Oh My Baby

Oh My Baby
Part 32


Sang Surya sudah nampak naik di atas tempat peraduannya. Cahayanya menyinari apapun yang di lalui nya, Pantulan pantulan sinarnya membias setiap sudut kamarnya melalui celah-celah jendela yang hanya di balut kain tipis transparan, Namun sinarnya mampu menjamah siapapun yang berada di sana. Suara kicau burung saling bersahutan dan terdengar samar-samar di pendengaran Bianca yang entah berasal dari mana.


Bianca mengerjab ngerjabkan kedua matanya saat rasa nyeri di sekujur tubuhnya terutama di bagian perut dan intinya. Hingga kedua manik mata madunya berbinar saat kedua kelopak mata itu terbuka dengan sempurna.


"Jam berapa ini?"Bianca berusaha menggerakkan tubuhnya untuk mengambil ponselnya. "Sa-sakit..."Lirih Bianca dengan ringisan di akhir kalimatnya karena rasa sakit itu membuat Bianca sulit untuk bergerak.


"Ya Tuhan, Apa yang terjadi kepadaku?!"Tanya Bianca kepada dirinya sendiri. Wanita hamil itu pun tampak kembali berusaha untuk menggerakkan tubuhnya, Namun usaha wanita hamil itu terasa sia-sia karena Sungguh rasa sakit itu membuatnya kepayahan.


Bianca meringis saat perutnya terasa kencang dan kram membuat Bianca sedikit sulit untuk bernafas."Anak-anak Mamah kalian Kenapa? Jangan nakal dan membuat Mamah susah." Kata Bianca seraya mengelus permukaan perutnya.


Suara perut Bianca begitu nyaring sehingga memecahkan kesunyian di dalam ruangan itu."Anak-anak Mamah lapar ya? Mamah mohon bersabar sebentar. Mungkin sebentar lagi ada orang baik yang membantu kita."


Sementara di ruangan yang berbeda Asisten Kai tengah duduk di sebuah kursi dengan Dokter Andreas yang kini tengah mengobati luka-luka akibat Bogeman mentah dari Edward.


"Astaga kenapa bisa separah ini."Decak Dokter Andreas yang merasa ngilu melihat luka-luka yang Edward berikan kepada Asisten Kai.


"Ini semua salah Anda Dokter."Tuding Asisten Kai menatap sinis Dokter Andreas.


"Apa? Kau menyalahkan ku?"Pekik Dokter Andreas yang tidak terima di salahkan oleh Asisten Kai. Walaupun dia tahu apa yang terjadi kepada Asisten Kai sedikitnya karena salahnya.


"Benar. Jika dokter tidak memberikan ide konyol seperti itu kepada saya. Mungkin saja semua ini tidak terjadi kepada saya." Sungut Asisten Kai dengan tersenyum kecut.


"Apa yang terjadi Kai? Kenapa Edward bisa memukuli mu seperti itu? Apa kau melakukan Kesalahan sehingga Edward begitu murka kepadamu?"Tanya Cleona bertubi-tubi namun tidak satupun dari pertanyaan nya mendapatkan Jawaban dari Asisten Kai maupun Dokter Andreas.


Dokter Andreas maupun Asisten Kai saling lirik dan beradu pandangan, Kedua laki-laki itu saling memberi kode tentang siapa yang akan menjelaskan kepada Cleona tentang permasalahan yang menimpa Edward dan jebakan mereka kepada Bianca.


"Biarkan Dokter Andreas saja yang menjelaskan nya Nona Cleo, Karena semua yang terjadi kepada saya maupun Tuan Edward adalah ide dokter Andreas."Tutur Asisten Kai membuat kedua bola mata Dokter muda itu terbelalak.


"Kaisar Sialan...!!"Umpat Dokter Andreas di dalam hatinya. Dengan sengaja Dokter Andreas menelan luka yang ada di wajah Asisten Kai, Sehingga membuat laki-laki itu memekik kesakitan.


"Apa yang Anda lakukan Dokter?"Ringis Asisten Kai memegang luka yang di tekan oleh Dokter Andreas.


Cleona menggelengkan kepalanya seraya mendecakan bibirnya saat melihat kelakuan kedua laki-laki yang ada di hadapannya.


"So, Siapa yang akan menjelaskan kepadaku?" Tanya Cleona menginterupsi perdebatan antara Dokter Andreas dan Asisten Kai.


"Silahkan Dok..."Kata Asisten Kai dengan tersenyum mengejek ke arah Dokter Andreas.


Dokter Andreas pun menghela nafasnya sebelum menceritakan apa yang terjadi kepada Edward. Dimana ada seorang wanita yang sengaja menaruh obat perangsang di minuman Edward dan mereka yang tidak punya cara lain untuk menyelamatkan Edward dari efek obat perangsang itu selain menyalurkan hasrat Edward kepada wanita. Dan mereka tidak punya pilihan lain selain mengorbankan Bianca agar menyelamatkan nyawa Edward.


