Oh My Baby

Oh My Baby
Part 55


"Bunda..."Lirih Bianca dengan raut wajah datarnya saat kembali melihat wajah wanita yang melahirkannya setelah sekian lama tidak bertemu dengan dirinya.


"Bianca perkenalkan ini adalah menantu ku Liliyana."Ucap Nenek Clara tanpa menyadari perubahan raut wajah Bianca.


"Bianca...?"Cicit Mamah Liliyana dengan mengalihkan pandangannya ke arah Bianca dan untuk beberapa saat Mamah Liliyana terpaku akan wajah Bianca yang terasa begitu familiar baginya.


"Astaga Anak itu...!!"Decak Nenek Clara melihat Bianca yang mematung dengan tatapan menatap ke arah Mamah Liliyana.


"Bianca...!!"dengan cukup kasar Nenek Clara menepuk pundak Bianca, membuat wanita itu tersentak dalam lamunannya.


"Nenek....!!"Pekik Bianca dengan memberenggutkan wajahnya persis seperti Briana yang sedang merajuk kepada Bianca yang tidak membelikannya mainan.


"Permisi Nyonya Bianca...."Panggil Staf Administrasi itu membuat Bianca tersadar akan masalah yang kini Bianca alami.


"Ya, Ada apa Sus?"


"Sebelumnya saya ingin meminta maaf, karena permintaan Anda untuk mencicil biaya rumah di tolak dengan beberapa alasan yang tidak bisa kami jelaskan kepada Anda."Ucap staf Administrasi dengan sungkan melihat wajah penuh harap bianca.


"Kenapa tidak bisa Sus?"Cicit Bianca.


"Sebenarnya ada apa ini Bianca?"Tanya Nenek Clara yang tidak mengerti arah perkataan dari wanita berseragam rumah sakit itu.


"Tidak ada apa-apa Nek. Semuanya baik-baik saja."Elak Bianca tanpa menatap ke arah Nenek Clara.


"Nenek, Bukankah Nenek ingin menjenguk Briana? Ayo Nek, Biar Bianca yang mengantarkan Nenek ke ruangan rawat Briana."Ujar Bianca menarik pergelangan tangan Nenek Clara.


"Nenek..."Ucap Bianca saat wanita parubaya itu tidak mengikuti langkahnya.


"Sebenarnya ada apa ini Bianca? Katakan kepada Nenek, mungkin saja Nenek bisa membantu mu."Tanya Nenek Clara dengan tatapan menyelidikinya ke arah Bianca.


"Tidak ada yang perlu di cemaskan Nek, Semuanya baik-baik saja..."Sahut Bianca.


"Nenek percayakan kepada Bianca?"Balas Bianca dengan sungguh-sungguh.


Nenek Clara menghembuskan nafasnya dengan kasar, Setelah sekian lama kenal dengan Bianca wanita parubaya itu mengetahui bagaimana sikap dan karakter yang di miliki bianca. Membuat Nenek Clara tidak ingin mendesak Bianca untuk mengatakan apa masalah yang wanita itu alami saat ini, biarkan dia yang mencari tahu sendiri. Pikir Nenek Clara.


Sementara itu Mamah Liliyana menatap Bianca dengan lekat, mengapa dia merasa tidak asing melihat wajah Bianca.


"Bianca...?"Guman Mamah dengan menyengritkan kedua alisnya saat mendengar nama Bianca."Kenapa aku seperti tidak asing dengan wajah dan namanya?"Imbuhnya.


"Liliyana Ayo...!!"Seru Nenek Clara saat melihat menantunya itu melamun terdiam sembari menatap wajah Bianca.


"Ahh, Iya Mah..."Ucap Mamah Liliyana dengan tersentak.


Mamah Liliyana pun berjalan mengikuti langkah Nenek Clara dari belakang dengan tatapan matanya berpusat kepada punggung ringkih Bianca.


"Ya Tuhan Cucuku..."Pekik Nenek Clara dengan membekap mulutnya saat melihat kondisi Briana.


