
Jung Kook memutuskan untuk mempercepat latihannya. Ia melihat Kiki yang kesulitan berjalan saat memakai kaos miliknya yang over size.
Tubuh Kiki yang masih mungil membuat Kiki harus mengangkat kaos Jung Kook agar tidak tersandung saat berjalan.
Saat di mobil ...
"Ki ... Kita mampir ke pasar dulu. Beli tteokgalbi buat halmeoni."
Kiki tidak mendengarnya. Ia sudah terlelap dalam dunia mimpinya.
Sesampainya di pasar ...
Jung Kook menggendong Kiki dan masuk ke dalam pasar. Membeli tteokgalbi untuk ayah dan ibunya.
"Tteokgalbi 3 kotak, plastiknya dipisah," ucap Jung Kook sambil menyerahkan uang 30.000 won.
Jung Kook lalu menerima 3 kotak tteokgalbi yang masing-masing berisi 4 buah.
Jung Kook membawa Kiki kembali lagi ke baby seatnya dan melajukan mobilnya menuju ke rumah ayah dan ibunya.
Di rumah ayah dan ibunya ...
Jung Kook menggendong Kiki yang masih tertidur dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Jung Kook pun menidurkan Kiki di sofa.
"Ibu ... Ini aku bawa tteokgalbi kesukaan ibu."
"Kiki kenapa bajunya?" Ibu Jung Kook bertanya melihat Kiki yang memakai kaos Jung Kook.
"Bajunya tadi ketumpahan lemon tea."
"Nanti kalau ia bangun, harus diganti bajunya." Ibu Jung Kook mengambil baju ganti untuk Kiki yang memang ada di rumahnya. Karena terkadang Hana, Jung Kook dan Kiki menginap.
Jung Kook mulai membuka kotak tteokgalbi.
"Apa ada yang ingin diceritakan ke ibu?"
Ibu tahu?
"Tentu saja Ibu tahu. Apa ada masalah dengan Hana lagi?"
"Aku nggak ada masalah dengan Noona. Hanya saja ..."
Saat itu ibunya langsung memijat punggung Jung Kook.
"Adeul ... Kenapa kamu seperti ayah saat ibu hamil kamu? Jangan-jangan kamu hamilin anak orang?"
Jung Kook saat itu terkejut. Hana dan dirinya masih menyembunyikan kehamilan Hana.
Jung Kook memandang Hana.
Aku nggak hamilin anak orang.
Aku hamilin anak ibu.
Tapi Jung Kook hanya diam. Ia masih takut untuk menceritakan apa yang terjadi.
Kembali lagi ke saat ini ...
Ibu Jung Kook langsung menghampiri Jung Kook. Menggosok punggungnya.
"Ini kenapa seperti Dejavu? Dulu waktu Hana hamil Kiki, kau juga muntah-muntah, kan?"
Jung Kook membasuh mulutnya.
"Noona kemungkinan besar hamil, Bu. Semua yang terjadi saat Noona hamil Kiki terjadi lagi. Suka makan, suka tidur, demam, ngidam es krim, ke Nansam Tower, dan sekarang, aku mual-mual. Aku jadi semakin yakin Noona hamil."
"Sudah test pack atau ke dokter?"
Jung Kook menggelengkan kepalanya.
"Noona takut kecewa lagi. Terakhir saat test packnya dua garis ternyata ia tidak hamil."
"Tapi yang ingin kamu beritahukan ke ibu bukan tentang ini, kan?"
"Ibu ..." Jung Kook mengambil nafas.
"Yoon Gi Hyung ternyata bukan kakak sepupu Noona. Ia anak orang lain. Yoon Gi Hyung dan Noona boleh menikah. Aku takut, ibu. Noona akan kembali ke Yoon Gi Hyung. Noona itu sangat mencintainya."
Ibu Jung Kook terdiam. Ia tahu betul Hana saat remaja sangat mencintai Yoon Gi. Ia tahu betul Hana sangat terpukul saat mengetahui Yoon Gi adalah kakak sepupunya.
"Jika memang Hana masih mencintai Yoon Gi, relakan dia." Ucapan ibunya membuat Jung Kook sangat terkejut.
"Apa maksud ibu? Merelakan Noona dengan Yoon Gi hyung? Itu artinya aku dan Noona akan berpisah."