
"Dimana ini?"Guman Edward saat matanya mengedar di sebuah tempat yang begitu asing baginya. Sebuah taman yang begitu indah dengan bunga-bunga berwarna- warni sejauh mata memandang laki-laki itu.
"Kenapa Aku ada disini..?"Ucap laki-laki itu dengan bola matanya yang bergerak liar ke sekelilingnya.
Selangkah demi selangkah laki-laki itu menyusuri jalan setapak yang ada di hadapannya. Entah mengapa perasaan gamang dan sesak menyeruak di dalam diri laki-laki itu.
"Perasaan apa ini?"Ucap Edward dengan memegang dadanya saat rasa sesak begitu menghimpit dirinya.
Entah sudah berapa lama Edward berjalan menyusuri taman tersebut. Hingga laki-laki itu menghentikan langkahnya saat melihat seorang anak laki-laki berdiri membelakangi dirinya.
Deg. Kedua mata Edward terbelalak saat anak laki-laki itu membalikkan tubuhnya menghadap ke arahnya.
"Si-siapa Kau..!!"Pekik Edward saat wajah anak laki-laki itu begitu mirip dengan dirinya di masa lalu.
Anak laki-laki itu diam dan menatap Edward dengan kedua mata yang berkaca-kaca dan tersirat sebuah kerinduan dari sorot matanya.
"Siapa Kau..?!!"Sentak Edward dengan membolakan kedua matanya.
"Papah..."Lirihnya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Edward.
"Kenapa Papah membunuh ku..!!"Serunya seketika merubah mimik wajahnya.
"Apa maksud mu?!"Tukas Edward dengan kening yang mengerut.
"Papah, Apa salahku Papah... Kenapa Papah membunuhku."Ujar Anak laki-laki itu dengan kaki mungilnya melangkah menghampiri Edward.
"Sialan Kau..!! Apa maksud mu dan berhentilah memanggilku dengan panggilan yang menjijikkan itu."Sentak Edward dengan lengkingan suaranya tidak membuat Anak laki-laki itu gentar untuk menghampiri Edward.
"Papah Jahat...!!"
"Papah pembunuh..!!"
"Pembunuh..!!"
"Kau..!!"Seru Edward menunjuk Anak laki-laki itu. Namun, seketika tubuh Edward mematung saat melihat tubuh Anak laki-laki penuh dengan noda darah begitu pun dengan sorot matanya yang menatap dirinya dengan tajam.
"Pembunuh..!!"Desis Anak laki-laki itu dengan penuh penekanan.
"Tuan...!!"Panggil Sean saat melihat Tuannya lagi-lagi mengigau dan bermimpi buruk dalam tidurnya.
"Aku bukan pembunuh..!!"Ucap Edward dengan bulir-bulir keringat sebiji jagung yang membasahi pelipis wajah laki-laki itu
"Tuan...!!"Seru Sean dengan menepuk pundak Edward dengan sedikit kencang.
Kedua mata Edward mengerjab dengan nafas yang tersengal-sengal. Sorot mata laki-laki itu itu kosong dalam sekejap sebelum suara Sean menyentak Edward dalam lamunannya.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"Tanya Sean dengan nada penuh ke khawatiran saat melihat wajah sang Tuan yang pucat pasi.
"Sialan..!!"Umpat Edward dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tuan, Lebih baik Anda pulang terlebih dahulu. Biarkan saja saya yang menyelesaikan semua pekerjaan Anda."
Tutur Sean.
"Itu semua tidak perlu dan berhentilah mengkhawatirkan ku, Aku baik-baik saja."
Tukas Edward dengan cepat.
"Tapi Tuan..."Sahut Sean.
"Pergilah dan selesaikan semua pekerjaan mu."Titah Edward dengan tegas dan membuat Sean mau tidak mau menuruti perintah Tuannya tersebut.
Setelah Sean tidak lagi ada di ruangan nya. Tampak Edward menghembuskan nafasnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Perasaan apa ini?"Ucap Edward saat laki-laki itu mengingat wajah anak laki-laki yang ada di dalam mimpinya.
.
.
.
Sang Surya telah tenggelam di tempat peraduan nya. Di gantikan dengan warna jingga yang begitu indah di pandang mata. Kini Bianca dan briana tengah berada di halte bus yang tidak jauh dari rumah sakit tempat gadis kecil itu di rawat.
"Duduk di sini sayang..."
"Baik Mah..."
Bianca mengedarkan pandangannya dan sesekali wanita itu melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah setengah jam berlalu Bianca berada di halte bus tersebut, Namun tidak ada satupun bus yang melintas membuat wanita itu gusar terlebih lagi cuaca sudah mulai gelap pertanda akan turunnya.
"Mamah, Apakah busnya masih lama?"Ujar Briana dengan mengerjab-ngerjabkan kedua matanya saat rasa pusing masih gadis kecil itu rasakan.
