Oh My Baby

Oh My Baby
mungkinkah?


Hana sedang berbaring di ranjang. Kiki yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya ikut berbaring di sebelah Hana. Sedangkan Jung Kook masih berada di kamar mandi.


"Kalau Kiki tidur di sini, appa tidur di mana?"


Kiki menunjuk ranjang mungil tempat ia tidur.


"Appa tidur di sana?" Hana bertanya.


Kiki menganggukkan kepalanya.


"Nggak muat, Ki. Appa itu besar," ucap Hana.


"Apaku yang besar, Noona?" Jung Kook baru saja keluar dari kamar mandi.


"Badanmu yang besar." Muka Hana mulai memerah.


"Bukan yang lain?"


"Bukan." Muka Hana sudah sangat merah.


"Tapi wajah Noona mengatakan yang sebaliknya."


Hana menutupi mukanya dengan bantal.


Jung Kook ikut berbaring di sebelah Kiki.


"Kiki sandwich." Jung Kook merapatkan tubuhnya ke tubuh Hana. Membuat Kiki yang berada di tengah-tengah mereka tertekan. Kiki menggerak-gerakkan tubuhnya. Dan tidak sengaja kakinya mengenai bagian sensitif Jung Kook.


"Akh ..." Jung Kook mengerang kesakitan. Badannya bergulir dan akhirnya jatuh dari ranjang. Rasa sakit masih terasa di sana.


Hana memunculkan kepalanya dari ranjang. Melihat Jung Kook yang berada di lantai.


"Kookie ... Kau kenapa di lantai?" Hana tadi mendengar ada suara gedebuk.


"Appa kenapa?" Kiki berucap dengan polosnya. Menirukan Hana. Ia juga menunjukkan kepalanya dari tepi ranjang.


Jung Kook hanya bisa bersabar ~ Sabar ... Sabar ... Kiki nggak sengaja.


Rasa sakit perlahan menghilang. Jung Kook berdiri. Ia hendak menggendong Kiki dan menaruh Kiki di ranjang mungilnya.


"Kiki biar tidur di sini," ujar Hana.


"Tapi kalau Kiki tidur di sini, kita nggak bisa ..."


"Nanti kalau ia sudah tidur, kita pindahkan ke ranjangnya."


Tapi nanti Noona juga bakal tidur sebelum Kiki tidur. ~ Jung Kook berkata dalam hatinya. Tapi ia tetap menuruti perkataan Hana. Ia tetap membiarkan Kiki berada di ranjang besar mereka.


"Kookie ... Aku curiga aku hamil." Hana memulai pillow talk.


Noona juga menyadarinya?


"Dulu waktu sebelum kita tahu ada Kiki di perutku, aku jadi suka makan, kan? Juga suka tidur."


"Nggak. Aku takut kau kecewa lagi seperti dulu. Test pack positif tapi ternyata aku nggak hamil. Nanti aja kalau aku sudah siap."


Hana mulai menutup matanya. Tak lama kemudian ia tertidur.


Jung Kook melihat perut Hana yang masih rata.


Noona ...


Sebenarnya ...


Aku ingin kita segera punya anak lagi.


Aku butuh adik Kiki supaya kau sibuk dan tidak memikirkan Nam Joon Hyung lagi.


Noona ...


Maafkan aku ...


Aku sudah membohongimu dua kali.


Sebenarnya ...


Saat terakhir kalinya aku mengeluarkannya di dalam, aku sengaja.


Aku pikir itu kesempatanku untuk terakhir kalinya untuk mempunyai adik Kiki.


Noona ...


Aku juga membohongimu dengan bilang obatnya habis.


Sebenarnya ...


Saat aku pergi membeli obat, aku tidak masuk ke dalam toko.


Aku hanya berada di depan apotik lalu pergi ke depan apotik lain lalu kembali ke apartemen Yoon Gi Hyung.


Noona ...


Maafkan aku ...


Sepertinya kau harus menunda hasratmu untuk bisa minum lagi.


Jung Kook melihat Kiki yang sudah tertidur pulas. Ia menggendong Kiki dan menaruhnya di ranjang mungilnya.


Ia kemudian berbaring di sebelah Hana. Menaruh tangannya di atas perut Hana.


Appa sungguh berharap ada anak appa lagi di sini. Appa butuh anak lagi supaya eomma semakin terikat dengan appa karena Kiki Hyung atau Kiki oppa nggak cukup. Supaya eomma tidak memikirkan lagi laki-laki lain. Terlalu sakit saat appa melihat air mata eomma jatuh untuk pria lain. Terlalu sakit saat eomma masih mengingat pria dari masa lalunya.


Mau perempuan atau laki-laki, appa nggak masalah. Bantu appa. Bantu appa supaya hati eomma bisa jadi milik appa seutuhnya.


Jung Kook menutup matanya dan tertidur.