
Kawanan burung nampak berterbangan kesana-kemari memenuhi langit yang mulai menampakkan warnanya. Sang Surya pun sudah naik di atas tempat peraduan nya, menandakan bahwa bahwa para makhluk hidup harus memulai kembali aktifitas mereka sehari-hari.
Briana, gadis kecil itu masih terlelap di atas peraduannya. Bahkan manik matanya enggan terbuka saat pantulan cahaya matahari menerpa wajahnya.
Briana memberenggutkan wajahnya dan membalikkan tubuhnya agar cahaya matahari itu tidak mengenai wajahnya. Dan apa yang di lakukan oleh Briana itu tidak luput dari perhatian Bianca.
Wanita yang berusia dua puluh enam tahun itu terkekeh melihat betapa menggemaskan wajah Briana saat memberenggut seperti itu. Dengan sengaja Bianca membuka tirai di kamar sang anak membuat Briana membuka kedua matanya.
"Mamah, Anna masih mengantuk...!!"Cebik Briana dengan mengerucutkan bibirnya.
"Tidak ada tapi-tapian Brianna! Ini sudah jam enam pagi dan haru ini adalah hari pertama kamu kembali masuk ke sekolah."Ucap Bianca dengan menahan Senyumannya.
"Mamah..."Rengek Briana dengan menggerakkan kaki di dalam selimutnya membuat Bianca mengulum senyuman nya.
"Sebaiknya kamu lekas bergegas menuju ke kamar mandi. Mamah tidak ingin kamu terlambat masuk kelas di hari pertama mu masuk sekolah!"Seru Bianca sembari duduk di samping sang anak.
"Lima belas menit lagi Mamah, Briana masih mengantuk."Balas Briana dengan mulut yang menguap dan mata yang berair.
"Mamah tidak menerima alasan apapun Briana! Jika dalam hitungan lima, kamu masih belum bangun juga, Maka jangan salahkan Mamah, Jika Mamah membawa kamu dengan paksa ke dalam kamar mandi." Seru Bianca dengan suara yang cukup tegas, Namun dengan nada yang tidak membentak sang anak. Bianca ingin Briana belajar disiplin waktu sedari kecil dan bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.
Bianca pun mulai menghitung namun saat Bianca mengucapkan angka empat, Briana bangun dari tempat tidurnya dan menatap Bianca dengan bibir yang mencebik.
"Mamah menyebalkan...!!"Pekik gadis kecil itu dengan mengerucutkan bibirnya.
"Briana...!!"
"Mamah pemaksa...!!"Ucap Briana dengan menghentakkan kakinya setelah turun dari tempat tidurnya.
"Briana tidak baik menggerutu seperti itu!" Tegur Bianca yang mendengar gerutan dari bibir mungil sang anak.
Dengan wajah menekuk Briana keluar dari kamarnya lengkap dengan seragam sekolah yang membalut tubuh mungilnya.
"Sarapan mu sayang..."Ucap Bianca sembari menyerahkan sepiring nasi goreng dengan telor mata sapi di hadapan sang anak.
Briana menatap sekilas ke arah sang Mamah dan memakan nasi goreng yang telah di siapkan oleh sang Mamah.
Bianca terkekeh pelan melihat wajah merajuk sang anak."Astaga anak itu...!!" Ucap Bianca dengan menggelengkan kepalanya.
Keheningan menyelimuti meja makan sederhana itu, Baik Briana dan Bianca mereka berdua mereka tampak fokus dengan makanan yang ada di hadapan mereka.
Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama sebelum Briana memberikan pertanyaan yang membuat Bianca terhenyak di tempatnya.
"Mamah, sebentar lagi Briana ulang tahun yang ke tujuh. Kapan Papah pulang Mah? Briana sangat merindukan Papah, Apakah Papah tidak menyanyi Briana? sehingga sampai saat ini Papah begitu enggan untuk menemui Briana."Tanya Briana dengan menundukkan kepalanya.
Briana tahu pertanyaannya akan membuat Sang Mamah bersedih, bukan sekali dua kali Briana bertanya seperti itu kepada Bianca dan Briana pun sering melihat Sang Mamah menangis setelah dirinya bertanya tentang keberadaan Sang Papah. Namun, Briana hanyalah anak yang menginginkan kehadiran orang tua lengkap di sampingnya.
"Sa-sayang..."Suara Bianca tercekat, wanita itu tidak tahu apa yang dirinya jawab tentang pertanyaan dari Briana.
"Kenapa Mamah hanya diam? Briana hanya bertanya tentang keberadaan Papah kandung Briana. Apakah itu salah? Sehingga Mamah begitu enggan untuk menjawab pertanyaan dari Briana?"Cerca Briana dengan suara seraknya karena menahan tangisannya.