"Mah..."


"Bagaimana semua ini bisa terjadi Bianca? Ada apa dengan gadis kecilku."Tanya Nenek Clara dengan suara lirihnya.


"Semua ini salah Bianca Nek, Bianca ibu yang gagal! Seharusnya Bianca tidak terlalu keras kepada Briana! Seharusnya Bianca..." Bianca tidak bisa melanjutkan perkataannya saat mengingat penyakit yang di derita oleh Putri semata wayang nya itu.


"Kenapa dengan ku? Mengapa hatiku merasa sakit saat melihat wanita itu menangis?"Batin Mamah Liliyana kepada dirinya sendiri.


Tanpa sadar Mamah Liliyana mendekati Bianca dan membawa tubuh Bianca ke dalam dekapannya. Seorang anak yang dia buang tanpa melihat wajahnya karena kehadiran yang tidak dia inginkan olehnya.


Nenek Clara menyeka air mata yang entah kapan berada di sudut matanya. Nenek Clara pernah melihat Bianca serapuh ini, tepatnya tujuh tahun silam setelah wanita itu tersadar dari komanya dan mendengar salah satu bayi yang dia kandung tidak bisa di selamatkan. Seketika itu Bianca histeris dan mengamuk, Bahkan bianca beberapa kali mencoba melakukan percobaan bunuh diri walaupun gagal.


Bianca tersadar bahwa kini dirinya berada di dalam pelukan ibu kandungnya. Rasa hangat mengalir di seluruh tubuh Bianca, saat wanita itu merasakan pelukan dari ibu kandungnya untuk pertama kalinya.


"Apakah ini rasanya pelukan seorang ibu?" Batin Bianca dengan tatapan matanya yang kosong.


Ingin rasanya Bianca membalas pelukan dari ibu kandungnya itu. Namun, setelah dirinya mengingat apa yang telah di lakukan oleh Mamah Eleana kepada dirinya seketika itu juga Bianca melepaskan dekapannya Sang Mamah dengan sedikit kasar.


"Maafkan saya Nyonya..!!"Ucap Bianca dengan menyeka air matanya.


Mamah Liliyana merasa hampa dan kosong saat Bianca melepaskan dekapannya.


"Sebenarnya ada yang di alami oleh Briana? Kenapa bisa Cucuku di rawat di rumah sakit dengan keadaan di pasang oksigen seperti ini?"Tanya Nenek Clara.


"Bianca tidak tahu harus menjelaskan dari semua ini dari mana, Bianca hancur! Sehancur-hancurnya melihat anak yang Bianca perjuangkan selama ini, terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Jika boleh meminta, Biarkan Bianca saja yang menerima semua kesakitan dan penderitaan ini, Jangan Anak Bianca..."Seru Bianca dengan menggigit bibir bawahnya menahan tangisannya yang kapan saja bisa tumpah.


"Meskipun Kehadiran Briana tidak di inginkan, Namun Bianca sangat menyayangi Briana melebihi diri Bianca sendiri. Briana adalah satu-satunya keluarga yang Bianca punya di dunia ini. Bianca tidak sanggup jika kehilangan Briana, Bianca tidak sanggup Nek..."Ujar Bianca dengan nada tersendat- sendat karena menahan tangisannya.


"Apa yang harus Bianca lakukan Nek...?"


Briana mengerjab-ngerjabkan kedua matanya saat mendengar suara isakan dari wanita yang melahirkannya.


"Mamah..."Panggil Briana.


Bianca mengusap air matanya dan segera menghampiri sang anak. "Ada apa Sayang? Kamu haus..?"


Briana menggelengkan kepalanya dan menatap Bianca dengan sendu, terlebih lagi melihat wajah sembab Bianca.


"Maafkan Anak Mah, Karena lagi-lagi Ana membuat Mamah menangis."Ucap Briana dengan tangan yang berusaha menggapai wajah Sang Mamah.


"Tidak sayang, Mamah tidak menangis..."


