
Jam kantor sudah menunjukkan pukul 12 siang. Edward duduk di kursi kebesarannya dengan tumpukan berkas berkas di hadapannya. Kening laki-laki itu mengkerut saat melihat sebuah kejanggalan yang tertera di dalam berkas yang ada di genggaman tangannya.
"Kai ke ruangan ku."Titah Edward dengan suara yang menajam. Tanpa mendapatkan jawaban dari Asisten Kai, Edward segera mematikan sambungan teleponnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu ruangan Edward di ketuk dari luar di iringi dengan suara yang tidak asing di pendengaran Edward.
"Tuan, ini saya Kai. Bolehkah saya masuk."
Ucap Asisten Kai di luar pintu ruangan Edward.
"Iya, Silahkan masuk."Sahut Edward tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada di genggamannya.
"Tuan..."Panggil Asisten kai setelah berada di depan Edward.
"Lihatlah berkas ini."Ujar Edward seraya menyerahkan berkas yang ada di genggamannya kepada Asisten Kai.
Asisten Kai segera mengambilnya dan membacanya dengan seksama tanpa ada yang di lewatinya."Tuan ini..."Kata Asisten Kai.
"Benar! Panggil manager keuangan kesini." Titah Edward dengan wajah yang memerah padam.
"Baik Tuan."Jawab Asisten Kai segera mengambil handphone yang ada di saku jasnya. "Panggil manager keuangan dan suruh dia ke ruangan direktur dalam waktu lima menit!"Titah Asisten Kai kepada orang di seberang sana.
"Baik Tuan..."Jawab seseorang si seberang sana.
Kurang dari lima menit seorang wanita muda masuk ke dalam ruangan Edward dengan tergesa-gesa. Bahkan wanita itu lupa mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Selamat Sore Tuan Kaisar dan Asisten Edward."Sapa Wanita itu dengan menatap Asisten Kai penuh arti.
"Apakah ini tidak mempunyai tata Krama Nona Clara? Masuk ke dalam ruangan atasan mu tanpa mengetuk pintu ataupun meminta izin?"Seru Edward penuh penekanan bahkan guratan guratan kemarahan tercekat jelas di wajah tampannya.
"Maafkan saya Asisten Edward."Kata wanita itu dengan kedua mata yang membelik karena melihat Edward duduk di atas kursi Presdir yang seharusnya Tuan kaisar yang duduki. Pikir wanita itu yang tidak mengetahui kebenarannya. Bahwa Edward adalah pemilik dari perusahaan Dimitri Group dan Asisten Kai yang selama ini menjabat sebagai Presdir hanyalah kaki tangan Edward.
Brakk....
Tanpa berkata Edward melempar berkas yang ada di tangannya ke arah wanita itu. Sehingga membuat kertas kertas yang ada di dalamnya berhamburan di atas lantai.
"Apa yang anda lakukan Asisten Edward."
Pekik wanita itu dengan membolakan kedua matanya. "Tuan Kaisar lihatlah perilaku Asisten Anda itu."Ucap Wanita yang bernama Clara itu sembari menatap Edward dengan senyuman seringainya.
"Kaisar...!!"Panggil Edward dengan nada penekanannya. Laki-laki itu mengisyaratkan kepada Edward untuk berjalan ke arahnya.
"Baik Tuan."Jawab Asisten Kai.
"Tu-tuan..."Cicit wanita itu dengan terbata bata. Kini wanita itu tidak mengerti akan sesuatu yang dia hadapi. Namun dia merasa akan ada sesuatu buruk yang terjadi kepadanya.
"Kau lihat laki-laki yang ada di hadapanmu."
Seru Asisten Kai seraya menunjuk Edward yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Dia adalah pemilik sebenarnya Dimitri Group dan saya hanyalah seseorang yang beruntung mendapatkan kepercayaan dari Tuan Edward." Sambung Asisten Kai membuat kedua mata wanita itu terbelalak.
