Oh My Baby

Oh My Baby
Part 46


Dengan kecepatan yang tinggi Edward mengendarai mobilnya. Tidak peduli Umpatan-Umpatan para pengendara lainnya maupun dengan para pejalan kaki yang mengumpatnya karena mengendarai mobil secara ugal-ugalan.


Edward mencengkeram stir mobilnya dengan erat dengan tatapan matanya tajamnya bagaikan elang yang siap memakan mangsanya.


Laki-laki itu kembali mengingat surat undangan yang dia terima dengan nama sang kekasih tercantum sebagai mempelai wanita dan sang sahabat yang tercantum sebagai mempelai pria.


"Sialan...!!"Umpat Edward dengan memukul setirnya dengan sangat kencang sehingga menimbulkan guratan kemerahan di tangannya.


"Permainan takdir apa yang kau lakukan kepadaku Tuhan?"Tanya laki-laki itu kepada sang pemilik takdir.


Tatapan tajamnya kini berubah menjadi sendu tak kala mengingat semua kepingan- kepingan kejadian yang menimpa dirinya. Kehilangan wanita yang di cintai bertepatan di pernikahan mereka. Dan dirinya harus terjebak pernikahan dengan seorang wanita yang telah menghancurkan pernikahan dan hubungan nya dengan Laura sang kekasih.


Biarlah dirinya di cap seorang antagonis dan seorang suami yang begitu kejam kepada wanita yang berstatus sebagai istrinya dan wanita yang mengandung anaknya. Lagipula Edward tidak percaya bahwa janin yang ada di kandungan Bianca adalah anaknya, meskipun dia tahu bahwa dialah orang yang memasuki Bianca pertama kali saat malam penjebakan itu. Akan tetapi itu semua tidak menutup kemungkinan bahwa Bianca akan melakukan lagi dengan laki-laki lain setelah dengan dirinya.


Entah menit ke berapa Edward telah sampai di kediaman mewah Marvin sang sahabat. Sebuah rumah yang bercat putih dengan nuansa clasic begitu kental di dalamnya.


Melihat mobil yang di kendarai Edward, para penjaga pun segera membukakan pintu gerbang karena mereka telah mengenal sosok Edward sebagai teman dari sang Tuan.


"Tunggu..."Edward menghentikan seorang pelayan yang lewat.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"Tanya pelayan itu yang mengetahui siapa Edward.


"Dimana Marvin?"Tanya Edward dengan tautan di kedua alisnya.


"Tuan Marvin berada di taman belakang Tuan, bersama dengan Nyonya Laura..." Kata pelayan itu dengan menundukkan kepalanya. Pelayan itu telah berkerja cukup lama di rumah Marvin, jadi pelayan itu tahu hubungan yang terjalin antara Edward dan Laura sebelum wanita itu resmi menjadi istri Sang Tuan.


Deg. Edward mematung di tempatnya mendengar ucapan dari pelayan itu. Tanpa mengucapkan terima kasih Edward pun segera meninggalkan pelayan itu dan berjalan dengan langkah lebar menuju taman belakang di rumah Marvin.


Langkah kaki Edward terhenti melihat pemandangan di depannya. Dimana seorang wanita yang di cintai nya tengah di cumbu begitu mesra oleh seorang laki-laki yang begitu di kenalnya.


"Tuhan mengapa ini sakit sekali."Batin Edward sembari memegang dadanya yang berdenyut nyeri.


Edward bertepuk tangan sehingga membuat tautan kedua tubuh itu terlepas.


"E-edward..!!"Laura membolakan kedua matanya melihat laki-laki yang di cintai kini berada di depannya dengan sorot mata penuh kekecewaan kepadanya.


Sementara Marvin menyembunyikan senyuman seringai penuh kemenangan nya dengan posesif nya Marvin merengekuh erat pinggang Laura. Dan Edward yang melihat itu pun mengeratkan rahangnya dengan amarah yang semakin membuncah di dalam diri laki-laki itu.


"Sayang sebaiknya kau kembali ke kamar kita. Sepertinya ada yang ingin di bicarakan Edward kepada ku."Ucap Marvin dengan meremat pinggang Laura membuat wanita itu mendesis lirih. "Turuti perkataan ku, Jika kau membantah akan ku pastikan besok kau tidak akan bisa turun dari tempat tidur."Bisik Marvin tepat di telinga Laura.


"Ba-baik.."Ucap Laura dengan terbata-bata lantaran menahan rasa sakit yang dia terima.


Laura mematung sejenak menatap lelaki yang sampai saat ini memiliki tempat istimewa di hatinya. Sementara itu amarah Edward semakin menyala melihat bercak merah di sekitar leher dan tengkuk Laura.


"Maafkan aku Edward."Ucap Laura di dalam hatinya sebelum berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Apa ini Marvin?!"Tanya Edward dengan suara yang menjamam setelah Laura pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Tanpa di jelaskan pun pasti seorang Edward O'deon mengerti semua yang terjadi."Timpal Marvin dengan senyuman smriknya.