Sahut Bianca dengan tersenyum di paksakan dan menggenggam tangan sang anak dan sesekali mengecup punggung tangan buah hatinya tersebut.


Mamah Liliyana merasa tertampar mendengar semua penuturan Bianca. Ingatan wanita itu berkelana tentang kejadian puluhan tahun silam, Dimana saat itu dirinya mengalami pelecehan dari majikannya sehingga menghasilkan seorang anak, Tanpa melihat wajah bayi yang baru Mamah Liliyana lahirkan, Wanita itu meninggalkan sang anak dengan Ayah Kandungnya.


"Ya Tuhan..."Terkadang Mamah Liliyana sempat menyesali akan keputusan yang telah dia lakukan di masa lalunya.


"Ana..."Panggil Nenek Clara membuat pelukan ibu dan anak itu terlepas.


"Nenek...!!"Pekik Briana dengan suara paraunya seraya merentangkan kedua tangannya untuk meminta pelukan wanita tua itu.


"Cucu Nenek..."


"Kenapa Nenek baru datang? Padahal Ana sudah beberapa hari disini. Nenek sudah tidak menyayangi Ana lagi?"Tukas Briana dengan mencebikkan bibirnya membuat Bianca maupun Nenek Clara merasa gemas karenanya.


"Astaga, Kenapa Cucu Nenek cerewet sekali. Nenek tidak yakin, Bahwa Ana benar- benar sakit?"Sahut Nenek Clara.


"Nenek..!!"Pekik Briana dengan wajah yang memberenggut. Gadis kecil itu tidak terima perkataan dari wanita yang telah di anggapnya seorang Nenek tersebut.


Nenek Clara tidak kuasa menahan tawanya lagi, melihat wajah memberenggut Briana.


Bianca tersenyum melihat interaksi dari dua orang di hadapannya. Bianca bersyukur masih ada orang baik di sekelilingnya.


"Nenek, Itu siapa?"Tanya Briana menunjuk Mamah Liliyana yang berdiri tidak jauh darinya.


"Sayang, Ini Tante Liliyana menantu Nenek."


"Menantu...?"Cicit Briana dengan menyengritkan kedua alisnya. "Apa itu menantu Nek? Apakah itu sebuah nama makanan?"Imbuhnya dengan mengerjab- ngerjabkan kedua matanya.


_


_


_


Dengan mini dress berwarna merah muda dengan perpotongan leher yang rendah, Sehingga menampilkan lekukan tubuhnya yang sempurna. Gwen jalan memasuki perusahaan yang di pimpin oleh Edward. Wanita yang berprofesi sebagai model itu merasa percaya diri karena telah beberapa kali menghabiskan malam panas bersama Edward.


"Maaf Nona, Anda tidak di izinkan untuk memakai Lift ini."Seru Seorang resepsionis saat Gwen memaksa masuk ke dalam lift khusus yang di peruntukan untuk para petinggi perusahaan.


"Dasar Sialan..!!"Umpat Gwen dengan suara lengkingan nya. "Kau tidak tahu siapa Aku..?!"Pekik Gwen dengan berdecak pinggang dan membolakan kedua matanya.


"Maaf Nona, Ini memang sudah menjadi peraturan disini. Jika memang Anda ingin bertemu dengan Tuan Edward, Anda harus membuat janji terlebih dahulu. Atau jika memang Anda benar-benar teman dari Tuan Edward, Anda bisa menghubungi Tuan Edward terlebih dahulu."Ujar Resepsionis itu.


"Sialan...!!"Umpat Gwen di dalam hatinya.


Wanita itu seketika menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai nomor Edward, Meskipun meraka telah melewati beberapa kali malam panas dan penuh gai'rah.


Bertepatan saat itu rombongan Edward dan para petinggi perusahaan itu memasuki lobby perusahaan. Gwen yang melihat Edward di salah satu rombongan itu sontak memanggil Edward, membuat rombongan itu menghentikan langkahnya seketika.


"Edward...!!"Panggil Gwen kembali sembari berjalan menghampiri Edward dengan melenggak-lenggokkan badannya.


