Oh My Baby

Oh My Baby
Part 43


Seorang wanita terbaring lemah di atas dinginnya lantai dengan wajahnya di penuhi dengan beberapa lebam dan memar yang kini menjadi kebiruan, dengan kedua tangan dan kaki yang terbelenggu rantai bagaikan seekor hewan peliharaan dan dengan darah yang tidak henti-hentinya keluar dari tubuhnya dan tidak sedikit pula ada darah yang sudah mengering.


Bianca menatap ruangan yang kini dia tempati begitu suram dan menakutkan. Tempat yang kini Bianca tempati jauh lebih menyeramkan dari pada tempat yang sebelumnya, Kini sudah terhitung satu Minggu lebih Bianca di kurung bagaikan seorang tahanan oleh Edward.


Bianca di perlakukan layaknya seekor binatang oleh Edward. Bahkan kini tubuh mungilnya tampak sangat kurus daripada satu Minggu sebelumnya dengan tonjolan di perutnya yang semakin nampak terlihat, karena memang usia kandungan Bianca bulan ini menginjak tujuh bulan terlebih lagi kini Bianca mengandung bayi kembar.


Entah berapa lama cairan bening itu keluar dari kedua pelupuk matanya, yang hanya Bianca lakukan kini adalah menangis dan merintih akan semua luka, kesakitan dan penderitaan yang wanita malang itu alami.


"Ya Tuhan... Cobaan apalagi ini."Kata Bianca dengan lirih di sertai isakan tangisannya yang membuat siapa saja merasa iba karenanya.


"Kenapa kau memberikan kesakitan dan penderitaan ini Tuhan? Apa salahku..?! Apa dosaku..?! Sehingga engkau begitu teganya memberikan takdir yang begitu kejam kepada hambamu yang malang ini?"Ujar Bianca dengan air mata yang tidak henti- hentinya keluar dari kedua pelupuk matanya.


"Tuhan, Bianca begitu Lelah akan semua penderitaan ini. Adakah setitik kebahagiaan untuk hambamu ini? Bianca sudah tidak sanggup lagi Tuhan menerima semua penderitaan ini. Jika saja Bianca bisa memilih, Bianca tidak ingin di lahirkan ke dalam dunia ini, daripada Bianca hidup di dunia ini penuh penderitaan dan tanpa ada satu pun orang yang mengharapkan kehadiran Bianca."pandangan mata Bianca kosong. Namun tatapan kedua matanya menyiratkan sebuah luka yang begitu dalam, Sehingga siapapun tidak dapat menyelami seberapa dalam luka yang di pendam Bianca seorang diri.


"Jika di perbolehkan bisakah Bianca meminta satu saja permintaan kepada mu Tuhan? Bisakah Tuhan mencabut nyawa Bianca saat ini juga? Bianca sudah lelah akan semua kepahitan, kesakitan dan penderitaan yang selama ini Bianca rasakan Tuhan. Tidak ada satupun yang bisa Bianca jadikan sandaran di saat hambamu telah lelah akan semua suratan takdir yang telah engkau berikan kepada Bianca."Tersirat raut wajah keputusasaan dan kerapuhan di setiap kata yang Bianca lontarkan di bibir mungilnya.


"Kau pikir dengan kematian semua penderitaan mu akan berakhir begitu saja?" Seru seorang laki-laki yang begitu tidak asing bagi Bianca.


Bianca mengalihkan pandangannya dan seketika kedua matanya terbelalak saat melihat seorang laki-laki yang tengah bersandar di dinding dengan kedua tangan yang bersedekap di dadanya dan tidak lupa dengan senyuman penuh seringainya yang tidak pernah luntur dari kedua sudut bibirnya.


"Tu-tuan..."Suara Bianca terdengar penuh ketakutan begitu pun dengan tatapan kedua matanya. Dengan sisa tenaga yang wanita itu miliki Bianca berusaha bangkit.


"Awww..."Pekik Bianca saat tubuhnya tidak kuasa menahan bobot tubuhnya.


"Sakit ya..."Ujar Edward dengan nada mengejek ke arah Bianca.


Bianca menengadahkan kepalanya dan menatap Edward dengan intens."Kenapa Tuan..? Kenapa Anda begitu tega kepada saya? Kesalahan apa yang telah saya perbuat sehingga Anda berbuat sangat kejam ini kepada saya?"Seru Bianca dengan suara lirihnya.


"Kau masih bertanya kesalahan mu..? Dasar wanita tidak tahu diri. Gara-gara kau kehidupan ku berantakan dan gara-gara kau aku harus kehilangan wanita yang aku cintai." Seru Edward dengan nafas yang menderu bahkan kilatan amarah terlihat jelas di wajah tampannya.