"Entahlah sayang, Mamah tidak tahu." Jawab Bianca dengan menatap jalanan yang di sekitarnya.
"Shhh..."Ringis Briana sembari memegang kepalanya.
Bianca segera menghampiri Briana saat mendengar ringisan yang keluar dari bibir sang anak.
"Anna kamu baik-baik saja?"Tanya Bianca dengan nada penuh ke khawatiran.
"Mamah pusing..."Lirih Briana dengan memejamkan kedua matanya membuat kekhawatiran semakin meliputi diri wanita itu.
"Anna Tunggulah sebentar, Mamah akan mencari taksi terlebih dahulu."Ujar Bianca namun di balas gelengan kepala oleh Briana.
"Tidak Mamah, Kepala Anna pusing sekali Mamah."Seru Briana dengan menggelengkan kepalanya dan menatap Bianca dengan penuh harap.
"Kita ke rumah sakit lagi ya."Tutur Bianca membawa tubuh mungil Briana ke dalam dekapannya.
"Tidak Mamah, Anna ingin pulang saja, Anna tidak ingin ke rumah sakit lagi."Balas Briana dengan suara lirihnya.
"Sayang Mamah tidak akan tenang jika terjadi sesuatu kepada mu seperti ini." Bianca menatap sekelilingnya yang tidak ada satupun angkutan umum yang melintas di hadapannya.
"Astaga Tuhan..!! Kenapa aku bisa lupa jika hari ini para supir Angkutan sedang berdemo."Guman Bianca merutuki semua kebodohan yang wanita itu lakukan.
Cetarrr....
"Mamah...!!"Pekik Briana saat suara petir menggema membuat briana ketakutan di tempatnya.
"Mamah takut..."Lirih briana saat suara petir kembali terdengar.
"Tenanglah sayang, Mamah ada di samping mu. Semuanya akan baik-baik saja."Kata Bianca semakin mengeratkan pelukannya.
Tinn....
Tinn....
"Bianca..."Panggilnya.
Bianca membuka matanya saat namanya di panggil. Bianca terpaku melihat wanita yang ada di hadapannya, seketika itu juga Bianca mengeratkan pelukannya dan semakin membenamkan wajahnya Briana di dalam pelukannya.
"Maaf Nyonya, Saya bukan Bianca. Anda salah orang."Tukas Bianca dengan cepat.
"Tidak mungkin aku salah orang. Kau pasti Bianca.."Imbuh wanita itu dengan tegas.
"Mamah, Nenek itu siapa..?"Tanya Briana berusaha melepaskan diri dari pelukan Bianca.
"Bukan siapa-siapa sayang."Bianca kembali semakin mengeratkan pelukannya karena Briana terus berusaha melepaskan pelukannya.
"Maaf Nyonya, Saya harus pergi."Ujar Bianca sembari membawa Briana ke dalam gendongannya. Namun, gerakan Bianca terhenti saat wanita parubaya itu bersimpuh di bawah kakinya.
"Apa yang Anda lakukan Nyonya Eleana..!!"
Pekik Bianca atas apa yang di lakukan oleh Mamah Eleana.
"Bianca, Mamah mohon izinkan Mamah untuk melihat cucu Mamah."Pinta Mamah Eleana memegang pergelangan kaki Bianca.
"Berdirilah Nyonya, Wanita terhormat seperti Anda tidak baik merendah kepada wanita hina seperti saya."Seru Bianca dengan tegas.
"Mamah mohon Bianca..!!"Ucap Mamah Eleana mengatupkan kedua tangannya.
Bianca menghela nafasnya dengan kasar, Wanita itu merasa terharu karena masih ada seseorang yang menginginkan kehadiran dirinya dan Briana.
"Bangkitlah Nyonya, Jika memang Anda ingin bertemu dengan Briana."Ujar Bianca.
Seketika itu Mamah Eleana pun bangkit dan menatap Briana yang tidak lagi berada di gendongan Bianca. Tanpa terasa air mata jatuh membasahi wajah Mamah Eleana yang tidak lagi muda karena melihat wajah kuyu Briana, Cucu yang selama ini Mamah Eleana rindukan.
Tidak kuasa dengan rasa haru yang menyeruak di dalam dirinya membuat Mamah Eleana dengan cepat memeluk tubuh Briana dengan erat.
"Mamah..!!"Jerit Briana meronta-ronta dari pelukan Mamah Eleana. Rupanya gadis kecil itu merasa takut karena sosok Mamah Eleana yang begitu asing baginya.
"Jangan takut sayang, Ini Nenekmu."Ucap Mamah Eleana sontak membuat tubuh Briana berhenti meronta.
"Nenek..."Lirih gadis kecil itu dengan kedua mata yang berkaca-kaca menatap Mamah Eleana yang ada di hadapannya.
