berkerja berdiri di belakang nya dengan kedua tangannya yang bersedekap di dadanya.
"Ada apa kak..? Ada yang bisa Bianca bantu?" Tanya Bianca tanpa berani menatap wanita yang ada di hadapan Nya.
"Ckck..."Wanita itu berdecak.
"Iyaa Kak...?"
"Jika kau sedang berbicara dengan seseorang orang lihat wajah orang itu..!!" Sentak wanita itu dengan suara yang cukup meninggi sehingga membuat semua orang yang ada di dalam dapur menatap ke arah mereka dengan tatapan yang berbeda-beda.
"Ma-maafkan Bianca kak."Kata Bianca mendongakkan kepalanya seraya menatap wajah senior yang ada di depannya.
"Cepat kau antar makanan ke meja Nomor 15..!!"Titah nya sembari membolakan kedua matanya.
"Tapi kak...!!"Sela Bianca karena yang di perintahkan seniornya itu bukanlah pekerjaan Bianca. Namun senior itu membolakan matanya kepada Bianca.
"Tidak ada tapi tapian..!!"Pungkasnya.
"Cepat kau antar makanan ini ke meja Nomor 15. Kau ingin aku laporkan mu kepada Tuan Dion Jika kau bekerja dengan bermalas- malasan..?!"Sargah wanita itu membuat Bianca mau tidak mau menuruti perintah dari senior Nya.
"Ba-baik Kak..."
Jangan lupa Like Comment Rate Dan Vote