"Dan Sudah berapa kali saya katakan bahwa bukanlah saya yang menjebak Anda di malam itu Tuan."Pungkas Bianca dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Terserahlah apa yang kau katakan Ja'ang! Ingatlah jika semua kebusukan mu terkuak, maka bersiap-siaplah menghadapi semua siksaan dan penderitaan yang tidak pernah kau bayangkan di dalam kehidupan mu." Seru Edward dengan rahang yang mengerat begitu pun dengan kedua tangannya yang terkepal erat dan kilatan-kilatan amarah tampak jelas di kedua sorot matanya.


Bianca memalingkan pandangannya dengan cairan bening yang tidak henti hentinya keluar dari kedua pelupuk matanya. Bianca terluka baik fisik maupun psikis nya, Seorang laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung baginya maupun bayi di dalam kandungan nya, Nyatanya hanya seorang laki-laki brengsek dan bajingan yang tega menyiksa seorang wanita yang tengah mengandung darah dagingnya.


"Terserah apa katamu Tuan. Takdir Tuhan siapa yang tahu... Saya hanya bisa berdoa Jika suatu saat Anda menyadari semua kesalahan Anda kepada saya maupun janin yang ada di dalam kandungan saya, Anda tidak terlambat dan kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi Anda."Seru Bianca dengan suara paraunya.


"Kau bilang takdir? Bahkan takdir pun enggan berpihak kepada seorang wanita menjijikkan seperti mu."Seru Edward dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Dan satu yang harus kau ingat, bahwa hidup dan mati mu hanya ada di tanganku."Sambung Edward.


"Anda bukan Tuhan yang bisa membuat seseorang hidup maupun mati. Jangan karena Anda memiliki segalanya anda bisa bersikap sombong seperti itu Tuan. Ingat Tuan! Jika tangan Tuhan telah bertindak maka sesuatu yang sangat mustahil terjadi maka akan terjadi."Tukas Bianca.


"Kau pikir, Kau pantas menyebut nama Tuhan dengan mulut kotor mu itu!"Ujar Edward dengan seringainya.


Sebuah suara yang berasal dari perut Bianca berhasil membuat Atensi Edward dan Bianca teralihkan.


"Kau lapar? Kasihan sekali...."Kata Edward dengan nada mengejeknya. "Baiklah karena aku orang yang baik, aku akan memberikan mu makanan yang enak dan tidak pernah kau lupakan di dalam hidupmu."Imbuh Edward dengan penuh arti.


Bianca memalingkan wajahnya mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat Edward memberikan makanan. Bianca sangat terhina bahkan binatang pun akan Lebih baik dari pada yang Edward lakukan kepadanya. Sumpah demi Tuhan saat ini dan masa yang akan datang pintu maaf Bianca tertutup untuk Edward dan segala perbuatan laki-laki itu kepadanya.


"Sean bawakan makanan..!"Titah Edward kepada sang bawahan yang sedari tadi menunggu Edward di depan pintu ruangan.


"Baik Tuan."Jawab Sean sembari mengambil makanan yang telah di siapkan oleh Edward. Tanpa menunggu lama Sean pun membawa makanan tersebut dan menyerahkan nya kepada Edward.


"Pergilah..."Ucap Edward setelah menerima makanan itu dari Sean dan tanpa di perintah dua kali Sean pun segera keluar dari ruangan yang kini Edward tempati.


Setelah Sean keluar dari ruangan tersebut, Edward melemparkan piring yang berisi makanan itu dekat dengan Bianca, sehingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring di kesenyapan ruangan itu membuat wanita hamil itu memejamkan matanya dengan rasa takut yang kian mendera diri wanita hamil itu.


"Tu-tuan...!!"Suara Bianca terdengar terbata-bata.


"Makanlah..."Titah Edward dengan kedua tangan yang bersedekap di dadanya.


"Tidak Tuan! Saya tidak akan memakan makanan itu. Saya bukanlah hewan yang dapat anda perlakuan seperti seperti itu." Timpal Bianca dengan belikan kedua matanya.


"Bahkan derajat hewan pun tidak lebih rendah dari pada wanita murahan seperti mu."Sahut Edward membuat Bianca membeku di tempatnya.


"Kenapa Tuan? Kenapa Anda tidak langsung membunuh saya saja Tuan, Agar semua dendam dan kebencian Anda sirna bersama hilangnya nyawa saya di tangan Anda."