"Tuan..."Panggil Sean dengan tatapan matanya yang mendelik ke arah Gwen.


Edward pun memberikan kode kepada Sean untuk mengambil alih tugasnya. Sean yang mengerti akan kode dari Tuannya itu pun segera melakukan tugasnya.


"Mari Tuan-tuan..."Intrupsi Sean dengan tatapan matanya menatap ke arah Gwen dan Gwen pun menyadari tatapan tajam yang Sean layangkan kepadanya. Namun wanita itu acuh dan tidak terlalu memikirkan apa yang Sean lakukan kepadanya.


Sean sangat tidak menyukai wanita yang saat ini tengah dekat dengan sanga Tuan. Karena menurut Sean, Gwen tidak tulus mendekati Edward. Wanita itu mendekati Edward hanya ingin mengincar harta nya saja. Terlebih lagi sudah beberapa kali Sean secara tidak sengaja melihat Gwen keluar dari hotel dengan pria yang berbeda-beda.


"Untuk Apa kau kesini?"Tanya Edward dengan mengeratkan rahangnya setelah Sean pergi mengambil alih tugasnya.


"Edward...!!"Gwen memundurkan langkahnya saat melihat reaksi Edward seperti itu kepadanya.


"Edward aku hanya ingin menemui mu saja. Apakah aku salah ingin bertemu dengan kekasih ku sendiri?"Seru Gwen dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Kekasih? Siapa yang kau maksud kekasih?" Tukas Edward dengan tersenyum miring.


"Apa yang kau katakan Edward?! Aku ini kekasih mu, Bahkan kita sudah beberapa kali berci*nta, Jika kau lupa Itu!"Pungkas Gwen dengan melengkingkan suaranya.


"Kau jangan terlalu percaya diri Gwen! Kau pikir, Jika aku melakukan Se'x dengan mu berarti kau telah menjadi kekasih ku? Come on Gwen..."Decak Edward dengan menggelengkan kepalanya.


"Sadarlah Gwen, Kau pikir kau layak dengan ku? Bahkan di mataku kau tidak ubahnya seperti seorang wanita Ja'ang yang menjajakan tubuhnya dan membuka lebar kedua kakinya demi ambisi yang ada di dalam dirinya."Seru Edward dengan penuh kemenangan.


Gwen mengepalkan kedua tangannya saat Edward mempermalukan nya di depan umum.


"Kau jahat sekali Edward..!! Kenapa kau begitu tega berkata seperti itu kepada ku? Apa kurangnya aku kepada mu Edward..." Ujar Gwen dengan air mata buayanya.


Gwen tahu kini mereka menjadi pusat perhatian para karyawan Edward yang berlalu lalang di lobby perusahaan. Jadi sebisa mungkin Gwen bersandiwara agar mendapatkan dukungan dari orang-orang yang melihatnya.


"Berhentilah bersandiwara murahan seperti itu Gwen. Kau pikir dengan air mata buaya mu itu aku merasa iba kepada mu? Kau salah besar jika berpikir seperti itu."Seru Edward dengan malas.


"Edward...!!"Suara Gwen terdengar parau seakan-akan saat ini dialah korban dari drama yang saat ini dia mainkan.


Edward menghembuskan nafasnya dengan kasar dan kilatan amarah kini semakin terlihat di wajah tampannya. Edward merasa muak berurusan dengan Gwen dan segala drama yang wanita itu mainkan.


"Keamanan...!!"Teriak Edward menggelegar di dalam ruangan itu. Membuat siapapun bergetar di tempatnya karena teriakan yang berasal dari laki-laki kejam itu.


"Seret wanita itu pergi dari sini! Dan jangan biarkan wanita mu'rahan ini masuk ke dalam perusahaan ini lagi...!!"Titah Edward tanpa bantahan.


"Edward Sialan...!!"Umpat Gwen dengan menetralkan raut wajahnya.


Jangan lupa Like Comment Rate dan Vote