"Astaga Tuhan! Kebodohan apa yang kalian lakukan?!"Pekik Cleona terperangah mendengar semua penjelasan dari mulut Dokter Andreas. Seketika Cleona merasakan firasat buruk yang terjadi kepada Bianca. Cleona tahu bagaimana sisi buruk dan tempramen Edward, Laki-laki dapat melakukan hal apapun saat kemarahan meliputinya, Bahkan Edward tidak segan-segan bermain fisik kepada laki-laki ataupun Perempuan.


Cleona pun mengingat saat Bianca tidak sengaja menabraknya, Kedua matanya membengkak, kedua pipinya membiru dan tidak lupa sudut bibirnya yang robek tidak sedikit pula mengeluarkan darah.


"Pak Jang..."Panggil Cleona saat laki-laki parubaya itu hendak melewatinya.


"Iya Nona. Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya kepala pelayan itu setelah memberikan bow kepada ketiga orang itu.


"Tidak pak, Saya tidak membutuhkan sesuatu." Kata Cleona di iringi gelengan kepalanya."Saya hanya ingin bertanya, Apakah Anda melihat wanita itu?"Imbuhnya dengan menggigit bibirnya Karena itu adalah kebiasaan Cleona saat kegelisahan yang membelenggu wanita itu.


"Tidak Nona, Saya tidak melihat Nona Bianca sedari pagi. Mungkin Nona Bianca telah pergi saat pagi hari."mendengar penjelasan pak Jang membuat Cleona semakin gelisah."Anda ingin saya mengecek keberadaan Nona di tempatnya?"Tanya pak Jang Yang mengerti kegelisahan Cleona.


"Tidak perlu pak Jang. Biar saya saja yang menemuinya sendiri."Tolak Cleona dengan sejuta kegusaran yang ada di pikiran wanita itu.


"Ayo Andreas."Tanpa meminta persetujuan dari laki-laki itu, Cleona segera menarik lengan dokter.


"Hey Cleona! Kau ingin membawa ku kemana?" Pekik Dokter saat tubuhnya di seret paksa untuk mengikuti langkah Cleona.


Cleona hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari dokter Andreas dan wanita itu tetap melanjutkan langkahnya dengan pandangan matanya yang lurus ke depan.


"Astaga Tuhan! Cleona kau ingin mengajak ku kemana?"Tanya Dokter Andreas penuh penekanan karena sudah cukup lama dia mengikuti langkah Cleona.


"Diamlah And, Aku hanya ingin memastikan bahwa Bianca baik-baik saja."Ucap Cleona tanpa mengalihkan pandangannya. Belum sempat Dokter Andreas membuka mulutnya Cleona telah menghentikan langkahnya, membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk berbicara.


"Kenapa kau membawa ku kesini? Bukankah kau bilang ingin menemui wanita itu?! Dan bukankah ini jalan menuju danau?" Tanya Dokter Andreas dengan helaan nafasnya yang memburu.


"Ckck bisakah kau diam! Sebentar lagi kita akan sampai?!"Decak Cleona dengan memutar bola matanya malas.


Wanita itupun menghentikan langkahnya saat telah sampai di depan rumah kayu yang Bianca tempati.


""Kenapa kau membawa ku kesini? Bukankah kau bilang ingin menemui wanita itu?!"Ucap Dokter Andreas mengulangi perkataannya.


Cleona hanya melirik saja tanpa berniat menjawab pertanyaan dari laki-laki yang ada di belakangnya.


"Bianca..."Panggil Cleona di iringi tangannya mengetuk pintu. "Bianca kau ada di dalam?" Tanya Cleona.


Bianca membuka kedua matanya saat seseorang memanggil namanya dari luar.


"Lihatlah Nak, Ada orang baik yang akan membantu kita."Lirih Bianca dengan menerbitkan senyumanya.


Bianca melempar sebuah buku yang ada di sampingnya, karena Bianca tahu bahwa suaranya tidak akan terdengar sampai keluar.


Bukk....


Suara benda terjatuh membuat Cleona dan Dokter Andreas mengetahui bahwa ada seseorang di dalam sana. Dengan langkah yang tergesa-gesa Cleona dan Dokter Andreas segera masuk ke dalam.


"Bianca..."Seru mereka serempak dan menghampiri Bianca yang tengah terbaring lemah di atas kasur lantainya.


"Bianca, Kau baik-baik saja?"Tanya Cleona penuh dengan kekhawatiran.


"Sa-sakit..."Ucap Bianca dengan terbata-bata.


Andreas menatap Bianca dengan penuh arti, kedua tangannya terkepal erat dengan rahang yang mengerat. Laki-laki itu tidak habis pikir akan perbuatan Edward terhadap wanita yang berstatus sebagai istrinya.