"Benar sayang, Ini Nenekmu..."Timpal Mamah Eleana dengan cepat karena melihat keraguan di wajah cucunya tersebut.
Briana menatap sang Mamah dengan tatapan menuntut. Bianca yang mengerti arti tatapan dari sang anak sontak menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis dengan memalingkan wajahnya.
Dengan mengumpulkan sedikit keberanian nya, Briana mengangkat kepalanya dan menatap wajah wanita parubaya yang ada di hadapannya dan jika di lihat dengan dekat seperti ini, Briana seakan melihat wajah Edward di dalam diri Mamah Eleana.
Mamah Eleana memejamkan matanya saat tangan mungil Briana menyentuh wajahnya.
"Ne-nenek..."Lirih Briana dengan nada yang terbata- bata.
"Iya Sayang, Ini Nenekmu."Sahut Mamah Eleana mengecup kedua tangan mungil Briana.
Bianca memalingkan wajahnya pada saat melihat Mamah Eleana dan Briana saling berpelukan. Bianca tahu bahwa selama ini briana begitu menginginkan kehadiran keluarga yang lengkap, bukan hanya sekedar kehadiran sosok Edward. Akan tetapi rupanya gadis kecil itu pun begitu menginginkan keluarga yang lengkap seperti keluarga pada umumnya. Namun Bianca tidak kuasa untuk mengabulkan keinginan sang anak.
"Shhh...."Ringis Briana saat merasakan pelukan Mamah Eleana begitu erat. Mendengar ringisan dari sang cucu sontak membuat Mamah Eleana segera mengurai pelukannya.
"Maafkan Nenek sayang."Ucap Mamah Eleana dengan nada penuh penyesalan.
Kedua bola mata Mamah Eleana membulat melihat wajah briana yang begitu pucat.
"Astaga sayang, Wajahmu pucat sekali..!!"
Pekik Mamah Eleana.
"Briana, Baik-baik saja Nek. Nenek tidak perlu khawatir seperti itu."Kata Briana yang mengerti ke khawatiran yang di rasakan oleh Neneknya tersebut.
***
Perasaan Mamah Eleana tercubit melihat kondisi rumah yang di tempati oleh Bianca dan sang cucu. Sebuah rumah yang berada di perkampungan kumuh dan begitu tidak layak pakai. Seandainya dia mengetahui dimana keberadaan Bianca dan Briana sejak lama, Mungkin saja dirinya tidak akan membiarkan Briana tinggal dan mengalami penderitaan seperti ini.
"Maafkan atas ketidaknyamanan yang Anda rasakan Nyonya."Ucap Bianca menyentak lamunan Mamah Eleana.
Rupanya Bianca merasa sungkan kepada Mamah Eleana, karena Briana memaksa wanita parubaya itu untuk ikut bersamanya sehingga membuat kegiatan Amal Mamah Eleana terpaksa di gantikan oleh Asistennya.
"Tidak apa-apa Nak."Ucap Mamah Eleana dengan menatap Bianca dengan perasaan bersalahnya.
Keheningan terjadi di antara kedua wanita berbeda generasi tersebut. Baik Bianca maupun Mamah Eleana tidak tahu harus memulai obrolan mereka dari mana.
"Bianca..."Panggil Mamah Eleana setelah beberapa lama wanita parubaya itu terdiam.
"I-iya Nyonya..."
"Sejujurnya sudah sejak lama Mamah mencari keberadaan mu dan ingin meminta maaf atas semua perbuatan yang telah di lakukan oleh Edward kepadamu. Meskipun Mamah tahu, Kata Maaf yang Mamah ucapkan tidak akan pernah menyembuhkan luka yang telah di torehkan kepadamu."
Seru Mamah Eleana dengan nada penuh penyesalan.
Bianca tersenyum mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Mamah Eleana. Mungkin di masa lalu Bianca akan menangis dan berujar kepada Tuhan, Kenapa Tuhan memberikan semua penderitaan yang bertubi-tubi kepada dirinya. Namun untuk sekarang Bianca mencoba berdamai dan menerima semua jalan kehidupan yang telah Tuhan tuliskan kepada dirinya.
"Anda tidak perlu meminta maaf seperti itu kepada saya Nyonya. Saya sudah ikhlas dan memaafkan semua perbuatan yang telah Tuan Edward lakukan kepada saya. Mungkin semua yang terjadi kepada saya, adalah cara Tuhan untuk mendewasakan diri saya."
Tutur Bianca dengan menyematkan senyuman khas wanita itu.
Bukan lega yang di rasakan oleh Mamah Eleana mendengar kata maaf yang di ucapkan oleh Bianca. Namun, rasa bersalah semakin menguasai diri wanita parubaya itu karena menyadari kebodohan yang telah di lakukan oleh Edward sang anak, karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik Bianca.
Jangan lupa
Like
Comment
Vote
Rate
Favorit