Oh My Baby

Oh My Baby
Part 48


"Bianca...!!"Wanita itu memekik dengan nafas yang tersengal-sengal membuat laki-laki yang berada di samping nya terpaksa untuk membuka kedua matanya.


"Ada apa Liliyana? Kenapa kau berteriak seperti itu?"Tanya Marcel yang tidak lain ada suami dari Liliyana ibu kandung dari Bianca.


"Mas...."Liliyana menghambur ke dalam pelukan sang suami. Tubuh wanita itu bergetar di iringi dengan isakan lirihnya.


"Ada apa Lily?"Tanya Marcel dengan nada penuh ke khawatiran.


"Mas, Aku bermimpi buruk! Di dalam mimpiku A-aku..."Mamah Liliyana terbata- bata saat akan mengatakan semua yang dia lihat di dalam mimpinya.


"Itu hanyalah mimpi Lily! Dan mimpi hanyalah bunga tidur."Pungkas Papah Marcel dengan tegas.


"Tapi Mas, di dalam mimpiku aku melihat seseorang memanggil ku dengan baju yang bersimbah darah bahkan di kedua kakinya mengalir darah yang tiada henti."Terang Mamah Liliyana dengan guratan-guratan ke khawatiran nampak jelas di wajahnya.


"Tidak ada yang perlu kau cemaskan Lily!"


"Tapi Mas..."


"Tidak ada tapi-tapian! Jangan karena mimpi kau mengabaikan bayi yang ada di dalam kandungan mu. Kau ingin kejadian beberapa tahun yang lalu terulang kembali." Seru Papah Marcel dengan nada penuh penekanan bahkan kedua matanya menatap tajam Sang istri.


"Tidak Mas, Bukan seperti itu maksud ku..." Sahut Mamah Liliyana dengan menggelengkan kepalanya.


Wanita yang kini berumur Tiga puluh tujuh tahun itu masih mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu dimana dia kehilangan bayi yang ada di dalam kandungan nya karena sebuah tragedi yang tidak pernah dia lupakan.


"Sudahlah masalah kecil seperti itu jangan di bahas lagi. Jika itu membuat kita berdua bertengkar."Seru Papah Marcel dengan sedikit penekanan.


Laki-laki itu tidak mau hanya karena sebuah mimpi yang belum jelas kebenarannya membuat sang istri menjadi stress dan berakibat buruk pada perkembangan bayi yang ada di dalam kandungan nya.


"Baik Mas. Maafkan aku...."Ucap Mamah Liliyana dengan penuh penyesalan bahkan tanpa terasa cairan bening keluar dari kedua pelupuk matanya.


"Kemarilah...!!"Titah Marcel dengan merentangkan kedua tangannya meminta sang istri untuk masuk ke dalam dekapannya.


Tanpa di minta dua kali Mamah Liliyana pun masuk ke dalam dekapan sang suami dan selang beberapa menit kemudian terdengar hellan nafas teratur dari sang suami membuat wanita setengah baya itu mendongkakan kepalanya dan menatap wajah sang suami yang telah terlelap.


"Mas..."Panggil Liliyana dengan Lirih sembari mengibaskan tangannya di depan wajah sang suami.


Liliyana menghembuskan nafasnya saat melihat kedua mata Marcel terpendam dan dengan gerakan yang perlahan perempuan itu pun melepaskan dirinya dari dekapan Sang Suami.


"Bianca...!!"Guman Mamah Liliyana dengan tatapan yang menerawang berusaha mengingat wajah wanita yang ada di dalam mimpinya.


"Siapa Bianca? Mengapa aku merasa tidak asing dengan nama itu?"Kata Mamah Liliyana dengan menatap langit-langit kamarnya.


"Siapapun orang itu, Aku berdoa agar Tuhan selalu melindungi dirinya."Pinta Mamah Liliyana memanjatkan doa kepada sang pencipta.


_


_


_


Dunia bisnis di hebohkan dengan beredarnya berita tentang keluarnya Edward dari keluarga O'deon. Belum reda keterkejutan mereka tentang kepemilikan Edward di perusahaan Dimitri, Kini mereka kembali di kejutkan pada saat Edward mengumumkan dengan resmi bahwa laki-laki itu bukan lagi bagian dari keluarga O'deon.


