
Keesokkan harinya ...
Hana, Jung Kook dan Kiki menuju ke apartemen Yoon Gi. Mereka menjemput Yoon Gi karena Yoon Gi ingin bertemu mama Hana. Ia ingin mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dan juga keberadaan mereka.
Sepanjang perjalanan menuju rumah mama Hana, Yoon Gi hanya memandang ke arah jendela mobil. Mengamati mobil yang melaju di jalan. Memandang jauh.
Hana dan Jung Kook juga tidak menggangu Yoon Gi. Mereka berdua tahu Yoon Gi pasti sedang memikirkan sesuatu.
Kenapa aku dibuang?
Kenapa ibu kandungku tidak membesarkanku?
Seberat apapun, bila kita bersama pasti akan terasa ringan.
Sebenarnya keluarga angkat Yoon Gi cukup baik dengan Yoon Gi. Mereka sangat menyayangi Yoon Gi seperti anak kandung mereka sendiri. Tak ada namanya kekurangan kasih sayang. Tapi tetap saja ada sesuatu yang hilang dari hati Yoon Gi.
Jung Kook memarkirkan mobilnya.
Mereka melewati anak tangga yang berliku akhirnya mereka sampai di rumah mama Hana.
"Mama ..." Hana memeluk mamanya. Kiki ikut memeluk neneknya.
"Halmi ..."
"Cup ... Cup ... Cup ..." Banyak kecupan mendarat di pipi gembul Kiki.
"Mama ... Ini Yoon Gi oppa." Hana memperkenalkan Yoon Gi ke mamanya.
"Yoon Gi." Yoon Gi mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Mama Hana menyambut tangan Yoon Gi "Mama Hana. Silakan duduk."
Mereka pun duduk di lantai.
"Mama ... Kedatangan Yoon Gi oppa itu hendak menanyakan tentang keberadaan ibu kandungnya. Kakak mama."
"Mmm ...Mmm ..." Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mama Hana.
"Maafkan ibu, nak Yoon Gi," ucap mama Hana.
"Sebenarnya ... Sebenarnya ... Ibu tidak tahu siapa ibu kandungmu."
Bukannya Yoon Gi Hyung itu anak kakak perempuan mama? ~ Jung Kook terkejut. Begitu juga Hana dan Yoon Gi.
"Ibu menemukanmu di depan rumah bordil. Saat itu kau sepertinya baru saja lahir. Kau masih sangat merah. Ibu tidak tega. Ibu membawamu masuk dan merawatmu. Tetapi ..." Suara mama Hana tertahan. Ia mengenang masa lalunya.
"Tetapi pemilik rumah bordil selalu marah ke ibu. Buat apa kau merawat anak lelaki itu. Kau tahu kan anak lelaki itu tak berguna di sini."
"Ibu terpaksa membawamu ke panti asuhan karena tidak ada pilihan lain. Maafkan ibu karena telah berbohong."
"Tapi ... Saat kami berpacaran ..." Dulu Hana terpaksa putus dengan Yoon Gi karena mengira mereka masih sepupu. Membuat hancur hati Hana yang baru saja merasakan cinta.
"Maafkan mama, Hana. Saat itu mama takut melihatmu berpacaran di usia yang masih muda. Mama takut kau salah jalan seperti mama. Maafkan mama yang telah berbohong."
"Maafkan ibu, nak Yoon Gi." Mama memandang Yoon Gi.
"Ibu sudah berusaha menanyakan ke mana-mana. Apakah ada yang melihat orang yang telah menaruhmu di depan rumah bordil tetapi tidak ada petunjuk satupun."
Mereka pun diam. Hanya ada keheningan. Yoon Gi masih mencerna apa yang dikatakan mama Hana. Begitu juga Hana dan Jung Kook. Terutama Jung Kook.
Jika Yoon Gi Hyung bukan sepupu Noona, itu artinya Noona dan Yoon Gi Hyung boleh nikah.
"Kiki lapal." Suara Kiki memecah kesunyian.
"Bentar ... Halmi ambilin makanan." Mama Hana beranjak ke belakang. Mengambil makanan untuk Kiki dan juga yang lainnya.
"Ini ada camilan. Sekedar pengganjal perut." Mama Hana menaruh kue kering di hadapan mereka.
"Akh ..." Kiki menyuapi Yoon Gi. Kemudian Hana dan Jung Kook. Barulah kemudian ia menyuapi dirinya.
"Mama harus kerja." Mama Hana melihat jam dinding.
"Kami antar, Ma." Jung Kook berucap.
Saingan terkuat baru saja nggak ada.
Sekarang muncul lagi saingan yang sangat kuat.