Bianca tahu bahwa saat ini Briana tengah menahan tangisannya. Namun apa yang harus Bianca katakan? Apakah Bianca harus jujur kepada sang anak, bahwa Papah kandung nya tidak menginginkan kehadiran mereka, bahkan karena ayah kandung nya Briana harus kehilangan Kakak kembarnya.
"Briana..."Panggil Bianca sembari mendekati Briana dan memegang pundak Briana agar menatap ke arahnya.
"Bukankah sudah berapa kali Mamah katakan, bahwa saat Papah kamu sedang bekerja." Ucap Bianca berusaha menahan rasa sesak yang ada di dalam dadanya.
"Mamah berbohong..!! Jika memang Papah bekerja, Pasti Papah akan selalu menelepon Briana!"Tukas Briana menyentak tangan Briana yang ada di pundaknya.
"Bahkan sampai saat ini, Briana belum pernah melihat wajah Papah sekali pun."Lirih Briana dengan menyeka air mata yang entah kapan keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Briana..."Bianca menggelengkan kepalanya berusaha menahan cairan bening yang akan keluar dari pelupuk matanya.
"Apakah benar kata teman-teman Briana, bahwa Briana adalah Anak haram? Sehingga Papah kandung Briana pun begitu enggan untuk mengakui Briana sebagai anaknya?" Seru Briana berusaha menahan tangisannya.
Deg. Bianca mematung di tempatnya saat kata-kata Anak haram keluar dari mulut sang Anak. Hancur hati Bianca anak yang selama ini dia rawat dan jaga mengalami nasib yang sama seperti dirinya.
"Tuhan, mengapa sesakit ini. Apa kesalahan ku Tuhan? Sehingga engkau memberikan takdir yang begitu buruk kepada hambamu ini?"Batin Bianca dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Apa yang kamu katakan Briana! Anak haram? Kamu menyakiti Mamah dengan ucapan mu itu."Ucap Bianca dengan membuang pandangannya agar Briana tidak melihat dirinya menangis karena pertanyaan dari gadis kecil itu.
"Ma-mamah..."Suara Briana tercekat seolah tengah menahan sesak di dadanya dan beberapa saat kemudian Briana terjatuh tidak sadarkan diri.
"Briana...!!"Pekik Bianca dengan kedua mata yang membola.
_
_
_
Deg....
"Ya Tuhan ada apa ini?"Batin Edward dengan nafas yang tersengal-sengal.
Sean yang duduk bersebelahan dengan Edward pun, menyadari apa yang tengah terjadi kepada atasannya tersebut.
"Tuan Anda baik-baik saja?"Tanya Sean dengan nada penuh dengan ke khawatiran begitu pun dengan tatapan matanya.
Edward hanya melirik Sean tanpa menjawab pertanyaan Asisten pribadinya itu. Sungguh karena rasa sesak itu kian menghimpit dadanya, membuat Edward tidak kuasa untuk membuka mulutnya.
Meeting pun sejenak tertunda karena apa yang di alami Edward.
"Pelayan, Tolong ambilkan air putih."Titah salah satu klien Edward.
Pelayan pun segera mengambilkan nya dan memberikan nya kepada Sean untuk di berikan kepada Edward.
"Tuan minumlah..."Sean pun membantu Edward untuk meminum air putih itu.
"Tuan, Anda merasa lebih baik?"Tanya Sean yang tidak lagi mendengar nafas berat Edward.
"Hmm..."Balas Edward dengan sebuah deheman.
"Tuan Edward, Sepertinya meeting untuk saat ini lebih baik kita tunda, melihat keadaan Anda yang kurang baik."Seru Tuan Morgan.
"Saya sudah merasa lebih baik Tuan Morgan dan sebaiknya kita tidak perlu menunda meeting untuk hari ini. Karena akan sedikit sulit untuk kita melakukan pertemuan dalam beberapa waktu ke depan."Balas Edward karena laki-laki itu tahu bahwa untuk dua bulan ke depan Tuan Morgan tidak akan berada di negara ini.
"Anda benar-benar sudah merasa lebih baik Tuan Edward? Saya tidak ingin anda memaksakan diri untuk pertemuan kita kali ini."Ucap Tuan Morgan.
"Sungguh, Saya merasa baik-baik saja Tuan Morgan."Jawab Edward dengan nada yang bersungguh-sungguh, Membuat Tuan Morgan mau tidak mau melanjutkan meeting mereka kali ini.