"A-apa..!!"Pekik wanita itu dengan memundurkan langkahnya.
"Katakan siapa yang menyuruhmu untuk melakukan semua itu?!"Kedua mata Edward menatap tajam wanita yang ada di hadapannya.
"Melakukan apa Tuan? Saya tidak mengerti maksud Anda?"Sahut Clara dengan suara yang bergetar begitu pun tubuhnya.
"Masih mengelak heh."Cetus Edward dengan smriknya.
"Kai, Ambil Cambukku!"Titah Edward membuat wanita itu semakin bergetar. Wanita itu segera berlari ke arah Edward dan bersimpuh di bawah kaki laki-laki itu.
"Beraninya kau menyentuhku dengan tubuh kotormu!"Sentak Edward seraya menghempaskan tubuh Clara yang tengah memegang kakinya.
"Maafkan saya Tuan. Saya terpaksa melakukan itu, Saya membutuhkan uang itu untuk pengobatan anak saya. Anak saya di vonis terkena kanker darah dan itu membutuhkan Bianca yang tidak sedikit, saya sudah menjual semua barang-barang yang saya punya dan itu semua tidak menutupi semua biaya pengobatan anak saya Tuan."Tanpa di perintah wanita itu menjelaskan mengapa dirinya memanipulasi keuangan perusahaan Edward.
"Dasar Bodoh! Kau memanipulasi keuangan perusahaan dan kau menukar nilai kontrak yang tidak seharusnya. Kau tahu berapa banyak kerugian yang ku alami."Sentak Edward dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maafkan saya Tuan."Wanita itu tidak tahu harus berkata apalagi selain meminta maaf kepada Edward.
"Kau pikir! Dengan meminta maaf semua kerugian yang aku alami akan terganti?!" Jangan lupa bahwa Edward adalah manusia yang tidak mempunyai hati nurani. Walaupun wanita itu mengemis dan menangis darah sekalipun, Edward tidak akan pernah menerima maaf dari seorang yang telah mengkhianatinya.
"Tuan saya mohon berikan saya satu kesempatan lagi. Saya berjanji akan memperbaikinya semua kesalahan saya."
Pinta wanita itu dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Seharusnya kau memikirkan terlebih dahulu, konsekuensi yang akan kau tanggung setelah mengkhianati kepercayaan seseorang."Kata Edward dengan decihan di akhir kalimatnya. Dan wanita itu tidak henti hentinya meminta maaf kepada Edward dan memohon kepada laki-laki untuk memberi nya satu kesempatan.
"Sekali penghianat! Akan selamanya menjadi penghianat."Tukas Edward dengan bersedekap dada. Edward pun memanggil sekertaris nya dan menyuruh sekertarisnya untuk membawa keluar wanita itu dari ruangannya.
"Tuan, Saya mohon jangan lakukan itu kepada saya Tuan. Saya membutuhkan pekerjaan ini, Anak saya sangat membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya Tuan. Saya rela melakukan apapun untuk anak saya Tuan. Saya mohon berikan saya satu kesempatan lagi Tuan."Pintu wanita itu seraya bersimpuh di bawah kaki Edward.
"Melly! Kenapa kau masih diam disitu, Cepat bawa wanita itu keluar dari ruangan ku!"
Titah Edward tanpa mengubris permohonan maaf dari wanita yang kini tengah bersimpuh di bawah kakinya.
"Kaisar..!"Panggil Edward dengan mata yang menatap padatnya jalanan ibu kota. "Cari tahu semua kebenaran tentang semua perkataan wanita itu."Kata Edward.
"Baik Tuan."Jawab Asisten Kai.
"Dan Jika semua itu benar, Panggil wanita itu kembali. turunkan jabatannya dan tempatkan dia administrasi keuangan."
_
_
_
"Ada apa?"Tanya Jonathan dengan menyandarkan tubuhnya di lemari pendingin di sampingnya.