"Edward Sialan...!!"Umpat Dokter Andreas.


"Andreas, Kenapa kau diam mematung seperti itu! Cepat kau angkat Bianca dan membawanya ke rumah sakit."Pekikan Cleona membuat laki-laki itu terhenyak dalam lamunannya.


_


_


_


"Dasar manusia Tua Bangka Sialan!"Umpat Edward di dalam hatinya.


Mamah Eleana mengelus rahang Edward yang mengerat dengan belaian tangannya. Sejujurnya sang Mamah tahu atas apa yang kini di benak Edward namun dia harus bisa tenang dan menenangkan Edward dengan caranya sendiri.


"Mamah tidak apa apa sayang."Ujar sang Mamah dengan menepiskan senyuman nya."Kamu tidak perlu merasa kekhawatiran yang berlebihan seperti itu."Sambung sang Mamah dengan menatap lamat wajah sang anak.


"Sumpah demi Tuhan mah! Aku tidak akan pernah melupakan perbuatan Papah yang selalu bertindak kasar seperti ini kepada Mamah!"Seru Edward dengan memalingkan wajahnya.


Sang mamah menepuk pundak Edward dan mengusap ngusap punggung lebar anaknya. Karena sang mamah tahu hanya itulah salah satu cara yang dapat menghilangkan emosional Edward.


"Sumpah demi nyawaku sendiri, Akan ku balas semua perbuatan laki laki itu dengan sangat menyakitkan dan tidak pernah di bayangkan oleh laki laki sialan itu!"Pekik Edward dengan menggebu-gebu bahkan aura Edward begitu mendominasi di dalam ruangan itu.


"Edward..!"Ucap sang Mamah dengan suara yang sedikit meninggi.


"Jangan berkata seperti kepada Papah mu! Seburuk buruknya papah memperlakukan mu, Laki laki yang kau sebut sialan itu adalah ayah kandung mu. Darah nya mengalir di tubuh mu dan itu semua tidak terbantahkan sama sekali."Tukas sang mamah dengan tegas.


"Stop mah! Mamah tidak perlu membela laki laki itu di hadapanku. Karena Edward sudah muak mendengar Mamah yang selalu membela laki laki itu! setelah apa yang laki-laki itu lakukan kepada Mamah!" Nafas Edward memburu terlihat jelas luapan amarahnya memuncak dan tercekat jelas di wajah tampan nya.


Sesak, itulah di yang di rasakan oleh sang Mamah. Kini dia ada di dua jurang yang saling bersisihan, di sisi kanan sang suami dan di sisi kirinya Edward putra-Nya. Dan sebisa mungkin sang Mamah harus bisa menempatkan dirinya di antara keduanya dan tidak memihak di salah satunya.


"Mah lebih baik Mamah sekarang ikut tinggal bersama Edward."Ucap Edward dengan bersungguh-sungguh."Meskipun Edward tidak sekaya Papah! tetapi Edward masih bisa membiayai kebutuhan Mamah." Imbuh Edward.


"Tidak Edward. Bukan seperti ini cara menyelesaikan permasalahannya!"Tolak Mamah Eleana.


"Kenapa mah?! Kenapa mamah tidak ingin ikut tinggal bersama Edward! Apakah Mamah ingin hidup bersama laki laki yang selalu memperlakukan Mamah dengan kasar dan tidak menghormati dan menghargai Mamah sebagai seorang istri yang selama ini menemani dirinya? Apakah Mamah akan tetap tinggal disini? dan hati Mamah akan terluka untuk kesekian kalinya atas apa yang telah Papah lakukan kepada Mamah?"Seru Edward dengan bertubi tubi sehingga membuat sang mamah tidak dapat menjawab ataupun menyela ucapan Edward.


Hati sang mamah goyah, mendengar kalimat terakhir Edward yang menusuk sanu barinya .


Apakah dia mampu untuk terluka kembali? Apakah hatinya Masih sanggup menerima itu semua? Dua puluh delapan tahun dia menjalani biduk rumah tangga bersama sang suami, tidak ada kebahagiaan, senyuman dan cinta kasih yang dia terima. Melainkan luka, tangisan dan penghianatan yang sang Mamah terima selama ini. Derita yang selama ini dirinya tanggung dengan seorang diri tanpa ada orang lain yang tahu dan tiada tempat untuk dirinya bersandar dan mengadu di setiap duka dan derita yang selama ini dirinya lewati.


"Apakah ini saatnya untuk dirinya terlepas dari semua belenggu duka yang selama ini menjerat nya?"Tanya sang mamah kepada dirinya sendiri."Tidak! Jika aku menyerah sekarang, berarti semua perjuangan ku selama ini akan berakhir dengan sia-sia" Pikir Mamah Eleana dengan mengembuskan napasnya dengan kasar.