Dan semua berita itu pun telah sampai di telinga Papah Julian maupun Mamah Eleana. Wanita parubaya itu bersedih saat membaca berita itu yang telah tersebar luas di media cetak maupun Online.


Tanpa sadar air mata itu keluar tanpa izin Wanita parubaya itu, ingatan dirinya kembali berputar di kala pertemuan terakhirnya dengan anak laki-lakinya yang membuat hubungan nya dengan Edward sang anak berjarak hingga kini sang anak mengambil keputusan besar yang tidak pernah dia sangka sama sekali.


Mamah Eleana tidak menyangka bahwa apa yang di ucapkan oleh Edward saat pertemuan terakhir mereka itu tidak hanya gertakan semata.


"Kenapa kamu melakukan semua ini Nak?" Lirih Mamah Eleana seraya menyaka air mata yang membasahi wajahnya.


"Begitu besarkah luka dan kekecewaan yang kau rasakan sehingga kau membuat keputusan yang sebesar itu?"Ucap Mamah Liliyana dengan tersenyum getir.


Kini yang bisa di lakukan oleh wanita parubaya itu hanyalah menangis dan meratapi kenyataan pahit yang telah Tuhan gariskan di dalam kehidupannya.


"Apakah yang harus hambamu lakukan Tuhan? Aku tidak bisa memilih antara suami dan anakku? Mereka berdua adalah bagian terpenting dalam hidupku."


"Nyonya..."Panggil seorang pelayan dengan tergesa-gesa menuju Mamah Eleana. Bahkan deru nafas itu terdengar menderu sesaat setelah sampai di hadapan Mamah Eleana.


"Ada apa Ester? Kenapa kau terlihat tergesa-gesa seperti itu?"Tanya Mamah Eleana tanpa mengalihkan pandangannya.


"Nyo-nyona..."Suara pelayan itu terbata-bata.


"Kenapa Ester? Kenapa kau ragu seperti itu? Katakan lah sejujurnya! Aku tidak ingin ada sesuatu yang kau tutup-tutupi tentang diriku?" Seru Mamah Eleana kepada pelayan yang telah lama mengabdi kepada nya.


"Nyonya lihatlah ini...."Pelayan yang bernama Ester itu pun menyarahkan sebuah majalah kepada Mamah Eleana.


Kening Mamah Eleana menyengritkan menerima majalah itu.


"Apa ini?"


"Bacalah Nyonya...!"Pelayan itu pun membuka beberapa halaman majalah dan kembali menyerahkan nya kepada Mamah Eleana.


Kedua bola mata Mamah Eleana membulat saat melihat rentetan kata demi kata yang ada di dalam majalah.


Hancur sudah...


Rahasia yang selama ini dirinya jaga bagaikan nyawanya sendiri kini telah terbuka dan di ketahui oleh orang banyak. Kini Mamah Eleana tidak bisa lagi mengangkat kepalanya di hadapan semua orang karena aib rumah tangganya telah tersebar dengan luas.


Mamah Eleana tidak membenci kehadiran Erland, hanya saja dia menyayangkan perlakuan mendiang Mamah kandung Erland yang tega menghancurkan kebahagiaan wanita lain demi kebahagian dirinya seorang.


"Kenapa bisa menjadi seperti ini Ester?" Tanya Mamah Eleana dengan tersenyum getir dan tatapan matanya yang menerawang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kepadanya setelah semua rahasia besar ini terkuak.


"Nyonya...."


"Apakah yang harus saya lakukan Ester? Wajahku telah ternoda, bagaimana aku bisa mengangkat kepalaku Jika noda ini masih ada di wajahku? Cemoohan dan hinaan pasti akan mereka lontarkan kepada ku setelah semua ini."


"Aku sangat menyayangi Erland, Anak itu telah ku anggap bagaikan anakku sendiri. Tapi.... Apa yang harus aku lakukan Ester? Semua orang telah tahu bahwa Erland bukanlah Anakku, melainkan anak dari selingkuhan suami ku."