"Tidak semudah itu Ja'ang! kau harus merasakan kesakitan yang tidak pernah kau bayangkan, dan kau pun harus membayar mahal semua perbuatan mu karena telah berani bermain- main dengan seorang O'deon. Bahkan hingga tubuhmu renta dan tidak bisa menopang tubuh sendiri dan menyatu dengan tanah."Tutur Edward dengan suara yang penuh penekanan.


"Baiklah, Jika kau tidak ingin memakan makanan itu."Edward pun segera mengambil cambuk yang ada di samping.


Dan tanpa berkata laki-laki itu kembali menorehkan luka di punggung ringkih wanita hamil itu. Bianca melengkungkan punggungnya saat rasa sakit yang kembali dia rasakan, Bianca merasakan seluruh tubuhnya nyeri bagaikan dirinya tengah kuliti hidup-hidup dan Bianca memejamkan matanya menghalau air mata yang semakin deras keluar dari pelupuk matanya.


"Shhh..."Rintih Bianca dengan menggigit bibir bawahnya.


"Masih tidak ingin makan?"Dan Bianca tetap pada pendiriannya. Wanita hamil itu tidak ingin Edward lagi-lagi menghina harga dirinya. "Baiklah jika kau tetap tidak mau memakan makanan yang telah ku berikan..." Imbuhnya dengan senyuman smriknya.


"Jangan salahkan aku jika janin yang ada di dalam kandungan mu keluar sebelum waktu yang di tentukan."Kata Edward dengan mengecilkan suaranya namun tetap bisa di dengar oleh Bianca.


"Jangan Tuan!."Pungkas Bianca dengan suara yang bergetar."Baik saya akan melakukan apa yang Anda inginkan! Tapi saya mohon Jangan pernah sekalipun Anda menyentuh bayi-bayi saya."Pinta Bianca dengan penuh permohonan.


"Merangkak lah dan makan semua makanan itu."Titah Edward.


"Ba-baik Tu-tuan..."Ucap Bianca dengan suara menahan tangisannya.


Dengan perutnya yang membesar Bianca berusaha merangkak bahkan dengan keadaan kedua tangan dan kakinya yang di rantai. Di setiap nasi yang masuk ke dalam mulutnya di iringi dengan air mata yang semakin deras keluar dari pelupuk matanya.


"Tuhan..!! Takdir apa yang telah engkau tuliskan kepadaku."Batin Bianca dengan menelan paksa nasi itu ke dalam tenggorokan nya.


"Apa kesalahan yang telah ku lakukan di kehidupan ku di masa lalu, Sehingga kau begitu kejam kepada hambamu yang malang ini."


_


_


_


"Dimana aku? Kenapa aku bisa ada disini?"


Kata wanita itu dengan kedua kelopak matanya bergerak liar memindai tempat yang sama sekali baru dia lihat.


Sepanjang mata memandang hanyalah pepohonan dan bunga-bunga yang berbaris rapi, bahkan wanita itu merasa bahwa tidak adanya kehidupan di tempat yang kini tengah dia pijaki.


"Tolong...."Sebuah suara yang begitu lirih dan menyayat hati bagi siapapun yang menjadi.


"Siapa disana?"Seru wanita itu dengan pandangan matanya yang mengedar.


"Tolong aku..."Suara itu kembali terdengar bagikan sebuah dedaunan yang berterbangan karena hembusan sang angin.


"Suara itu? Sepertinya aku pernah mendengarnya?"Ucap wanita itu dengan kenyitran di kedua alisnya dan dengan perasaan takut yang hinggap di dalam dirinya wanita itu melangkah mengikuti dimana suara itu berasal.


"Bianca..."Pekiknya dengan kedua bola matanya yang membola melihat baju yang di kenakan oleh Bianca berlumuran darah bahkan dengan di kedua tangannya dan kakinya yang mengalir darah dari inti wanita hamil itu.


"Bianca apa yang terjadi kepada mu?! Sehingga kau bisa seperti ini?"Tanya wanita itu dengan menahan nafasnya karena bau anyir darah tercium begitu pekat di hidungnya.


"Kak Agnes tolong Bianca..."Agnes memekik saat melihat mata Bianca mengeluarkan air mata darah.


Agnes berlari ke arah Bianca dan semakin Agnes berlari maka semakin jauh pula jarak yang terbentang di antara Agnes dan Bianca.


"Bianca...!!"Pekik Agnes saat Bianca terjatuh terjatuh ke dalam jurang yang cukup dalam dan curang.


**


Dengan nafas yang memburu Agnes membuka kedua kelopak matanya, keringat sebesar biji jagung nampak membasahi pelipis dan ujung lehernya bahkan tampak jelas baju tidur yang kini tengah di kenakan Agnes kini tampak basah karena keringat yang mengucur derasnya.