Tiga puluh menit pun berlalu baik Tuan Morgan maupun Edward telah bersepakat untuk melanjutkan kerjasama mereka dan kini mereka melanjutkan dengan makan siang bersama dengan berbincang- Bincang ringan.
"Tuan Edward, kerja sama kita saat ini sangatlah besar. Saya ingin Anda sendiri yang memantau perkembangan proyek tersebut. Terlebih lagi proyek kerja sama kita bertepatan di tempat kelahiran Anda." Kata Tuan Morgan di sela-sela makannya.
"Uhuk-uhuk..."Edward tersedak saat mendengar perkataan dari Tuan Morgan.
"Tuan..."Sean menepuk punggung Edward dan memberikan segelas air ke arah laki- laki itu dan dengan cepat Edward pun langsung meneguknya.
Memantau perkembangan proyek itu secara langsung? Berarti dia harus kembali ke negara kelahirannya? Negara yang telah Edward tinggalkan selama Tujuh tahun ini untuk membuka lembaran baru di dalam kehidupannya.
"Shitt..!! Sampai kapanpun Edward tidak sudi untuk menginjakkan kakinya di sana." Guman Edward dengan mengepalkan kedua tangannya tanpa mereka ketahui.
Rasa sakit dan kecewa itu masih terbayang-bayang dan menghantui nya. Bagaimana pernikahannya hancur oleh permainan menjijikkan dari sahabat nya dan dia terpaksa menikah dengan wanita yang telah menghancurkan kehidupan nya. Bahkan sampai saat ini pun Edward masih belum berdamai dengan masa lalunya.
"Anda baik-baik saja Tuan? Sepertinya Anda memang kurang sehat."Tanya Tuan Morgan dengan penuh ke khawatiran.
"Tuan Saya baik-baik saja Tuan Morgan. Beliau hanya merasa terkejut atas apa yang katakan."Jawab Sean dengan tersenyum penuh arti.
"Benarkah? Kelihatannya Anda begitu enggan untuk pergi ke tanah kelahiran Anda?"Tanya Tuan Morgan penuh selidik.
"Tidak begitu Tuan, Saya dan Tuan Edward bersedia meninjau langsung proyek kerja sama kita."Ucap Sean tanpa peduli lirikan maut yang di layangkan Edward kepada dirinya.
"Sean sialan..!!"Desis Edward dengan mengeratkan rahangnya. Sampai kapanpun Edward tidak akan sudi menginjakkan kembali kakinya di tanah kelahirannya.
luka itu masih terasa dan entah sampai kapan luka itu akan sembuh. Dan untuk saat ini dirinya belum mempersiapkan diri akan kemungkinan yang akan terjadi jika dia menginjakkan kakinya di tempat yang menorehkan luka bagi dirinya.
***
Seperti yang Sean perkirakan sebelumnya, Edward akan marah dan mempertanyakan keputusan sepihak yang telah dia lakukan.
"Apa yang kau lakukan Sialan?!"Pekik Edward dengan mengeratkan rahangnya karena amarah yang melanda laki-laki itu.
"Maafkan saya Tuan."Ucap Sean dengan menundukkan kepalanya.
Hanya kata maaf yang saat ini bisa Sean katakan. Ini semua keputusan nya dan Sean siap menerima konsekuensi dari keputusan yang dia ambil. Mungkin dengan pulangnya mereka ke negara asalnya, Akan memudahkan Sean maupun Asisten Kai mencari keberadaan Bianca dan anak yang ada di dalam kandungan Bianca, walaupun Sean sedikit tidak yakin apakah anak yang ada di dalam kandungan Bianca masih bertahan ataukah tidak.
"Maaf katamu?! Gila kau Sean...!!"Pungkas Edward dengan menujuk Sean dengan penuh amarah.
"Maafkan saya Tuan. Tapi ini memang yang terbaik untuk perusahaan Tuan. Andai kata terjadi sesuatu yang tidak di inginkan dalam proyek kita Kali ini, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan1 i Tuan Morgan lalu kepada kita."Seru Sean dengan nada penekanannya.
"Brengsek kau Sean..!!"Umpat Edward setelah mendengar semua perkataan dari Asisten pribadinya itu.
"Pergilah dari hadapan ku! dan jangan temui aku sebelum aku sendiri yang memanggil mu."Titah Edward tanpa menatap ke arah Sean.
"Baik Tuan..."Jawab Sean dengan menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya Tuan, Mungkin saat ini Anda merasa marah akan keputusan yang saya buat, Namun saya yang suatu saat Nanti anda akan berterima kasih akan keputusan yang saya ambil saat ini."Guman Sean sebelum menutup pintu ruangan Edward.
Jangan lupa Like Comment Rate dan Vote