Oh My Baby

Oh My Baby
terjual


"Kookie ... Ada lukisan yang laku." Hana memberitahu Jung Kook.


"Beneran?"


"Iya. Lihat ini. Ada yang check out untuk dikirim ke Jeju." Hana memperlihatkan notifikasi online shop di ponselnya.


Hana mulai mempackaging lukisan Jung Kook dengan hati-hati. Ia melapisi lukisan Jung Kook dengan bubble wrap dobel supaya lebih aman dan sampai dengan selamat ke tempat tujuan.


Semoga orangnya suka sama lukisan Jung Kook dan kasih bintang lima.


Hana hendak mengirim lukisan itu.


"Aku ikut." Jung Kook ingin menemani Hana ke kantor expedisi.


"Nggak usah. Lukisannya itu ringan aja. Habis ngirim lukisan ini aku mau langsung ke rumah ibu. Ibu minta bantuan bikin kimchi. Jangan lupa jemput Kiki sama Seon Ho."


Alhasil hanya ada Jung Kook di rumah. Jung Kook lanjut melukis lagi. Ia jadi lupa waktu. Ada telepon masuk dari Hana. "Kookie ... Gurunya Kiki bilang Kiki belum dijemput."


"Astaga! Aku keasyikan ngelukis. Aku jemput sekarang." Jung Kook buru-buru menutup teleponnya. Ia langsung bergegas menjemput Kiki.


Di tengah jalan Kiki menunjuk mini market. Ia minta dibelikan es krim. "Appa ... Es."


"Tapi jangan yang mahal-mahal, ya. Appa nggak bawa banyak uang." Sebenarnya saat ini keluarga mereka sedang sangat berhemat. Pengeluaran yang tidak perlu sebisa mungkin mereka hindari.


Kiki dan Seon Ho masuk ke mini market. Kiki memilih es krim cone yang mahal.


"Ki ... Yang ini aja. Ini juga enak. Kiki belum pernah coba, kan?" Seon Ho mengambil es krim stik yang murah. Kiki menganggukkan kepalanya. Jung Kook lalu membayar di kasir.


Kiki dan Seon Ho menikmati es krim mereka. Kiki mengangkat es krimnya dan memberinya ke Jung Kook. "Dikit aja." Kiki takut jika Jung Kook melahap habis es krim miliknya. Jung Kook menggigit sedikit es krim.


Di rumah.


"Kiki main berdua sama Seon Ho Hyung aja."


"Nggak. Kiki mau main sama appa juga."


"Ya udah. Kita sekarang main petak umpet aja. Kiki yang jaga."


Kiki menutup matanya. Ia mulai berhitung. "Satu ... Dua ... Sepuyuh ..." Ia lalu membuka matanya. Tentu saja Jung Kook dan Seon Ho masih berada di dekat Kiki. Mereka belum sempat bersembunyi.


"Ki ... Hitung yang bener. Masa habis dua jadi sepuluh."


Kiki menutup matanya lagi. Ia berhitung lagi. "Satu ... Dua ... Tiga ... Empat ... Yima ... Enam ... Tujuh ... Deyapan ... Sembiyan ... Sepuyuh." Kiki membuka matanya. Ia mulai mencari Jung Kook dan Seon Ho.


Kiki mencari di ruang TV. Ia menemukan Seon Ho. "Ketemu." Kiki mencari lagi. Di dapur, di kamar, di taman tak ada tanda-tanda keberadaan Jung Kook. "Appa ... Appaaaaa ..."


Kiki mencoba membuka lemari. Ia menemukan Jung Kook bersembunyi di sana. Tapi dalam posisi mata terpejam. "Appa tiduy."



"Appa, bangun. Tiduy di kasuy." Kiki mencoba membangunkan Jung Kook tapi tidak berhasil. Sepertinya Jung Kook sudah terlalu lelah. Kiki kemudian mengambil selimut. Ia menyelimuti ayahnya.


Tak lama kemudian Hana pulang. Ia membawa satu box besar kimchi yang baru saja ia buat bersama ibunya. Ia mengambil beberapa bagian dan menaruhnya di dalam box yang lebih kecil untuk dibawa pulang Seon Ho.


Ia lalu masuk ke ruang kerja Jung Kook tapi Jung Kook tidak ada. Ia masuk ke kamar tapi Jung Kook tidak ada.


Kiki dan Seon Ho ditinggal sendirian di rumah?


"Ki ... Appa jalan?" Hana ingin memarahi Jung Kook. Jung Kook seharusnya menunggu Hana pulang jika ingin keluar rumah. Kiki dan Seon Ho masih terlalu kecil jika ditinggal di rumah tanpa pengawasan.


"Eomma, sst ... Appa bobo." Kiki menggandeng tangan Hana. Ia mengajak Hana ke lemari tempat Jung Kook yang tertidur dalam posisi duduk.