"Kau benar-benar brengsek Marvin! Kau menusuk dari belakang sahabat mu sendiri. Aku adalah orang yang selalu ada di samping mu di kala kau susah dan aku pun orang yang membantu mu di saat perusahaan mu hampir bangkrut."Tukas Edward dengan penuh penekanan.


"Come on Edward kau itu terlalu naif ataukah terlalu bodoh! Tidak ada satupun pertemanan yang tulus di dunia ini Edward."Timpal Marvin dengan menaikkan dagunya menantang Edward.


"Kau lebih menjijikkan dari apa yang ku kira Marvin...!!"Desis Edward dengan decihan nya.


"Dan kau lebih bodoh dari pada yang aku kira Edward...!!"Sahut Marvin dengan suara penuh penghinaan.


"KAU...!!"Pekik Edward dengan menunjuk wajah Marvin dengan sorot mata penuh kemarahan.


"Tidak perlu marah-marah seperti itu Edward! Bukankah aku telah memberikan wanita untuk menggantikan Laura."Seru Marvin dengan penuh arti.


Untuk beberapa saat Edward mencerna perkataan Marvin. "Dasar Sialan..!! Jadi kau adalah orang yang menjebak ku!"Sentak Edward dengan lengkingan suaranya.


Tawa Marvin menggema di seluruh ruangan itu. "Tak ku sangka kau memerlukan waktu begitu lama untuk mencari semua kebenaran ini. Apakah kekuasaan mu yang begitu lemah ataukah aku yang terlalu cerdas menyusun semua rencana ini."Ucap Marvin tanpa menghentikan tawanya.


"Sialan kau Marvin...!!"Pekik Edward dengan menghadiahi sebuah bogem mentah ke wajah Marvin


"Apa yang kau lakukan Sialan..!"Seru Marvin membalas pukulan Edward dan terjadilah aksi baku hantam di antara dua laki-laki itu.


Laura yang sebenarnya tidak meninggalkan ruangan itu pun segera melerai perkelahian antara Edward dan Marvin. Namun apalah daya tenaga wanita itu tidak sebanding dengan kedua laki-laki itu.


"Awww..."Pekik Laura dengan tubuh yang terpelanting ke belakang saat pukulan Marvin mengenai wajahnya.


"Laura...!!"Pekik Mereka berdua.


Edward maupun Marvin berusaha membantu Laura dengan mengulurkan tangan mereka. Akan tetapi Laura lebih memilih menerima uluran tangan dari Edward, membuat Marvin mengepalkan tangannya.


"Pengawal...!!"Dengan suara tingginya Marvin memanggil para bawahannya dan tidak lama kemudian datanglah beberapa pengawal ke hadapan Marvin.


"Bawa istriku dari sini..!!"Titah Marvin tidak terbantahkan.


"Kau benar-benar bajingan Marvin...!!"Desis Edward yang tidak terima wanita yang di cintai nya di perlakukan kasar seperti itu.


"Berhentilah mengurusi kehidupan kita masing-masing Edward! Kau, Aku maupun Laura telah memiliki jalan hidup yang berbeda dan berhentilah berharap bahwa Laura akan kembali ke samping ku, karena sampai mati pun aku tidak akan melepaskan Nya. Dan satu lagi fokuslah kepada wanita yang menjadi istri mu karena ku dengar dia tengah hamil tua sekarang."Tutur Marvin dengan penuh penekanan.


"Kau pikir aku sudi menerima wanita suruhan mu itu. Dia adalah wanita yang menghancurkan kehidupan ku, maka akan ku pastikan hidupnya lebih hancur sehingga dia tidak kuasa lagi mengangkat kepalanya di hadapan semua orang."Seru Edward dengan menggebu-gebu bakh


"Mau menerima ataukah tidak itu adalah urusan mu Edward. Namun yang harus kau tahu bahwa semua orang mengetahui bahwa seluruh dunia telah mengetahui bahwa dia adalah istri mu dan anak yang ada di dalam kandungannya adalah anakmu."Sargah Marvin dengan tersenyum penuh seringai.


Edward mengepalkan tangannya dengan tatapan matanya tidak lepas menatap lekat Marvin. "Inikah balasan dari kebaikan yang telah ku lakukan Marvin? Ingatlah satu hal Marvin, Jika sesuatu yang telah menjadi milikku maka akan selamanya menjadi milikku."Kata Edward.


Marvin hanya tersenyum tanpa membalas perkataan Edward. Karena sampai matipun Marvin tidak akan melepaskan Laura, Laura adalah hidupnya dan jika Laura pergi meninggalkan nya maka kematian akan lebih baik baginya.


"Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, Pintu keluar terbuka lebar untukmu."Ucap Marvin mengusir Edward secara tidak langsung.