"Kenapa mimpi itu terasa nyata seakan-akan memang Bianca tengah mengalami semua yang ada di dalam mimpiku. Sebenarnya apa yang terjadi kepada Bianca sehingga aku memimpikan nya?"Tanya Agnes kepada dirinya sendiri dengan menyeka keringat yang membasahi wajahnya.


"Apa maksud dari mimpi ku? Apakah terjadi sesuatu yang buruk kepada Bianca?"


Seketika ingatan Agnes terpaku tentang kejadian di rumah yang terjadi beberapa Minggu yang lalu. Dimana Bianca tengah di pukuli dengan membabi buta oleh seorang laki-laki yang Agnes tahu bahwa itu ada suami dari adiknya. "Apakah laki-laki itu kembali berbuat buruk kepada Bianca?"


"Apakah aku harus memberi tahukan apa yang telah terjadi kepada Bianca di rumah sakit dan apa yang ku mimpikan saat ini?" dan Agnes menyingkap selimut nya dan memakai sendal bulu yang senantiasa berada di bawah ranjangnya.


Agnes menghentikan langkahnya dan keraguan tampak jelas dari raut wajah cantiknya. "Bagaimana jika kak Arnold marah kepada Agnes?"Kata Agnes dengan bertopang dagu.


"Terserah apa yang akan terjadi. Biarkan saja kak Arnold marah kepada Agnes, yang penting Agnes telah memberi tahukan semuanya kepada Kak Arnold."Dengan membulatkan tekadnya Agnes pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang kerja sang kakak. Karena biasanya di jam-jam seperti ini, Arnold masih berada di ruang kerjanya untuk melihat berkas-berkas yang akan laki-laki itu tanda tangani.


Agnes mengetuk pintu ruang kerja sang kakak dan tidak lama kemudian terdengar suara sahutan dari Arnold yang menyuruh nya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Ada apa Agnes? Ini sudah larut malam! Kenapa kau belum tidur?"Tanya Arnold seraya menyimpan sebuah berkas di tangannya.


Sejenak Agnes menatap kedua mata Arnold yang kini tengah di Balut sebuah kaca mata.


"Agnes bermimpi buruk kak.."Ucap Agnes dengan lirih.


"Tidak usah di pikirkan itu hanyalah sebuah mimpi dan mimpi hanyalah bunga tidur."


Sahut Arnold seraya bangkit dari kursi kebesarannya berjalan ke arah Agnes dan membawa gadis itu ke dalam rengkuhan Nya.


"Tapi ini tentang Bianca kak..."


"Apa maksudmu..?"


Agnes pun menceritakan apa yang dia mimpikan dan apa yang terjadi kepada Bianca di rumah sakit saat Edward memukuli dengan membabi buta bahkan tanpa segan membenturkan kepala Bianca ke arah dinding membuat kepala wanita hamil itu mengeluarkan darah.


"APA?!! Kenapa kau tidak memberi tahukan semuanya kepada kakak Agnes?!"Pekik Arnold dengan suara lengkingan nya yang menggema di seluruh ruangan itu.


"Maafkan Agnes kak. Saat itu kakak masih dalam tahap pemulihan dan Agnes tidak ingin karena apa yang terjadi kepada Bianca membuat masa pemulihan Kakak berjalan lama."Timpal Agnes dengan menundukkan kepalanya.


Arnold menghembuskan nafasnya dengan kasar, untuk saat ini tidak ada gunanya dia bertengkar dengan Agnes atas apa yang telah adiknya itu lakukan.


"Tapi Agnes mohon Kak, Carilah Bianca walaupun keadaannya. Agnes tidak ingin apa yang di impikan Agnes terjadi sesungguhnya kepada Bianca."Pinta Agnes dengan mengatupkan kedua tangannya.


Arnold segera membawa tubuh Agnes ke dalam dekapannya. Arnold dapat merasakan bahwa punggung Agnes bergetar dan isakan lirih keluar dari mulut sang adik.


"Tanpa kau pinta pun, Kakak akan mencari keberadaan Bianca dengan segala kemampuan yang kakak miliki."Seru Arnold mengeratkan rahangnya mengingat semua penjelasan Agnes tentang kondisi Bianca.


"Kau membohongi Kakak Bianca! Bukankah kau selalu mengatakan bahwa suamimu adalah laki-laki yang pernah kau temui. Nyatanya semua perkataan mu hanyalah dusta belaka!"Batin Arnold.


Jangan lupa


Like


Comment


Vote


Rite


Favorit


Tips