Bianca menelan Savilanya saat melihat jakun laki-laki naik turun seiring dengan hembusan nafasnya. Jonathan menatap Bianca dengan kening yang mengkerut karena Bianca yang Kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Kenapa diam seperti itu Bianca? Ada yang ingin kau katakan? Maka katakanlah sebelum Tuan Dion memanggil Kak Jo kembali."Seru Jonathan dengan tegas.
"Kak Jo, Bolehkah Bianca memegang jakun Kak Jo?"Kata Bianca tanpa berani melihat ke arah Jonathan. Tangan mungilnya tampak memilin ujung baju yang dia kenakan sebagai pelampiasan rasa gugup yang melingkupi wanita hamil itu.
"A-apa..!!"Kedua mata Bianca membelik mendengar permintaan dari Bianca. Melihat respon Jonathan yang seperti itu Bianca menyimpulkan bahwa laki-laki menolak permintaannya.
"Tidak boleh ya?"Jawab Bianca dengan suara paraunya. Bianca membuang pandangannya ke sembarang arah dan menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengurangi rasa sesak yang kini menghimpit dadanya.
"Kau itu selalu saja menyimpulkan sendiri?!
Siapa yang bilang tidak boleh?"Tukas Jonathan seraya memegang wajah Bianca untuk menatapnya.
"Ja-jadi boleh?"Ucap Bianca dengan mata yang berbinar-binar. Jonathan pun mengtgangukan kepalanya sebagai jawabannya.
Dengan tangan yang gemetar Bianca memegang jakun laki-laki itu. Namun bukan perasaan bahagia yang Bianca rasakan karena telah mendapatkan yang wanita itu inginkan. Akan tetapi Bianca merasa sedih karena bukan Edward yang kini di hadapannya.
"Anak-anak Mamah mohon jangan menyusahkan mamah seperti ini? Kalian bisa menginginkan apa saja, Tapi mamah mohon jangan seperti ini. Tapi untuk yang satu ini Mamah tidak bisa mengabulkannya"Kata Bianca di dalam hatinya dengan tangan mengelus perutnya.
"Dan Kenapa sekarang kau bersedih seperti itu?!"Tanya Jonathan melihat kesedihan yang tergambar jelas di wajah kuyunya.
"Tidak apa-apa Kak. Bianca merasa sangat bahagia sehingga Bianca ingin sekali menangis."Elak Bianca dengan membuang pandangannya.
"Benarkah?"Jonathan memicingkan matanya merasa tidak percaya akan jawaban Bianca. Bianca menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
_
_
_
"Kai..."Panggil Edward kepada Asisten Kai yang tengah duduk di atas kursi kemudinya.
"Iya Tuan?"Jawab Asisten Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari kemudinya.
"Bagaimana? Apakah kau sudah menemukan sesuatu tentang malam itu?"Tanya Edward sembari menyandarkan punggungnya.
"Maafkan saya Tuan."Ucap Asisten Kai penuh penyesalan. "Sepertinya kejadian yang menimpa Anda saat malam itu telah di rencanakan. Sehingga saya sedikit kesulitan untuk mencari kebenarannya. Namun saya berjanji akan segera mencari tahu siapa dalang yang telah menghancurkan hidup Anda. Dan saya akan memastikan bahwa Mereka akan menyesal telah bermain-main dengan Anda."Sambung Asisten Kai dengan menggebu-gebu.
Edward menghembuskan nafasnya dengan kasar setelah mendengar semua penuturan dari Asisten Kai. Laki-laki tampak termenung memikirkan permasalahan permasalahan yang bertubi-tubi datang di dalam kehidupannya.
"Lalu, Apakah kau sudah menemukan dimana keberadaan Laura?"Tanya Edward.
Karena setelah pembatalan acara pernikahan antara dirinya dan Laura. Wanita itu menghilangkan bagaikan di telan bumi, bahkan keberadaan keluarga nya pun tidak ada satupun di ketahui.