"Noda ini sampai kapanpun akan melekat di wajahku, walaupun aku telah menutupi noda itu dengan sangat baik. Namun bangkai tetaplah bangkai, Sepandai apapun aku menutupi bangkai itu namun bau itu akan tetap tercium."Tutur Mamah Eleana dengan menghela nafasnya dengan panjang untuk menghalangi rasa sesak yang kian menghimpit dadanya.


"Kenapa harus seperti ini Ester? Bagaimana jadinya jika Erland mengetahui semua berita ini? Anak itu pasti sangat terkejut dan terluka mengetahui tentang kebenaran dirinya."


"Semua ini di luar kuasa Anda Nyonya, Selama ini Anda telah berusaha menjadi ibu terbaik bagi Tuan Erland. Tanpa membedakan bahwa Tuan Erland adalah anak dari wanita yang telah menghancurkan rumah tangga Anda."


Tanpa mereka sadari sepasang mata sedari tadi mendengar semua pembicaraan mereka dengan kedua tangan yang terkepal erat.


Erland menyandarkan tubuhnya dan membekap mulutnya sendiri agar suara tangisannya tidak terdengar oleh kedua orang yang ada di hadapannya.


"Maafkan Erland Mah..."


"Maafkan Erland karena kehadiran Erland membuat Mamah tersakiti. Pasti Mamah selalu menderita saat melihat wajah Erland yang begitu mirip dengan wanita yang telah menghancurkan rumah tangga Mamah." Tatapan mata Edward kosong dan pikiran laki-laki itu menerawang mengingat kenangan dirinya beberapa tahun silam.


Erland kecil selalu bertanya kepada Sang Mamah maupun Papah, mengapa wajahnya tidak sedikit pun mirip dengan Mamah Eleana dan Papah Julian dan Mamah Eleana selalu menjawab jika wajah Erland sangatlah mirip dengan Mendiang mertua nya. Dan kini semua pertanyaan itu terjawab sudah walaupun begitu pahit baginya.


"Apakah dengan kepergian Erland membuat semua kembali seperti semula? Apakah semua penderitaan Mamah akan hilang dengan perginya Erland?"Tanya Erland kepada dirinya sendiri.


"Jika memang dengan perginya Erland membuat Mamah bahagia, Maka dengan senang hati Erland akan melakukan semua itu."


**


Sementara itu Papah Julian tengah duduk di kursi kebesarannya dengan amarah yang memuncak karena melihat pemberitaan media tentang scandal perselingkuhan dirinya belasan tahun silam yang kini telah muncul di permukaan. Bahkan status Erland yang ternyata bukanlah anak dirinya dengan Eleana sang istri melainkan anaknya dengan selingkuhannya, menjadi buah bibir yang hangat di perbincangkan saat ini.


Harga saham perusahaan nya semakin menurun dari hari ke hari, terlebih lagi para pemegang saham berbondong-bondong menarik investasi mereka di perusahaan O'deon, membuat perusahaan besar itu terancam bangkrut dalam kurun waktu singkat.


"Sialan...!!"Pekik Papah Julian dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Mengapa semuanya menjadi seperti ini...?" Papah Julian menghembuskan nafasnya dengan panjang seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Masalah bertubi-tubi silih berganti menerpa hidupnya, membuat laki-laki parubaya itu merasa Lelah untuk berdiri sendiri di antara badai masalah yang menerjang kehidupannya.


Seharusnya di masa tuanya itu dirinya telah berhenti dari segala urusan perusahaan dan menikmati masa tuanya dengan sang istri. Namun di karenakan hubungan nya dengan Edward tidak lah baik, terlebih lagi setelah pertemuan terakhirnya dengan anak pertamanya itu hubungan di antara keduanya semakin menjarak.


Edward....?


Mengingat nama sang Anak, Membuat Papah Julian teringat bahwa Edward adalah salah satu pemimpin perusahaan besar. Namun mengingat bagaimana renggangnya hubungan dirinya dengan sang anak, membuat Papan Julian berpikir berulang kali untuk meminta bantuan dari sang anak.