"Tidak Edward, Sudah berapa kali Mamah katakan, bahwa mamah tidak akan pernah meninggalkan Papah mu. Apapun keadaannya." Sang mamah menolak tegas apa yang di tawarkan Edward kepada nya.


"Tapi mah... Apakah Mamah tidak lelah selalu dan terus menerus di sakiti oleh Papah selama ini."Tanya Edward dengan gusar.


"STOP EDWARD...!!"Pekik sang mamah sembari bangkit dari posisinya.


"Sudah berapa kali Mamah katakan! Mamah tidak akan pernah meninggalkan Papah kamu! Baik sekarang, Besok maupun di masa yang akan datang."Sargah sang Mamah dan setelah itu sang Mamah pun pergi meninggalkan Edward seorang diri.


"Mah...."Teriak Edward saat sang mama pergi meninggalkan dirinya dan tidak menoleh sedikit pun kepada dirinya.


"Mamah..."


"Mamah..."


"Mamah... Dengarkan Edward terlebih dahulu!" Sang mamah masih enggan untuk menengok ke Edward dan tetep terus berjalan meninggalkan Edward. Edward menggusar wajahnya dengan kasar, helaan nafas Edward terdengar kasar dan memburu.


"Setidaknya mamah mendengarkan perkataan dan penjelasan Edward sebelum Mamah mengambil keputusan untuk tetap tinggal bersama tua Bangka itu!"


"Mah..! Edward tidak ingin mamah selalu di sakiti oleh laki laki itu. Karena mamah satu satunya orang yang peduli Edward dan satu satunya orang yang sangat Edward sayangi melebihi diri Edward sendiri."


Edward pergi meninggalkan kediaman kedua orang tuanya dengan perasaan amarah dan kekecewaan yang membuncah. Membalikkan badannya sebelum memasuki mobilnya.


"Beruntung sekali laki laki tua Bangka itu mendapatkan cinta yang sangat besar dari Mamah ku. Namun dengan bodoh nya dia menyia nyiakan cinta yang sangat besar itu!


Namun, kan aku pastikan kau mendapatkan balasan yang setimpal setelah apa yang kau lakukan kepada ku dan Mamah ku!"


Sebuah pasang mata menatap kepergian Edward dengan sendu."Maafkan mamah Edward. Mamah tidak bisa melindungi dirimu dari kekejaman papah mu. Sungguh mamah tidak berdaya akan semua yang terjadi kepada mamah selama ini."Tutur sang mamah dengan berurai air mata yang membasahi wajah cantik yang tidak pernah lekang di makan oleh waktu.


_


_


_


Dengan perasaan gelisah Dokter Andreas dan Cleona menunggu Bianca yang tengah di lakukan tindakan oleh tenaga medis. Suara lirih Bianca yang penuh keputusasaan begitu membekas di ingatan dua orang dewasa itu.


Tampak Cleona berjalan mondar-mandir di depan ruangan UGD dan sesekali wanita itu melihat Bianca lewat kaca bulat transfaran pintu UGD.


"Ya Tuhan, Kenapa lama sekali."Ucap Cleona dengan kegusaran yang tercekat jelas di wajah cantiknya.


Sementara Dokter Andreas tampak duduk termenung di atas bangku besi tepat di samping pintu ruangan UGD. Dokter muda itu tampak menyesali apa yang telah di perbuat kepada Bianca. Andai saja dia tidak mengusulkan ide konyol itu kepada Asisten Kai, Mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Sungguh kini laki-laki menyesali dan merutuki atas apa yang telah dia perbuat.


"Astaga Andreas! Apa yang kau lakukan?!"


Guman Dokter Andreas dengan mengguyar wajahnya dengan kasar.


Tidak lama kemudian terlihat pintu ruangan UGD itu di buka dari dalam. Tampak seorang wanita berjas putih keluar dari dalam ruangan itu, dengan peluh yang membasahi pelipisnya yang membuktikan seberapa kerasnya dia bekerja.


"Keluarga pasien?"Seru Dokter wanita itu seraya menyeka keringat di pelipisnya.


Cleona dan Andreas lantas langsung menemui dokter wanita itu.


"Bagaimana keadaan teman saya Dok?" Tanya Cleona setelah berada tepat di depan dokter wanita itu. Kedua matanya bergerak liar untuk melihat bagaimana kondisi wanita hamil itu.


"Beruntung pasien tidak terlambat untuk di tangani. Jika terlambat sedikit saja, Mungkin kami tidak dapat menyelamatkan pasien maupun bayi yang ada di dalam kandungannya."Tutur Dokter itu membuat Andreas maupun Cleona mematung di tempatnya.


Jangan lupa


Like


Comment


Rate


Favorit


Vote