"Beberapa hari yang lalu, bawahan saya memberikan informasi bahwa Nona Laura terlihat di sebuah bandara di kota B dengan pengawalan yang ketat. Dan bawahan saya pun mencari tahu kemana tujuan Nona Laura, Namun karena Nona Laura memakai pesawat pribadi. Perlu beberapa waktu untuk saya mengetahui kemana tujuan keberangkatan Nona Laura."Tutur Asisten dengan menatap Edward dengan kaca spion di sampingnya.
Setelah beberapa menit berlalu, mobil mewah yang di Kendarai oleh Asisten Kai telah terparkir di sebuah restoran berbintang lima. Edward turun terlebih dahulu dari mobil tersebut, di teruskan dengan Asisten Kai. Tampak Kedua laki-laki itu berjalan beriringan masuk ke dalam restoran menuju sebuah ruangan VVIP yang berada di lantai atas restoran.
"Selamat malam Tuan Harold, Selamat malam Nona Hasley."Kata Edward setelah masuk ke dalam ruangan itu. Dan satu persatu Edward dan Asisten Kai pun menjabat tangan dua orang di hadapannya.
"Silahkan duduk Tuan Kaisar, Asisten Edward." Seru Tuan Harold dengan menyunggingkan senyumannya saat bersitatap dengan dua orang laki-laki hebat di hadapannya.
Edward dan Asisten Kai pun segera duduk di bangku yang telah di sediakan. Kini mereka sedikit berbincang bincang ringan sebelum ke masuk ke inti pertemuan mereka.
"Asisten Edward, Saya dengar hubungan Anda dan Laura Thompson telah berakhir?" Tutur Tuan Harold di dalam perbincangan itu. Dan Edward hanya menggangukan kepalanya sebagai jawabannya.
Tanpa Edward sadari sebuah senyuman seringai tersungging di sudut bibir Hasley saat mendengar perkataan Sang Ayah dan Edward.
"Wah! Apakah sekarang Anda sedang sendiri atau sedang menjalin hubungan dengan wanita lain?"Tanya Tuan Harold penuh minat membuat Edward mendengus mendengarnya.
"Maaf Tuan! Disini kita untuk membicarakan tentang bisnis. Bukan untuk membicarakan urusan pribadi saya!"Sarkas Edward dengan tegas dan kedua manik matanya menajam seiring dengan amarah yang tersulut di dalam dirinya.
Seketika suasana disana menjadi canggung dan sedikit memanas. Asisten Kai pun mengurangi kecanggungan itu dengan mengalihkan pembicaraan mereka. .
"Silahkan Tuan di baca berkas perjanjian yang akan Anda tanda tangani."Kata Asisten Kai seraya memberikan sebuah berkas kepada Tuan Harold dan Harley untuk mereka setujui bersama.
Setelah beberapa menit berlalu. Tuan Harold telah menandatangani surat perjanjian kerjasama dengan perusahaan yang Asisten Kai kelola dan di lanjutkan dengan acara makan malam bersama sebagai bentuk rasa syukur akan kerjasama yang akan mereka jalani dalam beberapa waktu ke depan.
"Silahkan di nikmati Tuan Kaisar. Asisten Edward."Seru Tuan Harold Setelah para pelayan menaruh semua makan yang telah laki-laki parubaya itu pesan sebelum kedatangan Edward dan Asisten Kai.
Di tengah acara makan malam itu, Edward merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Edward merasa tubuhnya begitu panas dan kepalanya terasa pening, Jantungnya berpacu cepat dengan gairah yang tiba-tiba mencuat di dalam dirinya.
"Sialan! Siapa yang menaruh obat perangsang di dalam makanan ku!"Umpat Edward di dalam hatinya.
Tidak ingin apa yang terjadi kepada nya menjadi pusat perhatian di meja yang kini dia tempati. Edward pun meminta izin untuk ke kamar mandi.
Tanpa Edward ketahui sepasang mata menatap punggung tegap Edward dengan penuh arti.
Jangan lupa
Like
Comment
Vote
Rate
Favorit