"Tuan...."Suara Sang Asisten di balik pintu membuat Papah Julian mengalihkan pandangannya.


"Masuklah...."Titah Papah Julian seraya menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya sembari memijat pelipisnya yang berdenyut karena memikirkan masalah yang kini tengah membelitnya.


"Bagaikan Jim? Apakah kau sudah mencari tahu semua siapa dalang dari semua ini?" Tanya Papah Julian kepada orang kepercayaannya dengan penuh harap.


"Maafkan saya Tuan...!"Ucap laki-laki kepercayaan Papah Julian dengan menundukkan kepalanya.


"Apa maksud mu Jim?"Tukas Papah Julian penuh penekanan dengan belikan kedua matanya.


"Maafkan saya Tuan..."Orang kepercayaan Papah Julian pun memulai penjelasannya pada saat dirinya dan beberapa bawahan nya yang tengah mencari siapa dalang dari beredarnya scandal sang Tuan, tiba-tiba saja komputer mereka meledak dan kejadian itu berulang kali terjadi membuat dirinya yakin bahwa di balik kejadian ini ada seseorang yang berkuasa di belakangnya yang menginginkan kehancuran Papah Julian.


"Sialan...!!"Umpat Papah Julian menggebrak meja yang ada di hadapannya membuat orang kepercayaannya terjingkrak di tempatnya walaupun beberapa saat.


"Sebenarnya siapa orang yang menginginkan kehancuran ku."Desis Papah Julian dengan mengeratkan rahangnya.


_


_


_


Sementara itu Edward tengah berkutat dengan tumpukan-tumpukan berkas di hadapannya. Balutan jas mewah berwarna hitam dengan kemeja putih yang membalut tubuh kekarnya membuat ketampanan Edward berkali-kali lipat dari biasanya.


Dan tanpa terasa satu jam pun berlalu dengan cepat. Edward menghela nafasnya melihat tumpukan berkas-berkas di hadapan.


"Melly keruangan ku sekarang...!!"Titah Edward kepada sekertaris nya di seberang telepon sana.


"Baik Tuan..."


Edward pun kembali menaruh gagang telepon itu ke tempatnya dan tidak berselang lama sekertaris Melly pun masuk ke dalam ruangan Edward dan bertanya apa yang di butuhkan oleh Edward.


"Buatkan aku kopi seperti biasa."Titah Edward.


"Baik Tuan..."Jawab Sekertaris Melly dengan cepat. "Apakah ada sesuatu lagi yang anda butuhkan Tuan?"


"Tidak ada..."Jawab Edward seraya mengibaskan tangannya mengusir sekertaris dari ruangannya.


Setelah sekertaris Melly keluar dari ruangan nya, tidak lama kemudian datanglah Asisten Kai dengan kegusaran yang tampak jelas di wajahnya membuat Edward yang melihatnya menaikkan salah satu alisnya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?"


Tanya Edward tanpa beranjak dari posisinya.


"Tuan, Lihatlah..."Asisten Kai pun menyerahkan sebuah tablet ke tangan Edward.


Kening Edward semakin menaut dalam sesaat menerima tablet tersebut. Namun saat membaca berita tentang scandal sang Papah, Edward hanya tersenyum sinis dan berdecak.


"Tuan..."


"Kenapa Kai?"


"Anda tidak merasa khawatir karena tersebarnya berita ini?"


"Mengapa aku harus khawatir?"Tanya Edward dengan menggidikan bahunya acuh.


"Tapi Nyonya Eleana?"


"Mengapa aku mengkhawatirkan Mamah? Dia yang telah memutuskan untuk tetap berpihak kepada laki-laki tuan Bangka itu. Setelah aku menawarkan sejuta kebahagiaan yang tidak pernah dia rasakan dalam rumah tangga nya, Namun Dia menolak nya dengan mentah- mentah! Jadi apa yang harus aku lakukan?" Seru Edward kembali mengingat saat-saat dimana dia selalu mengajak Sang Mamah untuk tinggal bersamanya dan melanjutkan hidupnya yang baru tanpa bayangan sang papah.


Jangan lupa Like Comment Rate dan Vote