
"Ting ... Tong ..." Bel pintu rumah Jung Kook berbunyi. Jung Kook melihat dari interkom. Ada ayah dan ibunya datang berkunjung.
"Ki, halji sana halmi datang." Jung Kook memberitahu Kiki.
"Halmi ..." Kiki berlari menghampiri neneknya.
"Halji ..."
Ibu dan ayah Jung Kook masuk ke dalam rumah. Ayah Jung Kook lalu menggendong Kiki.
"Ibu tadi beli ini. Jadi, sekalian mampir ke sini." Ibu mereka menunjukkan baju dan perlengkapan bayi yang cantik-cantik.
Air mata Hana menetes lagi.
"Ada apa?" Ibu mereka bingung. Tidak mungkin Hana terharu dengan barang-barang pemberiannya.
"Ibu ... Mint ..." Hana menghampiri dan memeluk ibunya. Saat ini ia butuh dikuatkan dan dihibur oleh ibunya.
Ibu Hana mendengar cerita Hana. Ia lalu berkata. "Dulu ada teman ibu yang anaknya mengalami hal yang sama sepertimu. Ia mencari opini kedua. Ternyata dokter yang pertama salah. Sekarang bayi itu sudah lahir. Ibu akan bertanya ke teman ibu. Dulu anaknya ke dokter mana."
Ibu mereka lalu menelpon temannya. Meminta alamat dokter itu.
Hana melihat Jung Kook. ~ Kookie ... Mint masih ada harapan. Semangat Hana bangkit lagi.
Ibu Hana memberi tahu alamat dokter. "Tidak ada salahnya kalian mencari dokter lain. Siapa tahu masih ada harapan buat Mint. Tapi jika tidak, kalian harus berlapang dada. Oh, iya, ibu tadi bikin makanan kesukaanmu." Ibu Hana mengambil masakan yang sudah ia buat. Mereka lalu makan bersama
Saat orang tua mereka pulang, Hana melihat baju-baju bayi dan perlengkapan bayi pemberian orang tuanya. Sebenarnya ayah dan ibu mereka masih merasa bersalah saat mereka tidak mempedulikan Hana saat sedang mengandung Kiki. Seharusnya mereka lebih berkepala dingin saat Hana hamil di luar nikah dulu. Karena itu saat mereka tahu Hana hamil lagi mereka lebih perhatian ke Hana.
Keesokkan harinya. Setelah mengantar Kiki ke daycare, Jung Kook membawa Hana ke dokter dari teman ibu mereka.
Dokter itu memeriksa kandungan Hana. "Sepertinya pertumbuhannya memang agak terlambat."
"Apa masih ada harapan buat bayi kami, dok?" Jung Kook bertanya. Tangan Hana dan Jung Kook saling menggenggam.
"Untuk sementara waktu kita lihat satu bulan ke depan." Dokter tak ingin memberikan harapan palsu buat mereka.
"Aku sangat berharap Mint bisa lahir," ucap Hana.
"Aku juga."
Hana melihat lagi perlengkapan bayi miliknya. Ia menyentuh perutnya, "Mint, appa sama eomma pengen Mint lahir. Kiki oppa dan Seon Ho oppa juga."
Sementara itu Jung Kook tetap melukis dan melatih kakinya. Saat kakinya dirasa sudah cukup kuat, ia belajar mengemudikan mobil. Ia tahu ia harus bisa bawa mobil untuk kemudahan mereka bertransportasi.
Jung Kook ditemani ayahnya. Saat ini ia berada di belakang kemudi, sedangkan ayahnya di sampingnya. Berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.
Awalnya sedikit sulit. Tetapi lama kelamaan Jung Kook bisa. Dari awalnya hanya keliling lapangan. Sekarang ia sudah bisa keliling kota.
"Kenalan ayah punya vila di desa. Ia bolehin ayah pake vilanya. Ayah mau ajak ibu, kamu, Hana, Kiki liburan. Seon Ho boleh ikut kalau ia mau."
"Nanti aku tanya Noona."
Di rumah.
"Noona, tadi ayah bilang mau ajak kita liburan."
"Ke mana?"
"Ke vila punya kenalan ayah di desa."
"Aku ikut aja. Seon Ho boleh ikut?"
"Boleh. Tapi Noona harus ijin Seon Mi Noona dulu."
Hana lalu meminta ijin membawa Seon Ho liburan. Seon Mi tidak bisa ikut karena ia harus bekerja.
Hana mulai bersiap-siap.