Dengan amarah yang semakin menyala di dalam dirinya, Edward pergi meninggalkan Marvin dan berjalan keluar rumah laki-laki pengkhianat itu.


Brakk...


Edward menutup pintu mobilnya dengan kencang, Sehingga menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras.


"Sialan...!!"Umpat Edward dengan mencengkeram setirnya dengan kencang.


"Semua ini gara-gara wanita Ja'ang itu..!" Desis Edward dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan.


Setelah Edward pergi meninggalkan rumahnya. Marvin pun segera berjalan menuju kamar dimana Laura berada, hatinya merasa sakit saat wanita yang di cintai nya dan beberapa hari lagi akan resmi menjadi istrinya menatap laki-laki lain penuh dengan cinta.


"Tuan..."Sapa para pengawal yang di tugaskan oleh Marvin untuk menjaga Laura agar tidak kabur.


"Pergilah...!"Usir Marvin.


Tanpa mendapatkan perintah dua kali, para pengawal itu pun pergi meninggalkan Marvin dan kembali melakukan tugas mereka masing-masing.


Saat Marvin membuka pintu kamarnya, Suara tangisan Laura memenuhi ruangan itu membuat dada Marvin terasa sesak seolah-olah terhimpit sebuah batu yang besar.


Tatapan Marvin terkunci pada seonggok tubuh yang berbaring membelakangi dengan tubuh yang bergetar dan suara isakan yang semakin terdengar memenuhi ruangan itu.


"Berhentilah menangis Laura...!!"Seru Marvin dengan suara datarnya.


Seketika itu juga suara tangis Laura terhenti namun wanita itu tetap pada posisinya memunggungi Marvin. Marvin berjalan dan mengitari ranjang dengan kedua tangan yang terkepal.


"Apa yang kau tangisi Laura?"Tanya Marvin mengusap air mata yang membasahi wajah cantik sang pujaan hati.


Laura memalingkan wajahnya."Kenapa kau melakukan semua ini kepada kami Marvin? Tidak tahukah kamu bahwa baik aku maupun Edward saling mencinta. Begitu pun hubungan kami akan ke jenjang pernikahan, kenapa kau melakukan cara begitu rendahan untuk memisahkan kami Marvin."Sunggut Laura dengan bertubi-tubi tanpa menatap laki-laki yang ada di hadapannya.


"Apa lebihnya Edward dariku Laura? Cinta yang ku miliki lebih besar dari pada laki-laki yang kau cintai itu!"Sahut Marvin.


"Kau tidak mencintai ku Marvin! Rasa yang kau miliki itu hanyalah sebuah obsesi yang kapan saja hilang."Jawab Laura dengan menggelengkan kepalanya.


"Kau bilang cinta yang ku miliki obsesi Laura?"Seru Marvin dengan belikan kedua matanya. "Baiklah akan ku buktikan seperti apa obsesi yang ku miliki."


Laura beringsut mundur saat Marvin melangkah mendekati Nya. Laura tahu apa yang akan di lakukan Marvin kepada nya dan ternyata gerakan yang di lakukan Laura telah di ketahui Marvin, Sehingga membuat Marvin mencekal kaki Laura sebelum wanita itu turun dari tempat tidur.


"Ma-marvin..."Kedua mata Laura membola saat kini tubuhnya berapa di bawah Kungkungan Marvin.


"Kenapa kau takut Laura? Bukankah kau mengatakan bahwa cinta yang ku miliki adalah sebuah obsesi? Maka sekarang akan ku tunjukkan bagaimana obsesi ku itu kepada mu."Seru Marvin dengan senyuman penuh arti.


"Ja-jangan Ma-marvin...!!"Laura berusaha memberontak karena wanita itu tahu apa yang akan di lakukan oleh Marvin. Namun apalah daya Laura hanya seorang wanita yang tenaganya tidak sebanding dengan Marvin.


"Akhhh..."Dengan kasarnya Marvin merobek baju yang Laura kenakan, Sehingga membuat kancing bajunya berjatuhan dan dengan begitu kasar Marvin mencumbu Laura dan kedua tangannya yang bergeliriya di atas tubuh Laura.


"Tidak Marvin! Laura mohon, Lepaskan Laura Marvin."Pinta Laura saat laki-laki itu membuka seluruh Kain yang melekat di tubuhnya maupun dengan tubuh laki-laki itu.


"Memohon lah Laura! karena semakin kau memohon, maka semakin bersemangat lah aku untuk menyatu dengan mu."Ujar Marvin dengan bibir yang kini tengah berada di celuk leher Laura.


Laura memberontak dan berusaha melepaskan melepaskan dirinya dari Kungkungan Marvin, Namun semakin Laura memberontak maka semakin kuat pula cengkraman Marvin di tubuhnya.


"Akhhh..."Laura memekik dengan tubuh yang melengkung saat Marvin menyatukan tubuhnya tanpa stimulasi terlebih dahulu.


Jangan lupa


Like


Comment


Vote.


Favorit


Rite