
Di sebuah Bar mewah yang cukup terkenal di kota xxx, Seorang laki-laki tengah duduk menyendiri dengan beberapa botol-botol minuman di meja hadapan laki-laki itu.
"Akhh berhenti memanggilku Sialan..!!"Pekik Edward dengan menutup kedua telinganya saat suara gadis kecil itu terus-menerus memanggil namanya.
Entah berapa banyak botol minuman yang telah laki-laki itu habiskan, pikiran Edward berkecamuk terlebih lagi kehadiran sosok gadis kecil yang memanggilnya dengan sebutan Papah dan tidak lupa sorot mata penuh kerinduan saat menatap wajahnya membuat perasaan dan pikiran Edward kacau. Walaupun sering kali mulut laki-laki itu mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak pantas untuk anak sekecil Briana. Namun Edward tidak bisa membohongi dirinya, karena di dalam lubuk hati kecilnya Edward merasakan perasaan yang sulit untuk laki-laki itu jabarkan saat melihat air mata Briana saat memanggilnya dengan sebutan Papah.
"Ckck Sialan..!!"Sebuah decakan keluar dari bibir Edward saat laki-laki itu mengingat wajah sendu dan penuh kerinduan Briana saat menatap wajahnya.
Sementara itu tidak jauh dari tempat Edward, tampak sepasang mata menatap Edward dengan penuh arti. Namun tersirat sebuah perasaan bersalah lewat sorot matanya.
"Edward..."Panggil nya dengan suara lirihnya.
Seketika rasa sesak menyeruak di dalam dirinya saat mengingat apa yang telah dia lakukan di masa lalu terhadap Edward. Karena seorang wanita dirinya rela merusak dan mengkhianati persahabatan yang telah mereka jalin selama ini.
"Maafkan aku Edward."Lirihnya dengan mengusap wajahnya dengan kasar saat mengingat semua kesalahan-kesalahan yang telah dirinya lakukan.
Dengan sedikit keberanian yang ada di dalam dirinya, Laki-laki itu bangkit dan melangkahkan kakinya menghampiri Edward. Namun saat laki-laki itu beberapa langkah dari Edward, lengannya di cekal oleh seseorang di belakang tubuhnya.
"Sean...!!"Pekiknya dengan kedua mata yang membelik saat mengetahui bahwa Sean lah yang mencekal lengannya.
"Tuan Marvin..!!"Ucap Sean penuh penekanan melihat kehadiran laki-laki yang telah menghancurkan kehidupan Tuannya tersebut.
Tatapan mata Sean begitu tajam dan kebencian terlihat jelas dari sorot matanya Asisten Edward itu. Masih jelas di ingatan Sean bagaimana dengan angkuh dan congkaknya Marvin saat mengakui semua perbuatan yang telah laki-laki lakukan kepada Edward. Dan mengingat semua perbuatan yang telah di lakukan oleh Marvin kepada Tuannya tanpa sadar membuat Sean mencengkeram pergelangan tangan Marvin.
"Shhh..."Ringis Marvin membuat Sean tersadar atas apa yang telah dirinya lakukan.
Sean tidak meminta maaf karena apa yang di rasakan Marvin saat ini, tidak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan oleh Edward karena pengkhianatan yang telah di lakukan oleh laki-laki itu.
"Anda akan kemana Tuan?"Tanya Sean penuh penekanan melihat tatapan mata Marvin selalu mengarah kepada Tuannya.
"Lepaskan..!!"Seru Marvin saat Sean tidak kunjung melepaskan cengkeramannya.
"Saya tidak akan melepaskan Anda, Sebelum Anda menjawab pertanyaan saya!"
Tukas Sean dengan nada yang menuntut.
"Ckck..."Decak Marvin tanpa mengindahkan pertanyaan dari laki-laki yang ada di hadapannya. "Apakah itu menjadi urusan mu aku akan kemana dan bertemu dengan siapa?"Imbuh Marvin dengan nada yang menantang.
"Saya peringatkan kepada Anda! Jangan pernah sekalipun Anda berniat mengusik kembali kehidupan Tuan Edward, Karena Jika Anda berani kembali mengulangi apa yang telah Anda lakukan di masa lalu, Saya tidak segan-segan menghancurkan Anda. PWalaupun Tuan Edward melarang saya."
Ujar Sean dengan nada penuh ancaman begitu pun dengan kedua sorot matanya.
Marvin tergugu di tempatnya mendengar semua penuturan Sean, Laki-laki itu tidak takut atas ancaman yang telah di lontarkan oleh Sean. Akan tetapi kata-kata terakhir yang di ucapkan oleh Sean membuat laki-laki itu terhenyak di antara tidak ke berdayaanya.
"A-apa maksud mu Sean?!"Tanya Marvin dengan nada terbata-bata.
