
Perasaan cemas dan gelisah kini tengah menyelimuti diri wanita satu anak itu. Pada saat Bianca harus menunggu tanpa kepastian bagaimana kondisi Briana saat ini yang tengah berada di dalam ruangan yang ada di hadapannya.
"Ya Tuhan.."Ucap Bianca dengan kegusaran yang tercekat jelas di wajah kuyunya.
"Duduklah Bianca, jangan mondar-mandir seperti itu..!!"Seru Nenek Clara yang mulai jengah akan kelakuan wanita yang ada di hadapannya.
"Nenek..."Ujar Bianca dengan suara seraknya.
"Kenapa Dokter itu lama sekali Nek? Apakah telah terjadi sesuatu yang serius terhadap Briana Nek?"Imbuhnya.
"Bianca..!! Tidak baik berkata seperti itu?" Tegur Nenek Clara dengan gelengan kepalanya.
Bianca menghembuskan nafasnya dengan kasar agar kegelisahan itu sedikit berkurang di dalam dirinya.
"Nenek, Kenapa lama sekali..."Ujar Bianca setelah beberapa saat wanita itu terdiam.
"Astaga Tuhan Bianca..!! Bisakah kau untuk tenang sedikit saja?! Lebih baik sekarang kau meminta kepada Suster untuk mengobati luka di kening mu itu!"Tukas Nenek Clara dengan melihat wajah pucat Bianca.
"Tidak Nek, Bianca tidak akan pergi kemana-mana sebelum mengetahui bagaimana kondisi Briana."Tolak Bianca dengan cepat.
"Baiklah, Semua itu terserah padamu."
Balas Nenek Clara yang mengerti akan ke khawatiran yang kini tengah Bianca rasakan.
Entah sudah berapa lama Bianca menunggu di depan pintu kaca itu sehingga terbuka dan seorang Dokter keluar dari ruangan itu dengan menyeka peluh yang berada di pelipisnya.
Bianca yang melihat itu pun sontak segera mendekati Dokter tersebut, dengan sejuta cercaan pertanyaan yang wanita itu lontarkan.
"Dokter, Bagaimana keadaan putri saya Dok?" Tanya Bianca setelah berada di hadapan Dokter tersebut.
"Keadaan pasien untuk saat ini sudah berangsur membaik Nyonya, begitu pun demam yang pasien derita. Dan untuk memastikan kondisi pasien lebih lanjut, saya menyarankan agar pasien di rawat inap malam ini dan Jika keadaan pasien mulai membaik, pasien bisa di bawa pulang esok hari."Tutur Sang Dokter membuat Bianca bisa bernafas dengan lega untuk sejenak.
"Lakukan Dok. Lakukanlah yang terbaik untuk anak saya."Jawab Bianca dengan sungguh- sungguh.
"Baik Nyonya..."
Setelah memeriksa kondisi Briana, Dokter itu pun meminta Bianca untuk mengurus biaya Administrasi penginapan Briana di rumah sakit malam ini.
"Dan untuk Anda Nyonya, Sebaiknya Anda membersihkan terlebih dahulu luka di kening Anda. Jika di biarkan seperti itu, kemungkinan infeksi akan terjadi di luka Anda."Ujar Dokter itu sebelum pergi meninggalkan Bianca.
"Ba-baik Dok..."Jawab Bianca dengan senyuman paksanya.
"Mari Nyonya..."Seru seorang suster menginterupsi Bianca untuk masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
"Nenek..."Bianca pun mengalihkan pandangannya menatap Nenek Clara yang kini tengah menatap Bianca pula.
"Masuklah Bianca, Nenek akan menunggu kamu disini."Ujar Nenek Clara tanpa beranjak dari posisinya.
"Maafkan Bianca Nek, Karena lagi-lagi Bianca membuat Nenek repot."Tutur Bianca dengan mengingat segala kebaikan yang telah Nenek Clara lakukan kepada dirinya selama ini.
Nenek Clara pun sontak beranjak dari posisinya setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Bianca.
"Apa yang kamu katakan Bianca?! Nenek sudah menganggap seperti cucu Nenek sendiri. Dan Jika kamu berkata seperti itu, sama saja kamu melukai hati Nenek Bianca." Tukas Nenek Clara dengan menahan kegeraman di hatinya akan ucapan yang di lontarkan oleh Bianca.
"Maafkan Bianca Nek, Bianca tidak bermaksud menyinggung perasaan Nenek." Kata Bianca dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Nenek Clara hanya diam dan membuang pandangannya enggan menatap Bianca. Wanita parubaya itu tidak marah kepada Bianca, hanya saja Nenek Clara hanya ingin memberikan Bianca sedikit pelajaran untuk tidak berbicara sembarangan lagi di masa yang akan datang.
"Nenek..."Panggil Bianca saat wanita parubaya itu tidak menatap dirinya dan rasa bersalah semakin menghantui diri Bianca.
"Maafkan Bianca Nek, Bianca tidak bermaksud berkata seperti itu kepada Nenek. Maafkan Bianca..."Tutur wanita itu dengan penuh sesal.