"Saya rasa, Saya tidak perlu menjelaskan semuanya kepada Anda! Namun, yang harus Anda ketahui Tuan Marvin yang terhormat, Suatu hari nanti pasti Anda akan menyesal karena telah mengkhianati pertemanan Anda dengan Tuan Edward."
Seru Sean dengan nada penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Silahkan Anda pergi Tuan Marvin dan Jika Anda berkenan jangan pernah sekalipun Anda menunjukkan wajah Anda lagi di hadapan Tuan Edward."Ujar Sean dengan tersenyum miring.
"Kau...!!"Pekik Marvin dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Silahkan Tuan..."Cetus Sean dengan senyuman yang semakin tercekat di wajah tampannya.
"Sialan kau Sean..!!"Dan mau tidak mau Marvin pun berlalu meninggalkan kaki tangan temannya itu. Atau lebih tepatnya mantan temannya.
..
Bianca mengusap kepala sang anak yang kini tengah terlelap di dadanya. Wanita satu anak itu memeluk erat tubuh mungil Briana dengan sesekali mengecup pucuk kepala gadis kecil itu.
Tangan hangat Bianca sesekali terulur mengusap jejak-jejak air mata yang membekas di wajah cantik Briana dengan bersenandung pelan. Ya, akhirnya Briana menangis juga. Setelah sekian lama Briana tidak menangis di hadapannya, Briana seolah membentengi dirinya dan berusaha kuat di hadapan sang Mamah. Namun setelah Brianna bertanya mengapa Sang Papah begitu membencinya akhirnya gadis kecil itu tidak kuasa menahan air matanya.
Terkadang wanita itu merasa bersalah karena tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk sang anak. Dan Dia tahu bahwa Briana menjadi pendiam karena dirinya. Namun apa yang harus wanita itu lakukan, di kala laki-laki yang di rindukan kehadirannya oleh Briana menolak mentah-mentah kehadiran mereka.
"Sayang, Maafkan Mamah karena selama ini telah membuat kamu menderita. Namun Mamah janji suatu Nanti saat kita pasti akan bahagia."Guman Bianca mengecup kening dan seluruh permukaan wajah buah hatinya itu.
"Astaga panas sekali..!!"Seru Bianca saat merasakan suhu panas di tubuh sang anak.
Seketika wanita itu di serang rasa panik, dengan perlahan-lahan Bianca pun mengangkat kepala Briana dari dekapannya dan menaruhnya di atas bantal. Namum baru beberapa langkah wanita itu meninggalkan Briana, Gumanan Briana menghentikan langkah wanita itu.
"Papah... Papah.."Ucap Briana dengan lirih tanpa membuka kedua matanya.
Bianca tergugu di tempatnya mendengar rancauan Briana dalam tidurnya. Hati wanita itu merasa sakit melihat betapa besarnya Briana merindukan kehadiran sosok Papah kandungannya. Namun, dengan teganya Edward menghancurkan semua harapan gadis kecil itu tentang kehadirannya.
"Papah..."Rancau Briana dengan bulir-bulir keringat yang membasahi pelipisnya.
"Anak Mamah sayang."Lirih Bianca seraya menyeka keringat Briana. "Kenapa kamu tidak pernah melewatkan satu malam pun tanpa menyebutkan nama Papah mu hmm?"
Imbuh Bianca dengan tersenyum kecut.
"Apakah kamu begitu menyayangi Papah mu, melebihi Mamah? Sehingga dalam tidur pun kamu memanggil nama Papah mu sayang?"Tutur Bianca menatap wajah sang anak yang kini tengah terlelap dalam buaian nya.
Malam pun berlalu dengan cepat....
Bianca menatap Briana dengan intens yang kini tengah memakai seragam sekolahnya. Meskipun suhu tubuh gadis kecil itu telah berangsur turun dan tidak panas seperti saat semalam. Namun tetap saja Bianca yang sebagai seorang ibu Bianca mengkhawatirkan kondisi sang anak saat ini.
"Anna..."Panggil Bianca tanpa mengalihkan pandangannya dari sang anak. Briana yang kini tengah mengancingkan bajunya pun sontak menghentikan kegiatannya dan mengalihkan tatapannya kepada Bianca yang kini tengah menatapnya dengan intens.
"Iya, Ada apa Mah?"Tanya gadis kecil itu membalas tatapan sang Mamah.
"Kamu yakin akan sekolah hari ini sayang?"
Ujar wanita itu dengan nada penuh ke khawatiran, terlebih lagi saat melihat wajah Briana yang masih pucat pasi.
"Baiklah jika memang itu keputusan kamu Nak."Ucap Bianca sembari memijat pelipisnya yang berdenyut karena semalam suntuk wanita itu tidak tertidur karena menjaga Briana yang sedang demam.