"Hemm..."Balas Nenek Clara dengan sebuah deheman.
"Nek..."Panggil Bianca namun tidak kunjung mendapatkan sahutan dari Nenek Clara.
Akhirnya dengan perasaan bersalah yang menyelimuti wanita itu, Bianca masuk ke dalam ruangan perawatan untuk mengobati luka di keningnya.
"Astaga kebodohan apa yang kamu lakukan Bianca..!!"Rutuk Bianca dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
.
.
.
.
.
Perusahaan pusat Dimitri.
Pagi ini suasana di perusahaan Dimitri cukup ramai, dengan para karyawan berlalu lalang memasuki perusahaan besar itu dan para pegawai OB tengah melakukan tugasnya membersihkan setiap sudut perusahaan itu.
Dengan langkah yang lebar dan raut wajah dingin nya Edward memasuki lobby perusahaan Para karyawan yang melihat kedatangan pemilik perusahaan dan asistennya itu pun sontak menghentikan langkahnya dan menundukkan kepalanya sebagai bentuk rasa hormat mereka kepada dua orang yang berpengaruh di dalam perusahaan tempat mereka bekerja.
Semua berjalan normal seperti biasanya, tanpa ada satupun karyawan yang mengungkit kejadian dimana Edward menyeret paksa seorang wanita yang mereka ketahui adalah mantan istri Edward. Walaupun kejadian kemarin menjadi trending topik dan pembicaraan dimana- mana, Sehingga membuat saham perusahaan turun saat itu juga.
"Selamat datang Tuan Edward, Tuan Sean." Ucap mereka dengan serempak dan membungkukkan badannya.
Edward hanya diam dan berlalu tanpa menjawab sapaan para bawahannya itu. Sedangkan Sean sedikit menganggukkan kepalanya sebagai balasan sapaan para karyawan.
"Bagaimana? Apakah kau sudah membungkam semua media yang telah menyebarkan berita tentang ku?"Tanya Edward setelah laki-laki itu lama terdiam.
"Semua sesuai yang Anda minta Tuan. Dan saya pastikan tidak ada satupun lagi media yang berani membuat berita tentang Anda lagi."Ucap Sean dengan cepat dan tegas.
Edward menggelengkan kepalanya saat peristiwa kemarin masih terekam jelas di ingatan nya dan bagaimana raut wajah Bianca yang memohon kepadanya agar mengakui anak wanita itu sebagai anaknya.
"Ckck... Wanita Ja'ang itu! Dia pikir aku akan percaya bahwa anaknya itu adalah anakku. Meskipun Jika benar anak Ja'ang itu adalah darah dagingku, Mana sudi aku mempunyai anak dari seorang wanita murahan sepertinya."Desis Edward dengan lirih namun dapat di denger jelas oleh Sean yang berdiri tepat di samping laki-laki itu.
"Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya Anda jika mengetahui semua kebenaran nya Tuan? Apakah semua kesombongan Anda masih akan bertahan, setelah semua kebenaran itu terbongkar?" Guman Sean menatap atasannya itu dengan cukup intens.
"Kenapa kau menatap ku seperti Sean..!!" Tukas Edward dengan menatap lurus di depannya.
"Maafkan saya Tuan..."
Setelah pintu lift terbuka Edward maupun Sean keluar dari lift dan melanjutkan pembahasan yang belum mereka usaikan.
"Selamat datang Tuan Edward, Tuan Sean..."Ucap Para sekertaris saat dua laki-laki itu akan masuk ke dalam ruangan Edward.
Dan lagi-lagi Edward hanya diam dan berlalu pergi meninggalkan para sekertaris nya tanpa membalas sapaan mereka.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"Tanya Sean dengan nada penuh ke khawatiran melihat apa yang di lakukan oleh Tuannya itu.
"Hemm..."Jawab Edward tanpa menghentikan apa yang laki-laki itu lakukan.
"Maaf Tuan, bolehkah saya masuk?"Seru seorang wanita di depan pintu ruangan Edward.
"Iya..."
Tidak lama kemudian datanglah salah satu sekertaris Edward dengan beberapa tumpuk berkas yang harus Edward tanda tangani.
"Kau boleh pergi?"Ujar Sean setelah sekertaris itu menaruh berkas di meja yang ada di hadapan Edward.
"Baik Tuan..."Jawab sekertaris itu dengan membungkukkan badannya sebelum pergi meninggalkan atasannya itu.
"Bagaimana dengan proyek kerja sama kita di kota S?"Tanya Edward setelah laki-laki masuk ke dalam lift khusus untuk para petinggi perusahaan.
"Semua sesuai dengan perintah Anda, Tuan."Jawab Sean dengan cepat.
"Hemm..."
"Semua proses pembangunan kali ini berjalan lancar dan sesuai yang Anda inginkan. Dan semua proses di pantau dengan ketat oleh orang-orang kepercayaan kita dan saya pastikan tidak ada lagi hambatan dalam proyek kita yang ada di kota S."Tutur Sean dengan tegas dan Edward pun menganggukkan kepalanya paham.