Briana menyandarkan kepalanya di jendela bus yang sedang gadis kecil itu naiki, Sesekali Briana menatap wajah sang Mamah yang kini tengah memejamkan kedua matanya di sebelahnya. Sorot mata Briana meredup saat guratan lelah di wajah wanita yang melahirkannya.
"Maafkan Anna Mah..."Bisik gadis kecil itu.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu menatap Mamah seperti itu hemm?"Tanya Bianca tanpa membuka kedua matanya.
"Mamah tidak tidur?!"Ujar Briana dengan kedua mata yang membelik mendengar suara Bianca.
"Kenapa sayang?"Perlahan Bianca membuka kedua matanya dan mengalihkan pandangannya menatap Briana yang kini juga tengah menatapnya
"Tidak Mah..."Jawab Briana dengan tarikan nafasnya dengan kasar.
"Jika kamu masih kurang sehat, lebih baik kita pulang saja ya?"Ujar Bianca dengan mengusap pucuk kepala Briana dengan sayang.
"Tidak Mamah, Anna baik-baik."Tukas Briana dengan cepat.
Tidak sampai tiga puluh menit, bus yang di tumpangi oleh mereka pun telah sampai di sebuah halte dekat dengan sekolah Briana.
"Mamah pergi dulu ya sayang?"Ucap Bianca setelah sampai di depan ruang kelas sang anak.
"Iya Mah, Hati-hati..."Balas Briana.
Gadis kecil itu pun segera masuk ke dalam kelasnya setelah sang Mamah tidak lagi terlihat dari jangkauan nya.
Brakk...
Briana terjatuh saat seseorang dengan sengaja mencekal kakinya, sontak sorak tawa menggema di dalam ruang kelas itu melihat gadis kecil itu terjatuh dengan sangat mengenaskan. Belum sembuh luka di lututnya kemarin, kini gadis kecil itu semakin merasakan nyeri di lututnya.
"Mamah sakit..."Ringis Briana dengan lirih.
Briana mendongkakan kepalanya melihat sepasang kaki berada di depannya. Dan tepat yang tepat seperti yang gadis kecil itu pikirkan, Lyara tengah berdiri dengan hadapannya dengan senyuman penuh kemenangan.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu? Kau marah?"Seru Lyara dengan nada penuh ejekan.
Briana menatap wajah Lyara dengan malas, Gadis kecil itu pun bangkit dan berlalu meninggalkan Lyara yang kini berusaha membuat masalah dengannya.
"Beraninya Anak haram itu mengacuhkan ku."Guman Lyara dengan mengepalkan kedua tangannya.
Dengan di liputi amarah Lyara pun menghampiri Briana. "Mana Tugasku..?"
Seru Lyara dengan menggebrak meja Briana.
Briana terjingkak saat Lyara menggebrak mejanya. Namun, sebisa mungkin Briana menormalkan raut wajahnya agar Lyara tidak semakin membullynya.
"Dimana Tugasku..!!"Tekan Lyara dengan menatap tajam Briana.
Briana pun membuka tasnya untuk mengambil buka Lyara dan yang lainnya. Namun, kedua mata Briana membelik saat tidak menemukan satu pun buku-buku Lyara dan teman-temannya. Seingatnya saat pagi tadi dia telah menaruh buku-buku itu ke dalam tasnya.
"Dimana buku itu?!"Guman Briana dengan wajah yang mulai pucat pasi.
"Maaf Lyara, Sepertinya aku lupa membawa buku kalian."Ucap Briana tanpa berani menatap Lyara dan teman-temannya.
"Apa..!!"Pekik Lyara mendengar ucapan Briana.
"Lyara bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?"Seru salah satu teman Lyara dengan nada cemasnya.
"Bisakah kau diam..!!"Tukas Lyara.
"Tidak Lyara, Sungguh sebelum berangkat sekolah aku telah memasukkan buku-buku kalian, tapi aku tidak tahu kenapa sekarang buku-buku kalian tidak ada di dalam tasku."
Ujar Briana dengan sungguh-sungguh.
"Alasan saja kau..!! Kau pasti sengaja kan melakukan nya? Agar kita mendapatkan hukuman dari ibu guru?"
"Tidak Lyara..."
"Kau..!!"Tunjuk Lyara dengan wajah yang memerah.
"Selamat pagi Anak-anak..."Lyara menghentikan ucapannya saat seorang guru wanita masuk ke dalam kelasnya.
"Lyara ibu guru datang."Ujar salah satu teman Lyara dengan nada paniknya.
"Diamlah! Aku sudah mengetahuinya."
Imbuhnya.
"Urusan kita belum selesai..!!"Seru Lyara penuh penekanan sebelum pergi meninggalkan bangku Briana.
Like
Comment
Rate
Vote
Favorit
Gift