"Kerja yang bagus. Terus pantau kinerja kerja mereka dan jangan sampai kejadian yang tidak terduga terulang kembali."Seru Edward dengan nada penuh penekanan.
"Baik Tuan..."Jawab Sean.
.
.
.
.
Bianca menatap sendu ke arah sang anak yang kini tengah terbaring di atas brankar rumah sakit. Setelah gadis kecil itu sadar beberapa jam yang lalu, tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir mungil Briana dan tatapan mata gadis kecil itu kosong membuat hati Bianca bagaikan tertusuk ribuan jarum.
Bianca tahu bahwa Briana masih syok atas apa yang terjadi kepada mereka. Namun Bianca tidak menyangka bahwa efek perbuatan dari perbuatan Edward akan seperti ini kepada Briana.
"Briana sayang."Panggil Bianca dengan suara lirihnya.
Dan lagi-lagi Briana hanya diam dengan pandangan kosongnya. Hati Bianca hancur sehancur-hancurnya melihat anak yang dirinya perjuangkan selama ini hancur karena sosok Papah yang selama ini gadis kecil itu rindukan.
Bianca menyesal, sangat menyesal akan keputusan yang telah dirinya ambil dan yang saat ini Bianca lakukan hanyalah merutuki semua kebodohan yang telah dirinya lakukan.
Andai saja Bianca tidak tergoyahkan melihat wajah sendu dan penuh harap Briana saat ingin bertemu Papah nya, mungkin saja kejadiannya tidak seperti ini.
"Cobaan apalagi ini Tuhan..."Guman Bianca dengan menyeka air matanya.
"Mamah mohon jangan seperti ini sayang." Lirih Bianca dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hati Mamah hancur melihat mu seperti ini Anna."Bianca tidak kuasa menahan air matanya melihat kondisi Briana yang begitu rapuh setelah mengetahui kebenaran tentang Papah kandungannya.
"Mamah mohon jangan seperti ini Anna. Mamah tidak sanggup melihat mu seperti ini sayang. Anna adalah alasan Mamah untuk bertahan selama ini. Jika Anna seperti ini, apa lagi alasan Mamah untuk bertahan di dunia ini sayang."Seru Bianca dengan suara tersendat-sendat karena tangisannya.
Bianca menelengkupkan wajahnya saat wanita itu tidak kuasa menahan tangisannya. Bianca lemah, lemah jika semua itu menyangkut sang anak.
"Ya Tuhan..!!"Pekik Bianca dengan memukul-mukul kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tidak bisakah semua cobaan ini berhenti?! Hamba ini sudah begitu lelah Tuhan...!!"
"Hiks-hiks..."
"Briana...!!"Pekik Bianca seketika mendongkakan kepalanya saat mendengar suara isakan di sebelahnya.
"Ada apa sayang? kenapa menangis hmm?" Tanya Bianca dengan suara seraknya dan menyeka air mata Briana.
"Hiks-hiks Ma-maafkan Briana Mah..!! Karena lagi-lagi Ana membuat Mamah menangis."Ucap Briana dengan suara lirihnya.
"Tidak sayang, Jangan berkata seperti itu..!!"Ujar Bianca dengan menggelengkan kepalanya.
"Seharusnya Anna mengerti, Jika Mamah melarang Anna, pasti Mamah memiliki alasan tertentu dan semua larangan Mamah itu pasti adalah yang terbaik untuk Briana."
Seru Briana dengan air mata yang tidak berhenti mengalir di kedua pelupuk mata gadis kecil itu.
"Anna benci Papah Mamah! Kenapa Papah begitu tega seperti itu kepada kita Mah. Apa semua itu alasan Mamah merahasiakan siapa sosok Papah kandung Anna? Apakah di masa lalu, Papah pun pernah melakukan hal seperti ini kepada Mamah?"Cerca Briana depan menatap Bianca dengan penuh arti.
Bianca terdiam dan tidak tahu harus berkata apa kepada Briana. Briana yang melihat keterdiaman sang Mamah pun mengerti bahwa apa yang di ucapkan nya benar adanya.
"Anna Mamah..."Imbuh Bianca.
"Mamah tidak perlu menjelaskan nya! Karena tanpa Mamah menjawabnya, Anna sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan Anna."Tukas Briana dengan tersenyum getir mengingat semua yang terjadi kepada sang Mamah karena dirinya.
"Pasti ini sakit?"Ujar Briana mengusap kening sang Mamah yang terbalut perban.
"Tidak sayang, ini tidak sakit sama sekali." Balas Bianca dengan cepat.
"Mamah jangan berbohong..!!"Ujar Briana dengan kening yang mengerut.
"Benar sayang, ini tidak sakit sama sekali. Mamah akan lebih sakit jika Kamu seperti seperti ini."Jawab Bianca membawa tangan Briana ke dalam genggaman nya dan mengecup tangan mungil gadis kecil itu.
"Mamah mohon jangan seperti itu lagi. Kamu membuat Mamah takut Anna."Pinta Bianca dengan penuh harap.
"Maafkan Anna Mah..."Kata Bianca dengan menundukkan kepalanya.
Jangan lupa
Like
Comment
Rate
Vote
Favorit
Gift